Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 22 : Tujuan Baru Saki



Setelah Saki menceritakan yang sebenarnya kepada mereka berdua. Entah kenapa mereka berdua langsung memiliki raut wajah yang bermasalah.


Tapi yang paling bermasalah setelah mendengar hal ini adalah Asahi. Dia tidak menyangka siswa teladan yang baik dalam pelajaran dan olahraga, menciptakan sebuah rumor buruk Cuma karena cemburu. Dan parahnya lagi, rumor tersebut bahkan sampai membuat orang tersebut dikucilkan di sekolah.


“Aku tidak membutuhkan kekuatan ini... yang aku butuh kan hanya Souji saja...” Saki mengatakan hal itu sambil menggenggam erat bajunya, dan air mata yang jatuh dari matanya menjadi semakin deras.


Saat melihat hal itu, rasa sakit di kepala Asahi semakin menjadi-jadi. Dia memang kesal karena Saki membuat Souji terkena Bullying oleh semua orang yang ada di sekolah. akan tetapi, Saki juga merupakan sosok yang di butuh kan oleh seluruh siswa sekarang, dia bahkan sudah dianggap seperti seorang pemimpin di sekolah oleh para guru.


Karena hal itulah Asahi bingung harus melakukan apa.


Tapi kalau di pikir-pikir lagi, mungkin saja inilah alasan kenapa Shimotsuki-kun memutuskan untuk pergi. Dan juga mungkin saja Klub yang di buat oleh Nagisa waktu itu, berfungsi agar Shimotsuki-kun dapat berinteraksi dengan sekitarnya seperti orang normal.


Asahi memikirkan hal itu dengan keras, dan mulai menganggap bahwa Nagisa membangun Klub tersebut untuk membantu Souji.


Tapi sepertinya Asahi nanti akan di buat kecewa berat, pada saat mendengar alasan sebenarnya Nagisa membangun Klub tersebut.


Di sisi lain, ketika Arena mendengar hal itu. Dia langsung menutup mulutnya dan sedikit demi sedikit air mata keluar dari matanya.


Dia bingung kenapa dia bisa menangis hanya karena mendengar hal itu. Dan juga, dia di buat bingung dengan rasa sakit yang menjalar di dadanya ini.


Kenapa bisa aku menangis setelah mendengar cerita dari seseorang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali. Di tambah lagi, kenapa dadaku terasa sangat sakit saat mendengar tentang orang ini. Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali.


Tapi hanya satu hal yang pasti, jika aku tidak mencari tahu tentang hal ini, aku pasti akan menyesalinya selama sisa hidupku. Aku bersumpah, aku pasti akan menanyakan hal ini kepadanya.


Dia memikirkan hal itu sambil mengepalkan tangan nya.


Pada saat ini sepertinya Arena masih belum menyadari, bahwa pertemuannya dengan Souji di masa depan nanti, akan menjadi kenangan terbaik sekaligus terburuk bagi dirinya.


Setelah sekitar lebih dari 10 menit tidak ada yang berbicara, akhirnya Asahi membuka mulutnya untuk berbicara,


“Jadi, apa yang akan kamu lakukan mulai sekarang Aizawa-kun?” Asahi menanyakan hal itu sambil menatap tajam ke arah Saki.


Pada saat mendengar hal itu, Saki langsung menggenggam bajunya dengan lebih erat. Setelah sekitar 5 menit, Saki akhirnya mulai membuka mulutnya.


“Aku hanya ingin meminta maaf kepada Souji... bahkan jika dia tidak ingin memaafkan aku... aku tidak masalah, karena... tidak mungkin dia mau memaafkan orang sepertiku ini...” Saki mengatakan hal itu sambil mencoba untuk tersenyum.


Tapi mereka berdua tahu, bahwa Saki hanya berusaha mengatakan hal itu sebagai pelarian saja. Itu dapat terlihat dari nada bicaranya yang mulai bergetar ketika dia mengatakan hal itu.


Setelah melihat hal itu, Asahi dan Arena saling memandang dan mengangguk seperti sudah mengkonfirmasi akan sesuatu.


Asahi mulai berjalan maju ke arah Saki yang sedang terduduk di lantai dengan air mata yang masih mengalir sangat deras dari matanya.


Ketika melihat Asahi sedang berjalan menuju ke arahnya, Saki hanya menatap ke bawah dengan mata yang kosong, seakan-akan dia tidak ada di sana.


Setelah Asahi sampai tepat di depannya Saki, Saki sempat menoleh ke arahnya sebentar lalu kembali melihat ke bawah lagi.


Pada saat melihat hal itu, Asahi langsung mendecak lidahnya dan mulai berjongkok. Lalu dia mulai menatap Saki dengan tajam dan akhirnya mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


“Itu bukan salah mu saja saki, itu juga merupakan kesalahanku karena tidak menyadari hal itu sama sekali” Asahi mengatakan hal itu sambil menatap ke bawah.


Pada saat mendengar pernyataan dari Asahi, Saki langsung menatapnya dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


Tapi sebelum Saki bisa mengatakan sesuatu, Asahi langsung memotong nya dan mulai kembali berbicara.


“Tapi, yang harus kamu lakukan sekarang adalah menyusulnya dan meminta maaf kepadanya dengan benar” Asahi mengatakan hal itu dengan nada yang tegas sambil mengangkat wajah Saki ke atas, sampai berada tepat di depan wajahnya.


Pada saat mendengar hal itu Saki langsung menatap Asahi dengan mata yang membelalak, tapi setelah itu air mata yang keluar dari matanya malah menjadi semakin deras.


Ketika melihat hal itu, Asahi kembali mendecak lidahnya dan mulai kembali membuka mulutnya lagi untuk berbicara.


“Berhentilah menangis Aizawa-kun!! Kamu masih belum tahu jawabannya Shimotsuki-kun bukan? Kalau begitu, berhentilah menangis dan angkatlah kepalamu Aizawa-kun!! Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menjadi lebih kuat!! Lalu kamu tinggal mencarinya saja dan mengatakan apa yang kamu ingin katakan!! Apakah kamu mengerti?” Asahi mengatakan hal itu dengan nada suara yang terlihat jengkel.


Setelah mendengar hal itu, Saki langsung kembali menatap Asahi dengan mata membelalak. Lalu setelah jeda beberapa detik, dia akhirnya mulai membuka mulutnya dengan ragu.


“Apakah... Souji ingin... memaafkan orang seperti...ku?” dia menanyakan hal itu kepada Asahi dengan nada yang gemetaran.


Pada saat mendengar pertanyaan itu. Asahi langsung membuka mulutnya dan menjawabnya.


“Jika kamu menjelaskannya dengan baik-baik, Shimotsuki-kun mungkin akan mengerti” Asahi mengatakan hal itu sambil tersenyum dengan lembut ke arah Saki untuk meyakinkannya.


Pada saat mendengar jawaban itu, air mata yang keluar dari matanya Saki menjadi semakin deras. Akan tetapi, kali ini ada sebuah senyum tulus yang ada di wajahnya.


Pada saat melihat hal tersebut, kedua orang lainnya yang berada di sana mulai tersenyum dengan lembut ke arah Saki.


Setelah dia menghapus air mata nya dan mulai berdiri, lalu dia mulai berjalan menuju ke arah Asahi dan mulai membuka mulutnya.


“Kalau begitu, Ryuuji-sensei... apakah aku boleh meminta mu berlatih tanding denganku? Aku ingin secepatnya menjadi lebih kuat dan bertemu dengan Souji kembali!!” Saki mengatakan hal itu kepada Asahi dengan mata yang penuh tekad.


Pada saat Asahi melihat hal itu, dia langsung tersenyum ke arah Saki dan mulai membuka mulutnya.


“Kalau begitu, mari kita pergi ke aula pelatihan” Asahi mengatakan hal itu lalu berbalik dan mulai berjalan ke arah pintu.


“Baik!!” Saki mengatakan hal itu dan mulai mengikuti Asahi.


Jadi karena alasan itulah sekarang Saki sedang berlatih tanding dengan Asahi.


Aku pasti akan menjadi lebih kuat dan menyusulmu Souji, lalu aku akan meminta maaf kepadamu. Jika kamu menolaknya maka aku akan pergi menjauh dari mu. Tapi jika kamu menerimanya maka....


 Dengan pemikiran seperti itu, Saki kembali berdiri dan mulai melanjutkan latih tanding dengan Asahi.


☆-----___-----___-----☆


Pada saat yang sama, di suatu tempat yang berada di [Groen Forest]. Terdapat seorang makhluk yang sedang memperhatikan sesuatu dari balik kegelapan.


Makhluk tersebut sedang memperhatikan ke suatu tempat dengan sangat serius. Di tempat itu terdapat 5 orang wanita dan 1 orang laki-laki yang sedang pingsan.


Setelah sekitar 30 menit hanya menatap tempat tersebut, makhluk itu akhirnya mulai membuka mulutnya.


“Sepertinya, kita mendapatkan tangkapan baru hehehe”


Makhluk tersebut mengatakan hal itu sambil tersenyum dengan sangat kejam. Makhluk tersebut mulai berjalan secara perlahan menuju orang-orang yang berada di tempat yang dari tadi dia perhatikan.