
Raya membuka amplop itu dengan malas dan membaca isinya, tetapi ketika sampai pada sebuah tulisan hasil sebuah test, Raya melotot tidak percaya.
“Apa maksudnya ini ?” Tanya Raya
“Kau adalah anak David Jiro, Adikku.” Jawab Raiden
“Tidak mungkin !!! Aku anak papi dan mamiku !” Seru Raya tidak percaya.
“Tapi hasil itu tidak bisa berbohong Ray.” Kata Raiden. “Kakak-kakakmu juga sudah tahu soal ini, hanya saja mereka menyembunyikan ini karena takut kamu akan tidak menerimanya.”
“Katakan kenapa ini bisa terjadi ?” Tanya Raya dan menatap tajam pada Raiden.
“Ini semua karena ulah ayah. Ayah pernah memperkosa mamimu dan ternyata menyebabkan kehamilan, dan dari keluarga Arata merasa bahwa kamu memang bukan anak dengan Tuan Aditama, maka dilakukan tes DNA dan hasilnya benar, kamu anak dari David Jiro, ayahku juga.” Jawab Raiden
“Apakah dia tahu aku anak kandungnya ?” Tanya Raya
“Tidak, ayah tidak tahu.” Jawab Raiden
“Lalu kenapa bapak ada disini sekarang ?” Tanya Raya
“Untuk melindungi mu dari kebejatan ayah.” Jawab Raiden.
“Apakah ayah sangat jahat sampai anak sendiri mau dia makan dan dihabisi ?” Tanya Raya.
“Begitulah ayah kita.” Jawab Raiden
“Antarkan aku ketemu dengan ayah.” Pinta Raya
“Tidak sekarang, sekarang kamu pulanglah.” Kata Raiden. “Simpan baik-baik rahasia ini. Jangan ada yang tahu.”
Raya bangkit dari duduknya dengan pikiran berkecambuk, tubuhnya tiba-tiba limbung, Raya memang terlihat pucat, mungkin karena semalam kurang tidur, dan tiba-tiba terjatuh, untung Raiden dengan sigap menangkap tubuh Raya.
“Rayaaa !!!” Teriak Raiden.
Ara yang memang menemani Raya diluar ruangan mendengar teriakan Raiden langsung berlari masuk dan mendapati Raiden sedang memangku Raya.
“Raya kenapa ?” Tanya Ara
“Entahlah, tiba-tiba dia pingsan. Kita bawa saja ke rumah sakit saja. Kamu bisa nyetir mobilkan ? Bawa mobilku !” Seru Raiden yang langsung membopong Raya keluar dari ruangannya
Banyak mata memandang Raiden yang membopong Raya dengan cepat menuju parkiran mobil. Ara sudah ada di
belakang kursi kemudi dan membawa mobil Raiden menuju rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit Raiden segera membawa masuk Raya ke dalam IGD dan mendapatkan penanganan dari dokter
“Hubungi suaminya atau siapa saja kakaknya.” Pinta Raiden
Karena Ara hanya memiliki nomor kontak Alen, Ara menghubungi Alen
“Kakak dimana ?” Tanya Ara
“Ada apa Ra ?” Tanya Alen. “Aku masih dikantor.”
“Cepat ke Rumah Sakit dekat kampus. Raya pingsan.” Jawab Ara
“Apa !!???”
Alen yang memang sedang duduk santai sambil ngopi dengan Ezar dan Jonas juga Viko tampak terkejut dan segera berlari keluar.
“Ada apa Len ??” Tanya Jonas
“Raya pingsan ! Di rumah sakit !!!” Teriak Alen
“Woeee...ikut !!! Aku yang bawa mobilnya !!” Susul Jonas dan Viko bersamaan.
Alen masuk ke dalam mobil bersama dengan Jonas dan Viko sudah dibelakang kemudi. Alen menelepon Kenan.
“Kak .... ke rumah sakit Citra. Raya pingsan !” Seru Alen
Kenan yang sedang asyik dengan pekerjaannya langsung menyambar jas nya dan berlari keparkiran kantornya
disusul Kelvin.
Setengah jam kemudian, Alen, Viko dan Jonas sudah datang, disusul Kenan juga Kelvin, sejurus kemudian Ken
dan Sam juga muncul dengan mobil masing-masing. Mereka berbarengan masuk ke IGD rumah sakit. Alen yang melihat Ara sedang duduk sendirian segera menghampiri.
“Ra, Raya kenapa ?” Tanya Alen
“Entahlah kak ....” jawab Ara. “Tadi Raya sedang diruangan pak Raiden.”
“Raiden ????” Tanya Kenan tak percaya.
Sejurus kemudian Kenan melihat wajah Raiden sedang duduk lemas di salah satu ruang tunggu.
“Kau apakan adikku ?!” Seru Kenan sambil melayangkan pukulan ke arah Raiden, tapi dengan sigap Raiden
menangkisnya.
“Jangan ribut ! Ini rumah sakit.” Balas Raiden. “Raya adikku juga. Mana mungkin aku menyakitinya.”
“Kau ....”
“Aku sudah tahu semuanya, kalian kenapa sebagai kakak malah menyembunyikan rahasia besar ini, hah !?” Tanya Raiden dengan nada marah. “Apa kalian tidak kasian dengan Raya yang tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya ??”
“Apa Raya sudah tahu tentang rahasia ini ?” Tanya Sam
“Sudah aku beritahu, dan dia pingsan. Sebenarnya dia pingsan bukan masalah berita ini. Dia anak yang kuat, aku tahu itu. Dia pingsan karena terlalu lelah.” Jawab Raiden
“Lelah ???” Tanya Ken bingung
“Mana suaminya ?” Tanya Raiden
“Aku.” Jawab Alen tanpa tahu apa sebabnya
“Jadi kamu yang bikin dia lelah rupanya !” Seru Raiden yang langsung melayangkan pukulan ke lengan Alen
sampai yang dipukul meringis
“Kenapa salahku ?” Tanya Alen
“Semalaman kamu ngapain hah !!!??? Sampai-sampai dia kurang tidur, padahal kamu tahu pagi ini dia padat
jadwal kuliah !!!” Seru Raiden emosi
Semua mata memandang Alen, yang masih bingung saja tidak mengerti maksud dari Raiden.
Dokter keluar dari ruang IGD dan mencari anggota keluarga Raya.
“Saya suaminya.” Susul Alen
“Saya harus bicara dengan siapa kalau begitu ?” Tanya Dokter
“Sama saja.” Jawab Kenan
“Istri saya kenapa, Dok ?” Tanya Alen cemas
“Nona Raya hanya mengalami kelelahan, tekanan darahnya turun dan mengalami anemia. Apakah dia kurang tidur
beberapa hari ini ?” Tanya Dokter. “Sebaiknya setelah ini nona bisa pulang dan cukup istirahat dulu.”
Alen yang akhirnya paham kalau semua karena ulahnya selama seminggu ini menyadari agak bingung. Banyak mata yang kali ini memberikan pandangan menuduh, 3 orang kakak ditambah 1 kakak baru, dan beberapa mata lain.
“Kau ini benar-benar payah !” Seru Ken sambil tertawa.
“Raiden.... bagaimana kau bisa bertemu Raya ?” Tanya Kenan. “Jangan bilang jika kamu disuruh ayahmu.”
“Aku sudah tidak peduli dengan Black Stars, aku datang untuk melindungi Raya dari kebejatan ayah nantinya.”
Jawab Raiden. “Aku sekarang adalah dosennya.”
“Kamu ????!!!!” Seru Sam tidak percaya
“Len,.... bawa istrimu pulang !” perintah Kenan. “ Vin,... antar nona Ara pulang ! Kalian, ketemu aku di rumah ! Kamu juga !” Kenan menunjuk Raiden. “Kali ini aku tidak mau kecolongan kehilangan adikku.”
“Adikku juga.” Balas Raiden
Alen masuk ke ruangan IGD dan mendapati Raya sudah sadar. Alen mencium kening Raya.
“Sayang .... maafkan aku ya ....” Kata Alen.
“Kak .... aku dimana ?” Tanya Raya
“Dirumah sakit, kita pulang, sayang... dokter sudah ijinkan kamu pulang.” Jawab Alen
Kenan menyusul masuk, “Apakah kamu sudah lebih baik, Ray ?”
“Sudah kak.... Kak.... kenapa kalian bohongin aku selama ini ?” Tanya Raya
“Kita bicarakan di rumah.” Jawab Kenan.
Alen kemudian membopong Raya ke mobil, sementara Viko dan Jonas berada di kursi depan.
“Kita pulang ke rumah mana ?” tanya Raya
“Ke rumah mu, tempat Kak Kenan.” Jawab Alen
Semua yang didalam mobil terdiam, Alen tampak tidak melepaskan pelukannya. Raya yang memang tampak masih pucat pasrah menyandarkan kepalanya di dada Alen.
Sampai di rumah Kenan, Alen membopong Raya dan Raya tidak mau masuk ke kamar, dia memilih tiduran di sofa
ruang keluarga.
Semua tampak duduk dengan wajah serius, Alen tampak dengan telaten menyuapi Raya bubur, karena Raya memang belum makan siang. Akira datang membawakan jus jambu untuk Raya.
“Raiden, ... bisakah kau jelaskan sekarang.” Pinta Kenan
“Aku memang datang ke Indonesia juga selain untuk menjaga Raya, kebetulan sebuah kampus sedang membuka lowongan kerja dosen, dan aku diterima disitu.” Kata Raiden. “Aku tidak menyangka jika Raya juga di kampus tersebut.”
“Bagaimana kau tahu jika Raya adalah adikmu ?” Tanya Sam
“Sejak kejadian 3 tahun lalu, dalam baku tembak itu, aku yang ada di dalam mobil mengamati Raya berbeda, matanya sama dengan mataku, mata ayah.” Jawab Raiden. “Dan aku menyelidiki sendiri.”
“Apa ayahmu tahu soal ini ?” tanya Kenan
“Tidak. Ayah tidak tahu.” Jawab Raiden. “Ayah datang ke Indonesia hanya untuk mengejar Raya untuk melampiaskan keinginan yang tak tersampaikan pada ibu kalian.”
“Lalu kenapa kamu memisahkan diri dengan ayahmu ? Black Stars juga membesarkanmu kan ?” Tanya Ken
“Aku ditendang ayah karena tidak mau mengikuti aktivitasnya.” Jawab Raiden.
Kali ini Alen dan Jonas memilih diam, mereka juga bingung jika terlibat terlalu jauh dengan obrolan 2 penerus dari dua kelompok berseberangan ini.
“Kakak .... bisakah aku bertemu ayah ?” Tanya Raya
“Tidak !!” jawab ke empat kakaknya serempak
“Kenapa ?” Tanya Raya.
“Kamu harus paham situasi ini mulai sekarang, sayang.” Jawab Alen. Alen memandang Kenan seolah meminta persetujuan untuk menceritakan semuanya.
“Ceritakan, Len.” Kata Kenan. “Kami tidak sanggup.”
“David Jiro, ayah kandungmu, merupakan penyebab kematian mami Cecilia Arata dan papi Aditama. Mereka
meninggal karena dibunuh dengan cara dibuat kecelakaan oleh ayahmu sendiri.” Kata Alen dengan nada berat.
Semua terdiam, Raya yang mendengar seperti baru saja mendapatkan pukulan keras, air mata nya menetes,
menangis sejadi-jadinya, Alen langsung memeluknya, begitu memahami apa yang dirasakan Raya.
“Jadi dulu aku hampir saja membunuh ayahku sendiri.” Kata Raya disela tangisnya.
“Jika memang kebejatan ayah tidak bisa diredakan lagi, pantaslah dia mati sekalipun ditangan anak sendiri.”
Kata Raiden.
“Tapi pasti ada sisi baik ayah ....” Balas Raya
“Kau belum mengenalnya, Ray.” Kata Raiden. “Aku bahkan harus berjuang untuk sembuh dari over dosis obat-obatan yang disuntikkan ayah ketubuhku. Aku anaknya sendiri pun di buat menjadi jahat dengan obat-obatan. Kau tidak merasakan bagaimana sakitnya mengalami over dosis dan hampir mati, beruntung otakku masih selamat.”
“Lalu aku harus bagaimana sekarang ?” Tanya Raya
“Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah jauh dari kakakmu dan suamimu.” Jawab Raiden. “Maka dari itu aku menjadi dosenmu agar kamu bisa selalu aku awasi.”
“Apakah kau tahu rencana ayahmu dalam waktu dekat ini ?” tanya Kenan
“Yang aku tahu dia masih mencari keberadaan Raya.” Jawab Raiden.
“Perang memang mau tak mau sudah dimulai. Dan kita semua berada diposisi dilema menghadapi 1 orang yang menjadi berarti dalam hidup masing-masing.” Kata Sam.
“Hadapi.... jangan mundur...” Balas Jonas.
“Sayang.... percayalah .... kamu kuat, kamu Raya yang hebat yang selama ini aku kenal.” Kata Alen.