Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Interlude : Siapa Anak laki-laki itu?



Di sebuah ruangan yang terdapat di dalam bangunan yang terletak di dekat kastil.


Terdapat seorang wanita yang sedang membaca sesuatu dengan wajah yang rumit.


“Jadi siapa sebenarnya makhluk yang mengeluarkan Aura membunuh seperti itu?”


Gadis ini bergumam sambil melihat tumpukan kertas yang berserakan di atas mejanya.


Jika di lihat baik-baik, dia memiliki wajah seperti seorang wanita berusia 20th lebih dengan rambut pirang dan mata berwarna biru muda yang indah.


Tok tok tok


Tiba-tiba ada sebuah ketukan di pintu, wanita tersebut langsung membereskan tumpukan kertas tersebut dan memperbaiki posturnya.


“Silakan masuk”


Pada saat dia mengatakan hal tersebut, pintu itu terbuka dan sesosok laki-laki masuk ke dalam.


Laki-laki tersebut memiliki wajah berusia sekitar 20th lebih, dia memiliki rambut pirang dan mata berwarna hijau. Laki-laki itu menyerahkan beberapa dokumen kepada wanita tersebut.


“Itu adalah...”


“Kamu benar Iris-san, ini adalah surat keluhan akibat getaran yang disebabkan oleh aura membunuh sebelumnya, kita diminta oleh Raja


untuk menyelidiki siapakah orang yang dapat mengeluarkan aura membunuh sekuat


itu”


“Kamu benar Jistav-kun, tapi sayangnya, pada saat aku sampai di sana, orang itu sudah menghilang dan semua orang yang waktu itu berada di tempat kejadian, hanya mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal saja. Apakah


mungkin mereka menjadi gila karena terkena tekanan aura membunuh dari jarak sedekat itu?”


Pada saat wanita ini yang dipanggil Iris menanyakan hal tersebut, orang yang berada di depannya yang memiliki nama Jistav hanya bisa diam saja.


Suasana di dalam ruangan tersebut menjadi sangat berat selama beberapa menit. Lalu Iris pun mulai bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela.


“Yang mulia bilang bahwa mereka itu Pahlawan bukan?”


“Ya itu benar”


“Tapi, bukankah mereka sama sekali tidak terlihat seperti Pahlawan?”


“Aku tidak bisa menyangkalnya sama sekali. Akan tetapi, ada seorang pahlawan yang memutuskan untuk pergi dari sini. Dia bahkan mengatakan bahwa Dewi Aurora adalah seorang pecundang yang memanggil orang lain untuk menyelesaikan masalah”


Pada saat Jistav mengatakan hal tersebut, Iris langsung menatap Jistav dan mulai berbicara sambil tersenyum.


“Aku berharap bisa bertemu dengannya”


“Sudah aku duga kamu akan tertarik dengan orang itu, tapi, aku juga sangat menantikan pertemuanku dengannya”


Saat mengatakan hal tersebut, mereka berdua langsung melihat ke arah langit dan berharap bisa bertemu dengan orang itu suatu hari nanti.


Walaupun begitu, aku masih penasaran dengan anak laki-laki yang aku temui waktu itu, tapi sayang sekali dia sudah pergi lebih dulu sebelum aku bisa menghentikannya.


Dia mengingat seorang anak laki-laki berambut hitam yang memiliki warna mata yang berbeda di masing-masing matanya, yang berpas-pasan dengannya waktu dia ingin memasuki Guild petualang.


Dan juga bukankah dia memiliki dua warna mata yang berbeda? Dan juga mata miliknya itu sangat indah, ti-tidak bukan itu maksudku, maksudku... ya bukankah orang dengan dua warna mata yang berbeda itu sangat jarang ada. walaupun begitu, kenapa aku tidak bisa melupakan anak laki-laki itu?


Tok tok tok


Pada saat dia sedang memikirkan anak laki-laki itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


“Silakan masuk”


Iris pun langsung berbalik untuk melihat orang tersebut.


“Jadi apakah dia sudah datang?”


“Ya”


“Kalau begitu, ayo kita pergi Jistav-kun”


“Baiklah, Iris-san”


Mereka berdua berjalan keluar dan meninggalkan ruangan tersebut.


☆-----___-----___-----☆


Di sebuah ruangan, ada empat orang yang sedang duduk, masing-masing dari mereka masih saling menatap.


“Jadi apakah kamu bia memberikan kami penjelasan tentang orang yang mengeluarkan aura membunuh sekuat itu, Guild Master.... Morgan”


Orang yang berbicara tersebut adalah seorang gadis berusia sekitar 20th lebih, dia memiliki rambut pendek berwarna pirang dengan mata biru yang indah.


Sedangkan orang yang dia tanyakan adalah seorang pria paruh baya berumur sekitar 40th lebih yang memiliki rambut cokelat dan bekas luka di matanya.


“Seperti yang sudah ku bilang waktu itu Kapten Ksatria Iris Wollfrod, aku tidak akan mengatakan apapun selain ciri-cirinya saja”


“Tetapi beritahu kami alasannya kenapa kamu menolaknya? Apakah Sang petualang peringkat S yang memiliki julukan Morgan Sang Monster Gila ini sudah menjadi penakut?”


“Dia benar Guild Master-san, apakah kamu sudah menjadi penakut?”


Seorang laki-laki yang duduk di sebelah Iris dan seorang gadis yang memiliki rambut dan mata berwarna cokelat serta menggunakan kaca mata yang duduk di sebelahnya morgan ini mencoba memprovokasi Morgan agar dia


berbicara.


Akan tetapi, jawaban yang di berikan oleh morgan ini sangat tidak terduga bagi kedua orang tersebut.


“Julukan itu hanyalah sebuah lelucon dihadapannya. Bahkan setiap kali kami bertatapan waktu itu... aku seolah-olah, tidak bukan hanya aku saja, tetapi kami semua yang berada di sana waktu itu merasa seperti sedang berada di telapak tangan anak laki-laki itu...”


Semua orang yang berada di dalam ruangan sangat terkejut setelah mendengar penjelasan dari Morgan. Karena mereka semua tahu seberapa kuat Morgan itu.


karena Morgan adalah mantan petualang peringkat S yang memiliki Julukan Morgan Sang Monster Gila dan jika dia orang yang bahkan tidak takut saat bertemu dengan Demon Lord sekalipun mengatakan hal itu, maka orang tersebut berarti sangat berbahaya.


“Bolehkah kamu menjelaskan seberapa besar perbedaan tersebut?”


Tetapi berbeda dengan dua orang tersebut, Iris mulai bertanya kepada Morgan tentang seberapa banyak perbedaan kekuatan yang dimilikinya dengan anak laki-laki itu, akan tetapi, jawaban yang di berikan oleh Morgan malah membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu membeku.


“Ak-aku tidak tahu seberapa kuat anak laki-laki itu. Karena pada saat aku ingin melihat status miliknya, aku tiba-tiba berpindah ke dalam sebuah tempat yang sangat gelap dimana hanya ada aku dan anak laki-laki itu saja, di


tempat itu aku merasa mata anak laki-laki itu berubah dan seakan-akan sedang menatap langsung ke dalam diriku... aku kira waktu itu aku akan mati, tetapi dia hanya berbisik saja kepadaku...”


“berbisik?” Iris bertanya sambil menatapnya dengan sangat tajam.


“Ya... anak laki-laki itu berkata seperti ini ‘Bukankah tidak sopan melihat status orang lain...Paman?’ suara anak laki-laki itu seakan-akan berasal dari jurang dan terus bergema di dalam kepalaku, i-itu mengerikan” Morgan mengatakan hal tersebut sambil memegangi kepalanya dengan gemetaran.


Mereka bertiga sangat terkejut, saat melihat seseorang yang dulu di juluki seekor Monster kini sedang gemetar ketakutan seperti seorang anak kecil.


Mereka bertiga saling memandang dan mengangguk, mereka sepakat untuk membiarkan Morgan tenang dulu baru melanjutkan pembicaraannya.


☆-----___-----___-----☆


Sudah sekitar 30 menit semenjak kami membiarkan Morgan untuk beristirahat, dia sekarang sudah sedikit tenang, walaupun tangannya masih sedikit gemetaran.


“Kalau begitu, mari kita lanjutkan”


Semua orang yang berada di sana mengangguk ringan saat Iris mengatakan hal itu, lalu Iris kembali menatap Morgan dan mulai bertanya kepadanya.


“Jadi apakah anak laki-laki ini... memiliki dua warna mata yang... berbeda?”


Pada saat Morgan mendengar pertanyaan itu, dia sangat terkejut dan langsung mengangguk sekuat tenaga.


Iris pun kaget saat mendengar hal tersebut, dia langsung mengambil sebuah kertas dan mulai menggambar wajah dari seseorang.


Mereka bertiga pun penasaran dan mulai memperhatikan Iris yang sedang menggambar sesuatu.


Beberapa menit kemudian Iris selesai menggambar dan dia kembali bertanya kepada Morgan sambil memperlihatkan apa yang dia gambar kepadanya.


“Apakah anak laki-laki yang memiliki dua warna mata yang berbeda itu memiliki wajah yang... seperti ini?”


Pada saat Morgan melihat lukisan tersebut, dia langsung gemetar ketakutan seperti sedang melihat akhir dunia dan mencoba mengangguk dengan sekuat tenaga.


Pada saat melihat reaksi Morgan itu, Jistav dan Ruru pun langsung melihat lukisan yang dibuat oleh Iris, mereka memperhatikan hal tersebut sambil memiringkan kepala mereka.


Setelah jeda beberapa detik, Jistav akhirnya bertanya kepada Iris dengan ragu.


“Iris-san... bagaimana kamu bisa tahu wajah dari anak laki-laki itu?”


Saat Jistav menanyakan hal itu kepada iris, dua yang lainnya juga mulai menatap Iris.


Setelah jeda beberapa detik, dia pun menjawab pertanyaan tersebut dengan santai.


“Karena aku sempat berpas-pasan dengan anak laki-laki ini di pintu masuk Guild, tetapi pada saat aku berbalik dan ingin menghentikannya, dia sudah pergi”


Pada saat Iris mengatakan hal tersebut, semua orang di dalam ruangan itu pun terkejut, tetapi orang yang paling terkejut adalah Jistav.


Dia terkejut bukan karena mengetahui bahwa Iris dan Anak laki-laki itu berpas-pasan, akan tetapi, itu karena dia mengenal anak laki-laki tersebut.


“Tu-tunggu sebentar”


“Ada apa?”


Pada saat Jistav mengatakan hal tersebut, semua orang yang ada di dalam ruangan melihat ke arahnya.


“Sepertinya aku mengenal anak laki-laki itu”


““Benarkah?!””


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut, bahkan Morgan yang sampai sekarang gemetar ketakutan saja sampai berdiri dari sofa.


Setelah jeda beberapa detik, dia mulai kembali berbicara.


“Anak laki-laki tersebut adalah...”