
Alen terus saja menciumi Raya sampai akhirnya Alen berhasil membuka piyama bagian atas Raya dan sudah berada di atas tubuh Raya. Raya yang sebenarnya capek, bingung antara malu, geli dan nikmat. Alen sudah saja membenamkan wajahnya di gundukan gunung milik Raya membuat Raya kegelian, sampai Raya merasakan sesuatu yang keras menyentuh perut bagian bawahnya
“Kakak ....”
“Apa sayang ?” Tanya Alen
“Ini apa kok ngeganjel ?” Tanya Raya
“Ini pisang kakak udah membesar.” Jawab Alen.
“Apa sebesar pisang ambon?” Tanya Raya.
“Coba saja sentuh.” Jawab Alen sambil menuntun tangan Raya untuk menyentuhnya.
“Ahhhhh !” Raya tersentak kaget. “Kok lebih besar dari pisang kak ....”
“Jangan khawatir sayang ..... kamu akan menikmati nantinya.” Kata Alen sambil terus membuat kissmark di mana-mana.
“Tapi kakak ini besar banget .... aku takut ..... “ Kata Raya.
“Jadi kamu belum siap ?” Tanya Alen
“E ..... tapi kakak benarkan gak akan sakit ?” Tanya Raya ragu-ragu
“Tidak sayang .... malam ini kamu yang menikmati saja.” Jawab Alen.
Tanpa disadari, keduanya sudah sama-sama polos, ranjang arena pertempuran pun sudah tak berbentuk, sprei bubar, selimut teronggok di lantai. Alen sudah dengan semangat 45 segera ingin memasukkan pisangnya ke goa
milik Raya.
“Kakak ..... jangan besar-besar.....” Kata Raya
“Hahhhh !!! Mana bisa sayang, ini sudah ukuran alami punya kakak ....” Balas Alen.
“Tapi nanti punyaku sobek.” Kata Raya
“Emang aku mau nyobek punya kamu.... nggak sakit kok ...” Balas Alen. “Percaya sama suamimu ini ...”
“Kakak pengamannya ....”
“Gak usah .... aku bisa atur nanti, mayonaise nya sembur keluar aja.” Kata Alen. “Gak enak tahu pake pengaman.”
Alen pelan-pelan berusaha memasukkan pisangnya, sampai akhirnya berhasil dan membuat Raya menangis karena merasa sakit, tetapi Alen langsung melakukan gerakan lain supaya Raya tidak merasa kesakitan.
“Maaf ya sayang .....” Bisik Alen
“Punya kakak besar sekali.” Balas Raya disela tangisannya.
“Nanti akan nikmat lama-lama, percayalah ....” Kata Alen sambil terus bergerak
“Besok lagi kecilkan saja kak ......” Kata Raya
“Ah .... ada-ada saja kamu, kamu tanya bunda deh dulu nyetaknya gimana bisa sebesar ini.” Balas Alen
Akhirnya, jam 2 pagi pertempuran berakhir dengan Alen melakukan sebanyak 3 kali. Lelah .... bahkan Raya sudah terlelap dipelukan Alen, kemudian Alen menarik selimut dan kembali tidur memeluk Raya.
Esok harinya, jam 10, sang pengantin baru saja bangun. Orang-orang dirumah tentu saja sudah paham sehingga tidak akan membangunkan 2 pasangan baru itu.
“Farel .... siap-siap ...” Kata Bunda Alin sambil cengar-cengir
“Siap-siap apa, bun ?” Tanya Farel bingung. “Bunda baru saja menikahkan mereka, jangan bilang juga sudah mempersiapkan pernikahanku dengan Ivo. Ivo masih ada proses lama bun buat menyelesaikan spesialisnya.”
“Bukan.... siap-siap ngejahit. Kalau kakakmu terlalu besar, gimana nasib Raya ....” Kata Bunda Alin sambil tertawa
Farel juga langsung tertawa, “Gak berani, Bun. Bisa ditodong pistol nanti sama kak Alen.”
Di kamar pengantin.... Raya baru saja membuka matanya, tampak badannya terasa berat dan sakit semua, rupanya Alen tidur sambil memeluk Raya, pantas saja berat.
“Kakak .... bangun... sudah siang ....” Kata Raya.
“Nanti lah, sayang .... ini kan juga aku cuti.” Balas Alen sambil mempererat pelukannya.
“Tapi badanku sakit semua kak, aku mau mandi.” Kata Raya.
“Nanti, mandi nanti sama kakak. Gak usah protes.” Balas Alen
Alen membuka matanya, kemudian menciumi wajah Raya. Sejurus kemudian Alen terpaku pada sebuah gambar di punggung Raya, sebuah tato bergambar sebuah huruf kanji dipadu dengan simbol bintang. Alen tidak menyadarinya dari semalam karena kamar remang-remang lampunya.
“Sayang .... ternyata kamu bertato juga ?” Tanya Alen
“Semua keluarga Arata memiliki tato ini kak, ini adalah simbol bahwa kami adalah orang-orang Blue Stars.” Jawab Raya. “Tidak boleh ada yang tahu soal simbol ini, jadi yang tahu hanya aku dan kakak.”
“Oke .... ayo mandi gadis nakalku....”
Alen bangun memakai kimono handuknya lalu membopong Raya masuk ke kamar mandi.
“Aku bisa jalan sendiri kak.....” Kata Raya
Ritual mandi bareng pun selesai tanpa ada ini itu, karena Alen juga tahu Raya masih merasa sakit akibat ulahnya semalam. Selesai mandi keduanya duduk di sofa kamar dan sama-sama memandang ranjang yang sudah tak
berbentuk.
“Kakak itu darah apa ?” Tanya Raya bingung. “Ahhhh ...... jangan-jangan punyaku robekkkkk, pantas sakittt.... Ah ... kakak jahat, kan sudah aku bilang jangan besar-besar !!!”
Alen tersenyum, dan memeluk Raya yang sedari tadi memukuli dada Alen yang memang belum sempat memakai baju.
“Terima kasih sayang .....” Kata Alen sambil menghujani Raya ciuman.
“Kakak kenapa malah bilang terima kasih ?” Tanya Raya cemberut
“Terima kasih sudah menjaga milikmu utuh sampai bisa aku nikmati semalam.” Jawab Alen. “Jangan khawatir, itu darah tanda kalau kamu masih perawan sayang.”
“Jadi punyaku tidak robek ?” Tanya Raya
“Ya robek sayang,..... tapi robek yang dalam...” jawab Alen. “Sudah ayo keluar, aku lapar. Bunda pasti sudah masak.”
“Masih sakit buat jalan.” Kata Raya.
Alen kemudian berdiri dan memunggungi Raya,”Ayo naik !!!” Alen meminta Raya naik ke punggung Alen.
Akhirnya Raya keluar kamar dengan naik ke punggung Alen macam bocah TK minta digendong ayahnya.
“Haloooo .... pengantin baru aja keluar ....” Sapa Bunda Alin.”Lho.... kenapa gendongan sayang ?”
“Gak bisa jalan, Bun.” Jawab Alen. “Katanya punyaku semalam terlalu besar. Bikin sakit.”
Alen kemudian menurunkan Raya di kursi meja makan.
“Lalu apakah disuruh mengecilkan ?” Tanya Bunda Alin
“Hahaha ..... jelas iya, Bun.” Jawab Alen sambil tertawa. “Maaf, Bun .... hasil pertempuranku ada noda darahnya, ntar nyucinya gimana ?”
“Udah, itu nanti urusan bibi.” Kata Bunda Alin. “Sekarang kalian makan, pulihkan tenaga kalian. Nanti malam biar bisa lebih kuat.”
“Nanti malam, Bun ?” Tanya Raya bingung.
“Sayang, suamimu ini mana cukup minta hanya di malam pertama saja.”Kata Bunda Alin.
“Ketemu pisang ambon lagi ?” Tanya Raya tidak percaya
Alen menganggung senang.
“Ahhhh ..... tidak mau .... yang ini saja masih sakit ....” Kata Raya
“Stttt.... percayalah.... nanti malam akan lebih enak.” Kata Bunda Alin.
“Yang bener bunda ? Tapi punya kak Alen besar Bun .... apa tidak bisa dikecilkan ?” Tanya Raya
Bunda Alin tentu saja tertawa ngakak mendengar ucapan menantunya yang polos bin ajaib ini.
“Mana bisa sayang .... itu udah cetakan dari sananya.” Jawab Bunda Alin.
Kenan muncul dengan Akira, ternyata mereka sama-sama baru bangun juga, sama-sama bertempur juga rupanya.
“Hallo adiku sayang .... gimana semalam ?” Tanya Kenan sambil mengacak-acak rambut Raya
“Berhasil kak.” Jawab Alen.
“Apa dia protes dengan ukurannya ?” Tanya Kenan sambil cengar-cengir
“Oh jelas, anak ini protes. Bahkan teriak-teriak gak jelas.” Jawab Alen. “Untung kamarku kedap suara.”
“Hahahaha ...... sudahlah, ini juga belum seberapa, nanti tunggulah sampai ada tumbuh janin, pasti akan lebih heboh lagi dia.” Kata Kenan. “Aku saja waktu hamilnya Yoshi dibikin repot sama maminya.”
“Dia belum mau hamil, mau selesaikan kuliah dulu.” Kata Alen.
“Hmmm.... ide bagus juga, nikmati saja pacaran kalian dulu.” Balas Kenan.
“Kak...... apa kalian akan tinggal disini juga ?” Tanya Raya
“Iya, hanya kakek yang kembali ke Jepang sore nanti. Kakak, juga Ken dan Sam akan tinggal di rumahmu, ada urusan yang harus diselesaikan disini, disamping itu juga persiapan pernikahan Ken 6 bulan lagi.” Jawab Kenan.
“Urusan apa kak ?” Tanya Raya
“Kamu lupa bahwa Kakakmu Ken akan menjadi orang Indonesia, dan kamu lupa bahwa kakakmu ini juga harus mengurus perusahaan disini.” Jawab Kenan.
Kenan menyembunyikan sesuatu yang bisa dipahami Alen. Tentu saja tinggal di Indonesia tidak sekedar urusan bisnis dan persiapan pernikahan Ken saja, pasti ada yang lain, mengingat begitu disembunyikannya identitas Raya sebagai cucu perempuan satu-satunya keluarga Arata.
“Len .... setelah makan aku ingin bicara penting dengan kamu. Raya sayang .... aku pinjam suamimu sebentar ya .... kamu bisa kan temani Akira dan Yoshi dahulu ?” Tanya Kenan
“Oke kak.” Jawab Raya
“Kita bicara diruang kerjaku saja nanti.” Kata Alen