
Sore itu, mendung bergelayut manja di kaki langit. Tampak 2 anak manusia sedang menikmati kopi di sebuah cafe. Sam dan Shaki.
“Aku baru tahu kalau Kirei meninggal karena dibunuh Himawan.” Kata Shaki tampak sendu. “Malang benar nasibnya, aku jadi merasa bersalah.”
“Sudahlah, sayang .... lagi pula Kirei sudah damai di surga.” Balas Sam sambil mengusap pipi Shaki. “Yang terpenting aku sekarang harus menjagamu, aku tidak mau seperti dulu lagi.”
Shaki tersenyum, dalam lumbuk hatinya paling dalam, dia merasa bahagia karena kembali bertemu dengan cinta pertamanya, yang ternyata tidak pernah berubah.
“Sayang ..... kapan aku boleh melamarmu ?” Tanya Sam
“Sampai papa pulang dari Amerika, lamarlah aku.” Jawab Shaki. “Tapi kamu tahu kan papaku gimana ?!”
“Papamu sepertinya lebih menakutkan daripada musuh-musuhku di masa lampau.” Kata Sam sambil terkekeh. “Pantesan anaknya gak laku-laku, ternyata bapaknya galak banget.”
“Ih... awas lho ... kuwalat ngatain calon mertua sendiri.” Balas Shaki.
“Aku akan melamarmu sendiri, kali ini aku gak mau bubar jalan karena kakak-kakakku. Kamu tahu sendiri kan kakak-kakakku gimana somplaknya. Lagi pula aku tidak mau papamu menerimaku karena aku adik dari Kenan Aditama.” Kata Sam.
“Kenapa malah memperumit diri sendiri, kalau ada kak Kenan kan akan mulus ....” Balas Shaki.
“Kali ini aku akan datang hanya sebagai Sam, sang fotografer dan hanya menjalankan bisnis bengkel seni.” Kata Sam.
Kalau boleh jujur sebenarnya bisnis Sam juga gak kalah dengan kedua kakaknya, studio foto dan bengkel seni hanya sebuah hobby untuknya. Bisnis yang sebenarnya dia jalankan adalah sebuah rumah sakit kelas internasional dan beberapa hotel bintang lima. Shaki tidak mengetahuinya, yang Shaki tahu selama ini hidup Sam pasti ditopang oleh Kenan. Mana mungkin seorang fotografer kesana kemari bisa bawa mobil keluaran terbaru, hidup serba kecukupan.
“Sayang .... kalau kita sudah menikah aku punya satu permintaan.” Kata Sam
“Apa ?” Tanya Shaki
“Berhentilah bekerja. Bantu aku urus bengkel seni.” Jawab Sam
Shaki terkejut, dalam hatinya tentu saja berpikir keras. Memang Sam berasal dari keluarga super kaya, tapi jika hidup hanya mengandalkan dari pekerjaan Sam sebagai fotografer musiman dan bengkel seni apakah cukup untuk biaya hidup mereka nantinya. Shaki berharap setelah menikah nantinya Sam benar-benar hidup mandiri bersamanya.
“Kau jangan berpikir aku tidak mampu mencukupi kebutuhanmu. Tenanglah, sayang .... aku sudah berani memintamu dari kedua orang tuamu, itu artinya aku sudah siapkan segalanya untukmu.” Kata Sam.”Setelah ini ikutlah dengan ku.”
Sam mengajak Shaki ke bengkel seninya, sebuah bangunan ruko penuh sentuhan seni, disana begitu banyak karya seni yang dipajang, mulai dari lukisan, alat musik bahkan sampai kerajinan tangan dari bahan limbah tidak terpakai. Sam kemudian mengajaknya ke belakang, dan membuka pintu belakang ruko.
Shaki terkejut, dilihatnya sebuah rumah besar tipe modern, disitu banyak anak-anak dari yang kecil sampai dewasa sedang asyik dengan kesibukan masing-masing. Ada yang menjahit, ada yang melukis, dan sebagainya.
“Ini apa ?” tanya Shaki bingung.
“Ini adalah rumah singgah, tempat anak-anak jalanan yang terbuang dari lingkungan hidup dan berkembang disini. Apa yang aku pajang di bengkel adalah hasil karya seni mereka. Ada sekitar 32 anak disini, dan semuanya nyaris pernah merasakan kerasnya hidup di jalanan, dan sekarang mereka menjadi anak-anakku.” Jawab Sam
“Lalu ..... bagaimana kamu bisa menghidupi mereka ?” Tanya Shaki
“Nanti suatu saat kamu akan tahu.” Jawab Sam.”Yuk.... aku ajak kenalan sama mereka, karena nantinya kamu juga yang akan jadi mami mereka.”
Anak-anak tampak antusias menyambut Sam dan nampak bingung karena disebelah Sam ada seorang wanita cantik, hal yang tidak pernah dilakukan Sam. Membawa seorang wanita ke rumah singgah.
“Anak-anak, kenalkan ! Ini adalah calon istri papi ! Kelak akan menjadi mami kalian dan patuhlah pada semua nasehatnya. Namanya Mami Shaki.” Kata Sam
“Wah .... hallo Mami Shaki !!!” Sapa anak-anak.
“Hallo juga anak-anak ....” Balas Shaki.
Setelah ngobrol dengan anak-anak dan Shaki tampak bahagia, akhirnya Sam mengantarkan Shaki pulang ke rumahnya.
Dua bulan kemudian, Sam benar-benar memenuhi janjinya pada Shaki, yaitu melamarnya. Malam itu ditemani gerimis, Sam bertamu ke rumah Shaki seorang diri. Sungguh nyali yang besar, menemui papa Shaki, yang bernama Pak Harsa, terkenal orang dengan tipikal keras dan dingin.
“Selamat malam, om ?” Sapa Sam dengan penuh percaya diri, dengan balutan celana katun di padu hem casual yang ditutup jas santai.
“Malam, duduklah Sam !” Perintah Pak Harsa.
“Terima kasih.” Balas Sam
“Aku sudah tahu kedatanganmu ke sini untuk apa dari Shaki, dan ternyata kalian sudah berhubungan sejak Shaki kuliah.” Kata Pak Harsa. “Apa yang membuatmu begitu berani melamarnya !? Kau tahu siapa aku kan ?”
“Tentu tahu, siapa tidak kenal dengan Om. Pemegang 10% saham Blue Stars, Pemilik 5 hotel bintang 5, seperti Hillard, Oktavius, Palma, Eksotic dan The Hits. Pemegang 20% saham di hotel Marble.” Balas Sam
Pak Harsa tampak terkejut mendengar ucapan Sam, bagaimana pria dihadapannya ini tahu tentang aset-asetnya. Padahal yang dia tahu Sam hanya seorang fotografer biasa.
“Bagus kalau kamu tahu ....” Kata Pak Harsa. “Saya tidak pernah memandang orang dari pekerjaannya apa, tapi saya memandang dari kesungguhan hatinya ketika berusah mendekati anak saya.”
“Dan saya bersungguh-sungguh ingin mengajak Shaki hidup bersama dalam ikatan yang sah secara negara dan agama.” Balas Sam
Shaki yang mendengar percakapan antara calon mertua dan calon menantu dari balik dinding ruang tamu tampak gugup, takut jika papanya menolak Sam mentah-mentah, apalagi Sam sepertinya kurang power, dalam arti power kekayaan. Soal bisnis Sam didunia hitam di masa lampau sama sekali tidak ada yang pernah mengetahui, karena Sam selalu dibelakang Kenan dan Ken, bekerja juga selalu di balik layar.
“Orang tua saya sudah meninggal semua dalam sebuah kecelakaan.” Jawab Sam
“Oh... maaf... lalu bagaimana kamu hidup selama ini ?” Tanya Pak Harsa
“Saya hidup bersama dengan kedua kakak saya, di asuh oleh kakek kami langsung. Sebenarnya ada 1 adik perempuan, tetapi sejak kecil sudah hidup terpisah dengan kami.” Jawab Sam
“Lalu apa yang membuatmu berniat melamar anakku ?” Tanya Pak Harsa. “Sementara kamu kerjanya banyak traveling saja.”
“Saya berikan apapun yang saya miliki, pak.” Jawab Sam. “Saya jamin anak anda tidak akan kekurangan apapun ketika nanti hidup bersama saya. Karena saya tidak akan pernah bilang pada anak bapak untuk mengajaknya berjuang bersama, cukup saya yang berjuang untuk membahagiakannya, saya tidak akan mengajaknya hidup mulai dari nol, karena saya akan langsung membawanya pada angka 100 tanpa perlu merasakan merangkak dari angka 0, dan saya tidak akan mengajaknya hidup dalam suka dan duka, karena Shaki akan selalu mendapatkan suka nya terus.”
“Baguslah, aku suka jawabanmu.” Kata Pak Harsa.
Sementara Shaki yang mendengar ucapan Sam, “Duh.... meleleh aku, bang ...”
“Shaki kemari !!!” Seru Pak Harsa.
Shaki keluar dari balik tembok dan mendekat ke papanya kemudian duduk disebelah papanya.
“Ngapain duduk sini ?” Tanya Pak Harsa. “Mata kamu nggak rabun kan ? Ini papa nak, bukan calon suamimu.”
“Papa ....” Shaki tampak bingung.
“Duduklah disebelah calon suamimu, sebulan lagi siapkan pernikahan kalian. Tidak ada bantahan !” Kata Pak Harsa
Shaki dan Sam terkejut mendengar ucapan pria berumur 58 tahun itu, tampak yakin, pasti dan tegas.
“Beneran pa ?” Tanya Shaki tidak percaya
“Iya, sejak kapan papa bohong sama anak papa yang cantik ini.” Jawab Pak Harsa.
“Terima kasih, Om ....” Kata Sam masih dengan sikap semula, walaupun dalam hatinya dia ingin jingkrak-jingkrak bahagia.
“Mulai sekarang panggil aku papa.” Kata Pak Harsa
“E... iya, pa.” Balas Sam.
Shaki kemudian mempersiapkan makanan di meja makan, karena memang rencananya sekalian mengajak Sam makan malam bersama papanya dan adiknya si Reyno yang masih kuliah di sebuah universitas swasta terkenal.
Makan malam pun menjadi santai karena Pak Harsa mengajak Sam mengobrol dengan santai.
“Dari mana kamu tahu aku pemegang 10% saham di Blue Stars ?” Tanya Pak Harsa. “Tidak ada yang tahu aku adalah pemegang saham juga disana.”
“O...ooo.... kirain lupa, pa.” Jawab Sam. “Nanti akan saya jelaskan, pa ! Bukan saatnya sekarang !”
Ponsel Sam tiba-tiba berdering dan Sam segera mengagkatnya,
“Dimana Kamu ?” Kenan ternyata yang menelepon
“Dirumah Shaki.” Jawab Sam. “Ada apa kak ?”
“Himawan kabur !!” Kata Sam
“Apa !!!?” Sam tanpa sadar berteriak di hadapan calon mertuanya sampai Pak Harsa
terlonjak kaget “Himawan kabur dan dia kerumahku, kecolongan, Yoshi diculik !!!” Kata Kenan.
“Kakak tenang, akan kuperintahkan anak buahku untuk menyebar. Yoshi pasti baik-baik saja !” Balas Sam
Pak Harsa bingung, kenapa tiba-tiba Sam menyinggung anak buah, bukankah dia fotografer.
“Ada apa ?” tanya Shaki
“Yoshi di culik Himawan. Dia berhasil kabur dari tahanan.” Jawab Sam. “Maaf sayang .... aku harus segera menyelamatkan keponakanku.”
“Ada apa sebenarnya ?” Tanya Pak Harsa bingung
“Nanti akan saya jelaskan. Saya permisi Pa !” jawab Sam
Sam keluar dari rumah, dan baru beberapa langkah di teras rumah, langkahnya terhenti oleh suara tangisan anak kecil yang dia kenal betul.
“Yoshiii !!!”