
Seminggu sudah berlalu, masa cuti Alen sudah habis dan harus kembali ke kantor seperti biasa. Raya juga sudah kembali kuliah, karena sebentar lagi ujian akhir semester.
“Ray..... wah, pengantin baru ....” Sapa Ara yang sudah 1 minggu tidak ketemu Raya. “Gimana rasanya jadi ibu bayangkari ?”
“Tidak gimana-gimana. Sepertinya Kak Alen gak akan terlalu mengikutkan aku dalam kegiatan organisasi itu dulu. Mungkin kak Alen takut aku bikin kekonyolan, hihihihi....” Balas Raya.
“Ah ya ..... bisa bikin malu kamu nanti. Apalagi kalau membahas soal jangan besar-besar. Hahahahaha ......” Ara tidak pernah bisa menahan tawa jika mengingat soal itu.
“Jangan diingat-ingat terus daripada sepatuku mampir ke kepalamu.” Gerutu Raya.
“Apa sekarang masih meminta supaya tidak besar-besar ?” Tanya Ara masih menggoda Raya.
“Tidak !! Karena punya Kak Alen sebesar apapun akan nikmat.” Jawab Raya. “Sudah jangan bahas itu lagi. Kamu belum cukup umur untuk tahu soal begituan.”
“Ohya, Ray .... tadi siapa yang mengantarmu itu ?” Tanya Ara. “Kenapa bukan kak Alen yang anter ? Atau kamu bawa motor sendiri biasanya.”
“Kami bangun kesiangan gara-gara kak Alen minta sampai 4 kali semalam.” Jawab Raya tanpa malu. “Itu tadi Kak Viko yang antar, dia asisten Kak Ken yang sekarang bantuin Kak Alen.”
“Ghosssttt .... minta jatah sampai 4 kali masih kuat jalan kamu.” Kata Ara tidak percaya
“Makanya aku gak bawa motor, kakiku masih gemetaran, serasa Kak Alen menyedot semua cairan dalam tubuhku.” Balas Raya.
Obrolan absurt dua gadis, eh yang satu sudah tidak gadis lagi selesai setibanya di dalam kelas. Mereka duduk di bagian paling belakang tengah, tempat duduk favorit mereka berdua, dengan alasan bisa melihat suasana seluruh kelas.
Pukul 8 tepat kelas dimulai, tetapi kali ni ada yang beda, biasanya kelas diisi oleh Pak Zaki yang terkenal galak dan tegas, sekarang beda dosen. Yang mereka tahu Pak Zaki pindah ke kampus di luar kota, dan digantikan oleh dosen muda berusia 28 tahun, lulusan luar negeri.
Seorang pria tampan masuk, dengan setelah celana casual dan hem yang digulung lengannya, wajahnya sudah membuat banyak wanita melongo klepek-klepek, karena sang dosen ternyata tampan sekali, apalagi dengan tinggi
yang proporsional dengan badannya.
“Selamat pagi .....” Sapa Dosen baru itu
“Pagi ....!” Balas anak-anak serempak, kecuali Raya yang mengantuk karena ulah Alen semalam mengajaknya main kuda-kudaan.
“Terima kasih... apakah kalian sudah mengenal saya ?” Tanya Sang Dosen
“Belum pak ....” jawab anak-anak
“Ray .... gile cakep bener tuh dosen.” Kata Ara
“Ah, kakak-kakakku juga gak kalah cakep kok.” Balas Raya malas, matanya benar-benar berat untuk dibuka.
“Perkenalkan nama saya Raiden Jiro, Kalian bisa panggil saya Raiden.” Kata sang dosen. “Saya memang berkewarganegaraan Jepang dan memang mendapat undangan khusus dari kampus ini untuk mengajar dan menggantikan pak Zaki dosen kalian sebelumnya.”
Raya langsung terbelalak mendengar nama itu. Ngantuknya langsung hilang. Raya menatap tajam pada pria dewasa yang duduk di bagian depan kelas itu.
“Anak paman Jiro kenapa ada disini ?” Tanya Raya dalam hati. “Bukannya berbisnis senjata atau narkoba kenapa malah jadi dosen.”
“Oke ... saya akan absen kalian satu-satu supaya saya hapal nama kalian juga.” Kata Raiden.
Raiden mengabsen satu-persatu nama-nama mahasiswa yang ada di kelas itu, sampai pada nama panggilan...
“Sheeva Raya Ryoko ....”
Raya mengangkat tangannya dengan malas, di kepalanya masih banyak pertanyaan tentang dosen barunya.
“Kau ..... apa juga warga negara Indonesia ? Namamu ...”
“Ayah saya orang Indonesia dan ibu saya orang Jepang.” Potong Raya. “Panggil saja saya Raya. Bolehkah saya
tahu sesuatu pak ?”
“Silahkan”
“Apakah anda anak dari David Jiro ?” Tanya Raya
Rai agak terkejut nama ayahnya disebut, pasalnya tidak banyak yang tahu nama David Jiro ayahnya kalau bukan
orang-orang tertentu saja.
“Siapa anak ini ?” Tanya Raiden dalam hati. Rai hanya menggangguk.
Raya hanya tersenyum kecut. Raya ingat betul 3 tahun yang lalu hampir saja membunuh David Jiro yang terlibat insiden baku tembak.
Raiden kemudian melanjutkan aktivitasnya, mengajar sebagai dosen, tentu saja kali ini anak-anak begitu menikmati, selain Raiden tampan juga dalam menyampaikan materi sangat mudah dipahami, diam-diam selama jam kuliah Rai memperhatikan Raya, bahkan mata mereka berdua kadang beradu, mata yang sama, mata yang diturunkan dari ayah mereka yang mereka belum pahami satu sama lain.
Usai kuliah, Raiden tiba-tiba menghadang langkah Raya dan meminta untuk ke ruangannya. Raya menurut.
“Bagaimana kau tahu soal ayahku ?” Tanya Raiden
“Kau tahu Black Stars dari mana ?” Tanya Raiden
“Mudah..... tanyakan saja pada ayahmu, 3 tahun lalu dia hampir mati ditangan siapa.” Jawab Raya. “Pak ... kenapa anda tidak mengikuti jejak ayah anda.”
“Jadi kamu tahu sepak terjang Black Stars ?” Tanya Raiden. “Aku tidak suka mengikuti langkah ayahku meskipun aku memiliki segalanya untuk meneruskan. Siapa kau sebenarnya ?”
“Bapak cari saja sendiri informasi tentang saya.” Jawab Raya sambil meninggalkan ruangan Raiden.
Sepeninggal Raya, Raiden mencari Pak Dion, Dosen senior di kampus tersebut.
“Pak ... saya ingin tahu identitas Sheeva Raya Ryoko.” Pinta Raiden.
“Untuk apa ?” Tanya Pak Dion.
“Hanya ingin tahu saja, pak.” Jawab Raiden. “Anak itu menarik untuk saya ketahui.”
“Jangan bilang anda naksir dia ? Dia baru saja menikah dengan seorang perwira polisi.” Kata Pak Dion
“Saya tidak perduli, saya juga tidak naksir, hanya tertarik untuk tahu asal-usulnya.” Balas Raiden.
“Dia anak yatim piatu. Ayahnya orang Indonesia bernama Aditama, dan ibunya orang Jepang bernama Cecilia
Arata.” Kata Pak Dion.
“Keluarga Arata... Blue Stars .... akhirnya aku menemukanmu adikku.” Gumam Raiden sambil tersenyum. “Aku akan menjagamu kali ini.”
Flashback off....
3 tahun lalu, Raiden Jiro yang melihat insiden baku tembak dijalanan malam itu tidak lepas memandangi Raya yang dengan sadisnya menghabisi anak buah ayahnya bersama Justin. Raiden mencurigai ada yang berbeda dengan Raya, terutama mata. Matanya dan mata Raya sama, sama-sama seperti ayahnya. Raiden kemudian menyelidiki informasi soal Raya dan dia tahu dari hasil tes DNA yang dia dapatkan juga bahwa Raya adalah adiknya, target sasaran Ayahnya yang terlalu terobsesi cintanya dengan Cecilia Arata.
On ....
Raiden segera keluar ruangan dan menyusul Raya yang ternyata sedang tertidur di kantin ditemani Ara.
“Raya .... bisa kita bicara ?” Tanya Raiden. “Bisa tolong ikut aku sebentar.”
Raya mendongak malas, “Bapak tidak tahu jika saya ngantuk berat.” Jawab Raya.
“Baiklah, akan kutunggu sampai ngantukmu hilang.” Kata Raiden. “Apa yang membuatmu jam segini ngantuk seperti itu sebenarnya ?”
“Penganten baru pak, harus paham.” Jawab Ara
“Ah .... suamimu benar-benar ya.” Gerutu Raiden. “Kalau ketemu awas saja aku pastikan dia akan kehilangan burungnya.”
“Burung ????” Tanya Raya bingung. “Suami saya tidak pelihara burung pak.”
“Lalu bagaimana dia bisa dia membuatmu tidak tidur semalaman kalau bukan karena burungnya ?” Tanya Raiden.
“Bapak ngomong apaan sih !!!?” Seru Raya jengkel
“Ya sudah ... ngantuknya sudah hilang belum ??? Aku harus bicara denganmu 4 mata.” Balas Raiden.
“Kenapa harus 4 mata, bapak mau macam-macam sama saya ?” tanya Raya.
Raiden mengusap wajahnya kesal, ternyata adiknya benar-benar seperti informasi yang didapatkan, absurt, sekalipun sebenarnya menakutkan.
“Pokoknya kembali keruanganku, ada yang harus kita bicarakan.” Kata Raiden dengan tegas dan meninggalkan Raya dan Ara yang kebingungan.
“Kenapa dia ??” Tanya Raya.
“Entahlah.” Jawab Ara. “Turuti saja, kalau dia macam-macam kan kamu bisa bikin dia jadi sate kambing.”
Raya melangkah malas menuju ruangan Raiden. Raya masuk tanpa permisi karena pintu tidak tertutup rapat dan
langsung duduk di sofa ruangan tersebut. Raiden tampak sedang berkutat dengan laptopnya lalu menghentikan dan menghampiri Raya.
“Kau benar-benar adikku, sangat sempurna..... Ayah.... kau benar-benar memiliki anak perempuan.” Kata
Raiden dalam hati.
“Ada apa bapak nyariin saya lagi ?” Tanya Raya ketus.
“Ada rahasia besar yang kamu tidak tahu selama ini.” Jawab Raiden. “Ini ... bukalah ....”
Raiden menyerahkan sebuah amplop pada Raya.