
Hari-hari mendekati pernikahan Alen dan Raya pun merayap tanpa terasa, sore itu keduanya sedang menjalani sidang pernikahan, salah satu syarat menikah bagi anggota Polri.
Selama mengikuti proses sidang Raya tampak menjawab dengan tegas tentang segala macam yang ditanyakan oleh ketua sidang dan timnya. Alen sudah harap-harap cemas sedari awal, takut Raya akan memberikan pernyataan konyol seperti kasus ******, pisang dan jangan besar-besar. Tetapi Raya ternyata memahami situasi, karena sebelum mengikutinya Raya sudah mempelajari banyak hal.
Syarat persetujuan dari kedua orang tua calon pengantin pun sudah siap, dari pihak Raya akhirnya hadir juga kakak tertuanya, Kenan. Diluar perkiraan Jonas dan Ezar yang memperkirakan tampang-tampang mafia Jepang itu sangar dan melebihi preman, ternyata salah besar. Kenan adalah seorang pria dewasa berwajah tampan, dengan tinggi tubuh sama rata dengan Alen, wajah oriental asianya begitu jelas, kemiripan dengan Raya juga tampak jelas,
senyumnya sangat manis, bahkan jika saja Kenan belum menikah dengan seorang wanita cantik bernama Akira pun pasti banyak wanita yang ingin mengambil hatinya.
Dan hari dimana pernikahan keduanya akan dilaksanakan pun tiba, Raya walaupun tampak kecewa karena kedua kakaknya dan kakeknya tidak bisa hadir karena ada masalah di Jepang, tetap merasa bahagia karena Kenan tetap selalu disampingnya.
Karena Raya menikah dengan seorang perwira polisi, maka prosesi pernikahan tetap melalui pesta pedang pora, dilanjutkan dengan prosesi gapura kehormatan dan yang terakhir melakukan payung pura dan diakhiri dengan ikrar wirasatya.
“Kakak .... ini acara nikahan apa upacara bendera sih !!! Nikah berasa seperti upacara tujuhbelasan saja.” Gerutu Raya
“Ssst .... sabarlah sedikit, sebentar lagi selesai istriku sayang.” Kata Alen.
Akhirnya semua prosesi selesai, tidak ada resepsi karena memang permintaan keluarga Raya. Pesta dirubah di rumah Alen yang disulap menjadi pesta kebun nan meriah dengan hanya mengundang beberapa teman saja termasuk beberapa petinggi kepolisian.
Sejatinya, semua teman-teman Alen tidak mengetahui jati diri Raya yang sebenarnya, yang mereka tahu Alen memperistri anak kuliahan. Yang justru mencuri perhatian di pesta itu adalah Kenan dan istrinya, lebih tepatnya Akira.
Wanita dewasa usia 30 tahun itu sudah memiliki seorang putra berumur 4 tahun dengan nama Hideyoshi, atau biasa dipanggil Yoshi. Akira yang dalam pesta itu mengenakan gaun agak terbuka di punggung menampakkan
gambar tato sepasang sayap di bawah lehernya bertuliskan nama kenan-akira hingga menunjukkan sisi keseksiannya namun anggun.
“Kakak .....” Raya membisiki Alen.
“Apa sayang ?” Tanya Alen
“Apa teman-temanmu tidak ada yang mengenali wajah kak Kenan ?” Tanya Raya. “Sepak terjang kak Kenan dulu di bisnis jual beli senjata ilegal kan tinggi kak, walaupun sekarang sudah diambil alih black stars.”
“Sepertinya tidak ada yang menyadarinya.” Jawab Alen.
“Kakak .... apa jika suatu saat ada yang tahu tidak akan mempengaruhi pekerjaanmu ?” Tanya Raya
“Entahlah .... sudah jangan mikirin itu kenapa sayang.” Jawab Alen. “Nikmati saja pestanya.”
“Iya kak .... aku menikmati, karena aku udah gak berpakaian seribet tadi pas upacara.” Kata Raya. Ya Raya sudah berganti menggunakan gaun putih selutut tanpa lengan, tetapi tetap menunjukkan dialah pengantinnya malam itu, sedangkan Alen hanya memakai setelan jas tanpa dasi, karena memang pestanya dikonsep santai.
“Halo sayangku Raya .... kamu sepertinya bahagia sekali Honey ....” Kata Kenan sambil memeluk adik perempuan satu-satunya.
“Iya dong kak .... sayang Kak Ken dan Kak Sam juga kakek tidak bisa datang.” Balas Raya.
“Mereka akan datang, tunggulah .....” Kata Kenan. “Kakek tidak akan pernah melewatkan hari bahagia cucu tercantiknya.”
Sebentar kemudian, suasana pesta dihebohkan dengan kedatangan serombongan orang-orang yang entah dari mana datangnya, wajah tua tapi tampak berkharisma muncul bersama dua orang pria tampan dibelakangnya. Kakek Arata akhirnya datang bersama Ken dan Sam, tentu saja dengan beberapa pengawal pribadi.
Beberapa kolega Alen tentu sudah tidak asing dengan Blue Stars, kelompok mafia yang beberapa tahun terakhir ini menjalankan bisnis bersih.
“Kakekkkk !!!!” Seru Raya yang langsung menghambur ke pelukan kakeknya.
Semua tamu terbengong melihat mesranya kakek dan cucu ini.
“Pak Alen .... jangan bilang jika istri anda ini adalah dari keturunan kelompok Vulkanis, pemegang tertinggi Blue Stars.” Kata Arman, salah satu atasan Alen.
“Kenyataannya seperti itu, pak. Itulah istri saya.” Balas Alen.
“Anda benar-benar hebat, bisa menakhlukkan cucu seorang mantan mafia besar di negaranya.” Kata Astro.
“Nanti jangan besar-besar, Len.” Kata Ezar sambil tertawa.
“Apa nya yang jangan besar-besar ?” Tanya Kenan.
Jonas menceritakan drama pengaman, pisang dan jangan besar-besar beberapa waktu lalu pada Kenan. Tentu saja Kenan langsung tertawa, tidak menyangka adiknya begitu polos, lucu dan lugu, padahal dibalik semua itu, Raya bukan makhluk yang mudah diremehkan.
“Ini pasti Alen .... suami cucu cantikku ini. “ Sapa Kakek Arata.
“Iya, kek.” Alen memberikan hormat pada sang kakek, tetapi malah mendapat pelukan dari kakeknya.
“Yang sabar menghadapi Raya ....” Kata Kakek Arata
“Sabar sekali, kek.” Balas Alen. “Bahkan saking sabarnya sampai harus drama segala, kek.”
Kakek Arata tertawa, pesta berlanjut dengan ngobrol, Kakek Arata ternyata mengenal beberapa kolega Alen dan asyik berbincang dengan mereka juga dengan Ayah Caesar, yang ternyata tanpa sepengetahuan Alen ada hubungan bisnis antara keduanya.
Dan kali ini, tebakan Jonas dan Ezar soal kakak-kakak dari Raya pun salah lagi setelah salah menebak Kenan, ternyata Ken dan Sam juga memiliki ketampanan tiada tara, tidak menunjukkan kegarangan seperti mafia, justru Ken terlihat ramah dan lucu, sedangkan Sam agak pendiam.
“Dek .... udah siap malam pertamanya ?” Tanya Ken dengan nada menggoda
“Memangnya malam pertama ngapain kak ? Apa berbeda dengan malam kedua ketiga dan seterusnya ?” Tanya Raya.
“Jadi kamu belum tahu ?” Tanya Ken
“Belum. Aku tempo waktu bertanya soal pengaman saja malah ditunjukkan pisang yang dikasih balon sama Kak Alen.” Jawab Raya sambil bergelayut manja pada kakaknya.
“Pisang ???” Tanya Ken bingung, sebelum bingungnya berlanjut Kenan sudah menceritakan drama tersebut pada Ken dan Sam. Kedua nya tentu saja tertawa sampai menangis mendengarnya.
“Dek .... nanti makan saja pisangnya Alen sampai habis....” Kata Ken.
Ya, Ken bukanlah pria terlalu baik sebelumnya, predikatnya tidur dengan beberapa wanita sudah tidak asing lagi, dalam sebulan bisa ganti wanita sampai 4 kali sudah biasa, tapi sejak mengenal seorang gadis bernama Sandra, yang juga ikut dalam pesta kali ini membuat Ken meninggalkan jiwa playboynya. Sandra adalah gadis Indonesia yang sangat lembut dan manis, profesinya sebagai dosen psikolog di sebuah kampus ternama membuat Ken tergila-gila, bahkan hubungan jarak jauh pun dilakoni.
“Sayang .... kalau kamu lelah istirahatlah di kamar ....” Kata Bunda Alin. “Kakak dan kakek juga nanti akan istirahat di paviliun sebelah.”
“Oke bunda.... nanti sajalah nunggu pestanya selesai.” Jawab Raya.
“Ini ...”
“Ohya, Kenan, Ken dan Sam, mulai sekarang kalian juga panggil Bunda Alin saja. Kalian mau kan ?” Tanya Bunda Alin
“Tentu, Bunda.” Jawab Ken antusias.
Pesta telah usia, Paviliun sebelah penuh dengan keluarga Raya dan beberapa pengawal pribadi kakek Arata, sedangkan Raya sudah terlebih dahulu masuk kamar Alen yang sudah disulap menjadi kamar pengantin romantis. Raya segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur hotpant kebanggaannya.
Alen tentu saja juga sudah membersihkan diri juga dengan nebeng di kamar mandi kamar Farel, kemudian masuk ke kamarnya. Raya tampak sudah berbaring di tempat tidur. Alen tampak tersenyum lalu mendekati Raya dan memeluknya.
“Kakak aku lelah ...” rengek Raya.
“Tapi kakak pengen sayang ....” Balas Alen sambil menciumi leher Raya dari belakang membuat Raya kegelian. “Bukankah kamu penasaran seberapa besar punya kakak ini ?”
“Hah .... sekarang ???” Tanya Raya kaget
Alen mengangguk.
Drama jangan besar-besar dimulai .....