I Love You, My Police

I Love You, My Police
Salah Nyulik



Siang itu, Raya dan Ara sedang duduk di kantin kampus sambil makan bakso. Setelah jam kuliah dari Raiden mereka dilanda lapar yang amat sangat.


“Ray .... kamu emang belum ada niatan hamil ?” Tanya Ara


“Belum Ra, aku pengen kuliahku selesai dulu.” Jawab Raya. “Kurang bentar ini kok. Lagi pula aku harus selesaikan masalahku dengan seseorang dulu.”


“Siapa ?” Tanya Ara.


“Nanti kamu juga akan tahu sendiri, aku belum bisa kasih tahu sekarang.” Jawab Raya.


“Aku masih heran aja, Ray ... gimana bisa Pak Raiden jadi kakakmu.” Kata Ara


“Kisah yang rumit dan panjang. Hehehe....” Jawab Raya. “Udahlah baksonya keburu dingin ini nanti, kita makan dulu aja. Kamu gak usah banyak penasaran soal hidup aku, aku gak mau masuk dalam kerumitan hidupku. Paham ?”


“Iya deh, iya ...” Balas Ara sambil melahap baksonya.


Raya memang tidak mau sahabatnya tahu tentang masalahnya, yang jelas tidak mau membebani pikiran Ara soal keselamatannya. Baginya, Ara masih mau menjadi sahabatnya saja Raya sudah senang, melihat sosok ceria yang tidak pernah tahu ada bahaya apa dibalik seorang Raya.


“Ray .... abis ini kita cari buku ke mall yuk !” Ajak Ara


“Oke deh !” Balas Raya.


Sebelum berangkat, Raya menghubungi Alen dulu minta ijin dan Alen memberikan ijin karena Raya tetap mendapatkan pengawalan jarak jauh.


Mall tampak ramai pengunjung, Raya dan Ara segera ke toko buku dan mencari buku yang mereka maksud, tak lupa tentu saja Raya selalu memborong novel, sedangkan Ara lebih suka mencari komik, kegemarannya pada komik memang sudah tidak bisa dibendung lagi walaupun sudah bukan usia remaja.


Setelah asyik berbelanja buku, mereka lalu duduk disalah satu foodcourt mall dan memesan kopi dingin dan cemilan ringan. Raya yang sepertinya kebelet pipis pamit pada Ara untuk ke toilet.


Ara yang sendirian tiba-tiba dihampiri seorang pria tampan, “Selamat Sore, Nona ...”


“Ah, ya Kak.” Balas Ara agak terkejut. “Ada apa ya ?”


“Bisakah ikut ke ruang poliklinik mall, teman anda tadi tiba-tiba yang ke toilet pingsan.” Kata Sang Pria.


“Raya .... yaya kak.... mari ...” Ara tampak panik. Tapi ketika dia bangkit berdiri tiba-tiba mulutnya dibekap sapu tangan dan pingsan. Pria tersebut kemudian membopongnya keluar dari mall. Pengunjung mall tidak curiga, karena mungkin tahunya perempuan yang sedang digendong pria itu sedang sakit kemudian pingsan dan akan dibawa ke rumah sakit.


Raya yang baru kembali dari toilet tampak bingung karena meja tempat mereka duduk kosong, hanya ada barang-barang Ara.


“Mbak ... lihat temen saya disini tadi ?” Tanya Raya


“Kayaknya tadi pingsan mba, terus dibawa mas-mas gitu, mungkin ke rumah sakit.” Jawab si embak penjaga salah satu kedai.


“Pingsan ....” Gumam Raya. “Aneh ... tu anak tampak sehat .... kenapa tiba-tiba pingsan ...”


Raya duduk dan membongkar tas Ara, bahkan Hp Ara pun masih ada di tasnya, berarti Ara pergi tanpa membawa apapun juga. Raya segera menghubungi Alen.


“Kak .... ke mall XXX segera. Ada kejadian aneh disini.” Kata Raya


“Ada apa ?” Tanya Alen yang masih di kantor


“Ara ilang tanpa membawa barang-barangnya. Kata si mbak-mbak yang liat Ara pingsan dan dibawa seorang laki-laki.” Jawab Raya


“Tetap disitu !” Perintah Alen. “Sebentar lagi kak Sam dan Kak Ken pasti datang, aku akan ke situ !”


“Oke !” Balas Raya


Sepuluh menit kemudian, Ken dan Sam datang bersamaan, mereka cepat datang karena memang sedang ada perlu di gedung sebelah yang merupakan area perkantoran.


“Ara ilang ?” Tanya Sam


“Iya, Kak. Sepertinya ini aneh. Ara gak mungkin pergi begitu saja meninggalkan barang-barangnya, juga mana mungkin dia pingsan. Dia sehat banget.”


Alen datang bersama Ezar dan Jonas juga beberapa bawahannya.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” Tanya Ken


“Mikirmu lagi gak beres ya kak ?” tanya Alen. “Kita periksa CCTV mall ini.” Jawab Alen


Ken menepok dahinya sendiri, tanda dia benar-benar sedang susah mikir, bahkan tidak kepikiran CCTV mall. Akhirnya dengan kuasa Alen sebagai polisi, manajemen mall mengijinkan untuk melihat CCTV.


Tampak memang di rekaman CCTV Ara dihampiri seorang pria, kemudian berdiri dan kemudian pria itu membekap mulut Ara sampai pingsan dan membawanya keluar dari mall dan dari CCTV parkiran mall tampak sebuah mobil sport hitam yang dikendarai pria itu dan Ara melaju keluar dari area mall.


“Siapa orang itu ?” Tanya Sam. “Aku belum pernah melihatnya.”


Raiden yang juga mendapat kabar hilangnya Ara juga menyusul ke mall dan langsung menuju ruang CCTV juga, ternyata Raiden datang bersamaan dengan Kenan.


“Kau kenal pria itu ?” Tanya Kenan


“Raya mau diculik ?” Tanya Sam


“Pria itu adalah tangan kanan Ayah, namanya Hansen.” Jawab Raiden. “Dia seusia kita, entah apa yang membuat Hansen begitu patuh pada ayah, padahal orang tuanya meninggal karena dibunuh ayah.”


“Kenapa ayah begitu gampang sekali membunuh orang ?” Tanya Raya dengan tatapan nanar.


“Begitulah ayah ... apapun akan dia lakukan untuk memuluskan urusannya.” Jawab Raiden.


“Lalu bagaimana nasib Ara ?!” Tanya Raya. “Aku tidak mau dia kenapa-kenapa. Ara tidak tahu apa-apa soal keluarga kita.”


“Tenanglah .... aku sudah memasang GPS di sepatu Ara. Karena aku sudah menebak, akan terjadi hal seperti ini. Dimana orang-orang disekitar Raya akan ikut dalam masalah. Dan ternyata tebakanku benar.” Jawab Raiden.


“Apakah Ara akan baik-baik saja ?” Tanya Raya.


“Yakinlah ... Ara akan baik-baik saja asal kita bergerak cepat.” Jawab Kenan. “Ayo kita segera ke sana !”


“Sayang .... jangan ikut ya.... kamu pulang saja dengan pengawal.” Pinta Alen


“Tidak. Aku mana bisa tinggal diam temanku dalam masalah.” Balas Raya.


“Biarkan Raya ikut, cepat atau lambat Raya juga akan menghadapi ini. Jangan terus dibuat menghindar.” Kata Raiden.


“Tapi kamu harus mengikuti instruksiku !” Kata Alen dengan nada memerintah


“Oke.” Balas Raya


Mereka kemudian segera keluar dari mall. Pengunjung mall terutama cewek-cewek tampak terbengong ada juga yang histeris. Bagaimana tidak, seorang gadis berjalan dikawal beberapa pria tampan dan polisi tampan. Bahkan Raiden berjalan sambil merangkul Raya seperti pasangan kekasih saja.


Diparkiran mall, semua naik ke dalam mobil yang


berbeda-beda. Alen tetap dengan mobil patroli bersama teman-temannya, sedangkan


Raya satu mobil dengan Raiden dan Viko. Kenan menggunakan mobil bersama


asistennya Kelvin, Sam dan Ken dalam satu mobil.


Raiden berada pada urutan baris pertama iring-iringan mobil memimpin ke sebuah tempat sesuai GPS yang ada di sepatu Ara. Menurut Raiden tempat yang ditunjukkan GPS adalah sebuah gedung tua tak bertuan, selama ini menjadi markas Black Stars berkumpul.


“Ray .... ini akan sangat berbahaya. Kamu jangan jauh-jauh dari aku nanti.” Kata Raiden.


“Aku tahu kak, apakah ayah juga disana ?” Tanya Raya


“Sudah pasti ada.” Jawab Raiden


Sementara itu disebuah gedung tua lantai 8, seorang gadis sedang dalam posisi duduk terikat di kursi, sudah sadar dan sedang menangis.


“Kalian siapa ?” Tanya Ara


“Halo Raya .... akhirnya kita bertemu.” Jawab seorang pria sudah berumur sekitar 50 tahun, tetapi kharismanya sepertinya masih baru usia 40an.


“A .... aku bukan Raya.” Kata Ara ketakutan. “Aku Ara


.... teman Raya. Kalian salah orang.”


“Han????” Tanya sang pria itu, ternyata adalah David Jiro sang pimpinan Black Stars, tak lain adalah ayah Raiden dan Raya.


“Maaf tuan, sepertinya saya salah tangkap.” Jawab sang asisten, Hansen.


“Bagaimana ini ?” Tanya David


“Mau bagaimana lagi, kita tetap akan tunggu, mereka pasti datang tuan untuk menyelamatkan anak ini, meskipun dia bukan anggota keluarga itu.” Jawab Hansen sambil tersenyum licik.


“Jadi .... kamu teman Raya ?” Tanya David


“Iiii... ya pak.” Jawab Ara ketakutan


“Kalau kamu tahu soal Raya, tentu kamu tahu hubungan Raya dengan Raiden ?” Tanya David


“Raya tidak pernah cerita apapun. Raya hanya bilang jika Pak Raiden adalah kakaknya. Entah kakak dari mana.” Jawab Ara


“Apakah kamu tahu siapa sebenarnya Raya dan kakak-kakaknya ?” Tanya David


“Saya tidak tahu, pak. Mereka hanya 4 bersaudara yang saling menyayangi, itu saja.” Jawab Ara


“Tampaknya ada sesuatu dibalik Raiden dan Raya.” Gumam David