Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 11 : Keluar Dari IbuKota



Sudah sekitar 30 menit semenjak kejadian itu, lalu sekarang kami sedang berada di penginapan.


“Maafkan aku, karena aku, kita harus segera pergi dari kerajaan ini”


Aku mengatakan hal tersebut sambil menundukkan kepalaku.


“Ini karena aku tidak dapat mengendalikan emosiku, jadi kita harus segera pergi dari kerajaan ini. Jika saja waktu itu aku-“


Sebelum aku bisa menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, tiba-tiba Nagisa langsung memotongnya.


“Itu bukan salahmu Sou-chan!! Itu salah kami yang membuatmu mendengar hal yang tidak ingin kamu dengar, jadi jangan salahkan dirimu sendiri oke?”


Nagisa mengatakan hal tersebut sambil menggenggam tanganku dan menatap mataku, lalu mereka semua mengangguk secara bersamaan sebagai konfirmasi.


Aku yakin mereka mengatakan hal itu Cuma untuk menyemangati ku saja, walaupun begitu aku harus tetap berterima kasih.


“Terima kasih, aku sudah menjadi sedikit lebih baik”


Aku mengatakan hal itu sambil tersenyum dengan tulus, lalu entah kenapa mata mereka semua menjadi hangat, dan itu membuat lubang besar yang berada di dalam diriku ini menjadi semakin mengecil seperti waktu itu.


Aku bersyukur mereka ikut denganku sekarang, jika tidak ada mereka, mungkin aku akan depresi dan memutuskan untuk menyendiri.


Saat melihat suasana ku telah kembali normal, Ayano-sensei mulai berbicara.


“Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi sekarang?”


““Baik!!””


Mereka semua menjawabnya dengan bersemangat dan berjalan menuju pintu keluar, aku melihat sekeliling sebentar dan mulai berjalan mengikuti mereka.


☆-----___-----___-----☆


Setelah kami keluar dari penginapan, kami mulai berjalan menuju ke pintu keluar kota.


Mata mereka langsung berbinar saat kami berada di luar kota dan langsung mulai mengatakan pendapat mereka dengan sangat lantang.


“Woaww!! Disini benar-benar hijau”


Natsuki-san mengatakan hal itu sambil melihat sekeliling.


“Kamu benar, disini bahkan tidak ada polusi sama sekali”


Ayano-sensei mengatakan hal tersebut sambil menghirup udara segar.


“Onichan lihat!! Jadi tembok dari kota ini benar-benar besar!!”


Sanada mengatakan hal itu dengan mata berbinar sambil menunjuk ke arah tembok yang mengelilingi IbuKota.


Shinomiya-san hanya diam sambil memperhatikan sekitarnya, walaupun begitu, mata nya berbinar seperti seorang anak kecil yang sedang melihat mainan baru.


“Kalau begitu, kemana kita akan pergi sekarang Sou-chan?”


Pada saat Nagisa mengatakan hal itu, semua orang langsung berhenti melihat-lihat dan mulai menatapku.


“Kalau begitu, ayo kita pergi ke arah Timur, karena kota Perdagangan terletak di sebelah Timur dari Kerajaan ini.”


Mereka semua mengangguk ringan dan mulai berjalan mengikutiku berjalan ke arah Timur.


Akan tetapi, tiba-tiba Natsuki-san berhenti dan menoleh ke arahku.


“Sebelum itu, bagaimana kamu bisa tahu jika kota Perdagangan berada di sebelah Timur Kerajaan ini?”


Pada saat Natsuki-san menanyakan hal tersebut, semua orang langsung melihat ke arahku.


“Tadi pagi aku mencoba menilai kerajaan ini menggunakan Skill Unik [Appraisal Complete] milikku dan ternyata berhasil. Dari penjelasan skill tersebut, aku berhasil memahami garis besar dari negara ini dan itulah juga alasan kenapa aku tahu jika ada Kota Perdagangan di sebelah Timur kerajaan ini”


Mereka semua mengangguk setelah mendengar penjelasanku. Kali ini Shinomiya-san lah yang bertanya kepadaku.


“Kalau begitu, apakah Skill milik Shimotsuki-kun ini dapat mencari cara untuk mengembalikan kita ke Jepang?”


Pada saat Shinomiya-san mengatakan hal tersebut, semua orang langsung berhenti dan mulai menatapku dengan penuh harapan.


“Tidak, itu tidak mungkin...”


Pada saat aku mengatakan hal itu, wajah mereka semua langsung berubah menjadi gelap.


“Ka-kamu benar Shimotsuki-kun, tidak mungkin kita bisa begitu mudah unt-“


Sebelum Shinomiya-san bia menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, aku langsung memotongnya dan mulai kembali berbicara.


“Maksudku bukan tidak mungkin sama sekali...”


Pada saat aku mengatakan hal itu, mereka semua langsung memiringkan kepala mereka secara bersamaan dan hal itu terlihat imut.


“Maksudku, bukan berarti kita tidak bisa kembali ke Jepang...”


“A-apa maksudmu Sou-chan?”


Setelah aku mengatakan hal itu, Nagisa langsung bertanya kepada ku dengan ragu-ragu. Lalu aku langsung menjawabnya tanpa basa-basi.


“Maksudku itu, pada saat aku mencari cara kembali ke Jepang dengan Skill Unik [Appraisal Complete] milikku, di sana jawabannya bukan tidak mungkin akan tetapi...”


“”Akan tetapi?””


Mereka semua langsung menatapku dan menunggu kalimat selanjutnya dengan serius.


“Aku masih belum memenuhi Syarat untuk mencari hal tersebut”


Mereka semua langsung mengangguk, lalu Natsuki-san langsung berbicara dengan ragu-ragu.


“Ma-maksudmu, ada cara lain untuk  bisa pulang ke Jepang?”


“Ya!”


Aku menjawabnya sambil tersenyum dan pada saat aku mengatakan hal itu, mereka semua langsung saling memandang dan tersenyum.


“Kalau begitu, kita sudah menemukan cara untuk kembali ke jepang dong Sou-chan?”


Nagisa menanyakan hal itu denga sangat bersemangat, tidak, bukan hanya dia saja, akan tetapi semua orang mulai menatapku dengan penuh harapan.


Pada saat aku mengatakan hal itu, entah kenapa mereka semua menjadi semakin bersemangat dari sebelumnya.


“Itu sudah cukup untuk kami semua Sou-chan, karena hal itu, kami jadi bisa tahu, bahwa ada jalan pulang lain selain harus mengalahkan para Demon Lord”


Pada saat Nagisa menatakan hal itu, semua orang langsung mengangguk untuk meyakinkanku.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat menuju kota Perdagangan!!”


“”Ayo!!””


Mereka semua mulai berjalan menuju Timur dengan bersemangat, mungkin karena mereka semua sudah mengetahui bahwa mereka semua bisa kembali tanpa harus bertarung.


Walaupun begitu, entah kenapa aku memiliki firasat buruk, ini terus muncul semenjak aku berpas-pasan dengan Ksatria Wanita itu, aku


berharap tidak ada masalah yang terjadi sampai kami tiba di kota Perdagangan.


Kami semua mulai berjalan memasuki hutan dengan gembira.


Pada waktu itu, Aku masih belom mengetahui, bahwa pertemuanku dengan Ksatria Wanita itu adalah sebuah takdir.


Takdir dimana aku akan kehilangan sesuatu hal yang berharga bagiku untuk selamanya.


☆-----___-----___-----☆


Disebuah ruangan yang terlihat seperti ruang Tahta di abas pertengahan eropa. Terdapat 3 orang pria yang sedang saling berhadapan.


“Jadi apakah kamu sudah tahu penyebab kematian mereka?”


Orang yang bertanya ini memiliki wajah berusia sekitar 40th lebih dengan rambut putih dan mata berwarna hijau, jika dilihat dengan seksama dia sekarang sedang duduk di kursi Singgasana yang berada di ruang itu.


“Maafkan atas ke tidak mampuan hamba Yang Mulia”


Orang yang menjawabnya ini, memiliki wajah seperti seorang pria berumur 25th lebih, dengan rambut dan mata yang sama-sama berwarna merah.


Dia mengenakan pakaian bangsawan berwarna putih dengan garis berwarna orange, serta membawa sebuah pedang di pinggangnya.


“Dasar tidak berguna!! Bagaimana kalian bisa gagal, padahal hanya disuruh mengawasi seorang sampah saja”


Orang yang berteriak ini adalah seorang pria berusia sekitar 30th lebih, serta mengenakan baju seperti seorang Paus dari sebuah Agama. Dia memiliki kepala Botak dan mata berwarna cokelat.


“Tenanglah Imam Besar Carly”


“Bagaimana kita bisa tenang Yang mulia!! Kita mengirim Assassin terbaik untuk mengawasi mereka!! Dan mereka berdua mati dengan begitu misterius!! Bagaimana kita bisa ten-“


“Tenanglah!!”


Orang yang di panggil Yang Mulia ini langsung berteriak untuk membuat orang yang bernama Carly ini diam, setelah dia mengatakan hal itu


orang bernama Carly ini langsung terdiam.


“Sudah aku katakan tenang saja bukan Imam Besar Carly, kita memiliki orang ini disisi kita, jadi kita tidak perlu takut”


Orang yang di panggil Yang Mulia ini tersenyum saat dia mengatakan hal tersebut sambil menunjuk ke arah pria yang dari tadi sedang


berlutut.


“Ka-kamu benar Yang Mulia, Maafkan Hamba karena terlalu khawatir”


Orang yang bernama Carly mengatakan hal itu sambil menundukkan kepala untuk meminta maaf. Orang yang di panggil Yang Mulia ini mulai menatap Pria yang sedang berlutut itu.


“Jadi apakah kamu bisa menghabisinya... Sang Raja Api, Fuoco Rosso”


Dia menanyakan hal itu sambil tersenyum kepada pria tersebut.


“Kali ini, saya akan pastikan untuk menghabisinya dengan tangan saya sendiri Yang Mulia”


Pria yang memiliki nama Fuoco ini menjawabnya sambil tersenyum seperti telah menemukan mangsa baru.


“Kalau begitu kamu boleh pergi”


“Baik”


Pada saat Yang mulia mengatakan hal itu, Fuoco pun berjalan keluar tanpa berbalik sedikitpun.


Setelah pintu tertutup, Carly pun akhirnya kembali berbicara.


“Kalau begitu Yang Mulia, bagaimana kita mengurus orang yang dapat mengeluarkan Aura Membunuh sekuat itu?”


Pada saat Carly menanyakan hal itu, orang yang dipanggil Yang Mulia ini terkejut dan langsung menatapnya.


“Kalau begitu, kita serahkan saja hal ini kepada Wanita itu”


“Baik”


Setelah dia menjawabnya, Carly pun langsung membungkuk dan berjalan keluar.


Pada saat Carly ingin membuka pintu, tiba-tiba Yang Mulia memanggilnya.


“Tunggu sebenar”


“Ada apa Yang Mulia?”


Dia berbalik dan menatap Yang Mulia.


“Jika orang yang mengeluarkan Aura Membunuh sekuat itu tidak dapat kita kendalikan, maka kamu tahu harus berbuat apa bukan?”


“Tentu saja Yang Mulia”


Pada saat Yang Mulia menanyakan hal tersebut, Carly langsung menjawabnya sambil tersenyum.


Setelah mendengar jawaban dari Carly, akhirnya Yang Mulia mulai tertawa terbahak-bahak.


Bukan hanya yang mulia saja yang tertawa terbahak-bahak, Carly pun ikut tertawa setelah menjawab pertanyaan yang mulia.


Mereka berdua tertawa dan masih belum menyadari makhluk seperti apa yang berusaha mereka lawan, tidak bukan hanya itu saja, mereka berdua bahkan masih belum menyadari, bahwa mereka telah menarik sebuah benang takdir yang akan mempercepat kehancuran dari Dunia ini.