I Love You, My Police

I Love You, My Police
Bibi Rose Tidak Kembali



Pagi hari, Raya terbangun karena Alen membuka korden jendela sehingga sinar matahari masuk dan menyilaukan matanya.


“Bangun sayang... sudah pagi...” Kata Alen sambil mengecup kening Raya.


“Ini dimana kak ?” Tanya Raya bingung


“Kamu lupa, ini di rumahku.” Jawab Alen. “Bunda udah nyiapin sarapan, mandi dulu, aku tunggu diluar.”


Raya mengangguk, Raya kemudian ke kamar mandi membersihkan diri, ada rasa perih ditangannya karena bekas goresan semalam. Raya kemudian keluar dari kamar, disambut Bunda Alin dengan senyum ramah.


“Kamu bisa tidur, sayang ?” tanya Bunda Alin.


“Bisa Bunda.” Jawab Raya lalu duduk di meja makan bersama yang lain.


“Raya ... tinggalah disini sementara waktu.” Kata Ayah Caesar. “Kamu tidak boleh tinggal sendiri dirumah itu.”


“Apa itu tidak apa-apa ?” Tanya Raya


“Tidak, sayang .... disini juga keluargamu.” Kata Ayah Caesar.


“Hari ini kamu mau kemana ?” Tanya Alen. “Ohya, nanti sore Ivo ingin ketemu kamu.”


“Aku hari ini tidak ada kuliah, toko juga sudah selesai urusan, sudah diurur Kak Rico.” Jawab Raya.


“Ikut ke kantor mau ?” Tanya Alen. “Latihan menembak ...” Bisik Alen


“Mau !!!” Seru Raya.


Alen tersenyum, semangat gadis kecilnya kembali, karena Alen tahu kesukaan Raya. Alen dan Raya berangkat ke kantor bersama. Sampai kantor, Alen meminta Jonas mengajak Raya ke arena latihan menembak. Jonas sudah mengerti apa yang terjadi semalam dan mengajak Raya ke arena latihan tembak.


“Jadi Raya sekarang tinggal dirumahmu ?” Tanya Jonas


“Sementara seperti itu, mau bagaimana lagi, Bunda juga khawatir dengan keadaan dia.” Jawab Alen. “Kamu tahu kan Bunda sangat sayang Raya, itu karena bunda gak punya akan perempuan.”


“Apa tidak lebih baik kalian menikah saja ...” kata Ezar. “Bunda udah kayak gitu kok sama Raya, kurang apa lagi.”


“Aku belum siap mengatakannya.” Balas Alen. “Lagi pula Raya masih muda, 20 tahun, masa remajanya masih ada kan ...??”


“Pikirkan saja baik-baik.” Kata Ezar.


Raya menerima telepon dari seseorang, dan menggunakan bahasa Jepang, sesekali juga menggunakan bahasa Indonesia, yang Alen tidak mengerti.


“Telepon dari siapa ?” Tanya Alen


“Dari Kakek ....” jawab Raya.


“Kakek bilang apa ...?” Tanya Alen


“Bibi Rose tidak kembali lagi, karena ternyata kakak Bibi Rose mengalami stroke dan tidak ada yang menjaga.” Jawab Raya


“Oooohhh....” Alen hanya ber oh saja.


“Lalu aku bagaimana kak ????” Tanya Raya


“Tidak bagaimana-bagaimana.... kamu tetap tinggal di rumahku sampai keadaanmu baik.” Jawab Alen


“Tidak bisa seperti itu kak !!! Apa kata tetangga nanti.” Kata Raya.”Lagi pula kakak polisi, apa kata orang polisi bawa pulang anak gadis.”


“Lalu harus bagaimana ?” Tanya Alen


“Aku akan tinggal dirumah saja kak. Sampai kakek kirim pengganti Bibi Rose.” Jawab Raya


“Tidak.....!” Kata Alen dengan suara tegas.


Kali ini Alen tidak bisa menuruti permintaan Raya, kejadian semalam saja sudah membuat Alen kebingungan setengah mati. Raya tampak cemberut sebal. Alen tampak tersenyum melihat wajah cemberut Raya.


“Mau sampai kapan cemberut ? Atau perlu aku kucir bibirmu ?” Tanya Alen


“Kakak !!!!” Teriak Raya sambil memukul lengan Alen.


Siangnya, Alen mengajak Raya pulang ke rumah karena urusan Alen di kantor sudah selesai. Tampak Bunda Alin baru saja memasak. Bau harumnya sudah tercium dari depan rumah.


“Bunda masak apa ?” Tanya Raya sambil memeluk bunda Alin.


“Ini pasti masakan kesukaanmu kan, sayang .... cumi-cumi.” Jawab Bunda Alin


“Ah iya .... ini kesukaan Raya !” Seru Raya.


“Bunda .... kalau Raya tinggal disini agak lama tidak apa-apakan ?” Tanya Alen


“Memangnya kenapa, Len ?” Tanya Bunda Alin


“Bibi Rose tidak akan kembali ke Indonesia lagi.” Jawab Alen. “Aku tidak mungkin membiarkan anak ini tinggal sendiri di rumahnya.”


“Ouccchhhhh tidak-tidak. Raya tidak boleh tinggal di rumah sendirian. Sudah.... disini dulu saja.” Kata Bunda Alin. “Kali ini nurut sama bunda, ya sayang ...”


Raya mengangguk patuh. Dia begitu bersyukur memiliki calon mertua yang begitu menyayanginya. Ponsel Raya berbunyi, tertulis nama pemanggil Kakak Kenan.


“Hallo Kak ... tumben telpon aku ?” Tanya Raya


“Kamu dimana Dek ?” tanya suara di sebrang, Kenan


“Dirumah kak Alen.” Jawab Raya


“Boleh Kakak bicara dengan Alen ?” Tanya Kenan.


Alen agak terkejut, tetapi tetap menerima ponsel dari Raya


“Hallo kak ...” Sapa Alen


“Hallo juga, salam kenal, Aku Kenan, kakak tertua Raya.” Balas Kenan. “Apakah Raya merepotkanmu ?”


“Tidak kak, hanya saja sementara waktu ini Raya tinggal dirumahku.” Kata Alen.


“Kenapa ?” Tanya Kenan


Alen kemudian menceritakan kejadian semalam.


“Anak itu tidak bisa sendirian, Dek ....” Kata Kenan. “Tolong jaga dia sementara waktu ini, Aku dan kakaknya yang lain jika sudah selesai urusan akan kembali ke Indonesia, karena ada hal yang membahayakan Raya.”


“Apa kak ?” tanya Alen terkejut


“Kamu ini polisi, tentu tahu semuanya.” Jawab Kenan. “Pokoknya jaga dengan baik sampai kami kembali. Kemungkinan masalah akan kami selesaikan di situ.”


“Baiklah kak ...” Kata Alen.


“Menikah saja kalian jika nanti aku datang ... kurasa Raya sudah waktunya menikah.” Kata Kenan.


Kenapa semua orang nyuruh aku nikah sih. Batin Alen.


“Sudah ya .... pokoknya jaga dia dengan baik.” Pesan Kenan.


Alen hanya mengangguk saja. Kemudian dia mencari si pemilik Ponsel, ternyata Raya sedang asyik dengan piano milik Farel. Alat musik itu jarang disentuh Farel karena kesibukannya bekerja. Sebuah intro lagu melantun dari denting piano yang dimainkan Raya.


Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan


'Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu


Suara lembut Raya mengalun pelan, Bunda Alin yang sedang


didapur tampak tersenyum mendengar suara merdu Raya.


Hanya kamu dihatiku, yang mampu mengertiku


Menjadikan diriku yang lebih baik


Aku menyayangi kamu


Kamu selalu setia menemani diriku


Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan


'Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu


Alen tampak menikmati alunan suara dan musik dari permainan Raya. Memang Raya adalah gadis multitalenta, tidak diragukan lagi, meskipun dibalik kekurangannya.


“Sayang .... aku harus balik ke kantor lagi. Kamu sama bunda ya ....” Kata Alen sambil mencium puncak kepala Raya


Raya mengangguk sambil tetap memainkan piano.


Alen kembali ke kantor dan bertemu dengan Ezar, Jonas dan Pak Dirga.


“Tadi Kak Kenan telepon.” Kata Alen


“Dia bilang apa ?” Tanya Ezar


“Dalam waktu dekat mereka bertiga akan kembali ke Indonesia. Kak Kenan memintaku menjaga Raya karena Raya dalam bahaya.” Jawab Alen.


“Maksudmu ?” tanya Pak Dirga


“Mungkin ini bisa ada hubungannya dengan Black Stars.” Jawab Alen.


“Awasi terus setiap pergerakan kelompok apapun !” Perintah Pak Dirga. “Apa yang kita hadapi sekarang bukan hal sepele.”


“Kalau begitu biarkan Raya tetap tinggal di rumahmu. Itu lebih aman.” Kata Jonas. “Lagi pula Bunda Alin dan Ayah Caesar tidak akan membiarkan Raya dalam bahaya.”


“Huffff ...... sepertinya akan seperti itu... ayah dan bunda juga sudah tahu, orang-orang ayah pun sekarang ditambah berjaga di rumah.” Kata Alen. “Begini amat punya cewek anak mantan mafia. Aku sendiri belum tahu benar sepak terjang kakak-kakaknya bagaimana.”


“Adiknya saja seperti itu, tentu kamu bisa tebak ketiga kakaknya bagaimana ....” Kata Jonas. “Sudah pasti tampangnya bisa seperti mafia-mafia di film-film itu.”


“Duh... ngayalnya jauh amat.” Kata Pak Dirga.


“Ya kali gitu bos ....” Balas Jonas.


Alen kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya sambil menunggu waktu sore dan akan pulang ke rumah. Pak Dirga tampak mendekati Alen dan menepuk pundaknya.


“Sabar Len.... jangan sampai nasibmu sama seperti Justin.” Kata Pak Dirga


“Kali ini tidak akan pak.” Balas Alen