Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 51 : Persiapan Pertempuran Di Ibu Kota dan Perjalanan Menuju [Mortem Forest]



Di gerbang Timur Ibu kota Kerajaan Groxia. Terdapat banyak sekali orang yang berkumpul di sana. Mereka semua terdiri dari Ksatria Kerajaan, Petualang dan Para Pahlawan.


Beberapa menit kemudian, akhirnya seseorang mulai menepuk tangan nya beberapa kali untuk menarik perhatian dari semua orang yang ada di sana.


Orang itu adalah seorang wanita yang terlihat berumur sekitar 20 tahunan. Dia memiliki rambut panjang selutut berwarna pirang keemasan yang ditata dengan gaya Ponytail dan diikat dengan sebuah pita berwarna kuning dan biru di ujung nya. Serta,wanita ini juga memiliki mata berwarna Cyan.


Ya, wanita ini bernama Iris Wollfrod. Dia merupakan Komandan Ksatria Kerjaan Groxia dan merupakan salah satu orang yang memiliki gelar [King/Queen] yang ada di benua ini, yaitu [The Queen of Thunder].


Melihat semua orang sudah mulai diam, Iris sedikit tersenyum, sebelum dia mulai membuka mulut nya dan berkata. “Perkenalkan saya adalah Iris Wollfrod. Komandan Ksatria Kerajaan sekaligus Kepala Keluarga dari Keluarga Wollfrod” Ucap Iris dengan tegas sambil sedikit membungkuk dengan anggun.


“Saya berada di sini untuk memimpin kalian semua dalam pertempuran kali ini. Musuh kita kali ini adalah segerombolan Monster berjumlah 10k yang sedang berjalan menuju kemari” Lanjut Iris sambil mulai meninggikan volume suara nya.


Iris berhenti sejenak untuk melihat reaksi dari semua orang. Akan tetapi, semua orang hanya tetap diam saja dan menunggu perkataan selanjutnya dari dia. Kecuali beberapa orang yang ada di dalam kelompok Pahlawan yang mulai saling berbisik.


Mengabaikan kelompok Pahlawan. Iris kemudian mulai membuka mulut nya lagi dan berkata. “Sebelum itu, aku ingin kalian semua mengingat satu hal ini terlebih dahulu. Yaitu, jika semua orang yang ada di bawah Komando ku tidak ada yang di istimewa kan sama sekali. Kalian semua sama di mata ku. Tidak peduli kalian itu prajurit, petualang atau pun... Pahlawan.” Ucap Iris dengan nada tegas sambil mulai terdengar mengejek di bagian akhir.


“Jadi, bagi kalian yang tidak bisa menerima perkataan ku sebelum nya. Dipersilakan untuk pergi dari tempat ini sekarang juga. Karena saya tidak membutuhkan anak-anak manja di bawah pasukan saya. Jika kalian masih belum keluar hingga pasir yang ada di jam ini habis. Berarti kalian bersedia mendengarkan perintah dari saya” Lanjut Iris sambil mulai mengambil sebuah jam pasir dan menaruh nya di atas meja yang ada di depan nya.


Kemudian, Iris mulai berjalan pergi untuk duduk di kursi yang ada di dekat nya sambil menunggu siapa saja yang akan pergi dari tempat ini.


.


.


.


Pasir yang ada di jam perlahan-lahan mulai menipis,. Melihat hal itu, iris sedikit tersenyum, sebelum dia mulai bangkit dari kursi nya dan berjalan menuju seorang gadis berambut putih keperakkan yang memiliki mata berwarna biru langit.


Sesampainya di depan gadis itu. Tanpa basa-basi Iris langsung membuka mulut nya dan berkata. “Apakah Anda tidak berniat untuk pergi dari tempat ini?” Tanya Iris dengan nada suara yang terdengar dipenuhi keterkejutan.


Walaupun begitu, bagi gadis berambut putih keperakkan ini, hal itu malah terdengar seperti hinaan dan membuat dia menjadi sangat kesal. Akan tetapi, dia tidak menunjuk kan nya dan mulai tersenyum sambil berkata.


“Tidak” Jawab gadis itu dengan singkat sambil mencoba untuk menahan amarah nya.


Mendengar jawaban dari gadis ini, Iris menjadi sedikit terkejut, sebelum senyum kejam mulai menghiasi wajah nya. Akan tetapi, dengan cepat dia langsung menyembunyikan nya dengan senyum hangat sambil berkata.


“Kalau bisa, bolehkah Anda memberitahu saya alasannya?” Tanya Iris dengan nada yang terdengar polos sambil memasang wajah tegas nya.


Mendengar pertanyaan dari Iris. Gadis itu mulai menjadi semakin kesal. Lalu dia mulai mengepalkan tinju nya dengan erat untuk memendam amarah nya sambil berkata. “Itu karena saya tidak bisa membiarkan mu menjauh dari penglihatan ku PELACUR” Ucap gadis berambut putih keperakkan ini dengan nada suara yang terdengar sangat kecil.


“Apa? Bisakah Anda mengulangi nya?” Tanya Iris dengan bingung, karena dia tidak mendengar jawaban yang diberikan oleh gadis yang ada di depan nya ini.


Mendengar hal itu, gadis ini menjadi semakin jengkel dan tanpa ragu dia langsung menjawab. “Tadi saya bilang. Kalau saya masih berada di sini, karena saya pikir ini adalah pilihan terbaik. Di tambah lagi, kita memiliki Komandan yang dapat diandalkan seperti Anda” Ucap gadis itu dengan nada ceria sambil tersenyum dengan polos ke arah Iris.


Mendengar jawaban dari gadis yang ada di depan nya ini, entah kenapa hal itu membuat Iris kesal. Memutuskan untuk mengakhiri candaan ini. Iris mulai berbalik dan berjalan pergi sambil berkata.


“Kalau begitu, selamat bekerja keras.... Aizawa-dono” Ucap Iris dengan nada main-main sambil melambaikan tangan nya.


Mendengar hal itu, gadis berambut putih keperakkan yang tidak lain adalah Aizawa Saki ini, dia mulai menjadi semakin kesal dan mulai mengepalkan tangan nya dengan frustasi. Karena dia tidak bisa melakukan apa pun, akibat diri nya yang lebih lemah dari pada Iris.


☆-----___-----___-----☆


Di saat yang bersamaan.


Di bagian Utara hutan [Groen Forest]. Di sana terdapat beberapa orang yang sedang berlari ke arah Utara dari hutan ini.


Lalu, salah satu dari mereka berempat mulai membuka mulut nya dan berkata. “Ngomong-ngomong Niji-san. Bolehkah aku bertanya sesuatu hal kepada mu?” Tanya Charlene sambil mulai menatap ke arah Niji.


Mendengar pertanyaan mendadak yang diberikan kepada nya, Niji menjadi sedikit terkejut. Tapi dia tidak menunjukkan ekspresi nya dan hanya tersenyum sambil menjawab. “Boleh” Jawab Niji dengan singkat sambil mulai mengalihkan pandangan nya ke arah Charlene.


Mendengar persetujuan dari Niji, tanpa ragu Charlene mulai kembali membuka mulut nya lagi dan berkata. “Apa ini Cuma perasaan ku saja, atau memang tidak ada monster apa pun di jalan yang kita ambil ini?” Tanya Charlene dengan nada ragu sambil mulai memperhatikan sekeliling nya dengan seksama.


“Karena setahu aku, hutan [Groen Forest] ini dikenal dengan banyak nya monster tingkat atas yang menghuni nya” Lanjut Charlene.


Niji langsung sedikit tertawa, ketika dia mendengar pertanyaan dari Charlene. Kemudian, dia mulai kembali menjadi tenang dan berkata.


“Tidak, bukan nya tidak ada monster di jalan yang sedang kita lalui ini. Sebenarnya jika kamu mempunyai skill tipe deteksi kehadiran, kamu pasti akan menyadari nya jika ada banyak sekali monster di sekitar kita” Jawab Niji sambil mulai tersenyum hangat ke arah Charlene.


Mendengar jawaban dari Niji. Charlen mulai memiringkan kepala nya ke samping karena bingung sambil berkata. “Lalu, kenapa kita tidak pernah bertemu dengan monster sama sekali? Bukankah hal itu benar-benar aneh?”  Tanya Charlene.


Mendengar pertanyaan dari Charlene, senyum hangat yang dimiliki oleh Niji menjadi semakin dalam, seakan-akan dia sekarang sedang berbicara dengan seorang anak-anak. Kemudian, dia mulai membuka mulut nya dan berkata.


“Alasan sebenarnya kita tidak pernah bertemu dengan mereka adalah, karena Darling sudah membunuh mereka terlebih dahulu sebelum monster-monster itu menyadari hawa keberadaan kita” Jelas Niji sambil menunjuk ke arah Souji yang sekarang sedang bernyanyi dengan gembira bersama Miyuki.


Melihat tingkah laku dari Souji dan Miyuki, Charlene hanya bisa menatap nya dengan ngeri saja. Karena, mereka berdua berjalan di hutan paling mengerikan yang ada di dunia ini dengan sangat santai, seakan-akan kedua orang ini sedang berjalan-jalan di hutan yang berada di dekat rumah mereka.


Bahkan Souji dan Miyuki mulai bernyanyi beberapa lagu yang tidak pernah di dengar oleh Charlene dengan penuh kegembiraan, dan hal itu membuat dia menjadi semakin kagum terhadap mereka berdua.


Walaupun begitu, Charlene masih bingung dengan apa yang dimaksud oleh Niji. Karena dia tidak melihat Souji mengayunkan pedang nya sama sekali dan hanya memegang nya saja sambil menggendong Miyuki di pundak nya.


Niji yang melihat, jika Charlene sedang kebingungan tentang apa yang dia katakan sebelum nya. Dia langsung tersenyum kecut sebelum mulai kembali membuka mulut nya lagi dan berkata.


“Lebih baik jangan terlalu dipikirkan. Bahkan aku saja tidak tahu bagaimana Darling melakukan hal itu” Ucap Niji sambil mulai mengalihkan pandangan nya kembali ke arah Souji.


“Di tambah lagi, ketika aku menanyakan hal itu kepada Darling. Dia hanya diam saja dan langsung meninggalkan ku tanpa menjawab nya sama sekali” Lanjut Niji.


Mendengar perkataan dari Niji, Charlene memutuskan untuk mengabaikan nya juga. Karena, jika Niji yang notabene nya ‘Istri’ dari Souji saja tidak diberikan jawaban. Apalagi dia yang bukan siapa-siapa bagi Souji, dia pasti tidak akan mendapatkan jawaban nya juga.


Kemudian, mereka berempat mulai terus berlari dalam keheningan yang menenangkan.


.


.


.


Beberapa menit kemudian. Souji tiba-tiba mulai berhenti berlari dan langsung memberi isyarat kepada kedua lain nya juga untuk berhenti. Kemudian, dia langsung menurunkan Miyuki dari pundak nya


Mereka berdua langsung berhenti dan menatap ke arah Souji dengan bingung. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Niji tiba-tiba langsung menyipitkan mata nya ke arah depan sambil berkata.


“Darling, biarkan aku yang mengurus makhluk yang ada di depan kita ini” Ucap Niji dengan nada serius sambil mulai berjalan maju menuju ke arah depan.


Tapi sayang nya, Souji langsung menghentikan Niji sambil berkata. “Tidak perlu. Aku yang akan membunuh makhluk ini. Kamu hanya perlu menjaga Miyuki saja di sini sampai aku kembali” Ucap Souji dengan santai sambil mulai melakukan peregangan.


Mendengar perkataan dari Souji, Niji langsung terkejut, sebelum dia mulai berkata dengan nada marah yang bercampur dengan kekhawatiran. "Tu-tunggu sebentar Darling!! Apakah kamu benar-benar berniat melawan makhluk yang ada di depan kita ini?! Dia lebih kuat dari mu tahu!!” Ucap Niji sambil mulai berjalan ke arah Souji.


Souji yang mendengar hal itu, dia hanya bisa tersenyum kecut saja, sebelum dia berkata. “Tenang saja, aku tidak akan mati. Jika makhluk yang ada di depan ku ini memang benar-benar lebih kuat dari ku. Kalau begitu, aku hanya perlu menggunakan 3 bentuk pertama dari teknik pedang ku saja, dan makhluk itu akan mati dalam hitungan detik” Ucap Souji dengan nada yang terdengar jengkel sambil mulai berjalan maju meninggalkan Niji yang masih terdiam membeku dibelakangnya.