I Love You, My Police

I Love You, My Police
Raiden Terluka



Satu minggu setelah kejadian pelemparan, suasana tampak biasa saja. Beberapa transaksi narkoba berhasil digagalkan Alen dan timnya, tentu saja membuat sang pelaku semakin marah. Tetapi sang pelaku belum menyadari jika yang menggagalkan bisnisnya adalah menantunya sendiri.


Sore itu Alen sedang duduk santai sambil meminum kopinya di teras rumah belakang, Raya menghampiri.


“Kakak .... aku pengen jalan-jalan ke mall.” Kata Raya.


“Memangnya mau cari apa ?” Tanya Alen.


“Ya aku sudah lama tidak hunting novel, kak.” Jawab Raya.


“Tanya Kak Kenan boleh nggak. Kalau boleh aku antar.” Kata Alen


“Aku mau jalan sama Ara. Bukan sama kakak.” Balas Raya.


Alen membulatkan matanya, sebenarnya kasihan jika terus-terusan mengekang Raya jika ingin belanja atau bersantai bersama teman-temannya, tapi situasi saat ini benar-benar sedang tidak bisa dipastikan. Kenan bahkan tidak mau bertindak dahulu jika pihak lawan tidak melakukan gerakan dahulu.


“Ayolah kak ... di Mall XXX lagi ada gelaran band juga, anak-anak bandku juga main disana.” Rengek Raya


“Kau boleh pergi dengan Ara, tapi pengawalan jarak jauh.” Kata Kenan tiba-tiba.


Wajah Raya langsung sumringah dan mencium pipi Kenan sebagai tanda terima kasih.


“Yakin, Kak ?” Tanya Alen


“Sekali-kali, Len... kasian dia dikurung terus, hari-harinya hanya rumah dan kampus, itupun selalu


dikelilingi kita.” Jawab Kenan. “Kita doakan saja yang baik-baik saja. Tapi ada syaratnya.”


“Apa kak ?” Tanya Raya


“Bawa ini.” Kenan menyodorkan sebuah pistol otomatis pada Raya. “Diluar kita tidak tahu musuh kita memakai


apa.”


“Tapi, Kak .....” Raya sangat malas jika sudah berurusan dengan senjata.


“Kamu sudah memiliki ijin


membawanya, sayang.” Kata Alen. “Bawa lah ....”


Raya menurut, akhirnya dia membawa motor sportnya sendiri menjemput Ara di kos an, dan mereka berangkat menuju mall yang dimaksud. Benar saja, mall ramai sekali karena sedang ada parade anak band.


Ternyata Kenan, Alen, Sam dan Ken tidak berdiam di rumah, mereka diam-diam ikut ke mall tersebut. Mereka tidak mau melewatkan untuk melindungi perempuan yang sangat mereka sayangi. Mereka duduk di sebuah pojokan foodcourt sambil menikmati kopi mereka.


Sebenarnya boleh dibilang justru mereka berempatlah yang sekarang menjadi pusat perhatian banyak mata wanita. 4 pria dewasa dengan ketampanan tiada tara, siapa yang tidak tahan untuk tidak mencuri-curi pandang pada mereka.


Band Raya juga ternyata ikut tampil, dilagu pertama Raya lah yang menggebuk drum dan Ara yang menyanyi. Kenan, Ken dan Sam yang baru kali ini melihat aksi Raya tentu saja melongo. Apalagi lagu yang dibawakan mendukung sekali permainan Raya dalam menggebuk drumnya.  Sebuah lagu milik Vierra, Terlalu Lama


Sudah lama ku menanti dirimu


Tak tahu sampai kapankah


Sudah lama kita bersama-sama


Tapi segini sajakah


Entah sampai kapan aaaa


Entah sampai kapan


Hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta


Aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama


Sadarkah kau, ku adalah wanita


Aku tak mungkin memulai


Sadarkah kau, kau menggantung diriku


Aku tak mau menunggu


Entah sampai kapan aaaa


Entah sampai kapan


Hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta


Aku tak mau menunggu terlalu lama,…


“Sejak kapan dia hobi gebukin drum gitu ?” Tanya Sam


“Aku juga baru tahu dia hobi gebukin drum.” Susul Ken.


“Apa sih yang anak itu tidak bisa.” Kata Kenan sambil tersenyum.”Sayang dia bukan penyanyinya.”


“Kakak lihat saja nanti.” Kata Alen. “Setelah ini akan terlihat siapa adik kalian sebenarnya di atas panggung.”


Satu lagu selesai, sungguh diluar dugaan teriakan penonton yang rata-rata anak-anak remaja dan muda meneriaki nama Raya.


“Raya nyanyi ndongggg !!!!” Seru salah seorang penonton.


“Raya nyanyiiii !!” Susul yang lain


Kali ini Raya bangkit dari kursi duduk dibelakang drum dan memberikan stik drum pada temannya, kemudian meraih sebuah gitar akustik lalu seorang teman menyiapkan standmic di depan Raya.


“Kalian ingin aku nyanyi apa ?” Tanya Raya


“Yang romantis donggg!” Seru salah seorang penonton


“Oke .... lagu ini aku persembahkan untuk orang-orang yang aku sayangi di ujung sana, merekalah yang selalu membuat aku selalu bersemangat selama ini.” Raya menunjuk ke kursi tempat Alen dan yang lainnya duduk, tentu saja cewek-cewek yang sedari tadi curi-curi pandang pada 4 wajah tampan itu berteriak-teriak girang.


“Jangan pada naksir mereka ya .... karena salah satunya adalah suamiku, dan yang tiga adalah kakak-kakakku.”


Kata Raya sambil tersenyum.


“Yahhhhhhh......” penonton kecewa.


Alen tampak tersenyum dengan polah istrinya, sementara Kenan dan Sam hanya bengong saja, Ken !? masih saja penyakitnya lamanya kambuh, tebar pesona. Tentu saja Kenan langsung menempeleng kepalanya.


“Ingat Sandra !!!” Seru Kenan, Ken hanya mengelus-ngelus kepalanya sambil nyengir.


Raya mulai memetik gitarnya dan mengeluarkan suara indahnya ...


“Yang bisa nyanyi ini nyanyi bareng ya ... Cinta Karena Cinta ...”


Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan kubicara


Agar kau juga dapat mengerti


Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah kulupa kurasakan


Tanpa tahu mengapa


Yang kutahu inilah cinta


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyumanmu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


 Ho-oo ai-ya ha-a


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


 Satu lagu selesai, Raya turun dari panggung dan menghampiri keempat pria tampan yang sedari tadi menikmati kopi mereka sambil melihat Raya beraksi. Alen menyambut dengan kecupan mesra di kening Raya.


“Kalian kenapa gak bilang kalau ngumpul disini ....” sebuah suara muncul dari arah timur dan menghampiri


mereka.


“Accchhh .... lupa.... sorry Ray !” Seru Kenan.


Raiden menghampiri Raya dan memberikan pelukan mesra kemudian mengacak rambut Raya, “Ternyata adikku satu ini bakat bermusiknya tidak bisa diragukan lagi.”


“Haha ... kakak kemana aja baru tahu aku bisa menyanyi dan main musik.” Kata Raya sambil memberikan pukulan halus ke perut Raiden.


Tak disangka, Raiden memberikan reaksi kesakitan yang amat sangat.


“Jangan bercanda , Ray..... adikmu tidak memukul dengan keras.” Kata Kenan sambil meminta Raiden duduk


“Memang .... tapi mukulnya disini ...” Raiden membuka kaosnya dan menunjukkan sebuah balutan perban lebar


di perutnya.


“Kakak !!!” Seru Raya. “Maaf .... sakit beneran ya ....”


“Kau kenapa ?” Tanya Sam


“Luka tusuk 10 jahitan, kedalaman 5 cm.” Jawab Raiden. “Kemarin”


“Hah  !!!! Sudah tahu sedang terluka malah kesini !” Seru Ken. “Lukamu masih basah ***** !”


“Tidak apa-apa ...sudah duduk saja, ini sudah biasa.” Kata Raiden


“Siapa yang menusukmu, kak ?” Tanya Alen


“Ayah.” Jawab Raiden pelan


“Paman Jiro ? Ada apa ?” Tanya Kenan


“Dia tahu kalau aku adalah dosen Raya, dia begitu marah karena tidak memberitahukan dia.” Jawab Raiden.


“Kami berkelahi, ayah selalu menang diatasku, aku mendapat hadiah tusukan pisaunya, lalu membiarkan aku pergi begitu saja. Untung aku masih bisa membawa mobilku ke rumah sakit.”


“Jadi ... kampus sudah tidak aman untuk Raya ?” Tanya Ken


“Entahlah ... tapi mana mungkin ayah melakukan penyerangan ke kampus. Itu bisa menjatuhkan Black Stars.” Jawab Raiden


“Kenapa masalah ini tidak segera selesai dengan mempertemukan aku dengan ayah ?” Tanya Raya


“Tidak semudah itu sayang.” Jawab Raiden. “Kau belum tahu ayah. Aku sedang berusaha mencari waktu yang


tepat untuk bicara dengan ayah.”


“Sayang apa sudah selesai ?” Tanya Alen. “Kasian kakakmu sakit begitu.”


“Sudah... Ara minta ditinggal, karena masih ada urusan lain, aku juga tadi sudah dapat bukunya kan.” Jawab Raya


Ken memapah Raiden keluar dari mall diikuti yang lain. Alen menggandeng Raya dengan mesra. Polisi satu ini memang punya pesona yang tinggi di mata banyak mata wanita, sehingga banyak wanita yang iri juga dengan wanita yang disampingnya.


“Kak .... ternyata pemujamu banyak.” Kata Raya


“Tapi yang dihatiku cuma satu, kamu.” Balas Alen


Sam yang sedang berjalan sambil memperhatikan arah lain tiba-tiba bertabrakan dengan seorang wanita muda.


“Ouppppss ! Maaf.” Kata Sam.


“Samuel ......” Kata Wanita itu sambil melongo


“Shaki ????” Sam ikut-ikutan melongo


“Ngapain kamu disini ?” Tanya si wanita


“E .... aku sedang berlibur saja.” Jawab Sam gugup


Raya tidak asing dengan wanita yang bertabrakan dengan kakaknya, namanya Shaki Aurelia, anak seorang pengusaha sukses di kota tersebut, Shaki adalah dosen di kampusnya, tetapi beda fakultas, lebih tepatnya Shaki


adalah dosen muda di fakultas Teknik Sipil, di sebelah fakultasnya.


“Kakak kenal dengan Bu Shaki ?” Tanya Raya


“Dia teman kakak waktu dia kuliah di Jepang.” Jawab Sam


“Raya.... Samuel ini kakakmu ?” Tanya Shaki


“Iya, bu ....” jawab Raya.


“O begitu, maaf kalau begitu aku permisi dulu ada urusan lain.” Pamit Shaki.


“Sha.... kapan-kapan bisakah kita ngobrol bareng ?” tanya Sam


“Kita lihat saja nanti, Sam.” Jawab Shaki sambil berlalu.


Raya merasa ada sesuatu antara kakaknya Sam dengan dosen nya ini, tetapi Raya tidak ingin menanyakan dahulu, karena kondisi Raiden sepertinya semakin tidak baik.