Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]

Finding Your Way Home In Another World With The Gender Change Skill/Shadow & The Jester [Remake]
Chapter 21 : Wanita Misterius (II)



Aku perlahan-lahan membuka mataku, lalu pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah sebuah langit biru yang sangat luas.


“Uhh... Di mana aku?” aku menggumamkan hal itu sambil mengelus mataku.


Pada saat aku menggumamkan hal itu, tiba-tiba ada seseorang yang menjawab gumaman ku itu.


“Selamat Pagi Darling”


Pada saat aku menoleh ke arah suara itu berasal, di sana terdapat seorang wanita yang sedang tersenyum ke arahku.


Wanita tersebut berumur 20 tahun, dia memiliki rambut panjang yang berwarna putih dengan mata berwarna ungu. Wanita itu juga mengenakan kimono mewah berwarna hitam dan ungu bergaya yukata, selanjutnya pegangannya memiliki embel-embel putih.


Ahh... sekarang aku mengingatnya. Ternyata ini bukan mimpi yah?


Ya itu benar, wanita ini adalah Niji. Dia sepertinya sudah kembali ke wujud sebelumnya. Tapi bukankah dia sebelumnya mengenakan sebuah Gaun? Kenapa dia sekarang jadi mengenakan sebuah kimono? Ahh aku benar-benar tidak mengerti...


Karena aku tidak menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, jadi aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya.


Huhh...


Aku menghela nafas berat dan mulai menatap ke arah Niji. Pada saat dia melihat aku menatapnya, Niji mulai tersenyum dengan lembut.


Entah kenapa, dia sekarang terlihat seperti seorang anak kecil. Jadi aku secara refleks mengelus kepalanya sambil tersenyum lembut kepadanya.


“Uwoww!! Da-dar-darling mengelus kepalaku!! Aku benar-benar sangat senang!! Tidak apa-apa jika aku harus mati sekarang” dia mengatakan hal itu sambil memegangi pipinya yang memerah.


Saat melihat hal itu, aku tanpa sadar tertawa. Pada saat Niji melihatku tertawa, dia mulai memiringkan kepalanya ke samping karena bingung.


“Ada apa Darling?”


Ketika Niji menanyakan hal itu, aku langsung berhenti tertawa dan mulai membuka mulutku.


“Selamat pagi juga Niji” aku mengatakan hal itu sambil tersenyum dengan lembut.


Ketika melihat aku tersenyum dengan lembut ke padanya, entah kenapa Niji langsung memalingkan wajahnya dariku dan mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat hal tersebut, aku tanpa sadar kembali tertawa lagi. Ketika Niji melihatku tertawa lagi, dia mulai mengembungkan pipinya dan mulai menatapku dengan tajam.


Setelah sekitar 5 menit, aku akhirnya mulai kembali membuka mulutku lagi.


“Jadi sekarang kita sedang berada di mana Niji?” aku menanyakan hal itu sambil melihat sekeliling.


Ketika mendengar pertanyaan dariku. Niji langsung berhenti menatapku dan mulai berdiri, lalu dia mulai berjalan menuju ke kursi yang sebelumnya dia duduki. Aku juga mulai bangkit dan mengikutinya, lalu aku berjalan menuju ke kursi yang sebelumnya aku tempati.


Setelah kami berdua duduk. Niji mulai menuangkan teh ke gelas yang berada di depanku. Entah kenapa, ketika dia melakukan hal itu, dia terlihat sangat menawan.


Pada saat dia selesai menuangkannya, dia mulai kembali duduk dan akhirnya dia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


“Apakah kamu tidak marah jika aku memanggilmu ‘Darling’?” dia menanyakan hal itu sambil menatapku dengan mata khawatir.


Pada saat melihat hal itu, entah kenapa dia semakin terlihat mirip dengan kakak perempuanku. Mungkin karena hal itulah aku tidak terlalu peduli lagi tentang dia memanggilku “Darling”.


Apakah ini benar-benar sebuah kenyataan? Atau hanya sebuah mimpi saja? Aku benar-benar sudah tidak peduli lagi. Tapi, hanya satu hal saja yang pasti.


Dengan pemikiran seperti itu, aku mulai membuka mulutku.


“Terserah, aku sudah tidak peduli lagi” aku mengatakan hal itu dengan acuh.


Lalu pada saat mendengar hal itu, Niji langsung terkejut. Dia sepertinya tidak menyangka jika aku akan menerimanya semudah itu. Sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, aku langsung memotongnya dan melanjutkan kata-kataku.


Pada saat mendengar pernyataan ku itu. Niji langsung terkejut dan menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang.


Aku langsung memiringkan kepalaku ketika melihat hal itu.


Dia mulai gemetaran dan menatap mataku dengan mata yang seakan-akan mengatakan “Apakah kamu akan pergi?”. Ketika melihat hal itu, aku langsung tersenyum dengan lembut ke arahnya sambil mulai membuka mulutku.


“Aku Cuma ingin tahu kita sedang berada di mana sekarang, tapi jika kamu tidak ingin memberitahunya yah tidak apa-apa” aku mengatakan hal itu dengan nada bicara yang seakan-akan tidak peduli.


Pada saat melihat hal itu, Niji mulai menggenggam erat bajunya sambil menatap ke bawah. Entah kenapa dia terlihat kesal akan sesuatu.


Setelah jeda sekitar 5 menit, dia akhirnya mulai membuka mulutnya dan berbicara.


“Darling, apakah kamu akan membenciku jika aku menjawabnya dengan jujur?” dia menanyakan hal tersebut dengan nada yang gemetaran.


Pada saat melihat hal tersebut, aku mulai menatapnya lagi dengan tajam. Ketika dia menyadari tatapan dariku, dia langsung mengalihkan pandangannya dariku, dan mulai menatap ke bawah sambil menggenggam bajunya dengan lebih erat.


Setelah jeda sekitar 5 menit, aku mulai membuka mulutku.


“Kenapa aku harus membencimu?” aku menanyakan hal itu dengan nada heran kepada Niji.


Ketika mendengar hal itu, Niji langsung terkejut dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


“Neh apakah kamu tidak marah padaku? Aku membuat kontrak pernikahan secara sepihak denganmu tahu!! Kontrak tersebut bahkan tidak dapat di putus oleh siapa pun!! Apakah setelah mendengar hal itu kamu masih tidak marah padaku!!” Niji mengatakan hal itu dengan nada marah.


Lalu saat dia mengatakan hal itu, air mata mulai jatuh sedikit demi sedikit dari matanya. Ketika melihat hal itu aku langsung terkejut. Aku tidak percaya dia memiliki ketakutan seperti itu, dan entah kenapa dia terlihat mirip denganku ketika aku masih kecil dulu.


Ketika aku mengingat kenangan tentang masa kecilku, tanpa sengaja aku mulai mengelus kepalanya lagi.


Pada saat aku melakukan hal itu, entah kenapa air mata yang terjatuh dari matanya menjadi semakin deras dan dia mulai memelukku dengan erat.


Lalu aku mulai membuka mulutku untuk berbicara.


“Tidak apa-apa, kamu sudah tidak sendirian lagi sekarang” aku mengatakan hal itu sambil mengelus kepalanya.


Ketika dia mendengar pernyataan dariku, entah kenapa tangisannya menjadi semakin keras, dan dia mulai memelukku dengan lebih erat.


Pada saat melihat hal tersebut, aku memutuskan untuk membiarkannya seperti ini hingga dia berhenti menangis.


☆-----___-----___-----☆


Di sisi lain ketika Souji terbangun di hamparan padang rumput yang luas. Di suatu tempat yang ada di kastil. Terdapat suara dentingan logam yang terus berbunyi.


Desing! Desing!


Suara tersebut terus menggema di tempat itu. Akhirnya ada suara lain selain dentingan logam yang terdengar.


“Aizawa-kun ada apa denganmu?! Jika kamu seperti ini terus, kamu tidak akan pernah berubah!!”


Suara tersebut berasal dari salah satu orang yang berada di sana. Orang tersebut adalah seorang wanita berumur 25 tahun, dengan rambut pendek hitam dan mata yang berwarna biru muda. Dia adalah Ryuuji Asahi.


“Aku tahu!!”


Lalu orang yang menjawab pertanyaan tersebut adalah seorang wanita berumur 17 tahun, dengan rambut putih yang di ikat ke samping dan mata berwarna biru muda, dia adalah Aizawa Saki.


Jika kalian ingin mengetahui alasan kenapa mereka berdua sedang berduel sekarang. kalau begitu, mari kita kembali ke beberapa waktu yang lalu sebelum duel ini di mulai.