
Alen membawa mobilnya ke rumah sakit, kali ini bukan rumah sakit yang pertama tempat Raya pertama kali ditangani.
“Kok kesini kak ?” Tanya Raya
“Sudah ayo ikut.” Jawab Alen sambil menggandeng tangan Raya.”Kali ini yang menangani kamu dokter beda. Dan kuharap kamu jangan cerewet sama dokter satu ini. Bisa-bisa dia salah sangka nanti.”
Raya menganggung bingung, mereka masuk sebuah ruangan periksa dokter yang tampak sepi, dipintu tampak tertulis nama dr. Alden Farel Caesar, Sp.B.
“Kak, emang kita tidak daftar dulu ?” Tanya Raya
“Sudah tadi sebelum kita sampai sini.” Jawab Alen.
Seorang dokter muda muncul dari kamar mandi, wajahnya sebelas duabelas dengan Alen, tentu saja. Dia dokter Farel, adiknya Alen.
“Kenalin, ini adekku, Dokter Farel.” Kata Alen. “Percayalah, dia bisa merawat lukamu dengan baik.”
“Raya.”
“Farel”
“Kak .... jadi ini yang kamu ceritakan tempo waktu ?” Tanya Farel sambil mempersilahkan tiduran di kasur pasien. “Kapan kalian jadian ?”
“Barusan” jawab Alen dan Raya bersamaan.
Farel tertawa mendengar jawaban kompak dua sejoli dadakan ini, “Kalian benar-benar kompak.” Kata Farel. “Jangan bilang kalau kakakku memintamu jadi pacarnya dengan cara nodongin pistolnya.”
“Hampir.” Balas Raya sambil terkekeh. “Kakak dokter tahu .... tadi aku dibuat malu sama dia dikantornya.”
“Harap maklum, kakakku itu belum pernah ngerti dan merasakan namanya pacaran sejak lahir.” Kata Farel.
“Beruntung dong aku .... ketemu cowok ting-ting ...” Balas Raya
“Hmmm .... begitulah .... memangnya kamu pernah pacaran sebelumnya ?” Tanya Farel
Raya terdiam, ada manik bening disudut matanya hampir keluar.
“Maaf ...” Kata Farel. “Jangan diingat jika itu menyakitkan.”
“Aku .... aku ...... aku tidak pernah bisa lupa.” Balas Raya.
Alen yang sedari tadi disamping Raya kemudian mengelus pipi Raya, “Sudahlah .... jangan dengarkan dokter sableng satu ini.”
Farel sudah selesai mengganti balut luka Raya.
“Kak ... sepertinya luka ini akan membekas. Ada baiknya setelah ini konsultasi ke dokter kulit saja.” Kata Farel. “Sayang kan kulit mulus-mulus gini ada bekas lukanya.”
“Kamu yang atur deh, dek ... Aku ngikut aja.” Balas Alen.
“Arm sling sudah tidak perlu dipakai lagi, tapi gerakan harus dibatasi ya.” Kata Farel. “Hei ..... kalau dengan Kak Alen harus sabar, dia memang begitu.... kadang baik kadang menyebalkan.”
“Dia sepertinya akan selalu menyebalkan.” Balas Raya.
“Kalau dia macam-macam tinggal di piting aja apa dibanting kayak penjahat kemarin.” Kata Farel sambil tertawa.
“Dekkkk !!!” Seru Alen.
“Ah iya ... kakakku yang satu ini udah pacaran, maaf lupa aku.” Balas Farel. “Kalau begitu kenalkan sama ayah dan bunda, kak.”
“Nanti kalau sudah saatnya.” Kata Alen
Alen dan Raya kemudian pamit dan meninggalkan rumah sakit. Alen menyetir mobil dengan santai.
“Kak... apa kakak sibuk ?” Tanya Raya
“Tidak. Ada Apa ?” Tanya Alen balik
“Bisa anter aku ke suatu tempat.” Jawab Raya
“Oke, kemana ?” Tanya Alen
“Area Pemakaman Pondok Hijau.” Jawab Raya
“Oke.” Kata Alen lalu membawa mobil ke tempat yang dimaksud Raya.
Sampailah mereka disebuah pemakaman yang luas, tetapi tertata rapi. Raya membeli sekeranjang bunga dan masuk ke dalam pemakaman diikuti Alen. Raya berhenti disebuah makam. Ada nama terukir disitu.
Justin Mischa. Meninggal di usia 22 tahun, 1 tahun lalu. Jika sekarang masih hidup usianya 23 tahun.
Raya membersihkan makam itu dibantu Alen yang masih bertanya-tanya makam siapa sebenarnya, tapi Alen tidak berani bertanya.
“Kakak... aku kembali.... sesuai janjiku, aku membawa penggantimu kak Justin.” Kata Raya. ”Aku harap kakak sekarang bahagia di surga, tanpa perlu mengkhawatirkan aku lagi.”
Raya dan Alen kemudian meninggalkan area pemakaman. Alen mengajak Raya ke cafe miliknya, dan mengajak Raya duduk di dalam kantornya.
“Makam siapa tadi ?” Tanya Alen. “Boleh aku tahu ?”
“Itu makam cinta pertamaku, Kak Justin,” jawab Raya
“Apa yang terjadi 1 tahun yang lalu, Sayang ?” Tanya Alen. “Boleh aku tahu ?”
“Aku kenal Kak Justin sejak kecil. Aku berumur 5 tahun, kak Justin 8 tahun. Kami tumbuh bersama, walaupun kak Justin tinggal dengan orang tuanya. Orang tuanya adalah bawahan kakekku di Jepang. “Raya mulai bercerita. “Kak Justin yang mengajariku berbagai macam ilmu bela diri, mengajari aku segala hal yang berhubungan dengan perlindungan diri. Sampai aku besar kak Justin selalu mengawalku kemana-mana. Maka dari itu aku tidak suka dikawal. Itu sama saja mengingatkan aku dengan kak Justin.”
“Jadi, boleh dibilang dia itu bodyguardmu ?” Tanya Alen
“Iya.” Jawab Raya. “Kak Justin di minta kakek untuk menjadi penjagaku. Sampai aku usia 17 tahun, kak Justin menyatakan cintanya padaku, tentu saja aku menerima karena kebersamaan kami bukan hal sebentar, dan kakek juga merestui. Tapi ..... malam itu semua berubah. Hanya 2 tahun aku berstatus sebagai kekasihnya. Kak Justin meninggal karena melindungi aku.”
“Maksudmu ?” Tanya Alen
“Malam itu, ketika Kak Justin menjemputku dari tokoku, ada beberapa orang menghadang kami, aku tidak kenal mereka, tetapi sepertinya Kak Justin kenal, suara tembakan-tembakan bersautan karena kak Justin juga
membawa senjata api. Kak Justin tertembak di 3 tempat karena melindungiku, dan kemudian polisi datang, semua sudah terlambat.” Jawab Raya
“Lalu siapa pelakunya ?” Tanya Alen
“Sampai sekarang tidak terungkap.” Jawab Raya. “Maka dari itu, aku tidak suka dikawal siapapun, aku merasa orang yang berada di dekatku akan dalam bahaya.”
“Ssssttt.... jangan bilang seperti itu, mulai sekarang aku yang menggantikan Justin.” Kata Alen sambil memeluk Raya. “Kamu tadi sudah bilang kan ke Justin bahwa sudah ada penggantinya, aku.”
“Tapi aku takut kejadian itu akan terulang lagi.” Balas Raya. “Aku bukan orang biasa, kak ....”
“Siapapun kamu akan kujaga sekuatku.” Kata Alen. “Sekarang istirahatlah disini, aku akan selesaikan pekerjaanku dulu.”
“Iya.” Raya merebahkan diri di sofa dan sekian menit kemudian terlelap.
Alen kemudian menelepon Jonas.
“Apa kamu masih ingat kasus pembunuhan dengan korban Justin Mischa ?” Tanya Alen
“Iya, waktu itu aku dan pak Dirga yang menangani kasus itu, tapi sampai sekarang tidak terungkap pelakunya.” Jawab Jonas. “Kenapa ?”
“Selidiki lagi, sampai tuntas.” Kata Alen
“Tidak ada titik temu pelakunya. Kita hanya tahu Justin adalah seorang bodyguard dari seorang gadis cucu pengusaha dari Jepang.” Balas Jonas
“Gadis itu adalah Raya, dan Justin dulu adalah kekasih Raya. Dia meninggal karena melindungi Raya.” Kata Alen
Jonas terkejut mendengar ucapan Alen, “Lalu kita mulai penyelidikan dari mana ?”
“Dari asal usul keluarga Raya. Anak siapa sebenarnya dia, siapa keluarganya sebenarnya.” Jawab Alen
“Oke. Kita buka kasus ini lagi, aku akan bilang ke Pak Dirga.” Kata Jonas
Raya tampak terbangun setelah kurang lebih satu jam tertidur. Alen duduk di samping Raya sambil mengelus kepala Raya dengan mesra.
“Sudah enakan ?” Tanya Alen
“Sudah kak.” Jawab Raya.
“Kakak boleh tahu sesuatu, sayang ?” Tanya Alen.
“Boleh kak ...” jawab Raya
“Apa keahlianmu sebenarnya ?” Tanya Alen. “Bela diri apa yang kamu kuasai ?”
“Banyak kak, semua beladiri Jepang aku kuasai.” Jawab Raya.
“Kamu mau kasus Justin terungkap ?” Tanya Alen
“Dua kasus yang ingin aku ungkap.” Jawab Raya
“Dua ?” Tanya Alen
“Kasus penembakan kak Justin dan kematian orang tuaku.” Jawab Raya. “Aku yakin orang tuaku tidak murni meninggal karena kecelakaan. Kakek selalu menutupi semuanya.”
“Baiklah... akan ku bantu.” Kata Alen.
“Kakak yakin ?” Tanya Raya
“Tentu.” Jawab Alen.
“Terima kasih.” Kata Raya.