
Raiden dan Ara sama-sama sudah membersihkan diri. Ara memakai piyama tidurnya sedangkan Raiden karena selalu terbiasa tidur hanya memakai celana panjang santai membuat Ara harus melotot campur kaget melihat lekuk tubuh pria yang baru saja menikahinya, roti sobek terpampang jelas di dada dan perut Raiden yang selama ini selalu tersembunyi di balik kemeja kerja maupun kaos santainya. Apalagi di dada kanannya ada tato tribal keren memanjang ke lengannya, sedangkan di perut kanan terdapat bekas jahitan sepanjang lebih kurang 10 cm, luka hasil karya dari papa David di waktu dulu.
“Kenapa kamu ?” Tanya Raiden bingung
“Kak ...... eh gapapa.” Jawab Ara salah tingkah
“Kenapa hmmmm....?” Raiden mendekati Ara lalu mengecup kening Ara. “Bilang saja kamu kaget lihat bentuk badanku.”
“Ih.... kakak.... apaan... dulu papa waktu muda juga badannya kayak kakak.” Kata Ara mengelak
“Itu kan dulu .... sekarang papa sepertinya lebih menonjolkan perutnya ketimbang bentuk badannya. Hahahahaha ....” balas Raiden
“Kak .... tadi bukannya dapat kado dari Kak Alen ya ?” Tanya Ara. “Soalnya kado kak Alen kecil, sedangkan yang lain besar semua. Bukain besok saja ya. Capek.”
“Oh iya lupa.... sebentar aku ambil !” Raiden menuju ke kamar mandi mengambil kado kecil yang tadi dia masukkan saku celananya kemudian keluar dari kamar mandi. “Jadi penasaran isinya apa.”
“Buka aja kak ....” Kata Ara. “Kali-kali kecil gitu isinya surat warisan. Wkwkwkwk....”
Raiden kemudian membuka kado dari Alen. Isinya ternyata sebuah botol kecil berisi beberapa kapsul dengan tulisan “Vit*ma**” Sebuah produk yang digunakan untuk meningkatkan vitalitas pria. Raiden tentu saja
melotot tidak terima, sementara Ara bingung. Ada sebuah kertas kecil bertuliskan dari Alen. Ara kemudian membacanya.
“Jangan lewatkan malam pertama, genjot sampai 10 kali.” Ara mengucapkan tulisan dari Alen
“Sialan tu bocah !!!” gerutu Raiden. “Dipikir aku nggak kuat apa main sama istriku.”
Ara yang akhirnya tahu apa kado dari Alen pun tertawa keras, “Jadi ada yang sedang meragukan kejantanan kakak sepertinya ....”
“Woaa.... kamu ikut-ikutan nih ....” Raiden tampak kesal dan langsung menarik Ara naik ke tempat tidur sehingga Raiden sukses menindih Ara. “Mau buktikan ?”
Ara langsung bersemu merah mukanya, malu. “Kakkkk .......”
“Tidak malam ini. Aku sudah lelah sekali ..... Nanti kamu bisa kecewa kalau aku hanya kuat tidak sampai 10 menit dan cuma bisa satu ronde.” Kata Raiden sambil tersenyum nakal. “Yuk.... tidur saja”
Raiden kemudian memeluk Ara dari belakang.
“Kak .... beneran tidak ingin ?” Tanya Ara bingung
“Tidak, sayang ..... sebenarnya ingin, tapi aku lelah. Bisa-bisa aku pingsan nanti kalau ngegenjot kamu malam ini. Sudahlah tidur .....” jawab Raiden.
“Jarang ada pria yang melewatkan malam pertama, kenapa kakak malah melewatkan ?” Tanya Ara yang langsung membalikkan badan, wajahnya bertemu dengan wajah Raiden.
Raiden bukan tidak mau, tapi tidak percaya diri. Dia tahu seperti Ara sebenarnya, memiliki koleksi banyak video blue di laptopnya, dengan referensi yang sangat baik, dia tidak percaya diri apakah dirinya akan bisa seperti yang Ara sukai.
“Kak .....” Ara kembali memanggil suaminya yang memejamkan mata pura-pura tidur. “Ini apa yang ngeganjel di bawah ?”
“Sayang .... tidurlah.” Kata Raiden.
“Kak ... kalau pengen bilang aja, aku siap kok.” Balas Ara.
“Hfffff .... kamu ya ... aku kan capek, sayang ....” Kata Raiden
“Kakak itu mana mungkin capek .... pasti ada sesuatu ....?” Tanya Ara kemudian duduk.
“Kalau aku .... tidak seperti referensi kamu seperti di ..... film film itu ... apa kamu akan menerima nya ?” Tanya Raiden ragu dan ikutan duduk.
“Ya ampun, kak !!!!” Seru Ara. “Jadi itu yang membuat kakak gak mau melakukan malam ini ?! Dengar ya suamiku sayang ..... seperti apapun bentukanmu, seberapa besar punyamu, dan seberapa kuat kamu melakukannya itu sudah aku terima.”
Raiden membulatkan matanya tidak percaya, “Aku pikir kamu ....”
“Kakak .... udah !!!” Seru Ara. “Kakak mau lakukan atau aku akan tidur di kamar sebelah ?!”
“Lah kok ngancam ?” Tanya Raiden bingung.
“Terus ???”
Raiden langsung memeluk Ara dari belakang, menciumi leher Ara yang jenjang, turun ke punggungnya yang diam-diam Raiden dengan jahilnya sudah melepas piyama bagian atas Ara dan melepaskan penyangga dada Ara.
“Sayang ..... maaf ya .....” Kata Raiden lirih sambil terus melanjutkan aktivitasnya dan tak ada jawaban dari Ara, yang ada justru desahan panjang dari mulut Ara.
Skip !!!! Mereka melakukan malam pertama yang tidak perlu panjang lebar jelasinnya. Sementara di kamar hotel, Alen belum tidur, dengan manjanya tidur di pangkuan Raya sambil mengelus-elus perut Raya yang sudah mulai membuncit.
“Kak .... tadi ngasih hadiah kak Raiden apa, sih ?” Tanya Raya penasaran.
“Rahasia laki-laki.” Jawab Alen
“Kak .... apa sih !!!?” Tanya Raya
“Apa maksudnya ?” Tanya Raya bingung. Ini beneran bingung, tahu sendiri kan kadar oon Raya benar-benar 100% kalau untuk mencerna urusan seperti itu.
Esok harinya, sepertinya ngidam Raya untuk tetap makan Ulukutek leunca tetap tidak berubah, beruntung mama Sonya yang pandai memasak aneka macam masakan khas Bandung sudah mempersiapkannya berikut aneka jenis masakan khas Bandung lainnya yang tepat dimakan dengan Ulukutek leunca, seperti ikan asin cabai hijau dan yang lainnya.
Rombongan kakak dan ayah Raya sudah kembali ke Jakarta dahulu, sedangkan Alen harus tinggal menemani Raya untuk memenuhi ngidamnya. Pagi ini mereka kembali ke rumah Ara.
Raiden yang baru keluar dari kamarnya dengan rambut basah masih dengan celana panjang kolor dan bertelanjang dada membuat para pembantu Papa Bin yang memang masih muda-muda terbengong-bengong sendiri melihat bentuk badan Raiden. Sang mama mertua yang melihatnya pun ikut-ikutan bengong.
“Ya ampun.... pantes aja temen-temenku yang hobi kencan sama brondong sangat memuja menantuku, begini rupanya bentukannya asli.” Kata Mama Sonya.
“Mama .....” Raiden tampak bingung melihat mama mertuanya seperti melihat hantu. Hantu cakep sih.
“E .... Raiden sudah bangun. Ara mana ?” Tanya Mama Sonya
“Masih tidur.” Jawab Raiden. “Biarkan saja ma, dia masih lelah. Apa Alen dan Raya sudah datang ?”
“Tuh... Alen lagi nemenin Raya makan.” Kata Mama Sonya
Raiden langsung menuju ruang makan dan mendapati adiknya dan suaminya sedang lahap makan.
“Dasar Pe A !!!” Seru Raiden sambil menoyor kepala Alen tiba-tiba. “Apa maksudnya kamu ngasih aku kado kayak gituan ?”
Alen tidak menjawab, malah tertawa. Raya tidak perduli, dia tetap lahap makan, seperti tiga hari tidak makan saja.
“Gimana hasilnya ?” Tanya Alen tersenyum nakal. “Pe De mu meningkatkan, kak ?”
“Gak usah pakai begituan kali.” Jawab Raiden. “Aku masih mampu 10 ronde sekalipun tak perlu pakai seperti ituan.”
“Berarti udah Pe De, kan ?” Tanya Alen. “Berapa kali semalam ?”
“Lima kali. Puas ?????” Jawab Raiden. “Sparing yok ..... sekali-sekali kamu perlu rasain tonjokanku.”
“Sekate-kate ni orang satu. Dipikir aku samsak.” Gerutu Alen.
Alen akhirnya meladeni Raiden sparing duel pagi itu di taman belakang. Dua-duanya memang imbang, tapi secara teknik Raiden memang lebih unggul. Bagaimana tidak, Raiden terdidik sejak usia 5 tahun untuk menguasai segala macam beladiri.
Papa Bin yang baru saja bangun tampak melongo melihat gaya sparing Raiden dan Alen. Alen tampak sudah mulai kepayahan.
“Udah, ah ..... capek....” kata Alen
“Ah .... baru kayak gitu aja dah keok, tuh obat semalam kamu aja gih yang minum. Baru beginian aja dah nyerah, gimana kalau di ranjang ....” Balas Raiden sambil tertawa meledek adik iparnya.
“Ahhh .... andai Raya ga hamil juga pasti kakak udah keok di tangan Raya.” Kata Alen.
“Jangan tanya kalau soal itu, dia diatas rata-rata.” Balas Raiden.
“Raiden ....” Panggil Papa Bin. “Sudah bangun dan bugar kamu, memangnya semalam belum cukup olah raganya ?”
Raiden tampak tersenyum pada papa mertuanya, “Olah raga pagi tidak boleh dilewatkan, Pa. Apalagi kalau dengan sukarela jadikan ni polisi tengil samsak.”
Papa Bin hanya tertawa saja. Tiba-tba salah satu ajudan Papa Bin masuk dan memberitahukan sesuatu.
“Maaf, Pak .... diluar .... ada tamu ..... dia memaksa masuk. Dia ....”
“Siapa ?” Tanya Papa Bin
“Tuan Irwan. “Jawab Ajudannya.
Papa Bin tampak terkejut mendengar nama yang disebut ajudannya. “Kalian.... jangan muncul didepan tamu papa kali ini. Di dalam saja ya !” perintah papa Bin
Raiden dan Alen tampak bingung. Papa Bin meninggalkan mereka berdua menuju ruang tamu.
“Len .... kenapa kita tidak boleh ketemu tamu papa ?” Tanya Raiden
“Entahlah.” Jawab Alen
“Aku penasaran” Kata Raiden
“Ngintip aja kalau penasaran.” Balas Alen
“Bintitan entar .....” Kata Raiden.
Karena penasaran keduanya langsung ikutan masuk dan diam-diam mengintip ke ruang tamu. Raya tampak sudah tidak ada di ruang makan, ternyata sudah ke kamar Ara membangunkan Ara yang tidur seperti kerbau saja.