
Jam 8 malam Alen mengajak Raya ke klub malam miliknya, tentu saja Jonas dan Ezar ikut karena tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis kecilnya Alen. Alen menyelesaikan urusan administrasi usahanya dulu dengan
beberapa manajernya, kemudian bergabung di dalam ruangan klub malam. Dentuman lagu mengalun memberikan suasana bising.
Raya tampak menikmati alunan musik dengan sangat nyaman.
“Len ... cewekmu kayaknya biasa ke klub malam.” Kata Ezar
“Aku tidak tahu kalau soal itu.” Balas Alen. “Tapi dia tidak pernah menyentuh minuman, merokok atau yang lainnya. Kalau dugeman memang kata Bibi Rose dia suka.”
Beberapa teman Alen tampak ikut gabung. Ada Bayu, Gilang dan ternyata Farel menyusul selesai dari prakteknya.
“Rel !!! Ivo gak kamu ajak !?” Tanya Alen
“Nanti dia nyusul.” Jawab Farel
Benar saja, seorang gadis cantik muncul disambut ciuman mesra dari Farel, itulah Ivo kekasih Farel.
“Kak .... masa polisi punya bisnis kayak gini ?” Tanya Raya seakan tak percaya
“Emang kenapa, ga masalah kan. Sejauh ini klub ini juga jauh dari masalah kriminal. Berantem karena mabok itu biasalah.” Jawab Alen.”Ini sebenarnya usaha punya Ayah, aku yang nerusin. Farel tidak mau ngurus karena dia lebih fokus mau buat rumah sakit.”
“Kakak itu temen-temenku, aku samperin mereka dulu ya !!!” Seru Raya
“Jangan jauh-jauh, nanti ilang.” Balas Alen
Raya tampak turun ke lantai, dan menghampiri teman-temannya, mereka asyik berjoget dan ngobrol. Alen sedari tadi tampak memperhatikan Raya. Ya ... sejauh apapun Raya bergaul sama sekali tidak terpengaruh teman-temannya, beberapa teman ceweknya pun merokok, Raya tetap menolak jika ditawari rokok, apalagi minuman keras.
Tetapi, baru sebentar Alen ngobrol dengan teman-temannya, Raya sudah menghilang dari pandangannya. Membuatnya panik.
“Zar ..... !!! Mana Raya !!?” Tanya Alen panik
“Lha .... baru sebentar aja berpaling dah ilang aja tu
bocah.” Jawab Ezar.
Tiba-tiba suara dentuman musik berhenti, dan sang DJ menyerukan sesuatu.
“Hai semua !!! Kita ada kejutan rupanya !!! Kangen gak dengan DJ satu ini !!!” Seru sang DJ. “Kali ini nikmati kekangenan kalian dengan DJ satu ini. DJ Raya !!!!”
Raya tampak sudah di ruang DJ dan mulai melakukan kegiatannya. Alen yang sedari bingung malah sekarang terbengong sendiri melihatkelakuan gadis kecilnya.
“Kejutan apa lagi ini !!!???” Seru Jonas. “Tu bocah beneran bisa nge DJ !!!?”
Ternyata tidak salah. Ya ... Raya ternyata juga bisa menjadi DJ. Sentuhan lagu-lagunya dengan dentuman-dentuman musiknya sangat harmonis, membuat semua orang menikmati lantunan musiknya. Tak pelak Jonas dan Ezar ikut turun kali ini, karena mereka akui DJ satu ini berbeda. Alen ditarik teman-temannya juga untuk melantai. Alen yang memang baru kali ini menikmatinya merasa ada yang beda. Alen benar-benar ikut menikmati alunan musik yang diciptakan Raya. Raya yang melihat dari ruang DJ tampak tersenyum.
Setelah hampir satu jam nge DJ, Raya meminta DJ aslinya menggantikannya lagi dan ikut turun melantai menghampiri Alen.
“Kakak tumben turun melantai ?” tanya Raya
“Kenapa kamu selalu saja memberikan aku banyak kejutan, sayang ....” Balas Alen sambil memeluk Raya.
“Lain waktu boleh kan aku nge DJ di sini ?” Tanya Raya.
“Tentu boleh, asal harus selalu dengan aku.” Jawab Alen.
“Sejak kapan kamu bisa nge DJ ??? Jangan bilang sejak lahir.” Tanya Jonas
“Hmmm sejak masuk kuliah.” Jawab Raya.
“Apa sih yang gak bisa dari gadisku ini.” Kata Alen sambil mencubit hidung Raya. “Terima kasih sayang .... talentamu selalu saja membuat orang lain senang.”
Akhirnya jam 11 malam Raya diantar pulang oleh Alen dan Alen langsung pamit balik kantor karena ada tugas mendadak. Ternyata Bibi Rose sedang pulang ke Hokaido karena keluarganya ada yang meninggal, otomatis Raya dalam beberapa minggu ke depan akan di rumah sendiri.
Raya yang biasa ada Bibi Rose tampak kesepian, dia tidak bisa tidur, sesekali dia memandangi foto papi dan maminya, meneteslah airmatanya.
“Papi ... Mami .... kenapa sih kalian tinggalin Raya ...” kata Raya. “Sekarang Raya sudah 20 tahun, apapun Raya bisa lakukan, tapi buat apa kalau tidak ada papi sama mami.”
Di sela-sela tangisnya, Raya seperti ada energi lain, mencari gunting dan menyayat tangannya. Tetapi dia hentikan dan membuang gunting yang dia pegang.
“Tidak... aku sudah sembuh !!!” seru Raya. “Aku tidak mau seperti dulu lagi !!! Kakak tolong aku ....!”
Di sela-sela tangisnya Raya mencari ponselnya dan menelepon Alen.
“Kakak ....”
“Ada apa sayang....?” Alen tampak terkejut mendengar suara Raya sambil terisak. “Kamu tidak apa-apa kan ?!”
“Kakak tolong aku .... aku gak mau kayak dulu lagi !!!” pecahlah tangis Raya
Alen yang kebingungan segera berlari ke luar kantor dan memacu mobilnya ke rumah Raya. Ezar yang melihat itu tampak bingung dan belum sempat menanyai Alen. Tetapi karena khawatir Ezar menyusul dengan motornya.
Alen tiba dirumah Raya dan menghambur masuk ke dalam rumah, karena Alen memang memegang kunci rumah Raya.
“Kakak tolong aku ... aku tidak mau seperti dulu lagi ....” Jawab Raya sambil menangis dipelukan Alen.
Ezar juga ternyata sudah ada didepan pintu kamar Raya.
“Bagaimana ini ?” Tanya Alen ke arah Ezar.
“Tenangkan saja dulu dia.” Jawab Ezar. “Aku buatkan minuman hangat dulu. Ajak dia keluar.”
Alen mengajak Raya keluar, keruang tengah, mengobati luka Raya. Ezar datang dengan membawa 3 kelas teh hangat.
“Minumlah.” Kata Ezar. “Tenangkan dirimu.”
“Ada apa sayang ? Kamu takut dirumah sendiri ?” Tanya Alen sambil menyibakkan rambut Raya dan mengikatnya supaya tidak berantakan.
Raya menggeleng, “Kakak ambilkan amplop di laci kamarku.”
Ezar masuk ke kamar Raya dan kembali dengan sebuah amplop coklat.
“Bukalah ...” Pinta Raya
Ezar membuka amplop itu dan membacanya. Sebuah hasil pemeriksaan dari seorang psikiater. Ternyata Raya selama ini mengidap self-harm. Self-harm adalah ketika seseorang menyakiti diri sendiri sebagai cara untuk mengatasi, mengungkapkan, atau bertahan dari keadaan yang sangat sulit. Menyakiti diri dapat dilakukan secara fisik seperti, menyayat, mencakar, memukul, menggigit, membenturkan kepala ke dinding, menarik rambut, menelan sesuatu yang berbahaya, atau overdosis zat tertentu. Menyakiti diri juga dapat dilakukan secara halus seperti, tidak memerhatikan kondisifisik, tidak memedulikan kebutuhan emosional, atau menempatkan diri pada situasi yang berbahaya.
Ezar menyerahkan pada Alen dan membacanya.
“Sayang.... kenapa ?” Tanya Alen. “Kamu tidak bisa menyembunyikan ini dari aku.”
“Aku kangen papi sama mami kak ...” Jawab Raya.
“Kamu kan sudah sembuh sayang..... disini kamu tertulis teratasi masalahmu.” Kata Alen. “Kamu pasti bisa.”
“Aku takut kak ... aku gak mau seperti ini lagi.” Kata Raya.
“Iya... kakak tahu, kamu sudah benar menelepon kakak.” Balas Alen sambil memeluk Raya.
Kau memang selalu penuh kejutan sayang. Batin Alen
“Zar... tolong temani sebentar, aku mau telfon Ivo dulu.” Pinta Alen
Ezar mengangguk
“Ada apa, kak ?” Tanya Ivo, calon adik ipar Alen, kekasih Farel
“Kamu seorang dokter spesialis jiwa....” Jawab Alen
“Sebentar lagi kak... belum itu ...” Kata Ivo
“Tapi paling tidak kamu tahu cara mengatasi masalah ini.” Kata Alen, kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan Raya.
“Bawa pulang ke rumah Kak .... Ayah sama Bunda bisa mengobati semua itu.” Kata Ivo
“Kamu yakin ?” Tanya Alen
“Dia butuh sosok orang tua kak.” Jawab Ivo. “Besok aku akan ngobrol dengan dia.”
“Oke.” Kata Alen
Alen kemudian menelepon Bundanya dan menceritakan yang terjadi dengan Raya, Bunda Alin langsung meminta Alen membawa Raya ke rumah.
“Bawa pulang, Len. Biar Raya tenang disini.” Kata Bunda Alin
“Terima kasih, Bun.” Balas Alen
Alen kemudian mengemas beberapa pakaian dan barang keperluan Raya dan mengajaknya pulang ke rumahnya. Azer balik lagi ke kantornya. Sampai dirumah, Raya disambut Bunda Alin dengan pelukan, lalu mengajak Raya masuk ke kamar tamu supaya Raya beristirahat.
“Sayang.... ini Bunda, anggap Bunda ini orang tuamu sekarang, juga Ayah ya.” Kata Bunda Alin. “Tinggal disini dulu sementara sampai Bibi Rose kembali.”
Raya mengangguk lemah, lalu dia tertidur ditemani Bunda Alin. Setelah Raya terlelap, Bunda Alin keluar dari kamar. Alen tampak masih duduk di ruang keluarga bersama Farel dan Ayah Caesar.
“Bagaimana Bun ?” Tanya Alen
“Raya sudah tidur.” Jawab Bunda Alin. “Biarkan dia tinggal disini sampai Bibi Rose kembali. Anak itu tidak bisa sendirian. Masuklah ... temani dia ... tapi jangan macam-macam Len ....”
“Tau Bundaku sayang....” kata Alen
Alen masuk ke kamar tempat Raya tidur, dipandangnya wajah gadis itu begitu manis ketika tidur. Alen mengusap pelan kepala Raya dan mencium keningnya.
“Aku akan selalu menjagamu, sayang ......” Bisik Alen.
Alen kemudian merebahkan diri di sofa yang ada dikamar tersebut, ikut terlelap juga.