I Love You, My Police

I Love You, My Police
Ara Ketemu, Tapi ....



Raiden kemudian menelepon Kenan untuk meminta bantuan mencari Ara di ribuan lautan manusia yang semakin tidak terkendali. Kenan tentu tidak mau tinggal diam, dia langsung terjun bersama anak buahnya, juga Ken, Sam, Viko dan Kelvin.


Mereka sudah berada di area lautan manusia, yang entah perusuh entah pendemo. Beberapa mahasiswa masih duduk-duduk dipinggiran jalan jauh dari arena kerusuhan. Tanpa disadari kehadiran pria-pria tampan yang berpencar itu menjadi incaran video dan bidikan foto mahasiswa-mahasiswaperempuan. Mereka bingung, bagaimana tampang-tampang mirip oppa oppa Korea bermunculan di area lautan demonstrans.


Mata elang Raiden terus saja mencari keberadaan Ara, kali ini ditemani Bian.


“Pak ..... tadi tiba-tiba ada kerusuhan entah dari mana, kami berlarian terpisah semua. Beberapa teman dapat bergabung lagi, tapi Ara ilang.” Kata Bian


“Sudahlah, kita cari saja pokoknya. Anak buahku juga sudah berpencar mencari.” Balas Raiden


“Anak buah ?” tanya Bian bingung dengan perkataan dosennya. Dosen punya anak buah dari mana.


Sam tampak bersama Shaki juga mencari-cari sosok Ara.


“Duh udah kecil kerempeng ilang, gimana nyarinya....” Gerutu Sam


“Eh gitu-gitu juga pacarnya dosen.” Balas Shaki.


Ternyata Ayah David juga ikutan turun mencari bersama anak buahnya, tetapi dia malah masuk dulu ke dalam barikade polisi menemukan Alen yang masih dijahit lukanya.


“Kenapa kamu ??? Kena timpuk batu berapa kilo ?” Tanya Ayah David


“Ayah !!!” Teriak Raya. “Orang lagi sakit malah diledekin.”


“Suamimu ini polisi, tapi jaga diri sendiri saja tidak bisa, sementara diluar sana lautan manusia udah kayak banteng kesurupan.” Balas Ayah David. “Dan sekarang ayah ditambah repot dengan ilangnya calon mantu imut itu.”


“Ayah mau ikutan nyari ?” Tanya Alen. “Ayah tidak usah ikut-ikutan. Diluar sana Kak Raiden, juga yang lain sudah berpencar mencari. Aku bukan tidak bisa menjaga diri, tapi perutku masih mual, yah..... mana lemas juga.”


“Lagi pula mau-maunya kamu jadi yang ngidam, istri yang hamil kenapa kamu repot ikutan ngidam ?” Tanya Ayah David. “Atau jangan-jangan kamu ikutan hamil anak kecebong ?”


Ayah David memang selalu saja meledek Alen, dan selalu saja ada bahan untuk meledek Alen tanpa ampun. Alen mendapatkan 7 jahitan di kepalanya. Alen harusnya menyingkir karena terluka, tapi dia tidak mau, dia justru terpanggil untuk mencari Ara. Tapi teman-temannya melarang Alen maju masuk ke kerumunan demonstrans jika masih berpakaian polisi, bisa-bisa jadi santapan empuk demonstrans.


“Hufff.... andai saja tidak negara hukum mereka perusuh sudah ku bombardir tanpa ampun.” Kata Raya.


Raya tiba-tiba maju ke barisan depan. Keluar dari barikade polisi dan mendatangi para pelaku pelemparan dan segala macamnya, apa yang menghalangi dihadapannya diterjang habis tanpa ampun. Satu persatu para


demonstrans dipukul mundul sendirian. Kenan yang melihat dari jauh tentu tidak tinggal diam, dia segera berlari maju ikut melindungi Raya, Ken dan Sam juga begitu. Bagaimana tidak jadi pusat perhatian 1 wanita dengan 3 pria tampan berjalan dengan pasti memberikan hadiah tendangan dan bogeman pada para demonstrans yang rusuh. Bahkan Raya merebut salah satu senjata gas air mata dari tangan polisi dan menembakkan ke beberapa arah.


Raya tiba-tiba naik diatas kap mobil demonstrans yang ada pengeras suaranya dan merebut pengeras suara dari pimpinan demonstrans


“Kalian semua diam dan berhenti atau saya luluh lantakkan tempat ini !” teriak Raya dengan pengeras suaranya. “Ini demo damai kenapa jadi anarkis !!! Siapa yang menyuruh kalian !!! Kami mahasiswa melakukan aksi damai bukan melakukan aksi anarkis !!!!”


Raya mengeluarkan pistolnya dan memberikan tembakan peringatan, “Atau 13 amunisisi sisa tadi akan bersarang di kepala kalian !!!”


Para demonstrans yang tadinya beringas, kemudian terdiam. Mereka mundur teratur, “Polisi sudah susah payah menjaga supaya kondusif tapi kalian malah merusaknya !!! Apa tujuan kalian !!!? Jika hanya mau bikin


kerusuhan, aku tantang kalian, hadapi aku, mau satu-satu atau keroyokan aku ladenin !”


Para mahasiswa yang jauh di barisan belakang tentu saja terbengong-bengong mendengar ucapan Raya, apalagi Raya membawa senjata api. Kenan menyusul naik ke atas mobil dan merebut pengeras suara dari Raya. Tidak


ada yang tidak mengenal Kenan, pengusaha muda dengan segala kharismanya, sepak terjangnya di dunia mafia juga sudah tidak diragukan lagi.


“Semua pasti ada jalan keluar !” Kata Kenan. “Kalian boleh tidak menuruti ucapan adik saya, tapi jangan tanya jika sudah marah aku juga tidak akan tinggal diam !”


Akhirnya demonstrans rusuh entah yang berasal dari mana mundur, sebagian ditangkap karena memang sudah melakukan perusakan fasilitas umum. Sekarang semua tahu bahwa Raya adalah adik dari Kenan Aditama. Para polisi sedikit bernapas lega, karena 1 titik kerusuhan teratasi, Raiden masih terus mencari Ara.


“Teman-teman mahasiswa ! Kita kehilangan 1 teman kita, mohon kerjasamanya untuk mencari !” Seru Raya. “Ginara Putri Mahardika atau Ara hilang !!!”


Tentu saja teman-teman Ara terkejut karena nama Ara disebut. Raiden yang masih saja mencari keberadaan Ara masih belum menemukan Ara, sampai matanya tertuju pada beberapa pembatas jalan oranye ternyata bertumpuk dan dibawahnya tampak kaki terjuntai, Raiden ingat betul itu sepatu siapa.


“Araaaa !!!!” Raiden segera berlari ke arah tumpukan pembatas jalan itu dan menyingkirkan pembatas jalan itu, dan dibawahnya tampak Ara tak sadarkan diri penuh dengan luka.


Raya dan yang lainnya menyadari jika Raiden sudah menemukan Ara segera berlarian ke arah Raiden. Darah mengalir deras dari kepala dan perut Ara. Bahkan baru sebentar Raiden memangkunya pakaiannya sudah penuh darah.


Raiden tidak bisa berkata-kata apa-apa melihat kondisi Ara. Mau menyalahkan siapa juga tidak tahu, ribuan perusuh jelas menjadi salah satu penyebabnya. Ambulance segera datang dan memberikan pertolongan pertama pada Ara. Raiden ikut masuk dalam ambulance, sementara yang lain menyusul dengan kendaraan masing-masing.


Rumah sakit tampak riuh karena memang banyak demonstrans dan polisi terluka dan sedang mendapatkan perawatan. Ara yang ternyata mengalami luka dikepala dan entah bagaimana bisa ada luka tusuk di perutnya mengalami kekurangan darah.


“Ara butuh donor darah ...!” kata Farel yang ternyata menangani Ara.


“Apa golongan darahnya ?” Tanya Raiden


“B.” Jawab Dokter


“Aku B !” Seru Jonas


“Aku juga !” Susul Ken


“Masa kritisnya semoga besok pagi terlewati dengan baik.” Kata Farel setela keluar dari ruang operasi. “Sementara dia dirawat di ICU. Luka diperutnya cukup dalam.”


“Bagaimana bisa dia tertusuk ?” Tanya Sam


“Entahlah.... nanti kami lihat di CCTV pasti kelihatan pelakunya.” Jawab Ezar.


“Apa kalian tidak menghubungi orang tuanya ?” Tanya Farel


“Ya ampun ! Lupa !” Seru Alen


“Aku saja ....” Kata Raiden. “Aku yang akan hubungi papanya, bagaimanapun aku yang bertanggung jawab atas keselamatan Ara.”


Raiden membuka ponsel Ara yang sedari tadi mati karenabatere habis dan sudah penuh setelah di chas. Raiden mencari nomor kontak papa Ara dan menemukannya, “Papa Galak”


“Selamat sore, Pak Bintoro .... Ini Saya, Raiden Jiro. Dosen Ara. Putri Bapak.”


“Ada apa ? Kenapa anda menelepon dengan ponsel anak saya ?”


“Saya memberitahukan anak bapak sekarang di rumah sakit, habis menjalani operasi karena ada luka di kepala dan tusukan di perut. Kondisinya sekarang sedang menunggu masa kritis nya berlalu. Tolong bapak bisa datang ke RS Citra.”


Papa Ara di sebrang sana tentu saja terkejut.


“Kenapa bisa bagitu ? Dia padahal tadi pagi pamit untuk ikut aksi damai.”


“Entah pak, saya menemukan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah terjadi kerusuhan.”


“Oke, saya dan mamanya akan segera ke sana, terima kasih sudah mengabari kami.”


“Akan saya tunggu, pak.”


 Raiden memutuskan sambungan telepon. Farel kemudian memberikan satu stel pakaian ganti pada Raiden. “Ganti dulu, pakai bajuku dulu. Baru temani Ara di dalam.”


“Oke, terima kasih.” Balas Raiden


Raiden mengganti pakaiannya yang sudah penuh darah dan segera masuk ke ruang ICU dimana Ara dirawat dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.


“Sayang .... bangunlah ..... kamu kuat kan.... kamu tadi janji untuk kembali setelah orasi dan kita bertemu di taman.” Kata Raiden sambil mengusap rambut Ara yang terbaring lemah. Kali ini karena jasnya juga ikut kotor, maka Raiden hanya memakai celana jeans dan kaos oblong biasa, tali pengait senjatanya tampak jelas tergantung di pundaknya.


“Lelah ...” Gumam Raya diluar ruangan.


“Pulang yukkk.... kamu kecapekan sayang.” Kata Alen.


“Nggak.... aku mau nemenin Ara disini.” Balas Raya


“Kamu istirahatlah di ruanganku saja.’ Kata Farel. “Kak ... bawa saja istrimu istirahat, Nanti  bunda kesini bawakan kalian pakaian ganti dan makanan. Yang lain juga bisa istirahat disana.”


Beberapa teman Ara dan polisi sudah pulang, hanya disisakan 2 polisi untuk menjaga Ara yaitu Jonas dan Ezar. Kenan, Ken, Sam, Viko dan Kelvin tetap menunggu di ruang tunggu ICU. Shaki, kekasih Sam pulang diantar anak buah Sam. Ayah David pulang karena ada urusan mendadak. Tentu sajaurusan mendadak itu berurusan dengan kejadian yang menimpa Ara calon menantunya, seorang mantan mafia tidak akan tinggal diam dengan kejadian seperti ini.


3 jam kemudian rombongan keluarga Ara datang, terdiri dari papa dan mamanya, juga beberapa ajudan papanya yang memang seorang perwira. Kenan yang tertidur di bangku dengan Ken tidak menyadari kehadiran mereka. Papa Ara tampak agak bingung, kenapa ada Kenan sang pengusaha muda itu disini, apa hubungannya dengan anaknya.


Mama Ara yang sudah sedari tadi menangis saja langsung masuk ke dalam ruang perawatan Ara dan tampak tekejut melihat seorang pria tertidur disamping tempat tidur anaknya sambil memegangi tangan Ara dan satu tangannya lain memegang kepala Ara.


“Pa.... siapa itu ?” Tanya Mama Sonya, mamanya Ara


“Entahlah...” Papa Bin mencoba membangunkan Raiden.


Raiden terbangun dan melihat sosok asing dihadapannya. Masih setengah sadar Raiden berdiri, “Maaf ... anda siapa ?” tanya Raiden


“Saya papanya Ara. Dan ini mamanya.” Jawab Papa Bin


“Oh ... maaf ... silahkan Bapak Ibu. Ara masih belum sadar, tapi dari tanda-tanda vitalnya menunjukkan dia membaik.” Kata Raiden


“Anda siapa ?” Tanya Papa Bin, sementara Mama Sonya menangis memeluk Ara yang masih belum sadar.


“Saya Raiden, dosen Ara.” Jawab Raiden sopan.


Papa Bin memandang wajah Raiden dari ujung kepala sampai ujung kaki, tak luput pula dengan senjata yang ada di pinggang Raiden.


“Dosen, tapi kenapa bawa senjata....”


“Nanti saja saya jelaskan pak.” Kata Raiden. “Sekarang temani anak bapak dahulu. Saya keluar dahulu. Maaf ... saya tidak bisa menjaga anak bapak tadi, saya kecolongan karena tadi terjadi keributan masa.”


Raiden keluar dari ruangan.