
Kita tinggalkan Raiden dan Ara di Bandung. Kita kembali kepada aktivitas di Jakarta, dimana
kandungan Ara semakin besar, sehingga membuat Alen selalu enggan untuk meninggalkan sendiri di rumah, walaupun di rumah sudah ada Papa Caesar dan Mama Alin yang selalu menemani Raya.
Sore itu, Alen masih di kantor, ada rapat dadakan untuk melakukan penyelidikan kasus penyelundupan senjata ilegal.
“Len .... kali ini kamu harus ikutan berperan.” Kata Pak Dirga
“Aku ?!” Tanya Alen bingung.
“Ya, orang yang cocok kali ini untuk menyamar adalah kamu dan Meita.” Kata Ezar. “Gak mungkin kan seperti biasanya, kamu sama Raya. Perut Raya udah sebesar semangka jumbo gitu.”
Memang dalam beberapa pengungkapan kasus, Alen kadang meminta tolong Raya untuk menyamar atau menjadi umpan, tapi kali ini memang sudah tidak bisa di tawar lagi.
“Harus dengan Meita ?” Tanya Alen ragu.
“Tidak ada polwan yang pas untuk menjadi pasangan kamu selain Meita.” Jawab Jonas. “Masa kamu mau pasangan dengan Bu Atik ?”
Bu Atik yang disebut namanya, polwan senior yang agak bertubuh bongsor langsung melempar Jonas dengan spidol.
“Gini-gini juga anak-anakku ganteng dan cakep !” Protes Bu Atik.
“Ya sudahlah .... oke .... semoga Raya bisa menerima.” Kata Alen pasrah. “Kalian tahu kan dia sensitifnya gimana selama hamil ini.”
“Kalau perlu aku akan bicara dengan istri anda, Pak.” Kata Meita. “Biar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Alen sampai rumah pukul 7 malam, segera membersihkan diri dan bergabung makan malam dengan yang lain.
“Kusut amat mukanya ?” Tanya Farel yang kebetulan sedang libur jaga.
“Iya, nih ! Kenapa kamu, kak ?” Tanya Raya.
“Aku harus tugas penyamaran lagi.” Jawab Alen sambil menyuapi Raya yang memang manja sekali, kalau makan minta suapin Alen.
“Sama siapa ? Gak mungkin sama aku ?” Tanya Raya. “Perutku tanggung belum bisa kempes.”
“Sama Meita.” Jawab Alen singkat.
“Bagus, Dong !” Seru Raya. “Mbak Meita kan cantik.... cocok sama kakak.”
Alen membulat matanya, “Kamu bukannya gak suka sama Meita ?” Tanya Alen.
“Dih .... !!! Siapa bilang !!! Aku bukan gak suka. Tapi sayang aja, cantik-cantik gitu body kayak biola, tapi kok nasib jadi polisi.” Jawab Raya.
“Memangnya kali ini tugasnya apa ?” Tanya Papa Caesar
“Nyelidik penyelundupan senjata, Pa.” Jawab Alen. “Masalahnya ini bigbosnya hobby banget sama cewek cakep. Makanya Meita yang jadi umpan.”
“Siapa ?” Tanya Raya.
“Bosnya .... Himawan.” Jawab Alen.
“Woww ...akhirnya nanganin kasus itu juga kamu, kak.” Kata Raya
“Kamu kenal ?” Tanya Alen
“Siapa yang gak kenal Himawan. Si tukang main perempuan juga.” Jawab Raya. “Hati-hati aja pokoknya sama tu orang.”
“Aku sebenarnya ogah nerima tugas ini, tapi Ezar dan Jonas juga gak mungkin melakukan, tahu sendiri kalau mereka yang nyamar malah bubar misi, mereka gak bakat jadi aktor.” Kata Alen.
“Besok bawa Mbak Meita pulang ke sini.” Kata Raya
“Mau diapain ?” Tanya Alen
“Ada deh !!!!” Jawab Raya.”Udah,.... bawa kesini besok ya, ntar aku wa dia supaya percaya kalau aku yang mau dia datang.”
Esoknya benar saja, Meita diajak Alen ke rumah untuk bertemu Raya. Raya tampak antusias dan mengajak Meita ke ruangan kerja Alen.
“Mbak Raya .... kenapa kita harus ketemu ?” Tanya Meita
“Gini lho, mbak .... kan besok mau penyamaran sama suamiku. Jadi aku dah siapin sesuatu buat mbak supaya mbak bisa menjaga diri mbak juga.” Jawab Raya.
“Sebenernya saya gak enak mbak dampingin bapak kali ini.” Kata Meita.
“Mbak.... selama perut saya belum kempes pokoknya mbak harus jadi pasangan kak Alen. Nih besok pakai ini.” Kata Raya sambil menyerahkan sesuatu
“Apa ini ?” Tanya Meita
“Ini adalah jaket anti peluru. Aku sudah mendesainnya supaya modis. Inget yang dihadepin bos senjata, mbak.” Jawab Raya. “Jaket ini padukan saja dengan celana jeans hotpants. Pasti deh Oom Himawan langsung ijo matanya liat paha mulusnya mbak Meita, hehehe...”
“Harus ya....?” Tanya Meita ragu.
“Iyalah mbak.... kalau nyamar, walaupun profesi jadi polisi, pakai bikini pun lakonin lah ....” Jawab Raya. “Ini adalah kaca mata tembus pandang. Bukan berarti kita bisa liat orang telanjang kalau pakai nih kaca mata. Tapi kita bisa melihat di balik tubuh orang-orang kita hadapi bawa senjata tidak. Dan ini jam tangan bius. Mbak Meita harus pakai. Sering nonton ditektif Conan kan ?! Begitulah cara kerjanya. Didalam jam ini ada 20 jarum
halus yang membuat orang tertidur selama 30 menitan.”
“Wah .... mbak Raya canggih bener barang-barangnya.” Kata Meita. “Kenapa gak dilisensikan aja sih mbak buat keperluan kepolisian ?”
“No..... barang ciptaanku hanya untuk urusan pribadi.” Balas Raya.
Hari dimana sudah ditentukan Alen dan Meita menyamar sebagai pasangan kekasih di sebuah bar dipinggiran kota dilaksanakan. Raya yang tidak mau suaminya celaka dalam misi kerja ini, meminta tolong Kelvin dan Viko untuk membantu memantau. Sam yang ternyata sedang tidak banyak pekerjaan diam-diam
diincar.
“Sayang..... sepertinya disini kita cocok duduk dulu.” Kata Alen memulai penyamaran. Berjalan masuk bar sambil merangkul Meita dengan mesra tanpa canggung.
Mereka duduk di sebelah tempat duduk sasaran yang sedang kumpul juga dengan koleganya. Meita mulai berakting menunjukkan sisi keseksiannya sehingga membuat sang target melirik.
“Sayang, hari ini kamu seksi sekali ....” kata Alen sambil menciumi tengkuk dan leher Meita, seolah-olah sudah setengah mabuk.
“Duh, pak.... bisa dicincang istrimu kalau tahu ini.“ Kata Meita dalam hati. “Sayang .... nanti kita lanjut saja di hotel ya...” Kata Meita sambil membelai rambut Alen. Sam yang tampak duduk dipojokan bersama Viko tersenyum geli.
“Vik... ambil gambar deh kirim ke Raya.” Kata Sam jahil
“Janganlah, bos. Bisa auto brojol entar keponakanmu.” Balas Viko sambil terkekeh.
“Buzet tu bocah ...!” Seru Jonas dari kejauhan. “Inget bini inget bini....”
“Itu namanya totalitas.” Kata Pak Dirga. “Totalitas keblabasan hahahaha ..... ibu hamil di rumah ngomong-ngomong bisa kayak macam kelaparan kalau liat ini.”
Sam yang memang sedang membaca situasi sudah memiliki target, sangat jelas semua anak buah Himawan menyebar dimana-mana. Viko dan Kelvin pun tahu. Mereka segera secara diam-diam melumpuhkan anak buah Himawan tanpa sisa, dan tentu saja tanpa ketahuan. Rapi sekali. Polisi saja tidak akan paham mana anak buah musuh mana pengunjung bar.
“Hei cantik ... sepertinya pacarmu sudah mabuk berat ya ?” Himawan tiba-tiba menghampiri Meita. “Cantik-cantik kok pacaran sama pemabuk.”
“Anda siapa ?” tanya Meita pura-pura tidak tahu. “Dan sedang apa disini ?”
“Ow ..... hanya sedang ada urusan dengan rekan bisnis saja. Mau menemaniku ? Biarkan pacarmu tertidur disini.” Kata Himawan.
Alen memang pura-pura tertidur karena mabuk, Meita pun berdiri dan mendekati Himawan, “Apa yang bisa anda berikan jika saya malam ini menemani anda ?” Tanya Meita Genit
“Hasil transaksi hari ini menjadi milikmu.” Jawab Himawan sambil menarik Meita ke pangukuannya.
“Transaksi ?” Tanya Meita memancing
“Hei .... kau tahu siapa aku ? Aku akan penuhi semua keinginanmu. Kali ini transaksiku sukses besar.” Jawab Himawan.
“Sayang .... aku cari kemana-mana ternyata sudah menclok aja di pria lain kamu.” Tiba-tiba Sam muncul membuat Meita terkejut, pasalnya ini tidak ada dalam skenario.
Himawan yang melihat dan tidak asing lagi dengan Sam tampak terkejut.
“Kau ....!” Seru Himawan
“Hai.... lama tidak bertemu. Kok tahu-tahu sudah bersama kekasihku.” Kata Sam tersenyum sinis dan langsung menarik Meita dalam pelukannya. “Sayang .... jangan pernah berpaling dariku. Ingat akibatnya kan !?”
“Imbangi aku.” Bisik Sam pada Meita. “Kita ambil alih masalah ini sekarang.”
“Maaf, sayang ....” Balas Meita.
“Kurang apa aku sama kamu ? Kamu butuh senjata model apapun akan kuberikan.” Kata Sam. “Kamu butuh apapun, mobil, perhiasan, perawatan tubuh macam apapun aku pasti turuti kan ???”
“Kau !!! Selalu saja menggangguku !” bentak Himawan
“Oh.... kau lupa kau juga sudah merebut nyawa Kirei dariku, Hah !” Balas Sam tak kalah seru.
“Kirei tak perlu hidup lama, kanker otak juga lambat laun akan merenggut nyawanya, aku hanya mempercepatnya untuk ke surga.” Balas Himawan
“Kau lupa ..... kau membunuhnya supaya aku tidak bisa menikahinya.” Kata Sam.
“Kau harusnya senang, karena hanya Shaki kan yang tetap dihatimu waktu itu.” Balas Himawan.
“Sekalipun aku harus terpaksa menikahinya waktu itu, tapi bukan berarti dengan cara seperti itu menghilangkan nyawanya.” Kata Sam.
Meita yang bingung dengan situasi yang dia hadapi hanya bisa diam dalam pelukan Sam. Alen yang sedang dalam posisi tidur sambil duduk mendengar perdebatan kakak iparnya dan targetnya tentu saja semakin tidak
mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata ada perseteruan antara Sam dan Himawan selama ini.
“Waduh ... itu gimana ceritanya si jangkung tiba-tiba nongol jadi pacarnya Meita.” Kata Jonas bingung.
“Kita tunggu saja .... sepertinya ada masalah antara mereka berdua dimasa lalu. Menguntungkan kita kali ini.” Kata Pak Dirga.
“Kau benar-benar bikin kacau. “Kata Himawan. “Untung transaksi senjataku sudah selesai, ayo selesaikan masalah ini diluar !!”
“Skak mat !!!” Seru Meita. “Kata-kata anda sudah terkunci sekarang tuan Himawan. Transaksi senjata ilegal.”
“Dari mana kamu tahu ?” Tanya Himawan terkejut.
Sejurus kemudian Alen bangun dan segera menodongkan senjatanya disusul yang lain merapat juga. Himawan sudah terkepung, anak buahnya juga sudah lenyap. Penangkapan tanpa perlawaan.
Kali ini tersisa mereka diluar bar.
“Kak .... ada apa sebenarnya ?” Tanya Alen.
“Himawan adalah orang yang membunuh Kirei, sahabatku dan Shaki juga, Kirei meninggal 3 hari sebelum aku menikahinya. Racun arsein yang telah disuntikkan Himawan secara diam-diam membunuhnya.” Jawab Sam.
“Kenapa dia melakukan itu ?” Tanya Alen
“Karena dia menyukai Shaki waktu itu. “Jawab Sam. “Dia membuatku hancur karena tahu aku masih sangat mencintai Shaki. Apalagi Shaki tiba-tiba menghilang waktu itu. Dan dia benar-benar berhasil membuatku terpuruk, kehilangan Kirei juga Shaki sekaligus.”
“Rumit sekali sih percintaanmu.” Kata Jonas. “Mudah sekali mencari cinta banyak wanita.”
“Siapa bilang, satu wanita saja sudah membuat hidupku kacau bertahun-tahun, kalau banyak wanita aku bisa mati berdiri.” Balas Sam.