
Sore hari, Alen masih duduk-duduk bersama rekan kerjanya.
“Nikahi saja dia, Len ....” Kata Pak Dirga.”Lagian kalian sudah tinggal bersama kan ???!”
“Hahhhh !!!” Seru Alen. “Gak salah pak....”
“Kalau kamu menikahinya artinya kamu 24 jam akan bersamanya dan bisa menjaganya. Berstatus resmi” Balas Pak Dirga
“Ah, mana mungkin, pak ... dia pasti menolak karena masih kuliah.” Kata Alen
“Dicoba saja.” Kata Jonas.
“Kalian benar-benar membuatku kacau, memintanya jadi pacarku saja aku gak bisa membuat kata-kata bagus atau bahkan suasana yang bagus, ini malah nyuruh aku ngajak nikah.” Balas Alen
“Umurmu sudah 28 tahun, apalagi yang ditunggu.” Kata Pak Dirga. “Mau nunggu aku pensiun baru kamu nikahi dia, keburu jadi kakek-kakek.”
“Mereka berdua juga sudah 28 tahun belum nikah.” Protes Alen sambil menunjuk Jonas dan Ezar.
“Hai .... jangan salah bos ...... Aku sebentar lagi menikah dengan Alleta.” Protes Ezar.
“Dan aku .... sedang PDKT dengan Neng Reza. Iyakan pak bos .....” Kata Jonas sambil cengar cengir melihat pak Dirga, ya .... Jonas memang sedang hangat-hangatnya menjalin hubungan dengan anak Pak Dirga, seorang designer muda ternama.
3 bulan berlalu, hubungan Alen dan Raya semakin mesra, meskipun kadang mereka bertingkah konyol juga, seperti sore ini karena akan menghadiri resepsi pernikahan Ezar dan Alleta, mereka berdebat panjang di rumah karena Raya yang belum siap.
“Kakak .... aku harus pakai apa ???? Aku tidak pernah datang diacara gitu-gituan.” Kata Raya.
“Memangnya kamu tidak punya gaun apa gitu....?” Tanya Alen yang sudah siap dengan pakaian rapi ditutup jas, jadi memang terlihat bertambah tampan. Alen sebenarnya sudah mempersiapkan sesuatu untuk Raya, karena Alen tahu gadis seperti Raya pasti tidak memiliki persiapan apa-apa untuk datang ke sebuah pesta.
“Apa kamu mau pakai baju bunda ?” Tanya Alen
“Hah ... tidak mau !!! Nanti dikira emak-emak.” Protes Raya
“Sudahlah ... kamu pakai seadanya, ikut aku sekarang.” Kata Alen
“Kemana ?” Tanya Raya
“Masuk mobil dan nurut. Acara masih 2 jam lagi, kita masih punya banyak waktu, Ayo !!” Seru Alen
Raya menurut, tanpa sadar dia ternyata dia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek juga bersandal jepit. Alen tertawa melihat penampilan Raya. Alen membelokkan mobilnya ke sebuah salon sekaligus butik terkenal milik ibu temannya, Tania.
“Halo pak polisi ganteng .... ada apa tiba-tiba mampirkesini ?” Tanya Tania dengan genitnya
“Dandanin dia tante.” Pinta Alen.
“Kakak .... masa harus dandan....” protes Raya
“Ayolah sayang ..... ini pestanya Ezar, mana mungkin kamu datang hanya dengan pakai jeans sobek dan kaos ditutup jaket. Aduh ..... begini kok mau jadi calon ibu bayangkari.” Kata Alen.
“Tante .... jangan menor-menor ya ....” Pinta Raya
“Iya sayang.... ayo ikut ...... kita pilih gaun dulu.” Kata Tania. “Kau !!!” Sambil menunjuk Alen. “Tunggu disini !!! Tunggu kejutan dariku.”
“Siap tante !” Balas Alen sambil tersenyum. “Kamu sudah tahu seleraku, kan !!!?”
1 jam Alen menunggu, dan benar saja, Tania menggandeng seorang gadis yang menundukkan wajahnya, tampak rambutnya terurai panjang rapi, mengenakan terusan warna biru muda selutut, dipadu dengan sepatu kets modis warna putih, riasan wajah sederhana tetapi menunjukkan cantik alaminya. Alenbahkan sampai terbengong.
“Gimana ?” Tanya Tania. “Gadismu ini tomboy, suatu saatajak dia sering-sering kemari agar terbiasa memakai high heels.”
“Ini sudah mengejutkan ...” Kata Alen. “Terima kasih tante ....”
Alen segera menggandeng Raya masuk ke dalam mobil menuju ke hotel tempat pesta pernikahan Ezar.
“Kau cantik sayang ...” Kata Alen
“Aku malu kak ....” Balas Raya. “Maaf ... aku belum bisa pakai high heels.”
“Haha tidak apa-apa. Tidak harus kan ....” Kata Alen
Mereka memasuki parkiran hotel yang luas, dan kemudian memarkir mobil. Alen menggandeng Raya masuk ke dalam ballroom tempat acara. Beberapa pasang mata tampak terkejut melihat perubahan Raya.
“Kenapa kak ?” Tanya Raya yang melihat Jonas tidak berkedip
“Gadis kecilmu cantik juga, Len.” Jawab Jonas.
“Baru tahu kamu ....” Kata Alen.
Alen kemudian mengajak Raya menyalami kedua mempelai yang sedang berbahagia.
“Wah ......... ternyata cewek jalanan ini bisa juga jadi bidadari turun dari surga !!!” Seru Ezar sambil memeluk Raya. “Len ..... gimana kamu bisa ngebujuk dia jadi disulap begini ?”
“Gak ngebujuk tepatnya, maksa.” Balas Raya sambil cemberut.
“Dipaksa kan tidak mengecewakan. Jangan cemberut dong.... ku kuncir nanti bibirmu mau ?” Goda Alen.
Raya kemudian berpindah menyalami istri Ezar, Alleta.
“Selamat ya kakkkk ...” Kata Raya sambil memeluk Alleta.
“Ternyata kamu bisa cantik juga anak manis.” Puji Alleta. “Begini terus dong .... biar Alen tambah cinta.”
“Ah ribet tau kak.” Balas Raya.
Acara memberikan ucapan selamat selesai, Alen mengajak Raya menikmati hidangan pesta disalah satu taman luar hotel yang memang dibuat konsep, konsep dalam ruangan dan luar ruangan.
“Sayang ..... “
“Apa ???” Tanya Raya sambil menikmati es krim ditangannya.
“menikahlah denganku ....” Kata Alen
“Uhukkkkk .....” Raya tersedak mendengar ucapan Alen.
“Haiss .... pelan-pelan makannya.” Kata Alen sambil menepuk-nepuk pundak Raya.
“Aku udah pelan makannya, kakak yang ngomongnya bikin kaget. Kesambet apa tetiba ngajak kawin.” Balas Raya
“Sayang .... aku sudah 28 tahun, wajar kan aku meminta itu ?” Tanya Alen
“Kakak, aku kan belum selesai kuliah.” Jawab Raya. “Masih 2 semester lagi, artinya masih 1 tahun lagi kak. Aku ambil kelas cepat. 8 semester selesai S1.”
“Tidak ada larangan kan kuliah udah nikah.” Kata Alen.
“Kenapa kakak tiba-tiba ngajak aku nikah ?” Tanya Raya.
“Supaya aku bisa menjagamu sepanjang waktu.” Jawab Alen. “Bukankah aku sudah menjadi pengganti Justin ? Biarkan aku kali ini menggantikannya secara utuh, sayang.”
“Kakak tidak tahu siapa keluargaku sebenarnya ?” Tanya Raya
“Kamu ini, lupa siapa aku. Polisi .... informasi apapun mudah aku dapatkan.” Jawab Alen. “Kamu sembunyikan seperti apapun aku tahu. Kalaupun aku harus ke Jepang untuk menemui keluargamu akan aku lakukan.”
“Apa orang tua kakak setuju ?” Tanya Raya
“Ayah dan Bunda yang justru menginginkannya.”
Flashback off sebelum berangkat ke pesta.
“Len, Ayah ingin kamu segera menikah, teman-temanmu sudah menikah. Masa cuma jadi tamu undangan terus, kapan kamu bikin undangan ?” Tanya Ayah Caesar.
“Iya sayang.... jangan sampai kesusul adikmu duluan yang nikah.” Susul Bunda Alin.
“Tapi Raya masih kuliah, Yah.” Jawab Alen
“Menikah dan tetap kuliah kan tidak masalah, lagipula Raya gadis pintar, 1 tahun saja dia pasti sudah selesai kuliah.” Kata Ayah Caesar.
“Apa ayah setuju aku tetap dengan Raya ? keluarga Raya, ayah sudah tahu sendiri.” Kata Alen
“Bunda sama ayah tidak masalah Raya berasal darimana, toh mereka juga keluarga baik. Ayah antar ke Jepang kalau kamu memang mau melamarnya.” Balas Ayah Caesar.
“Nanti akan kubicarakan dengan Raya, tapi.... dia masih terlalu polos dan lugu Bunda.” Kata Alen
“Memangnya kamu sudah pengalaman ?” Tanya Bunda Alin. “Pacaran aja baru sekarang. Sudah sana berangkat !”
Flash back on
“Setelah ini kita pulang ke rumah, Bunda pasti senang calon mantunya cantik begini sekarang.” Kata Alen
“Malu kak....” Rengek Raya.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam balroom acara resepsi, nama Raya ternyata dipanggil sang mempelai laik-laki, Ezar. Ezar menginginkan Raya menyumbangkan sebuah lagu untuk pernikahan mereka.
Alen menarik tangan Raya masuk ke dalam gedung lagi dan menuntun Raya ke arah panggung khusus untuk penyanyi dan pemain band. Sebenarnya Raya tidak PeDe dengan pakaiannya sekarang, tentu saja dalam acara pernikahan Raya tidak mungkin menyanyikan lagu gahar apalagi ngegebug drum.
Raya meminta untuk memainkan piano sendiri.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Manis, dengarkanlah aku
Aku tak secantik yang lain
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ayah dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti wanita yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin dilamarmu
Aku tak secantik yang lain
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ayah dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti wanita yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin dilamarmu
Alen ternganga mendengar lagu itu, tentu saja lagu itu Alen tahu, ditujukan untuknya. Ezar yang sudah turun dari pelaminan menghampiri Alen dan memeluknya, juga Jonas dan Pak Dirga.
“Lamar dia ...” Kata Jonas.
“Udah ...” Kata Alen “Baru saja .... tapi dia malah keselek es krim.”
“Wkwkwkwkwk .....!!!” Jonas, Ezar dan Pak Dirga tertawa bersamaan.
“Waktu ngajak jadi pacarnya aja udah absrud banget, ini malah nglamar sampai keselek es krim...” Kata Jonas. “Besok bisa-bisa pas pemberkatan nikah dia keselek bunga !!”
“Ray..... nyanyinya yang lain dong !!! Ada drum nganggur tuh !!!” Seru Ezar
Raya tampak melotot ke arah Ezar, “Ayolah ..... ini permintaan pengantin cowok lhooo !!!” Susul Jonas
“Gila kalian !!! masa cewekku kalian suruh tampil gebukin drum dengan baju kayak gitu.” Protes Alen.
“Haissss ..... ini pasti beda !!!” kata Pak Dirga.
Raya mau tak mau menuruti permintaan sang pemilik pesta. Dia ngobrol sebentar dengan pemain musik lain, Raya kemudian memakai mic dikepalanya dan memposisikan di belakang drum. Raya menjepit rambutnya ke atas dengan jepit rambut sehingga tampak jelas leher jenjangnya, tetap saja manis.
“Mau nyanyi apa dia ?” Tanya Alen
“Tunggu saja ...” Jawab Jonas
Raya sudah mulai menggebuk drumnya dengan manis, kali ini meskipun kelihatan gahar tapi tetap manis saja penampilan Raya.
Hatiku bahagia saat di dekatmu
Jiwaku melayang bersama dirimu
Aku ingin dirimu
Mengapa kau jauh? aku merindumu
Tak dapat ku hidup tanpa senyumanmu
Sayang, ku mencintaimu
Hoo... cintaku milikmu
Sayang untuk selamanya
Kasih indahnya hidupku
Hanya engkaulah cintaku
Mengapa kau jauh? aku merindumu
Tak dapat ku hidup tanpa senyumanmu
Sayang, ku mencintaimu, hoo-wo-woo
Hoo... cintaku milikmu (Cintaku selalu jadi milikmu)
Sayang untuk selamanya (Cintaku, cintamu untuk selamanya)
Kasih indahnya hidupku (Betapa indahnya,…
Raya menyelesaikan sebuah lagu The Virgins dengan sangat sempurna, sambutan tepuk tangan datang dari para tamu undangan. Raya kemudian turun disambut Alen.
“Wah.... ternyata calonnya Pak Alen jago nyanyi dan main musik.” Puji salah satu teman Alen.
“Dia memang gadis serba bisa. Ngebanting penjahat aja bisa.” Sahut lainnya.
Pesta usai pukul 8 malam, dan Alen pamit dahulu dengan Raya, karena memang mau mengajak Raya pulang ke rumah. Alen menyetir mobilnya dengan agak cepat supaya segera tiba di rumah. Sampai di rumah ternyata sudah disambut Ayah, Bunda dan Farel.
“Anak bunda ternyata cantik banget .....!” seru Bunda Alin sambil memeluk Raya dan mengajaknya masuk.
Mereka lalu ngobrol ngalor ngidul sambil tertawa, sampai pada akhirnya Ayah Caesar menanyakan sesuatu ke Raya.
“Raya, apakah Alen sudah mengatakan padamu, nak ?” Tanya Ayah Caesar
“Sudah, Ayah .... tapi .....”
“Raya sayang.... ayolah ... Alen sudah makin tambah umur, gak kasian kamu sama dia.” Rengek Bunda Alin.
“Aku akan bilang kakek dulu.” Kata Raya.
“Jadi kamu mau ?” Tanya Bunda Alin
“Iya, Bunda.” Jawab Raya
Alen tampak senyum sumringah mendengar jawaban Raya.
“Kawin juga akhirnya kamu, kak !” Seru Farel.