
Pagi ini, Alen sudah bersiap-siap berangkat ke kantor, kali ini bukan untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa, tetapi akan melakukan pengamanan di gedung perwakilan rakyat. Karena hari ini adalah demo mahasiswa besar-besaran menuntut suatu hal.
“Kakak...... “ Raya cemberut
Apa ??? Kakak tetap ijinkan kamu ikut demo dan berorasi, tapi setelah itu langsung pulang. “Kata Alen. “Kamu tahu kan selalu buntut dari demo itu apa ?”
“Tapi aku gak mau ninggalin kakak dikepung masa segitu banyak. Untuk masa mahasiswa kampusku aku masih bisa kendalikan, tapi enta kampus lain, belum lagi pasti ada penyusup bayaran.” Balas Raya
“Sayang .... ingat anak dalam perut, kamu tidak boleh terlalu lelah untuk yang kali ini.” Kata Alen sambil memeluk Raya dari belakang dan mengelus lembut perut Raya yang masih rata.
Ya.... sejak semalam perdebatan Raya dan Alen begitu alot soal Raya harus ikut demo dan berorasi. Alen tidak mempermasalahkan soal itu, tapi kondisi Raya yang sedang hamil muda jelas itu yang dia pikirkan, apalagi kadang Raya tahu-tahu mengalami tekanan darah rendah. Akhirnya Alen hanya memperbolehkan Raya berorasi saja dan setelah itu pulang, bahkan memastikan sang ketua BEM teman Raya, yang bernama Bian untuk menarik Raya dari masa jika sudah selesai. Bian tentu saja tahu maksud Alen, istri seorang polisi justru berdemo berhadapan pula dengan suaminya sendiri dan teman-teman yang melakukan pengamanan.
“Kau bawa senjata kan ?” Tanya Alen
“Bawa, kak .... tapi buat apa.... disana yang bawa senjata polisinya, bukan pendemo.” Jawab Raya.
“Itu untuk berjaga-jaga dalam situasi apapun.” Kata Alen. “16 amunisi tidak akan berkurang jika demonya berlangsung aman.”
Alen sebenarnya benar-benar khawatir dengan Raya yang tetap ngotot ikut berdemo, pukul 7 pagi dia sudah siaga bersama yang lain di gedung parlemen. Kegelisahan Alen dapat terbaca oleh teman-temannya dan bawahannya
“Santai saja lah pak.... istri anda pasti tidak akan anarkis.” Ledek Haris.
“Gak anarkis gundulmu .... kamu belum tahu saja istriku kalau udah ngamuk.” Balas Alen. “Ris.... kamu nanti pantau Raya, karena yang berhadapan langsung adalah kamu dan teman-temanmu, jangan sampai ada tongkat
melayang ke kepalanya.”
“Siap pak kaptennnn !!!!” Seru Haris yang sudah memakai seragam lengkap dengan tameng dan ***** bengeknya, yang pasti bikin panas, berkeringat dan berat
Raya dan teman-teman mahasiswa lain sudah ada di depan gedung parlemen, memang jika mahasiswa yang berdemo dan berorasi tentu selalu berlangsung damai. Mahasiswa tentu tahu batas mana boleh dan tidak boleh dilakukan. Raya berdiri di atap kap mobil dan mulai berorasi yang Alen justru melihatnya dari jauh tidak percaya. Di balut seragam almamater kebesarannya Raya berorasi dengan lantang dan tegas.
Soal isi orasi dan mendemo apa tidak perlu jelas detail, karena ini novel bukan berita politik, hehehe.....
Raya memang seperti menghipnotis banyak masa, teriakan Raya dan sahutan teman-teman mahasiswanya tampak kompak. Raya memang jago dalam hal berorasi dan menguasai emosi teman-temannya. Bukan apa-apa, sebelum melakukan demo tentu Raya selalu mengancam teman-temannya untuk tidak main anarkis, terutama yang pria-pria, karena mereka bisa saja akan mendapat hadiah bogeman telak dari Raya jika melakukan tindakan itu. Bahkan Bian yang sebagai ketua BEM saja justru takhluk dengan Raya.
Raya kemudian dari mobil dibantu oleh Bian dan beberapa teman lain, bagaimanapun Bian tahu jika Raya sedang hamil, makanya dia juga sebenarnya khawatir.
“Udah... orasinya biar diambil alih Ara.” Kata Bian. “Ingat anak kamu, Ray.”
“Suamiku saja tidak terlalu khawatir kenapa kamu bingung, Bi ?” Tanya Raya sambil menghabiskan sebotol air mineral.
“Eh mana ada suami tidak kuatir, oon !!!” Bentak Bian. “Udah sono kamu nyusup masuk gedung parlemen, suamimu nunggu disana.”
“Ntarlah ... santai aja .... belum panas ini...” Balas Raya
Sementara itu, Alen mendapatkan telepon dari Kenan.
“Kenapa kamu ijinkan Raya ikut demo ?” Tanya Kenan
“Kakak kayak tidak tahu aja adiknya satu itu gimana. Susah dibilangin kalau udah ada kemauan.” Jawab Alen. “Aku hanya mengijinkan dia berorasi saja, tidak lebih. Bian mengawasi Raya terus, karena aku memang meminta Bian mengawasi Raya.”
“Hufff.... kalau sudah tarik pulang saja nanti. Atau perlu aku turun tangan dengan anak buahku ?” Tanya Kenan
Alen membayangkan jika Kenan sudah turun tangan ngomongin soal anak buah, bisa bukan sepuluh atau dua puluh orang saja, bisa ratusan yang datang. Membayangkan itu tentu saja dia tidak mau, arena demonstrasi mahasiswa disusupi boduguard-bodyguard kelas mafia.
“Nggak usah kak !!! Aman pokoknya.” Kata Alen
“Bawa pulang Raya tanpa kurang sedikitpun.” Balas Kenan dan menutup telepon.
Alen kemudian menyusup masuk ke barikade depan dan keluar dari gedung parlemen mendekati Raya. Buat teman-teman Raya itu sudah bukan hal asing, karena mereka sudah tahu siapa Alen. Tapi buat mahasiswa kampus lain itu tentu saja terasa aneh, seperti polisi nekad masuk sarang harimau, untung saja Alen tampan, banyak para mahasiswi mengabadikan moment itu dengan memfoto dan memvideokan kehadiran Alen dibalik seragam kebesarannya yang semakin menunjang ketampanannya.
Raya tampak sedang duduk selonjoran di aspal jalanan bersama yang lain sementara Ara melanjutkan orasi dari Raya. Alen pun ikutan duduk di sebelah Raya.
“Kak .....” Raya tampak kaget karena Alen tiba-tiba sudah ada disebelahnya. Bahkan menaruh kepalanya dipundak Raya. “Malu lah diliat banyak orang.”
“Biar saja.... aku capek....” Kata Alen
“Masih mual ya ?” Tanya Raya.
“Sedikit. Tadi pagi kan aku hanya sarapan roti.” Jawab Alen sambil nyomot roti milik Raya dan melahapnya habis.
Buat teman-teman Raya itu hal biasa, tapi buat mahasiswa lain sikap dan perilaku Alen tentu saja membuat banyak mata heran.
“Ayo kamu ikut aku, sudah kan orasinya ?” Tanya Alen.
“Ikut kemana ?” Tanya Raya balik
“Masuk ke dalam dibalik barisan barikade.” Jawab Alen
“Hossssstttt !!! ntar semua mata ngira aku pengkhianat kak.” Kata Raya
Alen tiba-tiba bangun dan membopong Raya tanpa minta ijin. Tentu saja Raya meronta-ronta tidak jelas sambil memukuli pundak Alen. Alen tanpa peduli menerobos barisan barikade membawa Raya masuk ke area gedung
parlemen.
“Woiiii.... pak !!!! Jangan culik teman kami !!!” Teriak salah seorang mahasiswa dari kampus lain.
Bian yang tahu ini bakal jadi salah paham kemudian mendekati teman-teman dari kampus lain.
“Kalian gak usah khawatir, itu yang nyulik suaminya sendiri !” Seru Bian. “Lagi pula dia lagi hamil muda, bahaya kelamaan panas-panasan. Pingsan malah kita yang repot. Udah, dia aman dengan suaminya.”
“Suami ????!!!” Jerit beberapa mahasiswa perempuan, tampak jelas wajah kecewa setelah tahu Alen sudah beristri.
“Yahhhh.... cakep-cakep udah ada yang gandeng ....”
“Penonton kecewa, hik hik hik.....”
Orasi dan demonstrasi masih berlanjut, Raya duduk manis di dalam truk polisi yang saat ini kosong karena isinya sedang menjaga barikade depan. Alen kembali bertugas, meskipun sebenarnya masih khawatir Raya ditinggal sendiri, belum lagi dia masih harus menahan rasa mualnya yang kadang muncul kadang hilang.
Menjelang siang, suasana semakin panas, beberapa teman mahasiswa Raya sudah mundur dari barisan paling depan, tapi entah dari mana tiba-tiba banyak lemparan batu, botol dan juga kayu mengarah ke gedung parlemen. Sampai akhirnya pembakaran dimana-mana, ban-ban bekas bertumpuk terbakar. Suasana memanas, mobil watercanon juga sudah mulai merangsek maju ke depan.
Raya kehilangan sosok Alen entah ada disudut mana. Suasana seperti ini jelas membuat Raya bingung, suaminya tidak terlihat jelas. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sudut lain dimana polisi sedang adu jotos dengan demonstrans yang jelas-jelas bukan dari kalangan mahasiswa. Alen tampak sedang menghadapi 3 anak muda yang sepertinya beringas tanpa ampun. Tampak kepala Alen mengeluarkan darah segar, sepertinya terkena lemparan batu. Raya yang melihat itu langsung melompat turun daru truk dan berlari ke arah Alen dan melakukan serangan bertubi-tubi pada perusuh.
“Kalian tololll !” teriak Raya. “Ini demo damai kenapa kalian malah anarkis !!!”
“Woiii mbak.... ngapa belain tu polisi !” teriak salah seorang dari mereka. “Mbak kan mahasiswa !!!”
“Kami demo damai, bukan anarkis !” teriak Raya yang tiba-tiba menyerang tanpa ampun dan menyeret dua pendemo tidak berdaya itu ke teman-teman Alen yang kemudian disambut teman-teman Alen untuk mengamankan perusuh itu.
“Kak .... kakak terluka !” teriak Raya.
“Udah gapapa, cepat kamu masuk saja, sayang... Bahaya.” Kata Alen.
“Nggak lah, kak.... ini bener-bener sudah diluar ekspektasi.” Balas Raya. “Aku mana rela kakak dipukuli kayak gini. Mereka salah ya salah. Penyusup harus di hajar biar kapok.”
Memang benar, dimana ada demonstrasi pasti ada penyusup yang memanfaatkan situasi dan menyebabkan kerusuhan, bahkan ketika ditangkap ketika ditanya tujuan demonstrasi apa, jawabannya tidak tahu, hanya ikut-ikutan. Sungguh lucu.
Raya menarik Alen masuk ke barikade polisi dan mendudukkan Alen di pelataran rumput. Darah masih mengalir deras. Raya langsung melepas jas almamaternya dan berusaha menghentikan perdarahan di kepala. Jonas
kemudian datang dengan paramedis.
“Ke rumah sakit saja, Len.” Kata Jonas
“Gak usah.... udah disini saja kan ada medis.” Balas Alen. “Sayang .... kamu kenapa tadi malah ikutan berantem, perutmu tidak sakit ?”
“Tidak, kak. Santai saja. Anakmu kuat.” Jawab Raya sambil nyengir
Medis yang sedang merawat luka Alen tampak terbengong mendengar ucapan Raya, “Mbak lagi hamil ?”
“Iya. Anak dia.” Jawab Raya sambil menunjuk Alen.
“Heran deh .... baru kali ini ada istri polisi malah ikutan berantem sama pendemo, padahal berkoar-koar orasi. Hehehe.” Kata mbak perawat.
“Mbaknya belum tahu saja bandelnya istri saya gimana....” Kata Alen sambil meringis-meringis menahan sakit.
Beberapa saat kemudian Bian tampak muncul sambil dengan napas ngos-ngosan.
“Kamu kok bisa masuk ?” Tanya Alen
“Itu kak, tadi kan ada temen kakak yang polisi itu tahu temen Raya jadi boleh masuk.” Jawab Bian
“Ada apa ?” Tanya Raya
“Ara ilang....” Jawab Bian. “Aku dah nyari-nyari gak ketemu, HP nya gak aktif.”
“Waduhhhh..... telpon kakak saja deh !!!” Seru Raya yang langsung menelepon Raiden
“Kakkkk..... !!! Ara ilang !!!” Teriak Raya
Raiden yang sedang duduk santai di pinggir jalan jauh dari bagian pendemo tentu saja terkejut. Ya, Raiden juga ikut turun ke jalan, tapi bukan untuk ikut berdemo, tapi mau menjemput Ara.
“Apaaaa !!!” teriak Raiden
“HP nya gak aktif kak, kakak kan di barisan belakang tadi, bantuin cari.” Balas Raya. “Aku gak bisa bantu, Kak Alen terluka soalnya.”
Raiden segera menghubungi semua anak buahnya dan anak buah ayahnya untuk mencari Ara. Jelas kekalutan tampak di wajah Raiden.