Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 07 : Souji dan Sanada



Ditengah malam, dimana bulan sudah berada tepat diatas.


Ada seorang anak laki-laki yang sedang berlari ditengah jalan sepi yang hanya disinari oleh cahaya bulan, lalu anak laki-laki tersebut berlari menuju kearah pusat kota.


Seperti nya Sanada berada di pusat kota, aku berharap dia belom pergi.


Walaupun begitu, pada saat aku membunuh mereka berdua entah kenapa aku tidak merasakan apapun? Tidak, yang lebih penting lagi, kenapa mereka begitu ketakutan saat melihatku? tadinya aku ingin membiarkan mereka hidup.


Akan tetapi, pada saat melihat mereka ketakutan, itu malah membuatku  semakin kesal saja dan pada akhirnya aku secara tidak sengaja membunuh kedua nya.


Aku penasaran apakah wajahku memang seseram itu? Padahal aku sudah berusaha untuk tersenyum pada saat bertanya kepada mereka? ya itu bukan salahku juga, itu salah mereka terlebih dahulu karena menguntitku dan tidak meminta maaf, ditambah mereka malah ketakutan pada saat aku dengan sangat ramah bertanya kepada mereka, mereka memang pantas mati, jadi itu bukan salahku.


Pada saat aku sedang sibuk dengan pikiran ku, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara.


“Tapi tenang saja Ayah Mamah, aku tidak sendirian disini, aku memiliki Souji-senpai, Shinomiya-senpai dan yang lainnya, dan bahkan ada Ayano-sensei juga... jadi jangan khawatir...”


Ini kan suara milik Sanada dan juga, kenapa nada suaranya terdengar seperti dia sedang menangis?


Pada saat aku berjalan perlahan menuju ke arah air mancur, aku melihat seorang gadis dengan rambut berwarna merah muda yang sedang duduk di tepi air mancur, gadis itu menangis sambil melihat ke arah langit.


Tidak salah lagi, gadis itu adalah Sanada. Pada saat aku sedang berjalan dan ingin menghampirinya, tiba-tiba dia melanjutkan kata-katanya.


“Dan juga Ayah Mamah, jangan bersedih walaupun Sanada menghilang.... karena... Sanada akan berusaha keras untuk menjadi lebih kuat dan mencari jalan pulang dengan Souji-senpai dan yang lainnya... jadi Sanada mohon untuk jangan terlalu sedih...”


Apa? aku tidak menyangka bahwa Sanada sesedih ini dan lagi, sepertinya dia sangat mempercayai aku, Tetapi apakah orang sepertiku dapat dipercaya?


Pada saat kepalaku dipenuhi pertanyaan yang tidak ada habisnya, tiba-tiba Sanada mengatakan sesuatu sambil tersenyum.


“Sanada berjanji akan pulang ke rumah apapun yang terjadi”


Pada saat aku mendengar Sanada mengatakan hal tersebut, entah kenapa aku jadi mengingat diriku yang dulu. Dia dan aku sama, tidak kami semua sama, kami memiliki keluarga yang berharga bagi kami dan sekarang kami


tidak dapat bertemu dengan mereka lagi.


Setelah jeda beberapa detik, aku memutuskan untuk menjawab kata-kata tersebut.


“Tentu saja mereka pasti percaya bahwa sanada akan pulang suatu hari nanti,”


Pada saat aku mengatakan hal itu, tiba-tiba Sanada berbalik dan terkejut, matanya bertanya-tanya kenapa orang itu ada disini. Setelah menghapus air matanya Sanada akhirnya berbicara.


“Kenapa kamu bisa tau kalau Sanada berada disini... Saouji-Senpai?”


Pada saat Sanada mengatakan hal tersebut, aku menjawab nya dengan senyum lembut dan perlahan mendekat.


“Aku hanya khawatir dan datang mencarimu, apakah aku tidak boleh datang kesini?“


Pada saat aku sampai tepat di depan nya, dia langsung menundukkan kepalanya dan menjawabnya dengan nada suara yang semakin mengecil.


“Kau curang Souji-senpai, mengatakan hal itu sambil tersenyum”


Aku memutuskan untuk duduk disebelahnya dan menanyakan sesuatu hal yang menggangguku dari tadi.


“Neh Sanada, apakah aku memang orang yang dapat dipercaya?”


Pada saat aku menanyakan hal tersebut, Sanada langsung terkejut. Tapi aku masih melanjutkan kata-kataku.


“Tidak usah dijawab juga tidak apa-apa, itu pertanyaan yang benar-benar aneh bukan, semua orang juga tahu, bahwa aku ini hanya seorang pecundang, bahkan aku bingung kenapa kalian memilih untuk ikut denganku dari


pada tinggal bersama yang lainnya”


Dia sedikit bereaksi pada saat aku mengatakan hal tersebut, tetapi masih dengan wajah yang menatap ke bawah.


Setelah jeda beberapa menit, aku memutuskan untuk bertanya pertanyaan lain kepada Sanada.


“Neh Sanada, kenapa kalian sangat marah pada Saki saat dia menamparku waktu itu? padahal kalian tidak perlu Semarah itu untukku, karena aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu dan-”


Pada saat aku mengatakan hal itu, tiba-tiba Sanada memotong kata-kataku dengan nada marah.


“Souji-senpai seharusnya marah!! Padahal merekalah yang menyuruhmu menjawabnya!! Tetapi, tiba-tiba gadis sialan itu menamparmu dengan alasan yang aneh, bagaimana kami bisa menerima hal tersebut!!”


Dia mengatakan hal itu sambil mendekatkan wajahnya denganku. Aku sedikit senang, jadi aku memutuskan untuk berterima kasih.


“Terima kasih”


Pada saat aku mengatakan hal tersebut, tiba-tiba wajahnya Sanada menjadi merah cerah dan dia langsung menyembunyikan wajahnya dengan tangan nya. Entah kenapa dia terlihat imut saat melakukan hal tersebut.


Setelah jeda beberapa menit, aku memutuskan untuk berbicara lagi.


“Sanada, bisakah kamu berhenti memanggilku dengan akhiran kata Senpai?”


Pada saat aku mengatakan hal tersebut, dia tiba-tiba menatapku.


“memangnya kenapa?”


“entah kenapa aku merasa aneh dan juga, karena kita tidak sedang berada disekolah. Bagaimana jika memanggilku Souji saja tanpa menambahkan apapun?”


“tidak!!, jika Souji-senpai tidak mau dipanggil Souji-senpai, maka aku akan memanggilmu Souji-OniChan”


Tu-tunggu sebentar dia bilang apa barusan, dia memanggil namaku dengan menambahkan kata OniChan di belakang nya? terseralah, lagian dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri.


Setelah jeda beberapa detik, aku menjawabnya.


“Baiklah, terserah kamu saja’


“Yeyy!!”


Entah kenapa dia langsung berdiiri dan memperagakan pose kemenangan, apakah dia menjadi sesenang itu hanya dengan menambahkan kata OniChan dibelakang namaku saja? walaupun adikku sendiri tidak pernah senang saat memanggilku dengan kata OniChan.


Pada saat aku sedang memikirkan kenangan yang menyedihkan, tiba-tiba dia berhenti bergerak dan menarik tanganku.


“Kalau begitu, ayo kita kembali Souji-OniChan”


Dia mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan entah kenapa wajah sedih yang sebelumnya dia miliki menghilang dari wajahnya.


Aku memutuskan untuk menggendongnya, karena letak air mancur ini berada jauh dari tempat kami menginap.


“Apa yang kamu lakukan OniChan?”


“Ayolah aku akan menggendong mu sampai ke penginapan, biar kita bisa sampai lebih cepat atau Ayano-sensei akan mulai ceramahnya selama 3 jam tanpa henti”


“Kau benar”


Dia menjawabnya sambil tersenyum dan langsung naik, aku memutuskan untuk mulai berlari, walaupun begitu aku memutuskan untuk membuatnya berjanji agar tidak menghilang secara tiba-tiba lagi.


“Neh Sanada apakah kamu bisa berjanji satu hal padaku”


“Berjanji tentang apa OniChan?”


“Berjanji lah kalau Sanada tidak akan melakukan hal ini lagi, karena aku takut jika Sanada di culik oleh seseorang dan dilukai. Sekarang Sanada beruntung bahwa tidak bertemu dengan orang lain, tapi bagaimana jika Sanada diserang oleh seseorang pada saat seperti ini dan terluka, aku pasti akan sangat sedih, bukan hanya aku saja, Shinomiya-san, Natsuki-san, Nagisa dan Ayano-sensei pun akan ikut sedih, karena itulah kamu harus berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi oke?”


Setelah jeda beberapa menit, dia menjawabnya dengan nada ceria seperti biasanya.


“Baiklah, Sanada berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi,bkarena itulah OniChan, jangan merasa bersalah oke?”


“oke”


Aku terus berlari di jalanan gelap yang hanya disinari oleh sinar bulan.


☆-----___-----___-----☆


Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya kita sampai di depan pintu penginapan.


Sepertinya Sanada tertidur ditengah Jalan, pada saat aku membuka pintu, aku disambut oleh Ayano-sensei yang sedang tersenyum dengan sangat menawan dalam pose budha.


Walaupun begitu, aku bisa melihat ada urat nadi di dahinya. Mungkin dia mengkhawatirkan kami berdua, jadi aku memutuskan untuk


berbicara.


“Aku kembali Ayano-sensei”


Pada saat aku mengatakan itu, aku bisa mengatakan bahwa urat nadi yang dimilikinya bertambah.


Walaupun begitu, dia sepertinya memahami situasinya dan memutuskan membiarkan aku untuk menaruh Sanada di kasur.


“huh... sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu Souji-kun, tapi kamu bisa menaruh Sanada di kasur terlebih dahulu”


“Oke”


Aku perlahan berjalan menaiki tangga dan tiba di depan pintu kamar, aku membuka pintu tersebut dan masuk, setelah itu aku menaruh Sanada di kasurnya.


Setelah aku menaruh sanada di kasurnya aku berjalan menuju ke tempat tidurku.


Walaupun begitu, sepertinya yang lainnya juga mengkhawatirkan kami, mereka memutuskan untuk menunggu kami dari pada mencari kami.


setelah aku duduk Ayano-sensei mulai bertanya kepadaku.


“Sebenarnya apa yang terjadi Souji-kun, kenapa kalian berdua ada diluar pada saat tengah malam seperti ini?”


Berbeda dengan nada suaranya yang tegas, matanya menunjukan kekhawatiran, bukan Cuma Ayano-sensei saja, tetapi semua orang menatap kami dengan khawatir pada saat kami kembali,


“Besok aku akan menjelaskannya kepada kalian, aku benar-benar lelah setelah berlarian mengelilingi kota”


Pada saat aku mengatakan hal tersebut, mereka semua sepertinya memahami hal itu, kemudian mengangguk sedikit dan kembali tidur, aku juga menjatuhkan tubuhku di kasur dan perlahan mengingat kembali apa yang


dikatakan oleh Sanada.


Walaupun begitu, aku merasa bahwa lubang besar yang berada di dadaku perlahan-lahan semakin mengecil, apakah karena gadis-gadis ini marah untukku?


Walaupun aku tidak terlalu mengerti, akan tetapi, aku hanya mengerti satu hal, bahwa aku harus menjadi semakin kuat agar bisa melindungi mereka. Dengan pemikiran seperti itu aku perlahan menutup mataku.