I Love You, My Police

I Love You, My Police
Batal Bikin Anak



Selesai membersihkan diri, Alen langsung merebahkan diri di ranjang, sementara Raya yang sudah duluan mandi tampak tiduran di tepian ranjang sambil bermain ponselnya.


“Yang .... “ Panggil Alen


“Hmmmm ....” Jawab Raya masih terus memandangi ponselnya


“Besok kalau kamu melahirkan juga akan seperti tadi itu ?” Tanya Alen. “Jangan ya ..... aku bisa remuk lebih dari tadi kalau kamu mau lahiran aja kayak tadi.”


“Ya mana aku tahu lah, kak ....” Jawab Raya. “Aku kan belum pernah melahirkan, mana tahu gimana rasa sakitnya.”


“Mau punya anak aja repot amat ....” Gerutu Alen. “Kayak tadi baru ketemu emak-emak biasa yang ga ada jago-jagonya sama sekali bela diri aja udah gitu, gimana coba kalau kamu yang serba bisa sampai melahirkan, aku pulang-pulang bisa jadi perkedel.”


“Asyik tuh .... jadi kakak gak bakal semena-mena sama anak istri ke depannya” Kata Raya sambil tertawa kecil.


“Dihhh.... malah ngeledekk yaaa .... !!” Seru Alen yang langsung menarik tubuh Raya dan menindihnya.


“Kakak ... katanya badannya sakit semua ...” Balas Raya


“Sekarang enggak !! Kamu bikin kakak sebal saja.” Kata Alen. “Bikin anak aja yookk !!”


“Ogaaaahhhh !!!!” Jawab Raya. “Aku kan belum pengen punya anak ....”


“Ah .... sama aja kali sekarang sama besok bikinnya.” Kata Alen.


“Bundaaaaaaa !!!!” Teriak Raya. “Kakak jahaaattt !!!”


“Aiss apaan sih !!! Dikit-dikit panggil bunda !” Balas Alen


Raya berhasil melarikan diri dari Alen dan langsung lari keluar kamar, dan mencari bunda Alin yang ternyata sedang duduk santai di sofa ruang tengah sambil ngobrol dengan Akira.


“Bunda !!!” Raya langsung duduk dan memeluk bunda Alin


“Kenapa sayang.... ?” Tanya Bunda Alin


“Masa kakak tiba-tiba minta anak, kesambet setan dari mana dia.” Jawab Raya


Alen yang menyusul keluar dari kamar ikut-ikutan duduk di sofa.


“Lha ya kalian kayaknya hampir tiap hari bikin anak kenapa sekarang kamu gak mau ?” Tanya Bunda Alin bingung


“Lah beda, Bunda ..... kan gak pernah dimasukin.” Rajuk Raya. “Aku gak mauuuu.... belum pengen.”


“Dih ... sapa juga yang beneran mau ngajakin bikin anak.” Gerutu Alen.


“Len .... soal anak itu bukan soal sepele ! Udah siap kamu jadi ayah ?!” Tanya Bunda Alin.


“Siap lahir bathin lah, Bun. Bahkan dah ngrasain nemenin orang lahiran sampai tampang udah kayak orek tempe.” Jawab Alen.


“Orang hamil itu kemauannya aneh-aneh, Len.” Kenan muncul sambil menggendong Yoshi.


“Ya paling kan cuma seputar makanan atau minuman kan yang dia pengenin kan.” Kata Alen


“Wussss .... sembarangan !” Balas Kenan. “Tanya tuh mommynya Yoshi, waktu hamil ngidamnya apa aja ???!”


“Emang orang hamil ngidam apaan, kak ?” Tanya Raya


“Aku ceritain aja nih ya yang paling parah aja. Masa malem-malem jam 12 dia minta aku boneka salju. Kebayang dinginnya gimana, waktu itu lagi musim salju di Hokaido. Trus lagi ya, minta ayam goreng tapi aku yang harus masak, aku pegang spatula aja gak pernah gimana ceritanya suruh masak.” Jawab Kenan. “Lebih parah lagi, ngajak kencan ke taman hiburan aku suruh dandan ala-ala rambut landak, naikin semua. Duhhh.....”


Akira yang mendengar ocehan suaminya tertawa tanpa henti, bagaimana tidak, jika dia mengingat masa kehamilannya, suaminya dibuat repot selalu dengan banyak permintaan aneh-aneh.


“Hamil aja repot, pantes kemaren orang lahiran juga repot.” Kata Alen.


“Jadi ... batal bikin anaknya ?” Tanya Raya


“Kapan-kapan aja.” Jawab Alen sambil ngeloyor pergi ke dapur karena ternyata perutnya lapar.


“Lah kalau kapan-kapan trus bunda kapan bisa gendong cucu sendiri ?” Tanya Bunda Alin


“Sabarlah bun... kalau mereka sudah siap pasti kasih cucu.” Jawab Akira. “Biarkan mereka menikmati masa pengantin baru rasa pacaran”


Raya menyusul Alen yang sedang menggoreng telur. Lalu memeluknya dari belakang.


“Beneran kak, gak jadi bikin anaknya ?” Tanya Raya


“Kalau bikin sih ya tetep, tapi gak perlu dijadikan dulu deh !” Jawab Alen. “Bayangin kayak tadi aja aku udah super pusing, apalagi ngadepin ntar kamu hamil. Bisa-bisa aku disuruh beli sate yang harus asli dari madura, bukan sate dari tukang sate madura yang lewat depan rumah.”


“Tapi kakak tetep pengen kan punya anak ?” Tanya Raya


“Iyalah .... tapi nanti saja, kalau kuliahmu sudah benar-benar selesai.” Jawab Alen. “Sekarang kita nikmati pacaran kita dulu. Makan yukkk, aku lapar... tenagaku berasa terkuras tadi sama si mbak tadi....”


Raya menganggung lalu duduk berdua di meja makan, dan Alen menyuapi Raya sambil makan sendiri juga.


“Sayang ..... aku sepertinya tidak akan pernah siap untuk punya anak jika masalahmu dengan ayahmu belum selesai.” Kata Alen. “Itu akan berisiko untuk anak kita. Aku gak mau anak kita nantinya seperti Yoshi, kemana-mana selalu dalam pengawalan. Aku ingin anakku tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya.”


“Iya kak... aku juga berpikirnya seperti itu.” Balas Raya. “Aku harus selesaikan masalah dengan ayah dulu. Tapi mau sampai kapan ?”


“Mau tidak mau harus dihadapi. Sepak terjang bisnis ayahmu sebagian sudah beku karena informan bener-benar memberikan informasi akurat pada setiap transaksi. Ayahmu pasti rugi besar.” Kata Alen. “Ini sebenarnya sama saja membangkitkan kemarahan singa, karena segala lini bisnis ilegalnya kacau balau.”


“Apakah ayah akan sadar suatu saat nanti ?” Tanya Raya


“Tapi ayah pasti memiliki sisi baik walau sedikit.” Kata Raya.


“Mungkin, entahlah.” Balas Raiden


“Kak.... pergerakan mereka begitu lambat, apa ini tidak karena kita semua sekarang bersatu berkumpul disini ?” Tanya Alen.


“Sepertinya begitu. Ayah tahu betul kekuatan Kenan, Ken dan Sam, ditambah Raya dan kamu. Sulit bagi dia membuat keonaran.” Jawab Raiden. “Kenan juga tidak mau bergerak duluan kalau tidak didahului. Tapi .... ayah bisa saja nekad sewaktu-waktu tanpa pandang tempat dan situasi.”


Raya, sebenarnya di lumbuk hatinya yang terdalam begitu dilema, memiliki ayah sekaligus musuh keluarganya. Raya beranjak meninggalkan meja makan dan menuju ke meja piano. Satu-satunya penghiburnya saat ini adalah bermain musik dan bernyanyi. Dan kali ini lagu Mungkin menjadi pilihan Raya untuk melantunkannya.


Mungkin


Aku bisa bercinta dengan kamu


Kendati kata-katamu selalu


Menusuk jantung


Melukaiku


Mungkin


Kumau memaafkanmu kembali


Demi cinta yang ada di hatiku


Meloloskanmu


Dari kata pisah


Mungkin sang fajar


Dan sayap-sayap burung patah


Menyaksikan kita berseteru


Selalu tak pernah damai


Mungkin cintaku


Terlalu kuat dan menutupi


Jiwa yang dendam akan kerasmu


Sehingga kita bersama


Mungkin


Mungkin


Kumau memaafkanmu kembali


Demi cinta yang ada di hatiku


Meloloskanmu


Dari kata pisah


Mungkin


Mungkin


Kumau memaafkanmu kembali


Demi cinta yang ada di hatiku


Meloloskanmu


Dari kata pisah


Mungkin sang fajar


Dan sayap-sayap burung patah


Menyaksikan kita berseteru


Selalu tak pernah damai


Alen duduk disebelah Raya sambil mengusap rambut Raya,”Percayalah ... akan ada keajaiban jika mau meminta pada Tuhan.”


“Aku begitu merindukan sosok ayah.... tapi bukan seperti ini mauku.” Kata Raya.


“Sebuah takdir tidak bisa dirubah, kita cukup mengikuti alur ceritanya.” Balas Alen. “Ayo istirahat, besok kamu kuliah pagi. Kali ini tidak bikin anak dulu. Jujur aku lelah sekali, sayang.”


“Haha .... kalau kakak tetap meminta justru aku merasa heran, dapat asupan tenaga dari mana gitu. Jangan-jangan kakak tadi nyomot ari-ari si bayi tadi, hahahaha ....” Kata Raya


“Kamu pikir aku ini kucing yang makan ari-ari anaknya untuk dijadikan asupan tenaga.” Balas Alen sambil menarik Raya masuk ke kamar.