I Love You, My Police

I Love You, My Police
Rebutan Ara



 “Ada perlu apa kamu ke sini ?” Tanya Papa Bin pada sang tamu.


“Untuk mengambil Ara.” Jawab Sang Tamu yang bernama Irwan.


“Dengar, Ara sudah menikah, jangan pernah mimpi untuk menjadikannya menantumu. Lagi pula aku tidak sudi memeliki menantu bejat seperti anakmu.” Kata Papa Bin.


Raiden tampak bingung. Alen juga tampak ikutan bingung mendengar percakapan dua orang tua itu.


“Memangnya menantumu yang sekarang sempurna ?” Tanya Pak Irwan.


“Tentu saja. Tidak ada yang kurang dari menantuku, Tepat menjadi pasangan Ara, bisa menjaga dan melindungi Ara dari kebejatan anakmu.” Jawab Papa Bin. “Jangan lupa, anakmu sudah mencelakai Ara waktu itu. Bahkan suami Ara sampai sekarang belum tahu jika pelakunya adalah anakmu.”


“Ah ..... waktu itu Ara saja yang tidak menurut pada Bobby sampai akhirnya terjadi tidak sengaja tertusuk anakmu.” Kata Pak Irwan.


Sekarang Raiden dan Alen paham siapa Pak Irwan. Mantan polisi yang ternyata tempo waktu dibicarakan mencelakai Ara disaat demo mahasiswa, dan orang inilah yang terekam CCTV ketika kejadian naas menimpa Ara waktu itu.


“Om.... kenapa sih malah nikahin Ara sama pria gak jelas gitu ?” Tiba-tiba seorang pria muda muncul juga. Tinggi dan tegap badannya sama seperti Raiden juga.


“Bobby, kamu tidak bisa mendapatkan Ara dengan cara baik. Maka saya menolak mentah-mentah permintaanmu.” Jawab Papa Bin


Raiden yang sedari tadi mendengar jelas pembicaraan papa mertuanya dengan tamu-tamunya sudah mendidih kepalanya, apalagi setelah dia tahu jika tamu yang mendatangi rumah mertuanya adalah orang-orang yang mencelakai Ara waktu itu. Raiden bergegas lari mengambil kaosnya yang tadi masih tersampir di kursi meja makan dan segera memakainya lalu keluar menemui tamu Papa Bin sambil berdiri bersandar di ambang pintu.


“Jadi kalian yang tempo waktu sudah melukai istriku ?” Tanya Raiden sinis


“Raiden.” Papa Bin tampak terkejut.


Alen yang hanya bengong memilih ke kamar Ara dan menceritakan apa yang sedang terjadi di ruang tamu dan meminta Raya dan Ara untuk tidak keluar apapun yang terjadi dan meminta Mama Sonya menjaga supaya 2 wanita yang kadang susah diatur itu untuk tidak keluar kamar. Alen kemudian


menghubungi Kenan. Kenan yang masih setengah perjalanan langsung meminta rombongan balik kanan ke Bandung lagi.


“Saya diterima Ara sebagai suami, dan diterima papa sebagai menantu bukan tidak ada kekurangannya.” Kata Raiden. “Tapi mungkin kamu Bobby, lebih banyak kurangnya ketimbang aku. Kenalkan, aku suami Ara, Raiden


Jiro !”


Mendengar nama Jiro disebut, Pak Irwan dan Bobby jelas sangat terkejut. Pasalnya mereka paham betul siapa nama yang disebut Raiden barusan. Dulu adalah rekan bisnis gelap. Tetapi setelah Ayah David memilih berhenti, mereka malah membenci karena rekan bisnisnya insaf.


“Raiden .... kamu anak David Jiro ?” Tanya Pak Irwan.


“Ya..... anda benar.” Jawab Raiden.


“Pak Bin..... ini menantu yang anda banggakan. Anak mafia juga ?” Tanya Pak Irwan sambil tertawa.


“Setidaknya sekalipun masa lalu menantuku buruk tapi dia mau memperbaikinya. Termasuk ayahnya yang sudah menjadi besanku.” Jawab Papa Bin.


Tiba-tiba muncul Kenan, Ken, Sam, Kelvin dan Viko dari arah luar rumah. Sementara para wanita sepertinya tetap melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta dengan pengawalan anak buah Kenan. Ayah David tetap ikut pulang ke Jakarta tanpa diberi tahu masalah yang sedang terjadi mengingat akhir-akhir ini kesehatannya menurun karena usianya juga sudah tidak muda lagi.


“Ada masalah kah, Rai ?” Tanya Ken sambil menyalakan rokoknya. “Atau ada yang perlu aku bantu untuk menghabisinya saat ini juga ?”


“Pengantin baru tidak usah mengotori tangannya dengan hal-hal kecil seperti ini.” Kata Kenan. “Cukuplah tanganmu itu untuk membelai istrimu di ranjang.”


“Kenapa ada anda disini ?” Tanya Pak Irwan


“Bapak tidak usah heran. Raiden adalah saudara saya juga. Kami dari keluarga Arata sudah bukan lagi musuh bebuyutan keluarga Jiro.” Jawab Sam.


“Kalian kenapa kembali ?” Tanya Raiden. “Aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Lagi pula disini banyak yang bantu”


“Kau lupa. Kau kesini tidak membawa anak buah ! Dan kau lupa jika Raya sedang hamil ! Kamu mau tuh bocah dengan perut semangkanya berantem !?” Seru Kenan. “Sementara di luar sana anak buah mereka ada kalau 40 orang, sepertinya sudah siap-siap mau merebut Ara dari tanganmu. Sayangnya ..... mereka cuma kecoa-kecoa kecil kurang energi.”


Memang benar, diluar sudah banyak orang mengerang kesakitan karena ulah Kenan, Ken, Sam, Kelvin dan Viko.


“Pak Irwan ..... bagaimana ? Apakah anda masih tetap menginginkan anakku ? Bisa lihat sendiri kan orang-orang yang ada disekeliling anakku seperti apa.” Tanya Papa Bin.


“Pa .... aku mengajukan satu permintaan supaya adil” Kata Raiden. “Bobby, gimana kalau kita duel. Sepak terjangmu di dunia beladiri aku dengar mumpuni juga. Kamu boleh mengambil Ara dariku jika aku kalah.”


“Kakak !!!!” Ara tampak berteriak menghampiri Raiden dan membuat dia terkejut


“Sayang..... bukankah sudah dilarang Alen keluar.” Kata Raiden sambil memeluk Ara mesra, membuat hati Bobby panas melihatnya


“Kakak aku bukan bahan taruhan !” Seru Ara


“Kamu percaya suamimu ini kan ?” tanya Raiden.


Ara mengangguk.


“Percayalah .... aku tidak akan melepaskanmu begitu saja pada pria playboy macam Bobby.” Kata Raiden yang langsung mengecup kening Ara. “Cukup doakan aku, sayang ....”


Tidak ada rasa khawatir di mata Kenan juga lainnya, Raya juga tampak yakin. “Kau harus percaya pada kakakku, Ra !” seru Raya. “Andai aku tidak sedang hamil juga pasti aku yang akan ambil posisi menghabisi kecoa brengsek macam dia.”


“Ingat, Dek ... Perutmu udah nyaris seperti semangka.” Kata Ken sambil terkekeh yang sedetik kemudian sebuah sandal jepit melayang mengenai kepala Ken.


Raiden keluar ke halaman depan rumah, melepas kaosnya kembali dan melempar sembarangan. Menunggu Bobby muncul. Sejurus kemudian duel antara Raiden dan Bobby terjadi, Sejak awal duel sudah dapat dibaca, Raiden sama sekali tidak mengeluarkan tenaga apapun, malah Bobby yang sepertinya kewalahan. Akhirnya di menit ke 15  Bobby jatuh tersungkur tanda kalah.


“Bobby ..... kalau aku mau, sekarang juga kamu dan ayahmu bisa aku kirim ke lautan samudera dimakan ikan hiu. Tapi kali ini aku berikan kalian kesempatan memperbaiki hidup kalian. Ingat satu hal !!! Jangan pernah mengganggu kehidupan keluarga Jiro maupun Arata juga lainnya.” Ancam Raiden yang tampak sama sekali tidak menunjukkab wajah lelah.


Akhirnya Bobby dan ayahnya menyerah, mereka memilih meninggalkan keluarga itu. Bagaimanapun mereka sudah tahu, menghadapi 2 keluarga itu sudah bakalan kalah telak. Apalagi Raiden, pewaris tunggal keluarga Jiro dengan segala kekuatannya.


“Wah .... menantuku benar-benar seperti Jang Ki Yong.” Kata Mama Sonya


“Apa ma ?“ tanya Raiden bingung.


“Ma .... ini menantumu, jangan samakan kayak film drakor lah.” Protes Ara.


“Sekali-kali mama mengagumi mantu sendiri lah...” kata Mama Sonya sambil berlalu masuk.


“Apa tadi kata mama ?” Tanya Raiden bingung. “Aneh sekali namanya ...”