
Drama pengaman, ******, dan pisang usai dengan menyisakan tanda tanya besar di otak Raya yang masih tetap belum paham dengan baik. Sudahlah, lagipula itu tidak penting, karena ****** yang sudah dibeli Alen malah ditiup Raya sampai menjadi balon besar.
Pagi itu\, di kantor\, setelah mendengar cerita dari Alen\, Ezar\, Jonas dan Pak Dirga tak berhenti tertawa. Kisah k*nd*m dan pisang\, ditambah keraguan Raya atas kenormalan Alen karena itunya tidak panjang dan besar menjadi point ledakan tawa mereka kali ini.
“Kamu juga kenapa jelasinnya gitu ?” Tanya Ezar
“Aku harus gimana jelasinnya ?” Tanya Alen balik.
“Dia polos apa lugu sih ...” Kata Jonas.
“Sepertinya ketika malam pertama kamu bukan berlaku sebagai suami, tapi jadi guru les privatnya nanti.” Kata Pak Dirga masih tertawa sampai menangis.
“Kayaknya Raya perlu sekali-sekali diajak nonton bokep.” Kata Ezar.
“Hahhh !!! Gak boleh .... bisa kotor otaknya kalau ngikutin ide kamu !!!” Teriak Alen.
Sementara di kampus, Raya yang memiliki teman dekat bernama Ara dan mendengar cerita dari Raya tak kalah heboh tertawanya.
“Ray .... kamu tuh ya ..... dijalanan bak ratu jalanan, ngepot sana ngepot sini, tapi sama urusan beginian belum paham. Sebulan lagi kamu jadi istri kak Alen masih kah harus belajar kesehatan reproduksi ?” Tanya Ara
“Ah ... malas .... sekarang aja ngikutin kursus calon pengantin aku males dengerinnya.” Jawab Raya.
Ya .... memang Raya dan Alen sedang dalam masa persiapan pernikahan, tetapi mereka semua santai karena semua urusan diselesaikan Bunda Alin. Sementara atas permintaan kakek Raya, pernikahan cukup hanya dilakukan supaya sah secara agama dan negara dan mengikuti prosedur pernikahan sesuai profesi Alen, tetapi untuk resepsi ditunda mengingat Raya masih kuliah juga kakek ingin identitas Raya disembunyikan dahulu.
“Ray ... ayo ke kos an dan aku tunjukkan sesuatu ke kamu supaya kamu paham.” Kata Ara
Raya memboncengkan Ara pulang ke kosan Ara dan langsung mengekor mengikuti Ara masuk ke dalam kamarnya. Ara menyalakan laptopnya dan menyetel sebuah video dengan suara pelan, bisa heboh kalau sampai keras suaranya.
“Hahhhh !!! Apaan itu !!!” Seru Raya.
“Gini ya, Ray .... kenapa kak Alen mempraktekkan dengan pisang. Mana mungkinkan dia nunjukkin anunya didepan kamu sebelum kalian resmi menikah ?” Tanya Ara. “Pisang itu ibarat barangnya milik pria yang paling berharga, yang nantinya akan mencetak anak-anak dalam rahim wanita.”
“Apa punya kak Alen akan sebesar itu nantinya ?” Tanya Raya tidak percaya. “Sakit lah nanti punyaku.”
“Ya ... iyalah .... kata yang udah melakukan sih pertama-tama sakit tapi lama-lama enak.” Jawab Ara. “Ini aku jelasin supaya kamu paham, karena baik kak Alen juga bundamu gak bisa kan jelasin yang bener gimana.”
“Jadi pengaman itu ....”
“Itu nanti dipakai kak Alen ketika berhubungan badan dengan kamu supaya mayonaisenya ga nyembur ke goa kamu. Jadi gak bikin hamil” Kata Ara. “Paham ?!”
Raya menggeleng dan menyudahi nonton hal yang menurutnya menjijikkan, bikin pusing. Ara pun menyerah, sama-sama tepok jidat. Sore harinya, Raya pamit pulang pada Ara setelah menyelesaikan obrolan ngalor ngidul gak jelas dan membuat Ara malah tambah pusing. Raya pamit untuk menjemput Alen di kantornya, karena tadi pagi mereka berangkat bersama menggunakan motor Raya tetapi ke kantor Alen dulu dan kemudian Raya ngotot ke kampus membawa motor sendiri.
Sesampainya di kantor Alen, Raya langsung masuk ke ruangan Alen dan tampak Alen sedang sendirian serius berkutat dengan laptopnya.
“Kakak.....” Sapa Raya dan langsung duduk di sofa yang memang ada diruangan itu
“Hmmmm.... Dari mana saja kamu ?” Tanya Alen masih fokus dengan laptopnya.
“Dari kos an Ara.” Jawab Raya. “Kakak.... emang anu itu kakak sebesar apa ?”
Alen menghentikan pekerjaannya dan tampak bingung dengan pertanyaan calon istrinya yang benar-benar susah dipahami.
“Anu itu apa ?” Tanya Alen ulang.
“Anu itu ..... yang mau dipakein pengaman besok-besok." Jawab Raya polos. “Apakah akan besar dan sepanjang pisang ambon. Hiiihhhh !”
Alen yang paham maksud Raya pun garuk-garuk kepala, “Memangnya kamu lihat dimana yang sebesar pisang ambon ?” Tanya Alen yang kemudian duduk disebelah Raya.
“Itu ... tadi nonton di videonya Ara....” jawab Raya. “Besar .... dan nakutin ihhh !!! Punya
kakak jangan besar-besar ya ....”
“Apaaaaa !!!!??? Araaaaa !!! benar-benar tu bocah ya...!” Teriak Alen. “Duh Gustiiii !!!! Punya calon istri gini amat sih aku ......”
“Kenapa kak ????” Tanya Raya. “Tadi Ara ngajarin aku dengan suruh nonton sebuah video, tapi buatku menjijikkan hihhh ..... ! Trus kok capek yang begituan ternyata ... kayak orang abis lari maraton aja ....”
“Kalau nanti terlalu besar kan sakit kan masuk ke itu ku ..... kalau robek gimana ...... Gak lucu kan nyuruh Farel buat ngejahitnya lagi.” Cerocos Raya belum berhenti juga.
Jonas dan Ezar masuk bersamaan ke ruangan Alen.
“Apanya yang dijahit Farel ?” Tanya Jonas
Sementara\, wajah Alen sudah seperti kepiting rebus bingung sendiri kali ini\, lebih membingungkan dari drama k*nd*m dan pisang kemaren.
“Kalau punya kak Alen terlalu besar bisa bikin punyaku robek nanti.” Kata Raya. “Trus nan.....”
“Sayang .....” Tiba-tiba Alen mencium bibir Raya dengan cepat, maksud hati mengerem Raya supaya jangan ngomongin yang besar-besar tadi. Jonas dan Ezar yang melihat melotot terkejut.
“Kakakkkk !!!! Ciuman pertamaku !!!” Raya sontak kaget mundur dan langsung menghadiahi Alen dengan pukulan di lengan Alen sampai meringis kesakitan.
“Len ..... gak liat-liat, main nyosor aja !” Seru Ezar.
“Ya mau gimana lagi ....” Balas Alen. “Kemaren drama ****** dan pisang, sekarang ditambah lagi drama pisang ambon dan jangan besar-besar. Aku gimana caranya ngerem ni bocah ngomong yang enggak-enggak.”
“Apanya yang jangan besar-besar !?” Tanya Jonas dan Ezar bersamaan
“Punyaku dilarang besar-besar.” Jawab Alen kesal.
“Apanya yang dilarang besar ?” Tanya Ezar.
“Kamu udah kawin kan, Zar !!!?? Tentu tau maksudnya tu bocah !!!??” Jawab Alen sambil mendengus kesal dan bingung.
Ezar yang paham maksudnya Alen langsung tertawa, sementara Jonas masih menerka-nerka bingung.
“Kak Ezar, emang punya kakak besar ?” Tanya Raya serius
“Hahhh !!! Kenapa kamu nanya punyaku ?” Tanya Ezar balik.
“Ya kalau gak besar kan bagus, Kak Alleta jadi gak kesakitan.” Jawab Raya. “Sama ajarin Kak Alen supaya jangan besar-besar anu itunya ntar kalau udah kawin sama aku.”
Meledaklah tawa Jonas rem blong gas pollll, membuat Raya malah bingung sendiri melihat polah Jonas yang sampai menangis tertawanya.
“Jadi drama k*nd*m dan pisang belum selesai ini ceritanya ?” Tanya Jonas di sela-sela tawanya.
“Haisssss !!! Aku juga bingung ini, kenapa dari kemaren hanya seputar pisang saja yang dibahas dia. Malah sekarang bahas pisang ambon” Jawab Alen. “Aku justru bingung nanti pas malam pertama dengan dia harus gimana nantinya.”
“Urusan besar dan tidak itu terima saja, itu anugerah buat kamu nantinya, Ray.” Kata Ezar. “Percayalah, Alen tidak akan menyakiti kamu kalau sudah sah menjadi suami kamu nantinya. Kamu tinggal menikmatinya saja.”
“Tidak kak ... bingungnya kalau besar-besar nanti pengamannya kudu ditiup dulu baru dipakai ....” Kata Raya polos.”Ribet amat sih kayaknya.”
Gubrakkkkkkk !!!!!
Tiga cowok dewasa menghadapi satu gadis lugu nan lucu satu ini, mereka sudah kehabisan kata-kata dan akal lagi.
“Aku dari pada suruh berdebat soal pisang, pengaman dan besar begini mending suruh nggerebek cewek panggilan di hotel-hotel, Len.” Gerutu Jonas.
“Sama, aku juga mending ngejar-ngejar bencong pinggiran kali.” Susul Ezar.
“Dan aku masih harus memikirkan kemauan dia supaya jangan besar-besar bagaimana nanti ....” Susul Alen lagi. “Sedangkan itu adalah ukuran alami anugerah dari Tuhan.”
Raya masih saja manyun dan bingung memandangi 3 pria dewasa yang ada dihadapannya ini sedang garuk-garuk kepala seperti monyet, bahkan ada yang menjambaki rambutnya sepertinya sedang mengalai migrain berat.
Pak Dirga yang masuk ke ruangan Alen untuk minta laporan kriminal bulan ini tampak ikut bingung melihat ketiga anak buahnya seperti sedang pusing seperti peserta ujian SIM tidak lolos.
“Kalian sedang kenapa ? Apa ada masalah besar ?” Tanya Pak Dirga
“Jangan ngomongin besar !!!” Jawab ketiganya serempak.
Pak Dirga bingung, sepertinya ketiga anak buahnya ini sedang alergi dengan kata “besar”