Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 19 : Orc = Daging Segar



Sudah 3 hari semenjak kami datang ke dunia ini, serta sudah 2 hari semenjak kami berada di dalam hutan ini. Kami sekarang sedang berjalan menuju ke bagian Barat dari Hutan ini.


Dari penjelasan yang di berikan oleh Heavenly-san. Di bagian Barat hutan ini sepertinya terdapat sebuah sarang [Orc], atau singkatnya adalah kumpulan daging hidup segar yang masih belum di sentuh oleh siapa pun.


Jika kita ke sana, kita akan dapat membantu para gadis ini mendapatkan pengalaman bertarung dari pertempuran yang sebenarnya, dan kita juga akan mendapatkan daging dari para [Orc] yang di katakan sangat lezat. Ini itu seperti, sekali dayung 2 pulau terlewati.


“Neh Sou-chan... Apakah kita benar-benar akan melawan [Orc]?” Nagisa menanyakan hal itu dengan nada yang gemetaran.


Tidak, bukan hanya Nagisa saja, tapi semua gadis ini pun mulai menatapku dengan mata yang khawatir. Aku bingung kenapa mereka khawatir?


“Iya, memangnya kenapa?” aku memiringkan kepalaku ke samping karena bingung.


Setelah mendengar pertanyaan dariku ini, Shinomiya-san langsung menjawabnya dengan nada suara yang gemetaran seperti Nagisa.


“Kau tahu Shimotsuki-kun, Mereka ini [Orc]” Shinomiya-san mengatakan hal itu sambil mencoba meyakinkan ku tentang sesuatu.


“Terus?” karena aku tidak mengerti, jadi aku hanya bisa memiringkan kepala ku ke samping saja.


Pada saat aku melakukan hal itu, entah kenapa para gadis ini langsung memiliki ekspresi suram di wajah mereka.


Setelah jeda selama 15 menit, akhirnya Natsuki-san mulai berbicara sambil menatapku dengan mata yang masih belum berubah.


“Shimotsuki... bagaimana jika kita langsung pergi ke kota saja?” Natsuki-san mengatakan hal itu sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.


Pada saat Natsuki-san mengatakan hal itu, para gadis yang lainnya juga mulai mengangguk pada pernyataan Natsuki-san tersebut.


Neh Heavenly-san, apakah mereka benar-benar akan kalah jika melawan para [Orc] ini?


Karena penasaran, aku menanyakan hal itu kepada Heavenly-san sambil memiringkan kepalaku.


[Menjawab]


[Menurut perkiraan, salah satu dari mereka bahkan bisa mengalahkan sekitar 100 ‘Orc’ sendirian]


Setelah mendengar penjelasan dari Heavenly-san, aku langsung berhenti dan berbalik ke arah para gadis.


“Apakah kalian yakin untuk langsung pergi menuju Kota Perdagangan?” aku menanyakan hal itu sambil menatap tajam ke arah mereka.


Pada saat mendengar pertanyaan ku ini, para gadis yang mendengar hal itu, langsung mencoba mengangguk sekuat tenaga untuk mengiyakan hal itu.


Saat melihat hal itu, aku hanya bisa menghela nafas saja. Bagaimana bisa mereka memutuskan hal ini begitu mudah.


Huuhh....


Setelah menghela nafas, aku langsung membuka mulutku lagi untuk berbicara.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi” aku mengatakan hal itu kepada mereka sambil berbalik dan mulai berjalan kembali.


Pada saat melihat hal itu, para gadis ini langsung kembali bersemangat dan mulai mengikuti aku dari belakang.


☆-----___-----___-----☆


Kami sekarang ini, sedang berada di tepi sungai untuk beristirahat dan makan siang


sebentar.


Air di sungai ini benar-benar sangat bersih, bahkan aku dapat melihat ikan-ikan yang sedang berenang ke sana kemari di dalam sungai.


Aku sekarang sedang mencoba untuk menangkap beberapa ikan untuk makan siang kami. Pada awalnya ikan-ikan itu seperti sedang meledekku dengan berlarian di sekitar kakiku, akan tetapi, karena aku mulai jengkel, jadi secara tidak sengaja aku malah membunuh semua ikan yang ada di sungai ini.


Bahkan sudah tidak ada satu pun ikan yang terlihat di sungai ini, lalu aku naik dan berjalan menuju ke tempat para gadis yang sedang menungguku, tapi entah kenapa, pada saat aku sampai di sana mereka semua langsung menatapku seperti sedang melihat seorang penjahat.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” aku memiringkan kepalaku ke samping karena bingung.


“Neh Souji-kun... bukankah kamu terlalu kejam?” Ayano-sensei menanyakan hal itu kepadaku dengan nada ragu.


“Kejam? Apa yang kamu maksud Ayano-sensei?” karena aku benar-benar tidak mengerti, yang bisa aku lakukan hanya memiringkan kepalaku ke samping saja.


Pada saat melihat hal itu, para gadis ini langsung mengalihkan pandangannya dariku, dan mulai menatap ikan-ikan yang sedang di panggang di api unggun ini dengan mata yang seakan-akan meminta maaf.


Lalu entah kenapa, lagi-lagi aku malah merasa menjadi penjahatnya di sini. Karena mulai menjengkelkan, aku menanyakan sesuatu kepada Heavenly-san untuk memperbaiki mood ku.


Neh Heavenly-san, apakah kamu memberitahuku bagaimana cara nya kembali ke jepang?


Pada saat aku mengatakan hal itu, entah kenapa Heavenly-san mulai mengatakan sesuatu yang tidak jelas, dan pada saat itu juga suara yang benar-benar bikin ngilu langsung menggema di dalam kepalaku.


[Menjawab]


[??????????]


“Baiklah, berhenti menjelaskan Heavenly-san!! Ini benar-benar menyakitkan!!” aku mengatakan hal itu sambil membenturkan kepala ku ke batang pohon.


Pada saat melihat aku sedang membenturkan kepalaku ke batang pohon, para gadis yang melihat hal itu langsung berdiri dan menghampiriku untuk menghentikanku membenturkan kepalaku.


Tapi karena rasa sakit dan ngilu yang terus bergema di dalam kepalaku, jadi aku mengabaikan mereka dan terus membenturkan kepalaku.


Brukk!!


Pohon besar itu tumbang, dikarenakan benturan keras yang berulang-ulang tepat di batang pohon tersebut. Setelah pohon besar ini tumbang, Heavenly-san tiba-tiba langsung berhenti menjelaskan.


Dan pada saat itu juga, penglihatanku langsung menjadi sangat gelap.


☆-----___-----___-----☆


Di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Terdapat tiga orang wanita yang sedang duduk dan saling berhadapan.


“Kalau begitu, boleh aku bertanya sekarang, kenapa Arena memanggil kami kemari?” orang ini mengatakan hal itu sambil memiringkan kepalanya ke samping.


Orang yang bertanya ini adalah seorang gadis yang memiliki umur 17 tahun, dia memiliki rambut berwarna putih yang di ikat ke samping dengan mata berwarna biru muda yang indah, dia adalah Aizawa Saki yang merupakan salah satu orang yang memegang Job Class [Hero] yang memiliki tipe [Valkyrie].


“Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada kalian berdua?” orang yang di panggil arena ini mengatakan hal itu sambil menatap mereka berdua.


Orang yang bernama Arena ini, terlihat seperti seorang gadis yang memiliki umur 16 tahun, dia memiliki rambut panjang berwarna pirang dengan mata yang berwarna hijau.


Pada saat Arena mengatakan hal itu, kedua gadis yang ada di depan nya langsung memiringkan kepalanya ke samping.


“Kalau begitu, Arena-kun, boleh aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan?” wanita yang di samping Saki menanyakan hal itu sambil menatap tajam ke arah Arena.


Wanita ini terlihat memiliki umur 25 tahun, dia memiliki rambut pendek berwarna hitam dengan mata yang berwarna Biru muda, dia adalah Ryuuji Asahi. Dia juga merupakan salah satu dari beberapa orang yang memiliki Job Class [Hero] yang memiliki tipe [SwordManship].


Pada saat mendengar hal itu, Arena mengambil nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.


“Bolehkah aku bertanya tentang Pria yang memiliki nama Shimotsuki?” dia menanyakan hal itu sambil menatap tajam kepada kedua orang yang ada di depannya.


Pada saat mendengar pertanyaan dari Arena, mereka berdua sangat terkejut dan langsung buru-buru bertanya alasan Arena menanyakan hal itu.


“Sebelum itu, boleh aku tahu kenapa Arena-kun ingin mencari tahu tentang Shimotsuki-kun?”  Asahi langsung menanyakan hal itu sambil menatap tajam kembali ke arah Arena.


Di sisi lain, pada saat mendengar hal itu Saki langsung gemetaran. Walaupun begitu, Saki masih menatap Arena dengan mata yang penasaran.


Pada saat di tatap oleh mereka berdua, Arena kembali mengambil Nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.


“Kalau boleh jujur, entah kenapa aku seperti pernah mengenalnya, tapi aku tidak dapat mengingatnya sama sekali” Arena mengatakan hal itu sambil menggenggam erat baju miliknya.


Pada saat mendengar pernyataan dari Arena, mereka berdua sangat terkejut. Karena mereka berdua tahu, kalau mereka semua baru datang ke dunia ini beberapa hari yang lalu, dan mereka semua datang secara bersamaan.


Sedangkan apa yang dikatakan oleh Arena ini, seperti ingin mengisyaratkan kepada mereka berdua bahwa dia pernah bertemu dengan Souji di masa lalu.


Pada saat mendengar hal itu, Saki langsung berteriak kepada Arena dan menanyakan maksud Arena mengatakan hal itu.


“Tu-tunggu sebentar Arena!! Apa maksud mu kalau kamu pernah bertemu dengan Souji sebelumnya!!” Saki mengatakan hal itu dengan nada marah sambil berjalan maju menuju Arena.


Pada saat Saki sedang berjalan menuju Arena, dia tiba-tiba dihentikan oleh Asahi.


“Tenanglah Aizawa-kun” Asahi mengatakan hal itu sambil menarik lengannya Saki untuk menghentikannya.


“Kenapa kamu menyuruhku untuk tenang Ryuuji-sensei!! Dia mengatakan jika Souji pernah datang ke dunia ini sebelumnya, dan ha-“


Sebelum saki bisa menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, Asahi langsung memotongnya dan berteriak untuk menyuruhnya tenang.


“Sudah aku bilang, tenanglah Aizawa-kun!! Kita dengar dulu penjelasan dari Arena” Dia mengatakan hal itu sambil menarik Saki untuk kembali duduk.


Pada saat melihat hal itu, Arena langsung menatap Saki dan mulai bertanya sesuatu hal kepadanya.


“Saki, boleh aku tahu hubungan seperti apa yang kamu miliki dengan Shimotsuki?” Arena menanyakan hal itu sambil menatap tajam ke arah Saki.


Ketika Arena menanyakan hal itu kepada Saki, dia langsung menundukkan kepalanya ke bawah.


Pada saat melihat hal tersebut. Asahi yang penasaran juga dengan tingkah lakunya Saki sebelumnya, dia mulai menatapnya juga dengan curiga.


Saki yang di tatap tajam oleh mereka berdua akhirnya menyerah, dan menceritakan semua nya kepada mereka berdua.


“Biaklah, aku akan menceritakannya” dia mengatakan hal itu sambil masih menatap ke bawah dan menggenggam bajunya dengan erat.


Pada saat mendengar pernyataan dari Saki, mereka berdua langsung mendengarkan cerita nya Saki dengan serius.


“Jadi begini ceritanya....”