I Love You, My Police

I Love You, My Police
Arisan



Seminggu sudah pernikahan Ara dan Raiden. Raiden dan Ara belum kembali ke Jakarta karena memang Raiden mengambil cuti selama 2 minggu, kebetulan juga memang perkuliahan sedang libur semesteran. Raiden lebih memilih mengurus cafe yang ternyata sudah dia buka sejak 3 tahun lalu di tiga tempat. Dan ternyata salah satu cafenya, R Cafe merupakan cafe favorit Mama Sonya untuk melakukan arisan dengan teman-teman sosialitanya.


Seperti sore ini, mama Sonya ada acara arisan dengan 9 teman sosialitanya. Papa Bin memang tidak mempermasalahkan selama sang istri bisa menjaga image dan kepercayaannya, meskipun papa Bin tahu, teman-teman istrinya ada beberapa yang hobby main berondong ketika ditinggal suaminya kerja.


“Ma .... tempat untuk kumpul teman-teman mama udah aku siapkan.” Kata Raiden. “Sampai sana nanti, si Satria pasti sudah tahu. Tadi sudah aku beritahu dia.”


“Terima kasih ya, sayang .....” Balas mama Sonya. “Kamu nanti datang juga kan sama Ara ?”


“Iyalah, Ma. Kebetulan aku pengen ngajarin Ara handle cafe itu.” Kata Raiden. “Toh dia juga sudah selesai kuliah.”


“Apa kalian mau tinggal di Bandung terus ?” Tanya Papa Bin.


“Entahlah, Pa. Aku sepertinya perlu resign menjadi dosen. Toh tugasku menjaga Raya di kampus sudah selesai. Raya juga sudah selesai kuliah.” Jawab Raiden.


“Tinggalah disini, Rai. Anak papa Cuma satu masa kamu gondol juga.” Kata Papa Bin. “Toh kamu juga disini menjalankan bisnis. Soal Raya juga sudah tidak perlu khawatir, penjaganya banyak.”


“Akan kupikirkan, Pa.” Kata Raiden. “Itu juga tergantung kemauan Ara nanti gimana.”


Sore harinya, Raiden mengajak Ara ke cafe R sekalian mengantar mama Sonya arisan. Tampak 2 teman mama Sonya sudah menunggu di tempat yang sudah di reservasi oleh Raiden.


“Ma... kami masuk dulu ke ruang kerja. Mama nikmati aja acaranya” Kata Raiden dan mengajak Ara ke ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerja Raiden yang tertata rapi bertemakan abu-abu itu Ara merebahkan diri di sofa.


“Kak .... memang kakak yakin aku bisa handle cafe ini ?” Tanya Ara.”Aku ini lulusan IT kak, mana ngerti manajemen cafe.”


“Hei.... kau ingat suamimu ini sama-sama lulusan seperti kamu. Nyatanya bisa.” Jawab Raiden.


“Tapi kan kakak emang dari kecil udah berjiwa bisnis.” Kata Ara


“Lalu .... kamu maunya bisnis apa ?” Tanya Raiden. “Apa kamu mau jadi tuan putri tiap hari dirumah terus tanpa mengasah ilmumu ?”


“Enggak lah kak, aku dikuliahkan sampai selesai juga pengennya bisa kerja.” Jawab Ara.


“Apa kamu mau seperti teman-temanmu susah payah bikin puluhan CV dan surat lamaran kerja ?” Tanya Raiden.


“Enggak juga.” Jawab Ara. “Aku pengen mengembangkan bisnis komputer kak. Sama seperti Raya.”


“Gampang diaturlah itu, sama aja toh harus belajar manajemen bisnis juga.” Kata Raiden.


Ara melongok keluar melalui sela-sela jendela ruang kerja Raiden, dari situ dapat melihat suasana cafe tanpa ketahuan. Tampak teman-teman mamanya sudah lengkap, 10 orang. Ada yang seperti mama Sonya, walaupun di rumah tobat gokilnya tapi dluar menunjukkan keeleganannya, menunjukkan bahwa dia


seorang istri petinggi militer. Beberapa teman mamanya tampak ada yang suka hebos sendiri, ada yang tebar pesona dan ada yang tampak hanya menjadi pendengar saja.


“Sayang .....” Raiden memeluk Ara dari belakang. “Apa kelak kamu akan seperti mamamu ?”


“Hahhhhhh .... Big Noooo !!! Dari pada suruh begituan mending aku di arena balapan motor kak.” Jawab Ara.


“Heran deh aku. Mama punya anak perempuan satu kok polahnya gak kayak mamanya sama sekali. Tomboy juga kayak Raya.” Kara Raiden. “Wanita dimana-mana hobby banget tuh kalau ketemu tas branded, sepatu branded, berlian, ini malah hobinya ketemu motor.”


“Bagus, Dong !!! emang kakak mau aku tebar-tebar pesona tuh kayak Tante Anggi sama tante Berta ?” Tanya Ara


“Oh ... no ....” Jawab Raiden cepat.


“Keluar, yuk..... Gak enak sama tamu mama kalau gak kita sambut juga.” Kata Raiden.


“Tapi mata kakak jangan kemana-mana.” Balas Ara


“Mata kemana-mana gimana, dipikir boneka yang bisa loncat sana loncat sini kalau digerakkan ?” Tanya Raiden bingung.


Raiden yang saat itu menggunakan setelah celana jeans dan kaos ditutup jas casual menggandeng Ara keluar dari ruangan dan menghampiri mama sonya dan teman-temannya.


“Ah .... ini ternyata mantunya Jeng Sonya .....?! Sayang waktu nikahan aku gak bisa datang !” Seru tante Anggi. “Wah  .... bener-bener pria sempurna, beruntung sekali kamu Ara.”


“Hehe .... terima kasih, tante.” Balas Ara.


“Ara, kalau ada yang seperti suamimu ini satu aja sisain dong buat tante.” Kata Tante Berta.


“Lah.... ingat umur lah kamu Berta.” Kata Mama Sonya.


Raiden yang mendengarkan obrolan emak-emak sosialita absurd ini sudah mulai agak pusing.


“Ohya, kok kalian tadi keluar dari ruangan sana ? Itu kan ruangan pemilik cafe ini ?” Tanya tante Yuni.


“Iya, Teh Yuni. Jadi ternyata Raiden ini pemilik cafe ini. Aku baru tahu kalau tempat ini miliknya. Juga Cafe O dan Cafe X, tempat-tempat favorit kita tongkrong.” Jawab Mama Sonya. “Dan sekarang cafe ini mulai dikelola Ara. Raiden sedang mengajari Ara bagaimana cara memanajemen cafe ini.”


“Bukannya Raiden itu dosen ?” Tanya Tante Berta


“Iya, tante. Tapi sepertinya saya akan resign. Saya memutuskan tinggal di Bandung. Kasian mama kalau anaknya saya gondol juga.” Jawab Raiden.


“Kak .... kok resign gak bilang-bilang !?” tanya Ara kaget. “Bukannya kakak suka mengajar.”


“Aku disana terus juga dah ga ada guna, sayang. Toh Raya juga sudah lulus. Tugasku menjaga dia selesai selama dia di kampus. Toh juga sudah ada Kenan, Ken, Sam dan suami sablengnya si Alen yang jagain.” Jawab Raiden. “Aku bisa menjadi dosen di kota ini juga nantinya. Kalau aku mau.”


 


“Jangan salah, menantuku ini memang manusia serba bisa. Jadi dosen bisa, jadi pebisnis juga bisa. Apa yang nggak bisa dilakukan dia.” Kata Mama Sonya.


“Ada yang kakak ga bisa kok, ma.” Kata Ara


“Apaan ?” Tanya Mama Sonya


“Hamil.” Jawab Ara singkat.


Mama Sonya dan yang lainnya tertawa mendengar jawaban Ara.


“Tapi bikin hamil kamu sepertinya bisa.” Kata Raiden dan membuat wajah Ara langsung bersemu merah. Malu.


“Dasar suami ga ada akhlak.” Gerutu Ara yang langsung ngeloyor pergi ke meja pesanan, memesan es jeruk.


“Lah .... ngambek tuh kan jadinya.” Kata Mama Sonya. “Susulin sana gih !”


Raiden berpamitan dengan mama Sonya dan teman-temannya, menyusul Ara yang sedang menikmati es jeruknya.


“Ngambek ceritanya.” Raiden memeluk Ara dari belakang dan mencium pucuk kepala Ara dengan mesra.


“Lah ..... jangan gituan didepan kita dong, Bang !!!” Protes Mbak Anes sang kasir. ”Ini pada jomblo semua, tauuu !”


“Salah sendiri pada betah ngejomblo.” Balas Raiden cuek.


Raiden tidak pernah membuat batas antara dirinya dan semua anak buahnya, sehingga mereka begitu akrab. Tampak terdengar kehebohan dari rombongan emak-emak arisan yang tidak diketahui sedang heboh ngapain.


Ternyata, foto Raiden yang hanya memakai celana panjang kolor sudah menyebar di grup wa tante-tante arisan itu. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah mertuanya. Elegan namun konyol juga ternyata. Diam-diam mama Sonya memfoto Raiden yang selalu keluar kamar dengan model seperti itu dengan rambut basah, atau berkeringat setelah berolahraga.


“Sonya ..... bener-bener menantu idaman !!!” Seru Berta. “Duh ... andai yang seperti ini banyak stoknya ya ....!”


“Eh... tapi denger-denger dulu menantumu mafia ya ?” tanya tante Yuni.”Gak khawatir kamu sama keselamatan Ara.”


“Raiden memang dulu mafia, bersama ayahnya mengembangkan bisnis gelap. Tapi sejak bertemu dengan adik kandungnya, si Raya yang teman dekatnya Ara itu, yang udah kayak anakku sendiri itu. Semuanya dihentikan. Ayahnya meninggalkan bisnis gelapnya.” Jawab Mama Sonya. “Soal keselamatan Ara,


aku sudah tidak perlu khawatir. Kalian pasti paham jika keluarga besar Arata dan keluarga Jiro bersatu bagaimana.”


“Wowwww !!! Ternyata bukan sembarang orang anak muda ganteng itu.” Kata Tante Berta.


“Raya apa kabar ?” Tanya Tante Anggi yang memang mengenal Raya juga.”Masih jahil nggak dia ?”


“Raya sekarang udah kayak semangka. Lagi hamil 6 bulan. Kemaren setelah acara nikahan kakaknya itu, tahu nggak. Aku kudu bikinin Ulukutek leunca demi nurutin ngidamnya tu anak. Hamil aja tingkahnya absurd.” Jawab mama Sonya.


“Kangen aku sama anak itu. Berarti Ara otomatis jadi kakak ipar Raya.” Kata Tante Anggi.


“Hidup Raya sekarang sudah lengkap sepertinya. Sudah bertemu ayah kandungnya, dilindungi tiga kakak yang tampan-tampan, plus Raiden juga dan memiliki suami seorang perwira polisi yang selalu siap sedia.” Balas Mama Sonya. “Apalagi sebentar lagi punya anak. Pasti tambah bahagia dia.”


“Kita ini udah tua. Gini-gini juga aku tetap mikirin anak-anak aku untuk kelak bahagia bagaimana.” Kata Tante Berta. “Kita cukup mengiringi perjalanan hidup mereka dengan doa.”


“Tumben waras ....” kata Mama Sonya.