
Pasca pengusiran Ernest dan permintaan Honey untuk keluar dari rumahnya sudah ditolak mentah-mentah oleh Zack. Malam ini, dia sengaja pergi ke Club malam karena setres menghadapi kenyataan hidupnya yang selalu pahit. Perceraian dengan Scarlett Alfie membuatnya menjadi pria kasar. Kekasihnya yang bernama Belinda juga telah membuat kepercayaannya terhadap wanita luntur begitu saja. Pengkhianatan wanita itu dengan Ernest tidak bisa ditoleransi lagi.
Zack pergi dengan temannya, Fergie Gladwin. Fergie merasa aneh pada pria itu. Sudah lama memang, Zack tidak pernah lagi pergi ke Club malam seperti sekarang ini. Suasana musik bising membuat pembicaraan mereka sedikit berteriak dari ukuran manusia biasa.
"Tumben kamu pergi ke sini? Bukankah kamu ingin tobat untuk tidak mabuk lagi?" selidik Fergie dengan suaranya yang di atas rata-rata.
"Aku hanya ingin minum. Aku kesal dengan Belinda, Ernest, dan pelayan jelekku itu. Mereka semua pembangkang dan sudah berani melawanku," teriak Zack yang sedikit mabuk. Pria itu melampiaskan kekecewaannya pada orang-orang terdekatnya yang penuh dengan pengkhianatan.
"Wah, ini pelampiasan begitu?" tanya Fergie lagi.
"Iya, aku kesal pada mereka. Mereka sangat kurang ajar. Sulit sekali dikendalikan!" balas Zack. Dia sedari awal masuk sudah memesan beberapa gelas minuman beralkohol. Kekesalannya memuncak dan butuh pelampiasan.
Setelah menenggak minuman di gelas pertama yang telah habis, Zack memintanya lagi dan lagi. Rasanya entah sudah berapa banyak dia minum. Fergie yang melihatnya jadi tidak tega untuk ikutan mabuk. Dia harus menyelamatkan Zack dari jeratan wanita malam yang akan menghancurkan hidupnya lebih dalam lagi.
"Zack, sebaiknya kuantar pulang. Kamu sudah banyak minum hari ini," ucap Fergie.
Zack tidak mempedulikan ucapan temannya itu. Dia terus saja meminumnya. Sesekali dia menggerutu pada pelayannya.
"Hemm, k-kau juga sama seperti mereka ... dasar ... pelayan!" racaunya.
Fergie terkejut dengan perubahan sikap Zack. Tidak biasanya dia segila ini dan menghabiskan beberapa minuman. Sebelum mengantarkan Zack yang sudah mabuk parah itu, Fergie terpaksa harus membayarkan semua minumannya.
"Ck, kamu menyusahkanku saja. Kamu berutang banyak padaku. Kalau sudah sadar, aku akan menagihnya."
Fergie membiarkan mobil Zack terparkir di sana. Dia mengantarkan Zack menggunakan mobilnya sendiri. Di dalam mobil, Zack semakin meracau tidak jelas. Dia masih dikuasai kekesalannya seharian ini.
"Kalian pem-bang-kang!" Lagi-lagi Zack meracau.
"Dasar bodoh! Wanita gila!" racaunya lagi.
Apa maksud Zack? Apakah ini tentang pelayan itu atau orang lain lagi?
Hari semakin larut. Suasana rumah keluarga Leoline sangat sepi. Setelah melewati gerbang penjagaan, Fergie menekan bel rumah itu. Kebetulan pelayan Zack masih belum tidur. Honey memang sangat kesal pada Tuannya. Seharian ini, pria itu tidak mau berbicara dengannya sama sekali.
"Honey, tolong bantu aku membawa majikanmu ini ke kamarnya," pinta Fergie.
"Kenapa dia mabuk, Tuan?" tanya Honey.
"Dia sedang marah. Entah ada kejadian apa yang membuatnya seperti ini," jawab Fergie.
"Honey, tolong lepaskan sepatunya. Aku langsung pamit ya, esok hari katakan kalau mobilnya masih berada di Club. Setelah ini, jangan lupa kunci pintunya," pesan Fergie.
"Terima kasih, Tuan," ucapnya.
Honey melepas sepatu Zack secara perlahan. Pria itu sepertinya langsung ke Club malam sepulang kerja. Setelah sepatu, dia berinisiatif melepas dasinya.
Hampir saja selesai, Zack menarik tangan Honey dan memeluknya dengan erat. Pria itu masih dikuasai ketidak sadarannya karena pengaruh alkohol. Entah karena sebuah has*at yang membuatnya seperti itu. Zack mencium paksa Honey. Gadis itu sudah memberontak meminta dilepaskan. Namun, Zack memeluknya dengan sangat erat.
"Lepaskan, Tuan!" teriak Honey.
Lagi dan lagi, pria itu membungkamnya dengan ciuman yang tiada henti. Pemberontakan Honey membuat Zack semakin bersikap kasar padanya. Secara tidak sadar, Zack telah membalik keadaan membuat Honey berada dalam kungkungannya.
Zack mulai melucuti paksa baju yang dipakai pelayan itu. Dia juga melemparkan kacamata Honey secara asal. Benar-benar dalam keadaan terjepit. Honey berusaha mendorong Zack dengan tenaganya. Sayang, usahanya sia-sia. Malam yang hening membuat Zack terus melampiaskan amarahnya.
"Tu-tuan, lepaskan!" Honey masih berusaha lagi.
Zack terus saja menyerang pelayan itu. Setengah sadar, Zack seperti melihat bayangan Aquarabella. Zack tidak menghentikan aktivitasnya sampai pada sebuah hal penting yang membuat Aquarabella menangis malam itu.
Semuanya terlambat. Zack sudah merenggut semuanya. Malam ini menjadi akhir kisah Honey di dalam rumah keluarga Leoline. Zack dengan gerakan ganasnya terus saja membuat Honey tidak bisa berbuat banyak. Pria itu bahkan menumpahkan berkali-kali cairan bening ke dalam inti gadis itu. Jangan lupakan satu hal, sprei kamar itu telah meninggalkan noda merah di sana. Ulah Zack meninggalkan jejak.
Selesai melakukan kesalahan satu malam itu, Zack tertidur pulas. Dia masih pusing akibat minum terlalu banyak. Honey merasakan tubuhnya remuk dan tak berdaya. Kehormatannya hilang di tangan majikannya sendiri. Benar-benar merupakan penderitaan baru bagi Honey. Tanpa menunggu esok hari, Honey mengambil beberapa barangnya yang berserakan di lantai kamar itu. Bergegas dia memakai pakaian. Malam ini, dia belum berani pulang ke rumahnya. Dia harus mencari tempat lain untuk sementara waktu sampai nyeri yang dirasakan itu perlahan menghilang.
"Kamu menyakitiku, Zack," ucapnya dengan air mata berlinang.
Kecewa, tentu saja sangat kecewa. Honey menyelinap keluar dari rumah keluarga Leoline di malam hari. Dia juga berhasil mengelabui penjaga rumah itu.
Kabur, tentu saja. Dia harus secepatnya menghilang dari hadapan Zack. Pria itu telah memaksanya menyerahkan bagian berharga dalam hidupnya. Aquarabella dirundung kepedihan yang mendalam.
"Kamu menyakitiku, Zack. Kamu mengambil paksa milikku. Aku membencimu," gerutunya. Dia berhasil keluar dari rumah itu dan menuju ke sebuah hotel untuk tinggal di sana selama beberapa hari.
Aquarabella menyesal tidak menuruti kata Mommynya. Sekarang dia mengkhawatirkan satu hal. Kalau sampai dia hamil, apa yang akan dikatakan pada daddy dan mommynya? Bisakah dia mengaku kalau dipaksa? Atau, dia akan menceritakan semuanya? Itu jelas tidak akan mungkin. Daddynya pasti langsung marah padanya.
"Aku harap setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi, Zack. Cukup malam ini saja, kehidupanku sudah hancur. Aku akan menutup diriku untuk orang lain. Lagi pula, siapa yang mau denganku setelah kejadian ini?" Aquarabella dilanda kesedihan yang sangat mendalam.
Menjaga kehormatannya selama ini sudah dilakukannya. Namun, seorang pria berumur yang sangat dibencinya itu malah mengambil yang bukan haknya. Setelah ini, Aquarabella akan memiliki trauma yang begitu dalam. Dia juga enggan untuk membuka hatinya untuk orang lain.