
Ayah David tiba-tiba kembali muncul bersama anak buahnya dan menyeret Raiden duduk bersama yang lain. Alen sudah ikut bergabung, meninggalkan Raya yang tertidur karena lelah ditemani Bunda Alin dan Ivo, kekasih Farel.
“Ada apa yah ?” Tanya Raiden.
“Apa Ara punya musuh ?” Tanya Ayah David balik. “Ini !!”
Ayah David memberikan rekaman CCTV dan foto pelaku.
“Di video ini jelas sepertinya Ara sudah menjadi incaran sejak awal. Bukan karena orasi Ara.” Kata Jonas.
“Aku kenal salah satunya, dia mantan anggota polisi kan karena kasus narkoba.” Kata Alen.
“Sepertinya aku harus menanyakan pada papa Ara. Bukan Ara yang punya musuh, pasti papanya.” Kata Raiden kemudian masuk ke ruang perawatan Ara dan meminta Papa Ara untuk keluar.
“Ada apa ini ?” Tanya Papa Bin. “Ohya, bagaimana anda bisa disini Pak Kenan ? Anda kenal putri saya ?”
“Ara adalah teman sekampus adik saya dan Raiden.” Jawab Kenan. “Jelas masalah ini juga menjadi masalah kami. Ara sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
Papa Bin tampak juga terkejut melihat Ayah David ada disana, siapa tidak kenal sang mafia kejam itu.
“Anda ....”
“Saya adalah ayah dari Raiden.” Kata Ayah David. “Tolong ini dilihat. Melihat pelakunya, sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan demonstrasi tadi, demonstrasi hanya sebagai pengecoh. Anda punya musuh sampai
keselamatan putri anda terancam ?”
“Saya kenal mereka semua. Mereka bawahan teman saya, tapi.... kenapa mereka melakukan itu.” Papa Bin tampak bingung.
“Sepertinya ini ada hubungannya dengan pekerjaan dan jabatan anda. Mereka mengincar jabatan anda.” Kata Ayah David.
Raiden tampak mengepal tangannya dan memukul tembok dengan keras, “Brengsek !!! Kenapa aku bisa terkecoh ! Akan kuselesaikan ini !!”
Raiden berlalu dari pertemuan itu, tapi segera Sam menghadang dan menahannya, “Pak Dosen yang terhormat, ini tidak akan selesai dengan caramu ! Ingat, Ara butuh kamu saat ini !”
“Singkirkan jiwa mafiamu kali ini, anakku !” Seru Ayah David. “Ara butuh kamu sekarang ! Biar masalah ini Kenan dan aku juga papa Ara yang selesaikan.”
Papa Bintoro yang sedari tadi menyimak percakapan mereka tampak bingung.
“Sebenarnya ada hubungan apa antara bapak dosen dengan anak saya ?” tanya Papa Bin.
“Sebenarnya, Ara adalah kekasih saya. Minggu depan saya berencana melamarnya dan saya sudah berencana akan ke rumah bapak. Tapi rencana sepertinya tidak akan mulus.” Jawab Raiden. “Maaf pak, saya tidak bisa menjaga anak bapak dengan baik.”
Papa Bin tentu saja terkejut mendengar jawaban Raiden, jelas ini diluar dugaan, anak perempuan satu-satunya itu berpacaran dengan seorang Dosen sekaligus mantan mafia.
“Nak.... saya belum bisa berkata apa-apa, tapi saya hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk kalian semua. Juga anda Tuan Jiro.” Kata Papa Bin.
“Jika sudah seperti ini, pantaslah Ara mendapatkan perlindungan penuh dari anak saya juga anak buahnya.” Balas Ayah David. “Jangan khawatir.”
Raya tiba-tiba muncul, “Kakak !!! Aku lapar !!!” Seru Raya
Alen tampak terkejut, juga yang lain.
“Kenapa tadi tidak bilang bunda kalau lapar.” Kata Alen
“Raya, anakku sayang ...... “ Papa Bin yang memang sudah akrab dengan Raya dan menganggap Raya anaknya sendiri menghampiri Raya dan memeluknya.
“Papa Bin.... kapan datang ? Mama mana ?” Tanya Raya
“Mama ada didalam.” Jawab Papa Bin. “Sehat kamu nak ? Lama kamu tidak ke Bandung ?”
“Sehat, Pa.....” Kata Raya
“Kamu gemukan sekarang ?” Tanya Papa Bin
“Gimana enggak gemuk, udah ada isinya, pa.” Jawab Raya sambil menunjuk perutnya
Papa Bin terkejut, pasalnya tidak mengetahui kabar pernikahan Raya, tahu-tahu sudah hamil.
“Kamu .... hamil sama siapa ?” tanya Papa Bin
“Tuh !!!” Jawab Raya sambil menunjuk Alen. “Suami Raya.”
“Kamu tega tidak kasih tahu papa dan mama ya !” Kata Papa Bin sambil mencupit hidung Raya.
“Ohya, udah ketemu sama Kak Raiden, pacarnya Ara ?” Tanya Raya
“Sudah.” Jawab Papa Bin. “Kok kamu memanggilnya kak ? Dia dosenmu juga kan ?”
“Kak Raiden itu kakakku, Pa. Aku ini anaknya Ayah David Jiro. Kami satu Ayah, sedangkan dengan kak Kenan, Kak Ken dan Kak Sam aku beda ayah.” Kata Raya. “Gimana Kak Raiden ? Dia dosen paling tampan di kampus, lho...”
“Ceritanya mau nyogok nih supaya papa merestui ...” Goda Papa Bin
“Nanti kita lihat saja apa kakakmu memenuhi kriteria papa.” Kata Papa Bin penuh arti
Raiden yang mendengar itu agak terkejut. Apa lagi yang kurang dari dia, dosen muda sekaligus pengusaha sukses, tampang juga sudah tidak diragukan lagi. Apalagi anaknya Ara sangat mencintai Raiden.
Esok harinya, karena Raiden meminta Papa dan Mama Ara beristirahat di rumahnya, maka semalam hanya Raiden yang menemani Ara. Yang lain juga sudah pulang karena lelah, terlebih Alen yang sudah seperti bayi besar manjanya tidak ketulungan.
Raiden yang tertidur disamping tempat tidur Ara tampak kaget ketika ada tangan menyentuh kepalanya. Ara tampak sudah membuka matanya dan tersenyum.
“Kamu sudah sadar, sayang ....” Raiden bangun dan menciumi wajah Ara. “Aku panggil Farel dulu.”
Farel kemudian memeriksa keadaan Ara dan menyatakan jika Ara bisa pindah keruang perawatan biasa. Raiden meminta Ara dipindah ke ruang VVIP. Pukul sembilan pagi, Papa dan Mama Ara datang. Raiden baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan diri.
“Anak mama sayang ....” Mama Sonya memeluk Ara sambil menangis. “Sakit nak ....”
“Enggak kok, ma. Udah mendingan.” Jawab Ara.”Kapan mama sama papa datang ?”
“Kemaren begitu dosenmu ini menghubungi papa.” Kata Papa Bin
“Jadi papa sama mama dah ketemu Kak Raiden ?” Tanya Ara
“Sudah, semalam kami menginap dirumahnya.” Jawab Papa Bin
“Ara.... punya cowok ganteng kok gak bilang-bilang mama sih !” Kata Mama Sonya.
“Paling mama cuma mau pamerin sama teman-teman arisan mama, kan.” Balas Ara. “Jangan deh !! Temen mama kan ada yang janda, ntar naksir kak Raiden repot kan.”
Ara melihat tampak Raiden sedang ngobrol dengan Papa Bin.
“Mama .... apa papa tidak marah soal kak Raiden ?” Tanya Ara
“Tidak sayang, sepertinya papamu jinak kali ini, mungkin karena Raiden tampan, hehehehe .... mana tinggi pula, bisa perbaikan keturunan kamu.” Jawab Mama Sonya
“Ih mama..... malu-maluin aja.” Kata Ara
Ara memperhatikan obrolan papanya dan Raiden
“Kamu benar serius dengan Ara ?” Tanya Papa Bin
“Saya serius, makanya saya ingin segera melamarnya.” Jawab Raiden
“Tapi menikah denganmu tentu akan lebih mengkhawatirkan nyawa Ara. Aku bukan tidak tahu sepak terjangmu dan ayahmu.” Kata Papa Bin
“Itu dulu, pak .... saya sekarang hanya fokus sebagai dosen dan bisnis saja.” Balas Raiden. “Tapi memang tidak bisa dipungkiri musuh dimasa lampau juga tetap akan ada.”
“Kau bisa menjaga Ara dengan baik kan ?” tanya Papa Bin
“Akan selalu saya usahakan.” Jawab Raiden.
“Mama !!! Setuju dia jadi mantu mama ?” Tanya Pap Bin
“Owww.... tentu saja setuju.” Jawab Mama Sonya. “Pria tampan ini mana mungkin ditolak Ara juga, barang langka.”
Ini emak-emak gimana sih ! Dipikir aku peninggalan purbakala apa dibilang barang langka. Kata Raiden dalam hati.
“Kamu jangan pikirin omongan mama, memang seperti orangnya.” Kata Papa Bin. “Kalau Ara sudah sehat betul, kutunggu kedatanganmu ke Bandung.”
“Untuk ?” Tanya Raiden
Ara yang mendengar pertanyaan Raiden langsung tepok jidat. “Dasar dosen pikunn !” Seru Ara
“Kau bilang tadi mau melamar Ara ? Lupa ?” Tanya Papa Bin. “Jangan bilang kau akan melamarnya disini, harus tetap ke Bandung !!”
Raiden nyengir tidak jelas sambil menatap Ara yang sedang menatap Raiden dengan tatapan membunuh.
“Siap pak komandan !” Kata Raiden.
“Ngomong-ngomong apa kemana-mana kamu selalu bawa senjata api ?” Tanya Papa Bin
“Kami keluarga mafia, bahkan Raya pun sesekali membawanya. Aksi heroik Raya kemaren pun tidak lepas dari tembakan peringatannya.” Jawab Raiden. “Maaf, untuk yang ini kami tidak bisa meninggalkan, lagi pula apa yang kami pegang semua legal dan berijin. Kami gunakan jika memang terpaksa.”
“Aku tidak menyangka saja si anak tomboy seperti Raya adalah adikmu, dengan kakak-kakak yang benar-benar memiliki reputasi baik semua dalam dunia bisnis.” Kata Papa Bin.
“Pa ... apa berarti papa merestui hubungan kami ?” Tanya Ara
“Menurutmu ???” Tanya Papa Bin balik sambil mendekati Ara dan mencium kening anak gadisnya. “Asal kamu bahagia, papa pasti restui.”
“Terima kasih, pa ....” kata Ara.