
“Pak .... saya tidak mau menikah dengan bapak.” Kata Ara.
“Tapi kan kita bisa pura-pura menikah.” Balas Raiden. “Ayah bener-bener kita menikah. Ayah tidak mau kita melakukan hubungan diluar batas.”
“Hahhh apaan hubungan, napsu juga enggak.” Kata Ara
“Siapa juga yang nafsu sama kamu ? Dada rata, tubuh kerempeng, mana cuma setinggi dadaku, apanya yang bagus dari kamu.” Balas Raiden
Sedetik kemudian sebuah spidol papan tulis melayang mengenai kepala Raiden dan membuat meringis karena sakit.
“Kenapa aku dilempar ?” tanya Raiden
“Bapak yang kenapa !? Bisa-bisanya bilang aku seperti itu !” Bentak Ara. “Biarpun aku kurus, berdada rata dan pendek tapi aku tetap dimana-mana imut.”
“Ah imut dari mana, amit-amit iya ....” balas Raiden.
Ara yang sedang duduk dihadapan meja kerja Raiden tampak mengerucutkan bibirnya. Raiden yang sedari tadi juga memandang Ara tampak senyum-senyum.
Sebenarnyakamu manis, apalagi kalau sedang marah seperti ini. Kata Raiden dalam hati. Kurang apa aku sebenarnya dimata dia, jelas-jelas aku ini juga tidak kalah tampan dengan artis-artis Korea idolanya.
*Dasar dosen aneh\, bisa-bisanya mau nikahin mahasiswanya.*Gerutu Ara dalam hati. Bisa-bisanya juga langsung bilang aku ini kekasihnya. Oh ... Raya .... kenapa kamu punya kakak segini sablengnya. Pintar sih pintar tapi sablengnya aku nggak kuat.
Raiden kemudian berdiri dan mendekati Ara, memposisikan menyandarkan sebagian pantatnya di meja kerjanya, menghadap ke arah Ara yang masih duduk. Kemudian menarik tubuh Ara hingga masuk dalam pelukannya. Kepala Raiden dijatuhkan di pundak Ara.
“Bisakah kamu diam sebentar, aku nyaman jika sudah seperti ini.” Bisik Raiden.
“Pak ......”
“Mulai sekarang jangan panggil aku bapak kecuali memang sedang didalam kelas.” Potong Raiden. “Menikahlah denganku, apa kamu tega ayah terus-terusan mengatakan aku bujang lapuk ? Maukah kamu menjadi istriku ?”
“Tapi ....”
"Apa kamu tidak mencintai aku sedikitpun ?” Tanya Raiden. Kali ini menatap wajah Ara dengan tatapan dalam. Mata elang Raiden benar-benar membuat hati Ara berantakan.
“Sejak kapan bapak menyukai saya ?” Tanya Ara balik. Sepenuhnya dia masih belum percaya, bahwa dosennya ini, pria dengan usia 8 tahun lebih tua darinya ini menyukai dirinya.
“Sejak saat kamu hilang diculik ayah.” Jawab Raiden. “Ada rasa khawatir yang amat besar disini, Ra.” Raiden menunjuk dadanya. “Aku tahu siapa ayahku sejak kecil, salah nyulik pun bisa saja tetap menghabisi korbannya. Beruntung ternyata ayah melunak jika tahu kamu adalah gadis pilihanku. Mungkin juga luluh karen pada kenyataannya Raya adalah anak kandungnya juga.”
“Kenapa bapak tidak seperti ayah bapak saja ?” Tanya Ara penuh selidik. “Kenapa lebih memilih jadi dosen yang tidak memiliki tantangan hidup sepertinya. Apa jangan-jangan bapak tidak memiliki keahlian seperti dan Raya dan kakak-kakaknya miliki ?”
“Kamu salah !” Raiden tersenyum sambil mencubit pipi cubby Ara. “Kau tahu kenapa setiap aku kemana-mana selalu memakai jaket atau jas ? Ini jawabannya.”
Raiden melepas jas hitamnya. Dibalik jas itu ternyata ada sabuk pengait menyilang dikedua pundaknya, dan sebuah pistol berada ditempatnya, di pinggang kiri Raiden. Ara jelas terkejut karena dosen tampannya
ini ternyata juga menyimpan senjata api dibalik tubuhnya.
“Bu.... buat apa, pak ?” Tanya Ara. “Bapak kan bukan polisi seperti Kak Alen ?”
“Hei .... bisnis ayahku adalah bisnis gelap. Itu akan berpengaruh dalam keselamatan keluarga, termasuk aku, diluar sana aku tidak akan tahu bakal bertemu siapa. Musuh ayah banyak. Bahkan ketika sekarang ayah benar-benar sudah meninggalkan bisnis gelapnya, musuh-musuhnya masih saja mencarinya karena dendam masa lalu.” Jawab Raiden. Raiden kembali menggunakan jasnya, karena akan sangat tidak baik jika ada orang lain di lingkungan kampus melihatnya menyimpan senjata api di balik tubuhnya.
“Apa Raya juga berarti selalu membawanya ?” Tanya Ara
“Raya hanya kadang-kadang saja membawa, trauma masa lalunya jelas aku sangat tahu. Demi melindungi dirinya dan almarhum Jonas waktu serangan itu menyisakan dirinya dengan menghabisi anak buah ayah tanpa sisa. Keahliannya dalam menembak diatasku dan yang lain.” Jawab Raiden.
“Ara .... apakah kamu akan mundur setelah tahu siapa aku dan keluargaku ?” Tanya Raiden. “Kalau kamu mundur aku bisa memahaminya, bagaimanapun aku bukan pria baik-baik dimasa lalu, membunuh dan selalu hampir terbunuh itu sudah biasa buatku. Apalagi ayahku mendidikku dengan keras dalam dunia kejam, bahkan menusukku pun ayah tega melakukan. Aku sangat bahagia sekarang ayah begitu berubah karena kehadiran Raya.”
Ara justru menganga mulutnya, bukan apa-apa, sebenarnya Ara juga menyukai seorang Raiden, tapi waktu-waktu kemarin dia hanya menyukai sebatas dosennya mirip artis Korea, tapi sekarang ? Hatinya juga jantungnya entah sudah tidak menentu. Dihadapan pria tampan ini Ara seperti tidak bisa menolak apapun.
“Aku bersedia...” Kata Ara.
“Bersedia untuk apa ?” Tanya Raiden bingung
“Benar kata ayah ternyata, mudah pikun bapak dosen satu ini.” Gerutu Ara. “Siapa tadi yang tanya maukah aku jadi seorang istri dosen ?”
Raiden membulatkan matanya tak percaya, jawaban Ara diluar dugaan. Karena Raiden memang sudah siap menceritakan semuanya tentang dirinya, Ara harus tahu lebih banyak tentang dirinya sebelum melangkah lebih jauh dan membuatnya kecewa dibelakang.
“Aku anak mantan mafia ?” Tanya Raiden
“Tidak mengapa, aku akan selalu bersamamu dalam keadaan apapun, asal aku selalu dijaga dan dilindungi, tentu saja ditambah dicintai dan disayang.” Jawab Ara sambil tersenyum.
Raiden tersenyum, kemudian menarik tubuh Ara duduk diatas mejanya, sejurus kemudian Raiden mencium bibir Ara dengan lembut, dan kemudian semakin dalam sehingga Ara seperti kehabisan nafas.
“Pak .....” Ara mendorong Raiden.
“Maaf, sayang ....” Balas Raiden. “Aku akan melamarmu secepatnya.”
Ara terkejut, tidak menyangka orang yang baru saja sah menjadi kekasihnya ini dengan cepat memutuskan akan melamarnya.
“Kenapa ?” Tanya Raiden
“Apa bapak benar-benar mau menemui orang tuaku ?” Tanya Ara balik
“Tentu sayang... sebagai laki-laki aku harus melakukan sebagai bentuk aku benar-benar dan sungguh-sungguh menginginkanmu.” Jawab Raiden
Ara memutar matanya membayangkan kedua orang tuanya, papanya, yang seorang perwira TNI, jelas tidak akan dengan mudah menerima Raiden, apalagi jika tahu Raiden adalah mantan mafia juga. Siapa tidak tahu papa Ara, perwira TNI yang terkenal galak itu, yang membuat Ara enggan berpacaran dan membawa pulang pacarnya setiap kali dia pulang ke kota asalnya. Tetapi berbeda dengan mamanya, seorang pengusaha butik yang sangat supel dan humoris. Untuk mamanya Ara tidak akan mempersoalkan, karena pasti mamanya akan setuju saja memiliki menantu setampan Raiden, bahkan mungkin akan segera saja memamerkan pada teman-teman arisannya, pasukan tante girang, itulah julukan Ara pada teman-teman arisan mamanya.
“Kau siap berhadapan dengan seorang pria galak dan menakutkan.” Kata Ara
“Aku sudah tau siapa ayahmu, sayang. Kolonel Bintoro, siapa yang tidak kenal.” Balas Raiden. “Percayakan semua padaku. Papamu akan menerimaku dengan mudah pastinya.”
“Apa bapak akan juga menceritakan siapa bapak dimasa lalu, juga tentang ayah ?” Tanya Ara
“Tentu. Orang tuamu harus tahu benar siapa calon suami dari anaknya.” Jawab Raiden. “Aku tidak akan menutupi satupun dari mereka. Aku tidak mau mereka tahu dari orang lain, karena bukan tidak mungkin papamu pasti akan mencari informasi tentang siapa aku, walaupun itu tidak mungkin beliau dapatkan karena semua rahasia tentang Blue dan Black stars akan sangat tertutup rapat.”
“Yakin ?” Tanya Ara
“Yakin dan mulai sekarang jangan panggil aku bapak kecuali di kelas, aku bukan bapakmu.” Jawab Raiden sambil cemberut. “Masa kalau kita kencan diluar sana orang dengar kamu panggil aku pak... pak.... terus....”
Ara tertawa, ternyata Raiden jika sedang ngambek tampan juga, “Baiklah, sayang .....”
“Ulangi....” Pinta Raiden
“Sayang ......” Balas Ara.
Raiden kembali ******* bibir Ara tanpa ampun. Tak sadar ada seseorang yang memperhatikan dibalik ruangan itu. Hatinya teriris melihat adegan antara dosen dan mahasiswa itu berciuman dengan amat mesra dan bergairah. Dia kemudian meninggalkan ruangan itu sambil menundukkan wajahnya, kembali ke ruangannya, tidak percaya jika dia kalah percintaan dengan seorang mahasiswa.