I Love You, My Police

I Love You, My Police
Daviandra Jeromea Caesar



Setelah semalam Raya berjuang melahirkan, dan seluruh keluarga menemani. Sore itu, ruang perawatan Raya tampak penuh. Sang pengantin baru Ken dan Sandra datang, Kenan datang bersama Akira dan Yoshi. Sam datang dengan Shaki, Bunda Alin dan Ayah Caesar, juga Ayah David. Raiden baru muncul bersama Ara karena Ara yang sedang hamil 2 bulan tampak juga mengalami ngidam parah.


“Hai .... bocah ... mau lahir saja sudah merepotkan Oom mu ini, besok tambah gede jangan bikin Oom tambah repot lagi ya....” Kata Ken sambil menowel pipi bayi mungil yang sedang tidur nyenyak di boks bayinya.


“Tidak Oom.... paling cuma minta kuda-kudaan sama Oom.”Balas Alen. “Oom  yang jadi kudanya ....”


“Jangankan kuda-kudaan, kuda beneran pun kalau kamu mau, Oom belikan.” Kata Ken


“Kalian sudah siapkan nama untuk anak kalian ?” Tanya Ayah David


Raya dan Alen serempak menggeleng. Bingung. Mereka memang sama sekali belum mempersiapkan nama untuk anak mereka karena pertama memang belum tahu jenis kelamin anaknya, kedua Raya melahirkan lebih cepat dari perkiraan kelahirannya.


“Ayah boleh lah usul nama....” Kata Raya


“Ayah sebenarnya sudah siapkan nama ini jika anak kalian laki-laki.” Balas Ayah David. “Semoga kalian suka. Daviandra Jeromea Caesar. Anak laki-laki yang disayangi keluarga Jiro dan Caesar, juga keluarga Arata.”


“Wah .... nama yang bagus.... “ Kata Kenan.


“Ini nama yang bagus, yah... cocok untuk baby boy.” Balas Alen. “Gimana sayang ?”


Raya mengangguk dan tersenyum, “Jadi panggilnya Baby Davi.”


“Hello, Davi ..... besok kalau udah gede main kelereng ya sama Om Rai ?” Sapa Raiden.


“Idih ..... enggak amat mainnya.” Protes Ara.


“Lha terus main apa !? Masa anak laki-laki main bola bekel ?” Tanya Raiden.


“Ya main robot-robotan, kek .... atau main lego.” Jawab


Ara.


“Sepertinya mainan seperti itu sudah umum pada anak laki-laki. Sekali-sekali kembalikan ingatan kita pada masa kecil kita. Jika di Indonesia ini mainan kelereng, sundah manda, gobak sodor, atau bahkan layangan atau engrang sudah tidak kita kenalkan, mereka akan terus-terusan menjadi generasi gadget.” Kata Raiden. “Di Jepang, permainan Kendama masih disukai anak-anak karena dengan bermain Kendama mereka belajar ketangkasan juga.”


“Ow ..... ternyata pemikiran suamiku memang brilian dari dulu.” Balas Ara.


Baby Davi tampak menggeliat dan kemudian menangis, sepertinya haus. Alen kemudian menggendongnya dengan hati-hati dan memberikan Raya untuk disusui.


“Kak..... Jadi semalam, Kakak.... gagal malam pertama, dong !?” Tanya Raya sambil menyusui Davi.


Ken yang mendengar pertanyaan adiknya tentu saja langsung bersemu merah wajahnya.


“Jelas gagal lah !!! Gimana, sih !!!? Orang kamunya malah menyiksa kakakmu ini.” Kata Sam sambil tersenyum geli.


“Wah .... Baby Dav .... kamu benar-benar nakal ya, Oom mu kan mau bikin sepupu buat kamu kok malah kamu nakal, sih !?” Kata Raya pada bayinya yang masih asyik ngenyot.


“Ya gimana .... aku pulang-pulang tenagaku sudah habis total.” Kata Ken. “Ponakan mau lahir aja pinter milihnya sama yang baru aja jadi penganten. Bener-bener ponakan merepotkan. Hahaha ...”


“Tahu nggak, Ray ... semalam setelah pulang dari rumah sakit, Ken tidurnya malah kayak bayi, minta dielus rambutnya lah, minta dipijitin pundaknya lah, baru 10 menit udah langsung bablas ke alam surga, eh ... alam mimpi maksudnya.” Kata Sandra


“Bayi besarnya ngambek ceritanya ....” Kata Raiden. “Sabar deh Ken .... ntar enokimu juga bakal ketemu kok sama pujaan hatinya.”


“Kalian..... nggak ngadar apa lagi ngomongin kayak gituan di depan yang belum sah nikah.” Gerutu Sam.


“Makanya buruan lamar Shaki !” Balas Ken


Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Raya diperbolehkan pulang ke rumah. Kali ini Alen membawa pulang Raya ke rumah bundanya, bukan ke rumah mereka berdua, karena Raya tidak mau pakai baby sitter untuk merawat Baby Davi.


“Papi, udah dong .... jangan diciumi terus babynya, ntar tambah merah pipinya.” Protes Raya.


“Biarin, biar kayak bakpao.” Balas Alen.


Wajah Davi benar-benar fotokopinya Alen, semuanya mirip, hanya bibirnya saja yang seperti Raya.


“Kak.....” Kata Raya. “Apa nantinya kita juga akan tetap melatih Davi sama seperti aku ?”


“Sepertinya tetap akan kita lakukan, sayang. Kalaupun tidak kita lakukan sudah dipastikan oom oom nya akan ambil alih memberikan latihan pada Davi.” Jawab Alen. “Bagaimanapun kamu tidak boleh lupa siapa keluargamu, sekalipun hidup sudah damai tapi musuh akan selalu ada dalam bentuk apapun.”


“Untung Davi laki-laki, jadi memang harus bisa seperti aku, karena dia kelak harus menjaga anak istrinya juga kalau sudah menikah.” Kata Raya


“Kalaupun ada anak perempuan tetap harus dilatih, walaupun mungkin tidak seperti kamu.” Balas Alen


“Kak... anak satu baru aja brojol udah ngomong anak perempuan.” Kata Raya.


“Aku pengen punya anak 4 atau 5 lah.” Balas Alen


Raya membulatkan matanya, “Kakak ... satu aja udah nyiksa orang banyak proses lahirannya.”


“Tenang saja, aku masih kuat kok kamu jambakin, kamu pukulin, kamu cakar-cakar. Hahahaha ....” Balas Alen.


Ken tiba-tiba muncul dengan Sandra, mereka tampak tersenyum bahagia.


“Penganten baru ngapain ke sini ?” Tanya Raya


“Ini, Ray .... kakakmu merengek minta kesini, kangen sama Davi katanya.” Jawab Sandra.


Alen memberikan Davi pada Ken yang sudah ingin menggendongnya.


“Alo ponakan Oom .... udah bau wangi sekarang ya ....” Kata Ken sambil menciumi Davi, dan sepertinya Davi nyaman-nyaman saja diganggu oom nya.


“Makanya cepet bikin anak, supaya bisa gendongin bayi kayak Davi.” Kata Alen.


“Lupa ya ..... belom sempat .....” Balas Ken. “Davi, tau gak... oom sampai lupa bikin anak gara-gara mamimu menggagalkan rencana oom mu ini.”


Raya tertawa seketika mendengar laporan seorang oom pada keponakannya yang masih bayi, “Kalau gitu nanti malam jadi malam kedua saja, kak.”


“Sepertinya akan jadi malam ketujuh ....” Kata Ken dengan wajah sendu.


“Kenapa harus malam ke tujuh ?” Tanya Alen.


“Lagi ditambel roti Jepang lobangnya.” Jawab Ken


Alen dan Raya seketika tertawa terbahak-bahak, betapa tragisnya nasib kakak mereka ini, malam pertama gagal gara-gara Davi mau keluar dari perut maminya, dan malam kedua gagal lagi karena sang istri dapat tamu bulanan.


“Dosa apa aku sebenernya, nasib begini amat.” Gerutu Ken.


“Itu dosamu kak dimasa lalu, anggap ini sedang menjalankan karma.” Kata Raya.”Semoga Kak Sandra tahan kalau tiba-tiba banyak pelakor mampir nyariin kak Ken.”


Tidak dipungkiri memang, Ken di masa lalu memang seorang pria casanova, wanita selalu ada setiap saat untuk menemaninya, bahkan terkadang menemani di ranjang, tetapi buat Ken semua adalah hiburan saja, hatinya entah saat itu terbuat dari apa, tidak ada satupun wanita yang mampu menusuk dinding hatinya yang kala itu masih menjalankan bisnis narkoba dan senjata ilegal.


Kisah Ken sang penakhluk wanita berhenti manakala bertemu sang pujaan hati yang sekarang telah berstatus istrinya, yang dia pinang di malam Davi lahir ke dunia. Perjalanan cinta Ken bukanlah mudah, tetapi rumit karena kekerasan hatinya pada wanita, dampak dari luka lama yang tertoreh begitu dalam dari seorang wanita di masa lalu.


Wanita itu bernama Marrisa, gadis yang sangat Ken cintai, ternyata mengkhianatinya dengan cara Marrisa berkhianat dibelakangnya, sudah sering bercinta dengan musuh besarnya kala itu. Dan itulah titik mula Ken menjadi pria casanova.