Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 49 : Malam Sebelum Badai Bagian Terakhir



Di suatu sungai yang berada di kedalaman hutan [Groen Forest].


Di sana terdapat seseorang yang sedang duduk sendirian di salah satu batu besar yang ada di pinggiran sungai. Orang itu sekarang sedang duduk sambil memandangi pantulan bulan yang ada di atas permukaan sungai dengan suasana yang entah kenapa terasa suram.


Orang ini memiliki perawakan dari seorang gadis berumur 20 tahunan dengan rambut panjang berwarna perak dan memiliki mata yang berwarna merah. Dia mengenakan sebuah pakaian sederhana yang terdiri dari kaos hitam polos dengan celana pendek hitam sebagai bawahannya. Serta, gadis ini juga memiliki telinga yang terlihat mirip seperti telinga seorang Elf.


Setelah keheningan yang menenangkan selama beberapa menit, akhirnya gadis berambut perak ini mulai membuka mulut nya dan berkata dengan nada suara yang terdengar sedih sambil mulai menatap bulan dengan mata melankolis.


“Meirin.... Aku sekarang sudah menemukan orang yang kamu maksud itu.... Dia benar-benar orang yang sangat baik.... Terlebih lagi.... Dia benar-benar pintar dalam hal memasak seperti yang kamu katakan....”


Kata-kata dari gadis ini terhenti dan dia mulai menggigit bibir bagian bawah nya sambil mulai menangis.


Setelah beberapa menit gadis ini mulai menangis dalam keheningan, dia akhirnya mulai membuka mulut nya lagi dan berkata dengan nada suara yang terdengar semakin sedih sambil memandangi pantulan dari diri nya sendiri di atas permukaan sungai.


“Dan juga..... Jika saja kamu masih hidup... Mungkin saja... kamu bisa menikmati makanan enak yang dibuat oleh nya...”


Kalimat yang diucapkan oleh gadis berambut perak ini kembali terhenti sambil mulai memeluk kedua lutut nya dengan lebih erat.


Beberapa menit kemudian, gadis berambut perak ini akhirnya mulai membuka mulut nya lagi dan berkata dengan nada suara yang terdengar seakan-akan merendahkan diri nya sendiri sambil mulai kembali mengalihkan pandangan nya ke arah bulan.


“Di tambah lagi... Seharusnya kamulah yang ada di sini... Meirin... Jika saja kamu tidak datang ke kamar ku dan membawa ku bersama mu... Mungkin saja... kamu masih hidup sekarang...”


Beberapa saat setelah dia mengatakan hal itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang nya, yang membuat nya terkejut.


“Tidak. Menurutku itu bukan salah mu”


Mendengar suara tersebut. Gadis berambut perak ini dengan tergesa-gesa berbalik untuk melihat siapa yang baru saja mengatakan hal itu.


Melihat orang tersebut. Dia langsung melebarkan mata nya karena terkejut, sebelum gadis ini mulai kembali mengalihkan pandangan nya ke bawah sambil berkata dengan nada suara yang terdengar seperti sedang menghina diri nya sendiri.


“Ti-tidak! Itu memang benar salah ku!! Jika saja ak-“


Sebelum gadis ini menyelesaikan kalimat nya. Tiba-tiba dia langsung merasakan rasa sakit yang begitu mengerikan di dahi nya, akibat sentilan yang diberikan oleh orang tersebut yang tidak lain adalah Shimotsuki Souji.


“Aduh!!”


Gadis berambut perak ini langsung menatap Souji dengan penuh permusuhan dan mulai membuka mulut nya untuk melakukan protes. “Itu menyakitkan tahu!! Kenapa kamu melakukan hal itu!!” Ucap gadis berambut perak itu dengan nada kesal sambil menatap Souji dengan penuh permusuhan.


Souji yang melihat itu mulai mengabaikan nya dan duduk di samping nya sambil mulai menatap bayangan nya sendiri yang muncul di atas permukaan sungai.


Melihat hal itu, gadis berambut perak ini langsung terdiam dan mulai menatap nya dengan bingung. Setelah keheningan yang menenangkan selama beberapa menit, akhirnya Souji mulai membuka mulut nya dan berkata dengan nada suara yang entah kenapa terdengar jengkel.


“Berhentilah menangis seperti itu bodoh. Tidak peduli seberapa banyak air mata yang kamu keluarkan... Orang yang sudah mati tidak akan pernah hidup kembali” Ucap Souji sambil mengalihkan pandangan nya ke arah atas untuk menatap bulan dengan mata melankolis.


Mendengar hal itu, gadis ini mulai menatap nya dengan wajah bingung sambil mulai mendengarkan Souji dengan serius.


Beberapa menit kemudian, Souji akhirnya mulai membuka mulut nya lagi dan berkata dengan nada suara tegas. “Dengar. Yang bisa kamu lakukan untuk menghormati orang itu adalah dengan terus hidup dan melangkah maju di jalan yang menurut mu benar” Ucap Souji sambil mulai mengepalkan tangan nya dengan erat.


“Tidak peduli seberapa banyak orang yang menganggap jalan yang kamu pilih itu salah, atau pun mendengar cemoohan dari orang-orang yang membenci mu. Kamu masih harus tetap hidup dan melangkah maju ke depan” Lanjut Souji.


“Dan juga, tolong ingat ini. Aku tidak menyuruh mu untuk melupakan masa lalu yang kamu miliki dengan orang tersebut. Yang ingin aku katakan kepada mu adalah...” Ucap Souji dengan nada acuh sambil mulai bangkit.


Gadis berambut perak ini hanya bisa menatap Souji dengan penuh kebingungan sambil mulai membuka mulut nya untuk berbicara. Akan tetapi, Souji memotong nya sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun dan berkata dengan nada suara yang terdengar lelah.


“Jika ada yang ingin kamu tanyakan. Silakan tanyakan hal itu besok. Aku ngantuk sekarang dan hanya ingin tidur” Ucap Souji sambil mulai menguap dan berjalan pergi dari tempat itu.


Akan tetapi, baru beberapa langkah dia berjalan. Souji langsung menghentikan langkah kaki nya dan mulai berbalik ke arah gadis berambut perak itu sambil berkata.


“Kamu juga harus tidur. Jangan begadang. Besok kita harus pergi ke tempat yang di sebut [Mortem Forest] itu pagi-pagi sekali “ Ucap Souji dengan nada tegas sambil menatap tajam ke arah gadis berambut perak itu.


Mendengar hal tersebut, gadis ini hanya bisa menganggukkan kepala nya saja sebagai konfirmasi.


Melihat konfirmasi dari gadis berambut perak itu. Souji mulai berbalik dan melambaikan tangan nya sambil berkata.


“Kalau begitu, Sampai jumpa besok pagi.... Charlene” Ucap Souj dengan nada lelah sambil terus berjalan pergi tanpa berbalik sedikit pun.


Melihat punggung Souji yang perlahan-lahan menjauh. Gadis yang dipanggil Charlene ini mulai menatap nya dengan mata hangat sambil berkata dengan nada suara hangat.


“Terima kasih, Shimotsuki-dono” Ucap Charlene sambil mulai turun dari batu yang dia tempati sebelum nya.


Melihat ke arah batu itu sebentar, Charlene mulai berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu dengan suasana hati yang sangat baik dan dia berhasil mendapatkan tujuan baru dalam hidup nya.


Tentu saja, tujuan tersebut nantinya akan membuat Souji menjadi semakin membenci sesuatu hal yang berbau Isekai.


☆-----___-----___-----☆


Di saat yang bersamaan. Di salah satu kamar yang berada di Istana Ibu Kota Kerajaan [Groxia]. Kamar itu terlihat seperti kamar dari seorang bangsawan.


Di kamar itu juga terdapat banyak sekali boneka yang terlihat mirip satu sama lain. Boneka-boneka itu memiliki penampilan dari seorang pemuda berambut hitam dengan mata heterochromia berwarna Biru Langit di sebelah kanan nya dan Merah Darah di sebelah kiri nya. serta, ada juga beberapa boneka yang memiliki rambut yang berwarna putih.


Di sana juga terdapat seseorang yang sedang memandangi langit dari jendela kamar nya sambil memeluk salah satu boneka yang ada di sana. Orang ini adalah seorang gadis yang terlihat memiliki umur sekitar 17 tahun, dengan rambut panjang berwarna putih keperakan yang di gerai dan mata yang berwarna biru langit.


Gadis ini adalah salah satu Pahlawan yang dipanggil oleh Kerajaan Groxia dan dia merupakan salah satu yang terkuat dari Pahlawan yang ada di kerajaan ini. Gadis ini memiliki nama Aizawa Saki. Dia merupakan Siswa di sekolah Ryuuji Academy dan merupakan Ketua Osis di sekolah itu.


Saki saat ini sedang menatap bulan dalam keheningan dengan mata melankolis sambil memeluk salah satu boneka yang ada di sana dengan erat.


Setelah keheningan yang menenangkan selama beberapa menit, akhirnya Saki mulai membuka mulut nya dan berkata. “Souji... Aku benar-benar merindukan mu...” Ucap Saki dengan nada sedih sambil mengeratkan pelukan nya terhadap boneka itu dan mulai berguling-guling di atas kasur.


Setelah berguling-guling selama beberapa menit. Saki akhirnya mulai berhenti berguling dan mulai menatap langit-langit sambil berkata.


“Setelah semua masalah yang ada di sini selesai... Aku berjanji akan segera mengejar mu... Dan merebut mu kembali dari pencuri-pencuri sialan itu...” Ucap Saki dengan nada suara yang dipenuhi oleh kebencian.


“Lalu, setelah kita berdua bertemu kembali... Kita akan kembali menjadi seperti dulu lagi... Lalu... Lalu kita berdua akan...” Lanjut Saki dengan nada suara yang menjadi semakin mengecil dibagian akhir sambil mulai memeluk boneka yang sebelum nya dengan lebih erat.


Beberapa menit kemudian, Saki mulai menaruh boneka yang dia peluk tadi di samping nya dan mulai menarik selimut. Lalu Saki mulai membuka mulut nya dan berkata.


“Aku pastikan akan merebut mu kembali dari para pelacur yang menggoda mu itu Souji. Dan, setelah itu, kita berdua akan menikmati kehidupan yang bahagia bersama” Ucap Saki dengan nada nada hangat sambil mulai membelai boneka yang ada di samping nya itu dengan senyum hangat yang terpampang di wajah nya.


Beberapa saat kemudian, Saki mulai berhenti membelai boneka itu sambil berkata dengan nada suara yang hangat. “selamat malam Souji” Ucap Saki sambil mulai menutup mata nya.