I Love You, My Police

I Love You, My Police
Ruang Tunggu



Setelah semua jelas dan terang, kehidupan kembali normal. Kenan dan Akira juga Yoshi dalam 1 bulan ke depan akan kembali ke Jepang untuk mengurus beberapa hal dengan Kakek Arata. Alen dan Raya memilih tinggal dirumah sendiri berdekatan dengan rumah Ayah Bunda Alen, sedangkan Ayah David akhirnya memutuskan sementara waktu menetap di Indonesia, kembali tinggal dengan Raiden yang tetap kekeh sebagai dosen, sambil membantu mengurus beberapa usaha ayahnya.


Sore itu, Alen menemani Raya periksa ke dokter kandungan sesuai saran dokter keluarga Ayah David waktu itu. Ruang tunggu ternyata sudah agak penuh dengan para wanita yang sebagian berperut buncit. Alen mengajak Raya duduk disalah satu sudut ruang tunggu sambil menunggu panggilan dokter.


“Kak ..... besok perutku berarti bakal seperti itu ?” Tanya Raya


“Iya dong, yang ... masa mau rata terus.” Jawab Alen. “Emang anak kita lahir kayak papan tulis mau ?”


“Berat nggak ya bawa perut segede gitu kemana-mana ?” Tanya Raya


“Mana aku tahu, kan aku gak bakal pernah ngrasain hamil.” Jawab Alen


“Berarti besok kalo dah makin besar perutnya aku gak bisa tiap hari latihan sparing, nih !” Kata Raya. Ya Raya memang hampir setiap pagi atau setiap sore hari latihan bela diri, bahkan tak jarang sparing dengan Alen.


“Masih aja mikirin itu, sedangkan mulai sekarang saja sudah aku larang.” Balas Alen. “Bisa-bisa anak dalam perut kita loncat sana loncat sini dalam perutmu, ikutan capek kalau emaknya pecicilan terus.”


“Mana ada anak dalam perut bisa loncat sana loncat sini, dikira perutku ini kayak aquarium bisa kesana kemari semau gue.” Kata Raya.


“Kan janin itu kayak kecebong, yang. Jadi bisa berenang kesana kemari gitu.” Balas Alen


“Ini anak diperutku hasil kawin sama kamu, kak. Bukan sama kecebong, masa anak sendiri dikatain kecebong.” Protes Raya


Tanpa mereka sadari ternyata Alen dan Raya yang sedari tadi berdebat menjadi pusat perhatian para ibu-ibu yang juga sedang ikut antri giliran periksa. Pasangan muda ini jelas jadi pusat perhatian karena mereka memang tampan dan cantik, belum lagi Alen yang tadi memang tidak sempat ganti pakaian, hanya mengganti sepatunya dengan sandal jepit dan masih berseragam kantornya tetapi atasan menggunakan kaos polisi ketat menambah bentuk badannya terlihat padat berisi atletis.


“Hamil pertama ya, mas ?” Tanya salah seorang ibu-ibu


“Ehm, iya bu.” Jawab Alen


“Mbaknya keliatan masih muda banget.” Kata si ibu


“Iya bu, masih kuliah semester akhir ini juga.” Balas Alen


“Wah gak sabaran amat ya anak muda jaman sekarang. Sekali bikin langsung jadi.” Kata si ibu sambil tertawa.


“Iya nih, bu... orang suruh nunggu selesai kuliah malah udah keburu jadi aja.” Kata Raya.


“Gapapa, mbak..... anak itu rejeki, nikmati aja, lagi pula masnya kan juga dah kerja jadi polisi ini, udah gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kata si ibu. “Lagi pula masnya masih bisa jadi suami siaga, bisa nemenin kemana-mana, jarang-jarang ada suami yang bekerja sebagai aparat negara bisa menemani istrinya yang sedang hamil.”


“Iya, mbak.... ini saya dari hamil umur 4 bulan udah nggak ditemenin suami.” Kata ibu yang satunya


“Lah suami ibu kemana ? Tega amat ninggalin ibu sedang hamil gini ?” Tanya Raya


“Suami saya TNI mbak, sekarang lagi tugas di luar pulau.” Jawab si ibu.


“Wah .... kayaknya kedepan harus ada undang-undang supaya suami aparat negara mendapat pengecualian tugas ketika istrinya sedang hamil.” Kata Raya.


Raya memang dari dulu tukang protes, wajar kalau di kampus pun jabatan wakil BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) masih bertahan ditangannya. Dalam setiap kegiatan kampus dialah paling jago berorasi.


“Kalau bisa sih, mbak, mau-mau saja saya.”Kata si ibu tadi. “Tapi namanya tugas negara ya harus dilakukan, jadi istri prajurit udah harus siap ditinggal kemana aja dan kapanpun.”


“Semoga pas lahiran nanti suami ibu bisa nemenin ya....” Kata Raya dengan wajah tampak sedih. Tak terbayang jika itu terjadi pada dirinya, tidak ada Alen disisinya, menemaninya setiap waktu. Ada rasa bersyukur karena dia memiliki suami yang selalu ada bersamanya. “Kak .... ternyata aku masih beruntung masih ditemenin kakak.”


“Kalau aku tugas keluar kan masih ada kakakmu 4 itu yang selalu siap siaga jagain kamu.” Balas Alen sambil tersenyum


“Itu beda kakkk !” Seru Raya. “Mereka mana bisa jadi suami siaga kayak kakak, yang ada malah bikin aku tambah pusing aja. Belum lagi ayah yang gak ketulungan kalau ngomel-ngomel gak jelas kayak burung beo.”


“Husss !!! orang tua sendiri dikatain burung beo. Ngawur aja.” Balas Alen


“Kayaknya ibu itu mau melahirkan sayang ....” Kata Alen.


“Bantuin kak.” Balas Raya


“Ogahhh .... aku gak mau kayak kemaren lagi.” Kata Alen. “Lagian itu ada suaminya udahan, aku gak mau deket-deket.”


Raya memandang wajah Alen yang seperti orang bingung dan ketakutan, Raya tentu saja terkekeh sendiri, “Kan itung-itung latihan jadi suami siaga lagi.”


“Kalau kamu yang lahiran okelah, Yang .... nah ini istri orang, Yang ..... nyumbang pestisida enggak, ikut repotnya iya.” Kata Alen. “Badanku udah remuk redam kemarin, ini bisa tambah remuk karena itu ibu badannya melar banget.”


Beberapa perawat dan dokter segera memberikan pertolongan pada ibu yang sepertinya akan melahirkan itu dan membawanya segera ke ruang bersalin.


“Apaan pestisida ? Dipikir anak dibikin pake pupuk urea segala ?” Tanya Raya bingung.


“Tanya aja sama ayah David.” Jawab Alen.


“Ayah selalu saja bikin istilah-istilah aneh yang bikin bingung mengartikannya.” Gerutu Raya.


Setelah ruangan tenang karena si ibu sudah dibawa ke ruang bersalin, nama Raya dipanggil untuk masuk ruang periksa. Alen ikut di belakang Raya. Dokter Anne mempersilahkan Raya tiduran untuk dilakukan USG.


“Bayinya sehat, usia kandungannya 6 minggu. Dijaga ya kandungannya.” Kata Dokter Anne


“Dok ... apa selama hamil masih tetap bisa melakukan itu ?” Tanya Alen


“Itu ???? “Tanya Dokter Anne balik, tapi sejurus kemudian sang dokter tersenyum. “Tentu tetap boleh tetapi harus tetap memperhatikan kesehatan ibu dan bayinya, pak. Jangan terlalu sering tapi, apalagi ini masih trimester pertama, kandungan masih lemah.”


“Kalau latihan-latihan beladiri boleh gak, Dok ?” Tanya Raya


“Asal gerakan ringan dan tidak membuat capek tidak apa-apa.” Jawab Dokter Anne. “Ini saya beri resep vitamin ya, apa sering mengalami mual muntah ?”


“Sejauh ini tidak pernah, dok. Hanya pusing saja kadang-kadang.” Jawab Raya.


“Baguslah, berarti dedek bayinya tidak merepotkan ibunya, jangan lupa minum susu ibu hamil juga.” Kata Dokter Anne.


“Iyalah, dok... ini maminya mau persiapan skripsi, makanya pinter gak merepotkan.” Balas Alen


“Lho masih kuliah to ?” Tanya Dokter Anne


“Semester akhir dok. Harusnya saya belum hamil dok, karena programnya setelah selesai kuliah sebenarnya.” Jawab Raya


“Lalu kenapa bisa jadi ?” Tanya Dokter Anne. “Tidak pakai pengaman ya ?”


“Maksud dokter yang kayak balon itu ?” Tanya Raya balik


Dokter Anne tertawa mendengar pertanyaan Raya. Bisa-bisanya ****** pengaman dalam setiap melakukan hubungan seksual disebut balon.


“Dia tidak mau pakai, dok. Katanya tidak enak, trus dikeluarkan diluar.” Kata Raya dengan polosnya.


“Hubungan seksual dengan cara seperti itu bukan tidak mungkin akan semua keluar diluar, bisa saja sebelum ditarik keluar ada yang sudah kadung masuk duluan.” Kata Dokter Anne. “Nikmati saja kehamilannya, lagi pula ada suami yang selalu siaga menemani, tidak hanya siaga untuk keamanan bangsa dan negara, tapi juga siapa untuk istri dan calon anaknya.”


Raya dan Alen akhirnya keluar dari ruangan dokter Anne dan segera mengambil obat di apotik setelah itu masuk ke dalam mobil.


“Sayang.... mampir supermarket dulu ya, kata Dokter Anne kamu harus minum susu ibu hamil.” Kata Alen.”Kita beli susunya dulu.”


“Oke.” Balas Raya