I Love You, My Police

I Love You, My Police
Menahan



Tiga hari berlalu, keadaan Raya membaik. Masih tampak pucat karena Raya mengalami anemia. Bunda Alin dengan tlaten merawat Raya dan selalu memberikan makanan bergizi pada Raya.


Sementara Alen....


Kali ini dia benar-benar libur meminta jatah pada Raya, meskipun sebenarnya ingin, tapi Alen sadar betul Raya butuh memulihkan tenaganya juga pikirannya.


“Sayang .... hari ini kamu ada kuliah ?” Tanya Alen.


“Ada.” Jawab Raya. “Kak .... nanti malam .... aku ingin anu itu .....” Rengek Raya


“Aku itu bagaimana ?” Tanya Alen sambil merapikan seragamnya.


“Kita sudah 3 hari tidak melakukan itu, masa kakak tidak ingin ?” Tanya Raya. “Apa burung kakak sudah tidak bisa berkicau lagi ?”


“Kemarin pisang, sekarang burung ....” Jawab Alen.


Siapa tidak ingin sayang ... aku bahkan susah payah menahannya, tapi kondisimu belum sehat betul. Sungguh suami yang kurang ajar kalau aku terus saja memaksamu. Kata Alen dalam hati.


“Kakak .....”


“Kamu belum sehat betul, sayang .... aku bisa dicincang kakak-kakakmu kalau kamu nanti pingsan gara-gara ulah kakak.” Kata Alen.


“Kan bisa tidak harus berkali-kali ... cukup gesek sekali, selesai ...” Balas Raya


“Kamu pikir duit di ATM sekali gesek langsung keluar.” Kata Alen. “Sudahlah, kamu harus kuliah, ayo siap-siap


aku antarkan !”


Raya cemberut tanda sebal dengan suaminya, sementara Alen hanya geleng-geleng kepala.


Dulu saja kamu ketakutan bahkan meminta supaya jangan besar-besar, kenapa sekarang malah ketagihan sih. Kata Alen dalam hati sambil tersenyum.


Obrolan absurt suami istri itu berhenti karena Farel masuk ke kamar mereka.


“Kak .... aku mau cek tekanan darah Raya dulu ...” kata Farel.


“Cek hemoglobinnya kapan ?” Tanya Alen


“Nanti lah kak seminggu lagi. Kalau sekarang juga belum naik lah .... yang penting jangan lupa minum vitamin saja.” Jawab Farel


Farel memeriksa tekanan darah Raya yang memang kemarin-kemarin rendah, “Oke, Baby ... 110/70 mmHg. Belum terlalu baik tapi setidaknya ada peningkatan.” Kata Farel.


“Aku tetap boleh kuliah kan ?” Tanya Raya


“Boleh. Asal jangan terlalu lelah.” Jawab Farel. “Kakak ... jangan minta yang aneh-aneh duluuu.” Tatapan Farel tajam ke arah Alen.


“Elahhhh ..... aku gak ngapa-ngapain kok, 3 hari ini ngelonin doang !” Balas Alen


Alen mengantar Raya ke kampus sebelum berangkat ke kantornya. Di kampus mereka bertemu Raiden yang sudah datang duluan.


“Memangnya kamu sudah sehat ?” Tanya Raiden.


“Lumayan, Kak. “Jawab Raya.


“Kak ... aku tinggal dulu ya .... Titip Raya.” Kata Alen yang kemudian mencium kening Raya lalu meninggalkan


mereka.


“Apa suamimu baik sama kamu, Ray ?”Tanya Raiden


“Kak Alen baik, bahkan 3 hari ini dia tidak meminta jatah.” Jawab Raya


“Hmmm ... mana berani dia minta dari pada dicincang burungnya.” Kata Raiden.


“Aussssss.... jangan dong kak !!!!” Seru Raya. “Tega bener kalian !!!”


“Rayaaaa !!!!” Ara muncul sambil berteriak-teriak. “Sudah sehat kamu, sayaaanggg !”


“Lumayan lah ....” Balas Raya. “Kamu kenapa gak ke rumahku sih .....”


“Kamu tidak tahu saja, tugas kuliah banyak banget ...” kata Ara. “Bapak dosen baru kita ngasih tugasnya gak ada ampun.”


“Hehe .... aku padahal belum mengerjakan sama sekali.” Balas Raya.


“Ara ... titip Raya ya .... aku harus masuk ruanganku dulu.” Kata Raiden


“Eh ada bapak .... oke deh pak ....” Balas Ara yang baru sadar kalau ada Raiden di sebelah Raya.


“Ray .... hubungi aku jika ada apa-apa.” Kata Raiden


“Oke kak....” Balas Raya


Raiden meninggalkan dua sahabat dekat itu


“Kakak .... kok kamu manggilnya kakak ...?” Tanya Ara


“Hm .... ceritanya panjang, kapan-kapan aku ceritakan.” Jawab Raya. “Yang jelas dosen kita yang ganteng nan


rupawan itu adalah kakakku.”


Ara masih saja bingung sebenarnya, tapi karena kelas sudah akan dimulai maka rasa penasarannya dia simpan jauh-jauh terlebih dahulu.


Sore hari, di rumah. Alen dan Raya tampak sedang asyik nonton TV berdua, sementara Bunda Alin sedang memasak dibantu oleh bibi di dapur.


“Kak ... nanti malam itu ya ???” Tanya Raya


“Nggak.” Jawab Alen


“Ih kakak ah jahat ....” Rengek Raya.


“Kamu belum sehat sayang ... wajah saja masih pucat gitu.” Kata Alen.


“Huaaa .... bunda.... kakak jahaaattt ....” Seru Raya


Alen tentu saja kalang kabut dan langsung membekap mulut Raya, “Aissss !!! malu ahhhh ! Iya-iya nanti malam


“Gitu dong ....” Balas Raya sambil cengar-cengir gak jelas.


Malam itu di kamar Alen dan Raya


“Sayang .... yakin mau minta ?” Tanya Alen


“Hu um.” Jawab Raya


“Kenapa sih sekarang kamu jadi yang ketagihan ?” Tanya Alen sambil menciumi tengkuk Raya.


“Habis ternyata enak ... besar juga gak apa-apa.” Jawab Raya polos


“Sayang ..... kamu akan seperti ini terus sampai kapan... gak mudeng-mudeng soal beginian.” Kata Alen.


“Kamu tahu nggak, aku menahan sebenarnya, demi kamu sehat dulu, kenapa malah sekarang nagih.”


“Jadi kakak selama 3 hari ini menahan ?” Tanya Raya


Alen mengangguk pelan


“Ulu.... ulu .... ciaaaannnn..... “ Kata Raya sambil mencubit kedua pipi Alen. “Suamiku dianggurin.”


“Makanya jangan minta dulu ya .... biar sehat dulu.” Kata Alen


“Kenapa masih nahan, itu yang dibawah udah mengeras kayak bolduser.” Balas Raya


Alen menyadarinya, dan langsung merebahkan diri di sebelah Raya, tetapi tiba-tiba justru Raya naik ke


atas Alen dan mendudukinya.


“Sayang ....”


“Kakak, malam ini saja, besok-besok libur lagi gakpapa.” Kata Raya.


“Oke ... satu kali saja ya .... jangan lebih.” Balas Alen yang memulai ritualnya, kali ini Raya tetap berada diatas Alen.


Alen benar-benar menahan untuk tidak melakukan berkali-kali malam ini, bahkan jam 8 malam pun keduanya sudah tidur sambil berpelukan.


Jam 12 malam Alen terbangun karena ada suara gaduh diluar, dia keluar dari kamarnya sambil mengucek-ucek


matanya.


“Ada apa ?” Tanya Alen


“Ada yang melempar sesuatu ke rumah kita, ngenain kaca depan.” Jawab Farel


Alen yang mendengar itu segera masuk kembali kekamar mengambil senjata apinya. Raya yang ikut terbangun tampak bingung kenapa tiba-tiba suaminya keluar lagi sambil bawa senjata api. Raya segera mengenakan piyama panjangnya dan menyusul keluar.


“Ada apak kak ?” Tanya Raya


“Ada seseorang melempar kaca rumah.” Jawab Alen


Farel memungut sebuah gumpalan kertas dan menyerahkan pada Alen. Alen membukanya, dan tulisan kertas itu


adalah, “akhirnya ketemu”


“Apa maksudnya ?” Tanya Farel


Ayah Caesar yang muncul juga dengan Bunda Alin tampak terkejut, kaca ruang tamu berantakan.


“Ada apa ini ?” Tanya Ayah Caesar.


“Ada teror, yah.” Jawab Alen. “Kalian disini saja, aku akan tengok situasi diluar.”


“Aku ikut.” Kata Farel


Alen dan Farel keluar, dari dalam pagar rumah tidak ada hal yang mencurigakan, tetapi tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang di depan rumah mereka, Alen bahkan tidak dapat mengenali jenis mobil itu karena suasana tidak begitu terang.


“Masuk Rel ...!” perintah Alen


Raya tampak sedang duduk di meja makan dengan laptopnya, rupanya dia sedang memeriksa CCTV rumah. Tampak seseorang memang melempar sesuatu ke dalam rumah. Orang itu memakai jubah hitam dan bertopi juga memakai cadar, sehingga tidak dikenali wajahnya. Dan selanjutnya sebuah mobil sedan sport melaju dengan kencang ...


“Siapa ?” Tanya Bunda Alin.


“Perang sudah dimulai.” Kata Raya. “Aku tidak akan tinggal diam kali ini, ayah sudah benar-benar keterlaluan.”


“Sayang .... belum saatnya kamu bertemu ayah.” Kata Alen. “Kakak juga pasti tidak akan mengijinkan.”


“Ayah !? Ayah siapa yang kalian maksud ?” Tanya Ayah Caesar.


Alen dan Raya saling berpandangan, mau tidak mau orang tua mereka harus tahu masalah ini sekarang. Alen yang pelan-pelan menceritakan dengan jelas, sementara Raya mendengarkan sambil menggigit bibir bawahnya, ada rasa resah dibatinnya, resah jika kedua mertuanya tidak akan menerima semua ini.


“Sayang ....” Bunda Alin memeluk Raya dengan penuh kasih sayang. “Jangan khawatir ya sayang .... kamu pasti aman, banyak yang melindungi kamu.”


“Bunda ... apa tidak apa-apa .... ayahku ternyata ...”


“Raya, siapapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Ingat pesan ayah, jangan pernah membencinya.” Kata Ayah Caesar.


Kenan muncul bersama Viko dan Sam.


“Bagaimana ini ?” Tanya Alen


“Kalian berdua pindah ke rumah sementara waktu ini.” Jawab Kenan. “Jangan libatkan keluargamu, Len.”


“Oke.”


“Bunda ikut sayang .... Bunda tidak bisa meninggalkan Raya, kasian Raya belum sehat betul.” Kata Bunda Alin.


“Begini saja... semua pindah saja, akan lebih aman dan mudah memantau jika semua dalam satu rumah.” Kata


Sam.


Akhirnya, malam itu mereka pindah, termasuk bibi juga ikut.  Beruntung ternyata Kenan sudah menjual rumah lama Raya, dan pindah ke sebuah rumah besar yang lebih mirip seperti manssion di sebuah kawasan elite. Diluar memang hanya tampak beberapa satpam dan penjaga, tetapi di dalam ternyata penjagaan begitu ketat.