
Akhirnya hari yang ditunggu tiba, hari pernikahan Ken dan Sandra. Semua keluarga sudah tampak bersiap untuk menyambut tamu undangan setelah Ken dan Sandra mengucapkan janji suci di altar gereja.
Raya si adik bontot yang tengah hamil 8 bulan lebih pun ikut antusias. Kali ini dia tetap tampak cantik dibalut gaun sederhana dan nyaman. Raya menolak berdandan karena menurutnya sangat mengganggu, karena kehamilan yang semakin besar ini membuatnya sering kepanasan dan banyak berkeringat.
“Sayang .... duduk .... jangan terlalu lelah.” Kata Alen mengingatkan istrinya yang sedari tadi mondar mandir kesana kemari disuasana pesta yang memang ramai.
Tamu undangan dari kolega bisnis keluarga mereka saja sudah banyak, belum lagi dari pihak teman-teman Sandra dan keluarganya.
“Sayang .... kamu mau makan apa aku ambilkan.” Kata Alen
“Ehm ... pengen makan sate taichan, tapi gak usah pake lontong.” Balas Raya. “Dua porsi.”
“Okelah tuan putri, harus dobel porsi karena yang makan juga dobel.” Kata Alen sambil ngeloyor pergi menuju stand makanan sate taichan, dan kembali dengan membawa 3 porsi sate taichan, lalu mereka makan bersama.
“Kak ... kok gak keliling... biasanya kalau pesta gini kakak keliling ketemu temen-temennya.” Kata Raya.
“Enggaklah, yang. Aku khawatir kamu kecapekan.” Balas Alen. “Perutmu dah sebesar gentong gitu, buat jalan aja kayak susah banget. Masa aku tinggal-tinggal.”
“Kan ada bunda, ada yang lain juga.” Kata Raya
“Lain siapa ? Mereka sibuk sendiri gitu.” Balas Alen sambil menghabiskan tusukan terakhir satenya.
Ken tampak menghampiri Raya dan Alen.
“Kamu gak jalan-jalan berburu makanan, Ray ?” Tanya Ken
“Gak boleh sama Kak Alen. Apa-apa diambilin.” Jawab Raya.
“Kak ... liat aja perutnya dah sebesar itu, masa iya suruh jalan-jalan.” Kata Alen
“Iya, sih ...... “ Balas Ken. “Aku balik ke Sandra dulu
ya ....”
Pukul 11 malam akhirnya pesta pernikahan usia, tamu sudah beberapa pulang, hanya beberapa tamu yang memang dekat saja yang masih asyik ngobrol sambil ngopi. Raya tampak gelisah.
“Duh .... kok mules ya .... gak biasanya kayak gini. Apa tadi kebanyakan makan sate ya.” Gerutu Raya.
“Sayang kamu kenapa ?” Tanya Bunda Alin agak curiga melihat Raya yang duduk sambil menahan sesuatu.
“Gakpapa, Bun. Mules aja, kebanyakan makan kali tadi.” Jawab Raya.
Alen tampak sedang ngobrol dengan Jonas dan Ezar yang belum pulang.
Raya semakin merasakan perutnya semakin sakit, keringatnya bercucuran.
“Bunda .... kok tambah sakit perutku ...” Rengek Raya. “Pengen kebelakang.... tapi sakit banget mau bangun ...”
“Sayang ... jangan-jangan kamu mau melahirkan !” Kata Bunda Alin terkejut
“Gak mungkin Bun !! Masih 2 minggu lagi perkiraannya.” Balas Raya
“Perkiraan itu bisa maju bisa mundur, Ray.” Kata Bunda Alen
“Ahhhh !!! Bunda sakittt !!!” Teriak Raya seketika
Alen yang mendengar teriakan Raya segera berlari ke arah Raya.
“Kenapa sayang ?” Tanya Alen panik
“Sakit perutnya, kakkk !!” Teriak Raya.
Ken yang sedang duduk dengan Sandra tampak terkejut mendengar teriakan adiknya, juga yang lain.
“Kenapa, Ray ...” Tanya Ken sambil mendekati Raya.
Tiba-tiba Raya mencengkeram lengan Ken dengan kencang sekali, “Sakit Kak !!!!”
“Len, ini sepertinya mau melahirkan. Ayo bawa ke rumah sakit !!!” Seru Bunda Alin
“Waduh ..... i... iya ... sabar sayang tahan ya ....” Alen dengan dibantu Sam membopong Raya keluar menuju mobil. Ken hanya bisa menguntit karena lengannya tidak dilepaskan Raya.
Akhirnya Ken pun ikut masuk ke dalam mobil memangku Raya.
“Kakak ngapain ikut ?” Tanya Alen bingung. “Ini kan malam pertamamu ???”
“Gimana mau gak ikut lihat aja dia gak lepasin tanganku !” seru Ken
Sampai di rumah sakit Raya sudah teriak-teriak tidak karuan sambil mencengkerap lengan Ken dan menjambaki rambut Alen.
“Kakak sakit kakkkk... !!” Teriak Raya
“Sabar sayang .....” Balas Alen pasrah
Dokter muncul dan melihat Ken masih lengkap menggunakan pakaian pengantin tentu saja terkejut.
“Apa ini habis acara pernikahan instans langsung mau brojol ?”Tanya Dokternya bingung.
“Saya memang baru saja menikah, tapi ini yang mau ngebrojol adek saya.” Balas Ken yang sudah mulai kepanasan.
“Sayang.... kakak lepas jas kakak dulu ya .....” Kata Ken
“Gak mau !!!” Teriak Raya
“Tapi kakak kepanasan ini....” Balas Ken. “Kakak temenin nanti di dalam ya ...”
“Kak ... bantu lepas dasi dan kemejaku.” Kata Ken. “Panas banget ini ...”
“Lah ... Cuma pake kaos dalem doang gakpapa ?” Tanya Kenan
“Gakpapa kak,..... panas beneran ini.” Balas Ken
Kenan kemudian membantu melepaskan dasi dan kemeja Ken hingga terpampanglah tubuh Ken yang atletis hanya berkaos singlet saja.
“Maaf, sepertinya nona Raya sudah pembukaan lengkap. Mari kami bawa ke ruang bersalin. Yang ikut suaminya saja.” Kata bidan
“Gak mau !!!” Teriak Raya. “Kak Ken harus ikut !!!”
“Iya ... iya ... kakak ikut...” Balas Ken
Alen sedari tadi hanya diam saja, sumpah demi apa. Ini seperti deja vu, kembali terulang kejadian menemani istri Harris melahirkan dulu. Dan sekarang istrinya sendiri yang teriak-teriak lebih parah dari istri Harris dulu.
“Sayang ..... ayo atur nafasnya...” Kata Alen sambil meringis-meringis sakit. Dia kenyang di jambak di pukul di cubiti bahkan di cakari. Alen bahkan sudah melepas jas dan kemejanya sedari tadi, menyisakan kaos oblong ketat di badannya.
Ken mau tak mau akhirnys ikut masuk ke ruang bersalin.
“Apa tidak apa-apa jika proses persalinan nona Raya diliat orang lain selain suaminya ?” tanya Dokternya bingung
“Gakpapa, Dok. Saya kakaknya.” Balas Ken.
Raya masih proses kontraksi dan mereda, Ken dan Alen gantian mencoba memberikan kenyamanan untuk Raya. Raya tampak tertidur sebentar.
“Malam pertamamu sepertinya gagal, kak.” Kata Alen sambil nyengir. “Maafkan keponakanmu ya ....”
“Mau gimana lagi, semoga saja Sandra bisa mengerti.” Balas Ken.
Sementara di luar, Sandra yang sudah berganti pakaian tampak ikut dalam rombongan menunggu proses kelahiran Raya.
“Ken dimana ?” Tanya Sandra bingung
“Didalam.” Jawab Sam singkat
“Hahhh !!!??? Ngapain ?” Tanya Sandra
“Raya tidak melepaskan Ken dan Alen sekali.” Jawab Kenan. “Gimana nasib mereka berdua ya di dalam. Raya bener-bener ngamuknya luar biasa begitu.”
Sandra tertawa mendengar jawaban kakak iparnya, “Gakpapa kak, itung-itung Ken latihan kalau besok mau punya anak.”
Raya tampak kembali berteriak-teriak sampai terdengar keluar ruangan. Kemudian karena pembukaan sudah lengkap, dokter membimbing Raya untuk mengejan dengan benar.
“Ikuti aba-aba dari saya ya nona !!! Ambil napas dalam-dalam lalu mengejan !” Kata dokter. “Oke !!! Mulai !!!”
“Eeeeeekkkkkhhhh !!!” Raya tampak mengejan, tetapi yang membuat dokter bingung, 2 pria yang menemani Raya ikutan mengejan.
“Kenapa kalian ikutan mengejan ?” Tanya Dokter. “Yang mau melahirkan kan Nona Raya ???!”
“Duh Dokter !!! Ini reflek !!” Jawab Alen
“Anggap saja memberikan tenaga tambahan !!!” Susul Ken. “Ayo, Ray ... semangat.... lihat tuh rambut anakmu udah kelihatan !!!”
Padahal Ken sama sekali tidak mau melihat jalan lahir Raya karena dia tidak tega.
“Kak ... dari tadi kan kakak tidak liat .....” Alen protes
“Hsssstttt !!!!” Potong Ken.
Akhirnya pada proses mengejan yang ketiga kali terdengar tangisan bayi yang sangat keras. Ken langsung terduduk di lantai bernapas lega, sedangkan Alen langsung menciumi Raya sambil menangis, bahagia.
“Bayinya laki-laki, sehat !”Teriak dokternya.
“Anak kita sudah lahir sayang ..... baby boy “ Kata Alen. “Terima kasih sudah menghadirkan dia diantara kita.”
Raya hanya diam saja sambil menangis, tersenyum, dia sungguh sangat lelah. Ken tampak bangkit berdiri dan mencium kening Raya.
“Selamat ya, Ray ..... akhirnya kau jadi Mami juga.” Kata Ken. “Kakak keluar dulu ...”
“Terima kasih, Kak ....” Balas Alen
Ken keluar dengan wajah lunglai, melihat jam tangannya menunjukkan pukul 2 pagi. Tampak bekas-bekas merah dan cakaran di lengan dan dada Ken.
“Ken !!! Gimana ???!” Tanya Kenan
“Sudah lahir, baby boy.” Jawab Ken sambil menjatuhkan dirinya di pangkuan Sandra. “Aku lelah sayang ....”
“Kalau gitu kalian pulanglah, istirahat ....” Kata Bunda Alin.”Atau mau lanjut malam pertama, ini masih jam 2 pagi lho !!!”
“Duh... Bunda ... cucumu sudah menguras habis tenagaku. Seperti Jamur enoki juga gak bakal mau menunjukkan kepalanya.” Balas Ken lesu.
“Jamur enoki ?” Tanya Sandra bingung.
“Ini sayang ....” jawab Ken sambil menunjuk ke arah bawah perutnya.
“Dasar Mesummm !” Seru Sandra.
“Penganten kok nasib nya kayak gini, masa malam pertama justru di ruang bersalin.” Kata Ken
Mendengar keluhan Ken langsung yang lain tertawa geli. Ken akhirnya pulang dengan Sandra yang menyetir mobil, mereka masuk ke rumah yang sudah dipersiapkan Ken untuk berumah tangga dengan Sandra. Kamar yang sudah dihias dengan sangat cantik untuk sang pengantin akhirnya hanya seperti kamar biasa, keduanya terlelap tanpa melakukan apa-apa.
Sungguh, Ken gagal mendongakkan jamur enokinya di malam pertama.