Duda, I Love You

Duda, I Love You
Honeymoon (Day 2)



Semalam, setelah mendengar penjelasan suaminya, Aquarabella jadi tahu alasan apa yang menyebabkan menjadi pemarah. Pria itu juga tidak mudah jatuh cinta, kecuali dengan Belinda. Entah, cinta apa yang diberikan pada wanita itu.


Pagi ini, Zack sengaja mengajak istrinya untuk menuju ke pantai yang tak jauh dari hotel. Suasananya masih segar karena Zack sengaja mengajaknya lebih pagi agar leluasa untuk memberikan sisi romantisnya pada sang istri.


Zack menggandeng mesra tangan istrinya ketika sudah berada di pinggir pantai. Masih sepi, biasanya baru ramai setelah sarapan pagi. Zack sengaja datang lebih pagi untuk mencari restoran terdekat di sana.


"Apa kamu tahu, perbedaan usia kita menjadikanku seperti sugar daddy," ucap Zack ketika sudah berjalan beberapa langkah di tepi pantai.


"Apakah aku harus memanggilmu Om atau Daddy? Seperti itu?" tanya Aquarabella.


Sepertinya akan banyak pasang mata yang cemburu padaku. Aku mendapatkan pria setampan ini. Dia pria langka memang. Di saat yang lain mengobral cintanya, dia malah bersikap seperti itu semenjak terluka karena pengkhianatan calon istrinya.


"Tidak menarik!"


"Lalu, apa?" ucapnya seraya melirik suaminya.


"Honey, my love, atau apalah," saran Zack.


Aquarabella menghentikan langkahnya. Dia melepas tangan suaminya. Telinganya geli mendengar permintaan suaminya yang sangat lucu itu.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan?"


"Tentu saja, kalau aku pingsan tidak akan sampai ke sini dengan menggandeng tangan istriku."


"Dua panggilan itu sangat menggelikan di telingaku, Zack!"


Zack malah melotot tajam pada istrinya. "Kamu itu curang sekali. Aku selalu bersikap romantis padamu, namun apa balasanmu kepadaku? Jangankan berkata manis, kadang bersikap pun seperti itu. Apa kamu butuh bimbingan les privat supaya bisa bersikap romantis pada suamimu ini, hah?"


Aquarabella sudah terbiasa dengan sikap Zack yang naik turun itu. Dia juga tidak gentar ketika merasa terpojok. Bagaimana pun, Aquarabella mempunyai sisi romantis tersendiri kalau dia mau.


"Tak perlu belajar, Tuan Zack. Cukup selalu bersamamu, sisi romantisku akan keluar secara alami!"


Aquarabella melangkah lebih dulu untuk mengambil air. Dia sengaja akan membasahi suaminya supaya pria itu semakin kesal. Apalagi keduanya belum sarapan pagi, jelas saja omelan Zack akan panjang sekali.


"Ara, hentikan! Aku bisa basah semua," protesnya.


Tentu saja gadis itu malas menanggapi keasyikan yang sedang dilakukannya saat ini. Zack semakin kesal karena sebagian kausnya sudah basah karena ulahnya. Tak berselang lama, Zack menarik gadis itu kemudian menggendongnya.


"Auw, Zack!" Aquarabella terkejut. Sesaat setelah itu dia mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Kalau tidak seperti ini, kamu tidak akan berhenti. Bajuku bisa basah semua!"


Zack bukannya tidak ingin bermain air, tetapi dia malas saja karena belum sarapan pagi. Niatnya ingin berkeliling menikmati kebersamaannya dengan sang istri. Zack baru menurunkan Aquarabella tepat berada di depan restoran. Untung saja beberapa orang di sana tidak terlalu memperhatikan tingkah sepasang suami istri ini. Kalau saja mereka berkomentar, tentu saja akan mengatakan kalau dunia hanya milik mereka berdua, yang lain numpang.


"Turun dan pesanlah sarapan untuk kita! Aku mau ke toilet sebentar," pamit Zack.


Aquarabella menuruti semua permintaan suaminya. Memang dia bermain air, namun tidak basah seperti suaminya. Di dalam, Aquarabella secepatnya memesan kemudian duduk santai menikmati pemandangan luar biasa. Restoran yang konsepnya menghadap ke laut itu sangat keren karena sambil makan, bisa melihat beberapa orang bahkan pemandangan laut yang luar biasa.


Suasana sarapan pagi sedikit aneh, pasalnya suaminya sudah ganti baju. Dia tidak memakai baju sebelumnya yang basah itu.


"Zack, kamu pakai baju siapa?"


"Beli. Habisnya kamu keterlaluan, sih!"


"Ck, lebih penting makanan daripada aku rupanya!" gerutunya.


"Ehm, aku pura-pura tidak dengar saja. Sayang kalau sampai dilewatkan!" balas Aquarabella yang tak kalah sengitnya.


"Hemm, awas saja. Kalau sudah waktunya, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku!" sumpah Zack di hadapan istrinya.


"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menyerah dan mengibarkan bendera putih? Apa kamu berani bertaruh, Tuan Zack?"


Entah rencana apa yang akan dipikirkan perempuan muda itu. Zack tidak bisa menebaknya. Terkadang membuat kesal dan terkadang sangat cepat sekali untuk dirindukan.


"Hemm, terserah padamu. Aku mau menikmati sarapan pagiku dulu."


...🍃🍃🍃...


Kamar hotel menjadi destinasi terakhir mereka setelah lelah berjalan-jalan. Mereka terlihat sangat bahagia sekali walaupun sedikit kendala kecil. Terkadang saling mengejek seperti anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya.


"Ara, pergilah mandi! Segarkan dirimu, setelah itu kita akan berbicara," ucap Zack yang duduk di sofa kamar itu dengan menyilangkan kakinya.


"Apalagi yang perlu dibicarakan, Zack. Bukankah semuanya sudah selesai? Hanya bertaruh saja yang belum kita tentukan. Apa kamu lupa?"


"Tidak, tetapi kamu yang lupa! Apakah kamu melupakan permintaan mamaku?"


Deg!


Padahal Aquarabella sengaja berpura-pura melupakannya. Dia tahu, tujuannya untuk berbulan madu memang untuk itu. Namun, Aquarabella sengaja agar suaminya itu terkesan memintanya lebih dulu.


"Memangnya mama meminta apa? Kalau hanya oleh-oleh, kita bisa beli satu hari sebelum kembali ke rumah," ucap Aquarabella masih dengan kepura-puraannya.


Zack berdiri. Dia sengaja memang untuk memojokkan istrinya. Dia mendorong gadis muda itu ke tembok dan menguncinya di sana. Semua dilakukannya hanya untuk membuat gadis itu tidak berpura-pura lagi.


"Zack, a-apa yang kamu lakukan?"


"Memulai bertaruh, Ara. Kamu gadis cerdas dan jangan berpura-pura kalau lupa dengan permintaan mama. Mau kupaksa atau menyerah secara sukarela?" ucap Zack yang kebetulan posisinya hanya berjarak lima centimeter di hadapan istrinya. Sedikit saja, bibir itu bisa menyambar lawan bicaranya.


"Ingat, jangan mengancamku! Aku bisa saja menelepon daddy dan memintanya menurunkan jabatanmu dari Tuan CEO menjadi OB," balasnya.


"Aku tidak peduli, Ara! Lagi pula, kalau aku menjadi OB, aku tetap menjadi suamimu. Apa daddy mertuaku itu tidak merasa malu menurunkan jabatan menantunya? Apa kata media massa?"


Sial, kenapa Zack sekarang jauh lebih cerdas daripada aku? Dia bisa bermain kata-kata sekarang.


"Cukup, Zack! Mundur atau aku akan-"


"Akan apa? Beberapa centimeter, bibirku akan maju untuk membuatmu kewalahan. Ingat, aku sudah lama tidak melakukannya. Jangan permainkan aku!" ancam Zack.


Tinggal satu centimeter saja, Zack bersiap untuk melahap mangsanya. Aquarabella menutup matanya perlahan. Entah, jantungnya mulai tidak singkron. Faktanya, mulutnya menolak, namun hati dan perasaannya menginginkan lebih. Sementara Zack terus saja menggoda istrinya itu. Dia sudah berjanji untuk tidak melakukan apapun sebelum istrinya dengan suka rela menyerah padanya. Maka dari itu, Zack akan gencar menggodanya sampai istrinya menyerah.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren ini. Bisa marathon, tuh. Yuk meluncur ke sana. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟. Terima kasih