I Love You, My Police

I Love You, My Police
Pengenalan Tokoh dan Sepenggal Kisah Awal



Adinata Aileen Caesar


Biasa dipanggil Alen .... seorang pria berusia 28 tahun berprofesi sebagai perwira polisi dengan pangkat AKP, bekerja di sebuah satuan kepolisian. Lahir dari seorang ibu berkewarganegaraan Hongkong biasa dipanggil Bunda Alin, dulu seorang atlet wushu dan sekarang lebih banyak bekerja mengurus restoran seafood dan seorang ayah berkewarganegaraan Indonesia biasa dipanggil Ayah Caesar, seorang pria tampan bekerja sebagai seorang pengusaha memiliki banyak usaha Club Malam dan hotel bintang 5 tersebar di seluruh tanah air. Alen dengan darah dari ayah dan ibunya, sudah tidak diragukan lagi ketampanannya.


Sayang di usia nya yang hampir 30 tahun dan dengan ketampanan tak diragukan lagi, belum ada satupun wanita yang menjadi tambatan hatinya, sebenarnya Alen adalah pria yang ramah dan murah senyum, disamping sisi gaharnya sebagai polisi ketika berhadapan dengan pelaku kriminal, tetapi Alen akan tiba-tiba bersikap sinis dan dingin ketika berhadapan dengan cewek centil, keganjenan bahkan terlalu seksi. Entah tipe wanita seperti apa yang diainginkan selama ini, bahkan orang-orang terdekatnya tidak tahu. Kesibukannya saat ini selain menjadi polisi, adalah mengurus salah satu Club Malam ayahnya dan sebuah cafe besar.


 Sheeva Raya Ryoko


Biasa dipanggil Raya, usianya baru 20 tahun, mahasiswa semester 6 jurusan Teknik Informatika, kepiawaiannya di bidang teknik informatika sudah tidak diragukan lagi, karena sejak kecil di usia 5 tahun Raya sudah mampu mengoperasikan berbagai macam program komputer, entah belajar dari mana. Gadis manis setinggi 160 cm ini merupakan gadis tomboy, sejak kecil hidup dengan seorang wanita biasa disebut Bibi Rose, wanita berdarah Jepang Indonesia, yang setahu Raya, dia adalah saudara dari maminya. Orang tuanya ?


Sejak usia 3 tahun Raya sudah hidup dengan Bibi Rose, yang Raya tahu adalah papi dan maminya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat Raya berusia 2 tahun, sehingga akhirnya Raya diasuh oleh Bibi Rose atas permintaan kakek Raya yang tinggal di Jepang, ya karena mami Raya adalah warga negara Jepang, sedangkan papinya adalah orang Indonesia yang sudah tidak memiliki keluarga lagi. Mengenai identitas keluarga Raya sebenarnya selanjutnya akan terungkap bersamaan dengan kisah ini nantinya.


Raya diusianya 20 tahun ini bukan lagi gadis biasa, dia kuliah juga sambil bekerja mengurus toko komputer hadiah dari kakeknya, sebenarnya jika mau saja Raya bisa meminta aset usaha yang lain, tapi Raya tidak mau, dia lebih memilih melakukan bisnis yang memang dia kuasai sesuai bidangnya. Selain itu, Raya juga memiliki banyak keahlian lain yang akan terungkap nantinya di sepanjang cerita ini. Yang menjadi satu titik cerita adalah Raya belum memiliki kekasih, dan dikisah inilah Raya akan menemukannya nantinya.


Sebenarnya Raya juga memiliki 3 orang kakak laki-laki, yang sejak meninggalnya kedua orang tuanya, ketiga kakaknya hidup dengan kakeknya di Jepang. Entah kenapa sang kakek justru memisahkan Raya dari keluarga besarnya, dan meminta Bibi Rose mengasuh Raya di Indonesia. Tetapi meskipun begitu, kakek Raya tetap sangat menyayangi Raya.


Alden Farel Caesar


Biasa dipanggil Farel, adik dari Alen, usianya 26 tahun, 2 tahun dibawah Alen. Pria tampan tak kalah tampan dengan kakaknya. Di usianya yang sangat muda sudah menunjukkan prestasi yang baik di bidang akademik apapun, sampai akhirnya dia sekarang berprofesi sebagai dokter bedah di sebuah rumah sakit, juga sebagai dosen di salah satu universitas ternama. Sifatnya sebagai dokter sangat disukai banyak orang, ramah, ceria, walau kadang suka berbuat konyol karena suka iseng pada orang disekelilingnya, tetapi ketika berhadapan dengan meja bedah, semua berubah menjadi serius dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.


Berbeda dengan kakaknya, Farel sudah memiliki kekasih, seorang dokter umum yang sedang mengambil spesialis jiwa, sama-sama bekerja di rumah sakit yang sama. Namanya Ivonia, biasa dipanggil Ivo.


Raiden Jiro


Biasa dipanggil Raiden. Pria tampan berusia 28 tahun, memiliki hubungan jelas sangat erat dengan Raya, yang tentu saja bukan hubungan yang biasa, bahkan lebih dari kata spesial. Sifatnya yang ceria, humoris, tapi disaat tertentu terutama disaat dia bekera sebagai dosen kharismanya akan muncul penuh wibawa.


Kenan Aditama


Pria dewasa usia 34 tahun, sudah menikah dengan Akira Ara, gadis jepang yang cantik dan sudah memiliki putra bernama Hideyoshi berusia 4 tahun. Kenan adalah kakak pertama Raya. Pemegang bisnis terbesar di beberapa negara dan memiliki sifat supel dan mudah berteman.


Kenzie Aditama


Biasa dipanggil Ken, pria berusia 30 tahun, adik dari Kenan, tentu artinya juga kakak dari Raya. Pria playboy yang hobi banget gonta-ganti pasangan. Pantas jika wataknya selengekan tidak jelas, kadang konyol dan lucu, tetapi karena dia pemegang usaha hotel, maka sifat garangnya akan muncul ketika berhadapan dengan rekan bisnis yang jahat dan anak buah yang curang atau nggak bener kerjanya.


Samuel Aditama


Biasa dipanggil Sam, pria usia 28 tahun ini merupakan anak laki-laki paling bungsu dalam keluarga, dan juga merupakan kakak Raya. Sifatnya lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Pekerjaannya di bidang arsitektur dan kesukaannya pada fotografi menyebabkan dia lebih sering jalan-jalan ke tempat-tempat yang menurutnya unik dan menarik untuk dikunjungi. Memiliki usaha mandiri diluar bidang usaha kedua kakaknya, dan lebih memilih merintis di Indonesia, beberapa tempat wisata merupakan kekuasaannya.


***


Kisah cerita dimulai dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja disebuah acara  .....


Sore itu, kampus Raya sedang ada acara panggung musik, dimana beberapa mahasiswa dari beberapa fakultas unjuk kebolehan di bidang seni musik. Karena kampus Raya merupakan kampus ternama, maka tidak heran jika pihak kampus juga meminta bantuan pihak kepolisian untuk melakukan pengamanan acara.


Pengamanan kali ini dibawah komando Alen, sang perwira polisi berwajah rupawan itu. Sebenarnya, selain melakukan pengamanan Alen dan pasukannya juga memang sedang mengawasi jalannya acara, karena ada informasi bahwa di acara tersebut ada tersangka ******* yang menyusup dalam acara tersebut.


Alen sore itu tidak memakai seragamnya, bersama beberapa teman sejawatnya Alen hadir dengan pakaian biasa, tidak tampak seperti polisi. Alen, datang dengan Ezar dan Jonas, mereka berada di titik 10 meteran tepat depan panggung acara, sementara yang lain menyebar entah kemana. Beberapa polisi berseragam berjaga sesuai instruksi.


Alen sebenarnya tidak menyukai acara-acara seperti ini, walaupun dia seorang pengelola Club malam dan Cafe. Tetapi kali ini dia harus hadir demi sebuah tugas negara dan menjamin keamanan calon-calon generasi penerus bangsa.


“Len ..... lihat deh cewek itu ....” kata Ezar sambil menunjukkan dagunya ke arah seorang gadis yang berada di atas panggung. Gadis dengan rambut lurus hitam sebahu lebih, berkulit putih dan manis, dandanan sederhana sekali, hanya dengan memakai celana jeans yang sobek di lutut dipadu dengan kaos putih polos ditutup jaket hitam di tambah memakai topi terbalik.  “Manis dia ...”


“Ah .... biasa aja ....” balas Alen. “Banyak yang kayak gitu ....”


Walaupun Alen mengatakan biasa saja, ternyata Alen diam-diam memperhatikan. Buat Alen, gadis itu sepertinya berbeda, berbeda dengan banyak gadis lain, sepertinya cuek sekali dengan penampilannya, cantik tetapi sederhana, kesan tomboynya kelihatan sekali, apalagi ketika tiba-tiba gadis itu membuka acara dengan gebukan drum nya yang sangat gahar dan energik. Alen tentu saja terkejut bukan kepalang, baru kali ini ada gadis cantik dengan cueknya bermain drum seperti itu, biasanya gadis-gadis seusianya akan bermain manis dengan piano atau biola, ini drum. Drummer cewek memang banyak, tapi Alen merasakan ini berbeda.


Gebukan drum disambut dengan petikan gitar tak kalah gahar dari lawan mainnya si gadis itu, kemudian terdengar suara merdu dari gadis itu yang ternyata juga menggunakan microfon di kepalanya, menyanyikan lagu salah satu band terkenal di era 2000-an, coklat .... karma  ....


Sekian lama kita bersama


Ternyata kau juga sama saja


Kau kira kupercaya semua


Segala tipu daya


Oh percuma


Kau buat sempurna


Awalnya berakhir bencana


Selamat tinggal, sayang


Bila umurku panjang


Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan


Satu balas 'kan kau jelang


Jangan menangis, sayang


Kuingin kau rasakan


Pahitnya terbuang sia-sia


Memang kau pantas dapatkan


Akhirnya usai sudah semua


'Ku dapat tertawa bahagia


Awalnya berakhir bencana


Selamat tinggal, sayang


Bila umurku panjang


Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan


Satu balas 'kan kau jelang


Jangan menangis, sayang


Kuingin kau rasakan


Pahitnya terbuang sia-sia…


Satu lagu selesai, gadis itu turun dari panggung, sekarang gantian sang pembawa acara membuka acara.


“Terima kasih buat Raya n the band, sudah membuka acara ini !!!” Seru sang pembawa acara. “Gimana, teman-teman !!!??? raya n the Band main lagi kah ???!!”


Teriakan sang pembawa acara disambut sorakan penonton, “Lagi ... Lagi ...Lagi ....!”


“Oke sabar .... nanti Raya n the band akan kembali lagi setelah beberapa lagu lagi dari beberapa teman kita nanti.” Kata sang pembawa acara.


Ya .... gadis penabuh drum dengan suara yang merdu itulah Raya, Alen bahkan terbengong menlihat aksi panggung Raya.


“Woeeee ...... udah bubar lagunya Len !!!” teriak Jonas.


“Kayaknya lagi ada yang terkagum-kagum nih sama seorang gadis.” Sindir Ezar sambil senyum-senyum gak jelas.


“Apaan sih kalian ....” gerutu Alen.


“Dia bukan gadis biasa .....” Kata Jonas. “Namanya Sheeva Raya Ryoko, gadis blasteran Jepang Indonesia, mahasiswa semester 6 jurusan teknik informatika.”


“Kamu tahu dari mana informasi sedetail itu ?” Tanya Alen


“Hahaha.... jangan kuper lah kamu, Len, Dikampus ini siapa yang gak kenal Raya, gadis tomboy, pintar, cerdas, juga seorang pengusaha bidang komputer, dia punya 2 cabang toko komputer.” Jawab Jonas. “Bahkan yang aku tahu dia ahli di bidang peretasan situs.”


“Kamu udah kayak ditektif aja cari informasinya.” Kata Alen.


“Kalau kamu memang suka, kejar dia ....” Kata Ezar. “Nikmati hidupmu, tidak selamanya kamu hanya berkutat dengan urusan kantor, pistol, penjahat, club malam dan cafe. Kamu butuh wanita.”


“Satu yang aku gak tahu.... asal usul keluarganya saja.” Kata Jonas. “Sejak kecil dia hanya hidup dengan pengasuhnya, kedua orang tuanya sudah meninggal, setahuku dia memiliki keluarga di Jepang, kakeknya yang


seorang pengusaha juga.”


“Jadi .... dia yatim piatu ?” Tanya Alen


“Iya...” Jawab Jonas. “Raya sesuai juga namanya, dia penguasa jalanan. Balapan motor liar yang dia geluti hanya untuk bersenang-senang, tak ada satupun yang bisa mengalahkannya selama ini.”


“Apa  !!!???? Balapan motor liar ....!?” Tanya Alen tidak percaya


“Aku pernah menangkapnya dalam sebuah arena balapan liar.” Jawab Jonas. “Tapi .... dengan mudah dia bisa keluar begitu saja dari hukuman. Entah siapa dibalik anak itu.”


Alen masih dibuat tidak percaya dengan informasi dari temen seprofesinya itu, Alen kemudian berjalan menjauh dari panggung sambil memikirkan semua itu. Tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang.


Alen tampak meringis kesakitan karena dagunya terantuk kepala si penabrak, sementara si penabrak juga meringis karena kepalanya sakit.


“Maaf .... aku gak liat jalan.” Kata si penabrak.


Alen memandang wajah gadis yang tingginya sepertinya beda 20 cm dari dia, ya Alen memang jangkung dengan tinggi 180 cm. Ternyata seorang gadis, gadis yang sedari tadi memenuhi pikirannya.


“Ah... ya ,.... maaf juga aku juga tidak lihat jalan.” Balas Alen. “Kamu tidak apa-apa ?”


“Tidak kak ....”


“Kamu .... yang tadi di panggung kan ...?” tanya Alen


“Iya kak ....” jawab gadis itu.”Aku.... Raya.”


Raya memberikan salam pada Alen, “Alen” Ramah juga gadis ini.


“Kakak dari jurusan apa atau dari universitas mana ?” Tanya Raya


“Ehm .... bukan dari mana-mana, hanya iseng saja mampir, ternyata permainan drum kamu dan suaramu bagus.” Jawab Alen. Alen tidak mungkin menyebutkan identitas aslinya.


“Terima kasih, kak...” Kata Raya. “Maaf kak ... aku harus balik ke panggung lagi.”


“Ohya ... silahkan....” balas Alen ....”Ehm ... bolehkan aku requaest lagu ?”


“Boleh ... Apa kak ?” Tanya Raya


Alen membisikkan sesuatu ke telinga Raya.


“Oke kak.....”


Raya berlari menjauh dari Alen, sementara Alen tersenyum penuh arti sambil memandang kepergian Raya.


“Bukan gadis biasa ....” Gumam Alen.