I Love You, My Police

I Love You, My Police
Otewe Jogja



Drama ngidamnya Raya belum selesai. Alen dengan terpaksa meminta cuti selama 3 hari, mulai hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Karena ke empat kakak Raya merasa khawatir jika melepaskan Raya dan Alen sendirian ke Jogja, mereka memutuskan ikut. Mereka khawatir jika ngidam Raya makin akut dan Alen tidak bisa mengatasi, setidaknya masih ada 4 pria cadangan yang bisa membantu Alen.


Kali ini Kenan jelas mengajak anak istrinya, Sam mengajak Shaki, Raiden mengajak Ara, Ken mengajak Sandra, katanya sekalian cari sovenir unik untuk pernikahan mereka nanti. Kali ini sponsor perjalanan adalah Kenan sendiri menggunakan pesawat pribadi keluarga, karena ternyata Bunda Alin dan Ayah Caesar, ditambah Ayah David juga ikut. Tak lupa Farel dan Ivo diminta Alen ikut karena takut ada apa-apa dengan Raya selama di Jogja, padahal keduanya bukan dokter kandungan. Genap sudah rombongan ini sudah seperti rombongan studi tour sekolahan.


Jogjakarta, yang tentu saja sebagai kota pelajar, juga merupakan kota dengan banyak kebudayaan Jawa yang belum banyak dikenal orang luar Jogjakarta, belum lagi destinasi wisatanya yang menakjubkan, tidak kalah dengan destinasi wisata di Bali. Pesawat sudah mulai mengudara dengan masing-masing duduk dengan pasangannya, kecuali Ayah David, dia duduk dengan asistennya Hansen. Sementara Kelvin duduk dengan Viko, sama-sama jomblo akut.


Ara tengah berdebat dengan Raiden....


“Ini kenapa yang ngidam satu yang ngekor banyak sih ?!” Tanya Ara bingung.


“Ah ... udahlah sayang .... ikutin aja, mumpung gratis ini.” Jawab Raiden


“Emang kakak gak kuat apa bayarin kita liburan sendiri di Jogja ?” Tanya Ara


“Ah ... kamu mau minta liburan keliling Eropa pun aku mampu bayarin, sayang.” Jawab Raiden. “Tapi ini mumpung gratisan hahahaha .....”


Sementara itu.... di belakang Raiden dan Ara, Ken juga ternyata tidak kalah debat dengan Sandra.


“Sayang.... nanti cari sovenirnya yang unik, aku pengen stupa borobudur buat Sovenir.” Kata Ken


“Hah .... yang bener aja, masa tamu undangan pulang-pulang suruh bawa batu stupa gede besar berat.” Protes Sandra.


“Miniaturnya sayang ......” Balas Ken


“Kenapa gak gantungan kunci aja kan unik ?” Tanya Sandra.


“Hah !!! Modal nikah kita itu gak cuma seratus dua ratus juta sayang, masa iya sovenirnya gantungan kunci limaratusan perak.” Jawab Ken. “Mau taroh mana nih muka !”


“Mulai deh ... narsis.” Gerutu Sandra. “Kalau gitu kasih aja tamu undangan sovenir nyai roro kidul.”


“Wah ... mana berani kalau itu aku !” Kata Ken. “Bisa diamuk ajudannya ntar.”


Debat sovenir masih berlanjut, sementara di bagian belakang kursi Ken dan Sandra duduk, tampak Sam dan Shaki yang ternyata sama-sama tertidur. Bagaimana tidak tertidur jika dari jam 1 pagi mereka tidak tidur, justru video call membahas mau bawa barang apa ke Jogja. Shaki yang memiliki warna favorit hijau tentu saja dilarang membawa-bawa yang berbau hijau oleh Sam. Sam tahu tentang legenda Nyai Roro Kidul di Pantai Selatan tentang pantangan memakai pakaian warna hijau.


“Pokoknya kamu jangan bawa-bawa baju warna ijo.” Kata Sam.


“Lah kenapa sih, Sam ? Gak masalah kan bawa-bawa yang ijo juga kalau lagi jalan-jalan ke Melbourne.” Protes Shaki


“Hah....” Sam bingung. “Emang ada gitu di Jogja nama tempat Melbourne, itu kan di Australia, sayang ....”


“Ah  itu .... yang jalan terkenal itu apa ....?” Tanya Shaki


“Maliioboro sayaaanggggg.....!” Seru Sam. “Pokoknya gak usah. Aku dah siapin nih kaos-kaos putih buat kamu. Kalau ternyata jalan-jalannya sampai pantai selatan, aku gak mau kena masalah dengan ijo-ijo bajumu.”


“Dih .... bule kok percaya hal-hal mistis.” Gerutu Shaki.


“Itu bukan hal mistis sayang, tapi kenyataan.” Balas Sam. “Nurut atau kali ini tidak ikut !! Batal mimpimu minta fotoin aku di manapun wisata Jogja.”


Di belakang Sam dan Shaki juga ternyata Farel dan Ivo terlelap. Farel semalam baru saja selesai operasi darurat, jam 4 pagi baru selesai, sementara Ivo akhirnya ikut membantu mempersiapkan kebutuhan sang kekasih.


Sementara itu, Kelvin dan Viko yang tidak bisa mengistirahatkan matanya selama dalam perjalanan memilih bermain catur. Ayah Caesar dan Bunda Alin tampak menikmati perjalanan dengan memandang ke jendela pesawat. Kenan tampak juga tertidur sambil memangku Yoshi yang juga tertidur, sementara istrinya Akira tampak sedang membaca novel baru.


“Sepertinya hanya kita yang sedari tadi hanya diam saja.” Kata Ayah David


“Tuan memangnya mau ngapain ?” Tanya Hansen. “Jangan bilang mau bakar ini pesawat supaya heboh.” Hansen tahu betul tingkat kegolikan tuannya.


“Sepertinya pramugari yang lagi duduk itu seneng sama aku.” Kata Ayah David


“Ingat umur Tuan, mau punya cucu juga.” Balas Hansen. “Mungkin saya yang dia pandang. Secara saya kan muda dan tampan.”


“Ah ... kamu memang tampan, tapi kalau tidak laku-laku juga percuma. Buat apa  dulu waktu kecil ibumu menyunatkan mu kalau akhirnya cuma dianggurin.” Kata Ayah David. “Carilah pasangan, dan menikahlah ... 32 tahun umurmu. Lihat mereka, sudah gandeng pasangannya masing-masing, apa kamu tidak kepengen ???”


Hansen hanya melirik, kemudian melihat Viko dan Kelvin yang asyik main catur, “Aku masih punya teman, tuan. Tuh !!”


“Huh... kalian ini memang asisten-asisten lapuk semua.” Dengus Ayah David. “Sepertinya nanti di Jogja aku perlu menjodohkanmu dengan wanita keraton.”


“Saya tidak mau Tuan.” Kata Hansen. Mengingat bahwa wanita-wanita kraton gerakannya tidak ada yang gesit tapi lemah gemulai. Ngomong aja seperti siput, tidak sabaran yang dengerin. Itu adalah pandangan seorang Hansen. Hahahaha .....


Obrolan tuan dan asisten akhirnya berakhir dengan Hansen merasa ingin buang air kecil dan berpamitan untuk ke toilet. Sementara itu, sang pelaku utama terjadinya studi tour sekolahan ini tampak sedang duduk dan bergelayut manja dengan sang suami.


“Kakak ... nanti sampai Jogja aku pengen nyobain gudeg yang paling terkenal.” Kata Raya


“Terserah kamu deh, sayang.” Balas Alen. “Asal jangan sampai minta roti pizza harus dimakan dinegara asalnya. Bisa repot aku nanti.”


“Hm.... dan makan bakpia pathok juga sepertinya enak kak.”Kata Raya. “Apalagi yang isinya ubi ungu.... masih anget ....”


“Tenang aja, sayang ... semua makanan khas Jogja nanti kamu nikmatin semua, mumpung lagi di Jogja.” Balas Alen sambil menciumi rambut Raya. “Apapun yang kamu minta selama masih masuk akal akan aku turutin. Anak kita sepertinya akan hobi melalang buana seperti pamannya nantinya. Apa dulu waktu mamimu hamil Kak Sam juga begitu ?”


“Entahlah, tanya sendiri sama Kak Sam.” Kata Raya sambil tertawa.


Raya begitu bahagia, sekalipun permintaan sang jabang bayi memang merepotkan semua orang, tetapi berkat permintaan sang bayi, mau tak mau semua orang bisa mengambil libur barang 3 hari untuk berkunjung ke Jogjakarta. Bukan apa-apa, bahkan orang sesibuk Kenan dan Ken tetap bisa menyempatkan diri menemani adiknya berburu gudeg. Bahkan Farel yang merupakan dokter bedah dengan jadwal super padat pun bisa meliburkan diri kali ini, yah .... itung-itung refreshing dari pekerjaan, tidak setiap hari jadi pengiris manusia untuk melakukan berbagai macam pembedahan.


“Kakak .....”


“Apa sayang ?”


“Aku pengen nyanyi sama Tri Suaka.”


Alamak !!! Alen langsung tepok jidat, bagaimana caranya supaya istrinya ini bisa nyanyi sama sang bintang asal Jogjakarta itu.


“Oke deh ... nanti kita pikirkan bagaimana caranya setelah sampai Jogjakarta.” Kata Alen pasrah.