
Sudah 3 hari ini, Alen bolak balik antar jemput Raya kuliah, karena Raya tidak bisa membawa motornya sendiri dengan tangan terluka, apalagi motor Raya adalah motor sport besar. Bibi Rose sebenarnya sudah menyiapkan mobil dan sopir untuk antar jemput Raya, tetapi Alen justru menawarkan diri untuk melakukan itu.
“Ray .... hari ini kamu waktunya kontrol balutan dan jahitan.” Kata Alen. “Mampir ke kantorku dulu sebentar terus nanti aku antar kontrol ke rumah sakit ya.”
“Iya, Kak.” Balas Raya sambil cemberut
“Hei ... kenapa sehari ini cemberut ?” Tanya Alen.
“Gara-gara kakak.” Balas Raya
“Gara-gara aku ?” Tanya Alen yang ternyata dia sambil menyetir mobil sudah sampai parkiran polres. “Kenapa bisa gara-gara aku ?”
“Kata temen-temenku kakak itu pacarku. Kemana-mana nganter jemput melulu, udah kayak pengawal dadakan. Aku kan malu.” Jawab Raya. “Orang taunya aku cewek mandiri, pembalap, kenapa malah jadi kayak tuan putri aja sekarang gak bisa apa-apa. Aku masih bisa kok nyetir mobil sendiri.”
Alen agak terkejut mendengar jawaban Raya. Ya kalau dianggap pacar apa salahnya ? batinnya.
“Tidak, selama lukamu belum sembuh jangan harap kamu akan menyentuh motor apalagi mobilmu.” Kata Alen. “Motormu bahkan ditahan Jonas tuh !!”
“Iya tapi kan kita dikira pacaran kak ...!?” Protes Raya.
“Kalau pada kenyataannya iya emang kenapa ?” Tanya Alen.
“Kapan kita jadiannya ?????” Tanya Raya balik. “Lagian aku gak mau pacaran sama polisi.”
“Kenapa ?” Alen balik tanya lagi
“Gak bisa balapan liar nanti.” Jawab Raya.
“Oke .... gimana kalau kita bikin kesepakatan... jadilah pacarku .... aku tidak akan melarangmu balapan liar.” Kata Alen
“Hah !!! Masa ???” Tanya Raya
“Iya.... tapi tetap ada syarat selanjutnya, nanti deh kalau kamu sudah sembuh.” Jawab Alen. “Ray.....” Alen memandang Raya jarak dekat, kemudian memainkan rambut Raya. “Percaya tidak dengan cinta pada pandangan pertama ?”
“Percaya sih.... tapi .... aku gak pernah merasakannya.” Kata Raya dengan chueknya.
“Tapi aku merasakannya.” Balas Alen.
“Ih .... kakak apaan sih !!!???” Seru Raya
“Sudahlah, ayo turun.... kamu mau nunggu aku didalam mobil kepanasan ?” Tanya Alen sambil membuka pintu mobilnya kemudian membukakan pintu sebelah Raya.
Raya pun turun dan berjalan mengekor dibelakang Alen masuk ke ruangannya, banyak mata memandang mereka berdua.
“Digandeng ngapa, Len ....” Goda Jonas
“Kak Jonas, mana kunci motorku ?” Tanya Raya
“Apaan sih !!? Datang-datang main nodong aja.” Jawab Jonas. “Tidak akan kuberikan atas perintah atasan.”
“Atasan ?” Tanya Raya bingung.
“Tuh !!” jawab Jonas sambil menunjuk Alen.
“Iya tapi kan itu motorku !” Teriak Raya.
“Selama kamu belum sembuh tangannya tidak akan kuberikan.” Balas Jonas. “Jangan khawatir, motormu aman disini, maaf aku pakai untuk ngantor dulu. Karena kalau tidak sambil dipanasin bisa bermasalah motormu.”
“Terserah .... tapi awas kalau sampai lecet.” Ancam Raya. “Ntar nasib kakak kayak si penjahat kemarin, mau ?”
“Galak amat sih ni bocah ....”Kata Jonas
Alen yang melihat perdebatan Jonas dan Raya hanya senyum-senyum saja.
“Aku gak suka tau diantar jemput terus, temen-temen di kampus ngira kak Alen pacar aku.” Gerutu Raya sambil duduk di sofa di ruang kerja Alen dan Jonas.
“Bagus dong !!!” Seru Jonas. “Dah gak akan yang berani gangguin kamu lagi.”
“Bagus apanya .... pacaran enggak kok dibilang pacaran ?” Tanya Raya.
“Bukannya kita sudah jadian ?” Tanya Alen yang kemudian duduk disebelah Raya dan mengelus rambur Raya.
“Kapan ?” tanya Raya dan Jonas barengan
“Kok kamu malah ikutan nanya ?” Jonas kembali bertanya ke arah Raya.
“Tadi waktu di mobil.” Jawab Alen chuek.
“Itu bukan jadian kakak, jawab juga belum.” Kata Raya. “Kakak tadi hanya ajukan syarat aku tetep boleh ikutan balapan liar.”
“Len .... !” Seru Jonas
“Tenang, Nas.... aku tetap ijinkan dia melakukan balapan, dengan syarat lanjutan tentunya.” Balas Alen. “Jadi bagaimana ? Kita sudah jadian kan ?”
“Kakak serius ?” Tanya Raya
“Sudah aku bilang, cinta pada pandangan pertama. Kenapa tidak percaya.” Jawab Alen.
“Hah !!! Siapa kakak main kasih sah aja, penghulu enggak, pendeta enggak.” Balas Raya.
“Sudah, ayo kita ke rumah sakit, kamu harus segera kontrol luka jahitan.” Kata Alen.
Raya kembali mengekor mengikuti langkah Alen. Melewati beberapa ruangan kantor dan melewati beberapa pasang mata, juga melewati atasan Alen, mereka memandang sambil senyum-senyum.
“Apa liat-liat !?” Bentak Raya.
Alen yang melihat langsung tepok jidat, ternyata yang dibentak adalah atasannya.
“Galak amat cewekmu, Len ?” Tanya sang atasan, Pak Dirga.
“Maaf pak .... lagi kumat dia.” Jawab Alen
“Ini bukannya yang kemarin sukses ngebanting Tito ?” Tanya Pak Dirga.
“Iya pak. Betul. “ Jawab Alen
“Jaga dia, Len, saksi korban dia ini.” Kata Pak Dirga.
“Kenapa semua orang nyuruh-nyuruh dia jaga saya sih !” Seru Raya. “Dipikir saya bocah kecil apa ??!”
Raya berlalu meninggalkan Alen dan atasannya.
“Maaf, pak ....” kata Alen sambil nyengir
“Dia cantik, Len... jaga dia baik-baik ya.” Kata Pak Dirga
“Siap 86, pak !” Seru Alen
“Sudah sana susul !” Perintah pak Dirga
Alen berlari menyusul Raya yang ternyata sudah menunggu panas-panas di parkiran.
“Kakak lamaaa !” protes Raya
“Sabar dong Sayang ....” Balas Alen sambil membukakan pintu untuk Raya
“Apa ???? Barusan ngomong apa ????” Tanya Raya
“Sayang.... !” Jawab Alen dengan nada keras, membuat Ezar dan Jonas, juga lainnya tampak terkejut mendengar suara Alen.
Raya yang juga jelas-jelas didekatnya bersemu merah wajahnya.
“Mau nggak jadi pacar polisi seperti aku, sayang ?” Tanya Alen
Raya tambah merah mukanya. Jonas dan Azer yang melihat itu bukannya ikut terkejut lagi kali ini, malah tertawa ngakak. Pak Dirga yang juga sedari tadi ikutan menjadi penonton gak kalah ikut tertawa.
“Sebenernya Alen sudah pernah menyatakan cinta belum sih ?” Tanya Pak Dirga
“Gak tahu, Pak.” Jawab Jonas disela-sela tawanya.
Sementara itu....
“Kakak serius ?” Tanya Raya.
“Iya, aku serius.... maaf, aku lupa bawa bunga.” Jawab Alen
“Buat apa ?” Tanya Raya
“Untuk melamarmu jadi pacarku, aku malah bawanya pistol.” Jawab Alen
“Trus kalau bawa pistol mau nodong aku gitu ?” Tanya Raya
“Enggak lah !!!” Seru Alen.
“Kakak kenapa gigih banget sih pengen jadi pacarku ?” Tanya Raya
“Karena cinta pada pandangan pertama.” Jawab Alen.
“Sebenernya, aku belum bisa menentukan perasaanku gimana, tapi karena kakak gigih, cobalah kakak membuat aku jadi sayang sama kakak lebih dari sebuah hubungan teman.” Kata Raya. “Kita jalani, tanpa dibuat-buat, seperti awal kita bertemu.”
“Terima kasih, sayang ....” Alen tiba-tiba mengecup kening Raya.
“Ahhhhh suitttttt !!!!! kantor woeeee !!!!” Teriak Jonas. “Mesranya nanti aja !!!!!!”
Raya yang menyadari kalau dia dan Alen jadi pusat perhatian orang satu kantor langsung masuk dalam mobil dengan muka merah. Alen pun segera ikut masuk mobil sambil tersenyum.
“Maaf, ya sayang .... ngajak pacarannya gak romantis.” Kata Alen. “Lain kali aku janji akan ajak kamu ke suatu tempat yang pas untuk kita berduaan.”
“Oke, asal jangan di kamar hotel saja.” Balas Raya
“Lah ... dipikir aku cowok apaan sih !!?” Kata Alen sambil menyetir mobilnya.