Duda, I Love You

Duda, I Love You
Hari Yang Aneh



Kepergian Honey membuat Zack harus mandiri. Dia tidak lagi meminta pelayan baru untuknya. Dia berusaha mandiri dan tidak menggantungkan kebutuhannya pada orang lain. Zack juga pernah memerintahkan orang untuk mencari keberadaan Honey. Namun, segala penjuru kota maupun ke perkampungan sudah dicarinya. Tidak ditemukan keberadaan pelayan pribadinya itu.


Hari ini Zack ingin bersantai. Dia menikmati hari liburnya di rumah saja. Ada satu hal yang masih mengganjal di benaknya. Zack harus ke ruang kerja dan melihat CCTV di sana.


Berada di meja kerja dan mengutak-atik komputer untuk melihat kejadian beberapa hari yang lalu. Zack melihat kedatangannya diantar oleh Fergie. Setelah sampai ruang tamu menuju kamar, terlihat samar. Namun, sangat jelas kalau itu Honey.


Zack tak ingat berapa lama gadis itu berada di kamarnya. Namun, beberapa jam kemudian, Honey terlihat pergi dengan membawa beberapa tasnya.


"Rupanya dia langsung pergi pada malam itu juga. Tunggu, bagaimana mungkin aku melakukannya dengan Honey? Oh ya ampun. Kalau mama sampai tahu, bisa habis aku. Aku harus bertemu dengan Fergie. Mungkin saja dia bisa menjelaskan semuanya.


Zack beranjak dari ruang kerjanya untuk kembali ke kamarnya. Sebelum mencapai kamarnya, dia bertemu dengan Beatrix. Wanita itu menelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada sedikit perubahan. Penampilannya bisa dibilang semakin wow.


"Zack, tumben baru potong rambut?" selidik Beatrix.


"Hemm, tumben Mama perhatian padaku?" balasnya.


"Ya, hanya sedikit saja. Apa ini karena kepergian Honey kamu ingin berubah?"


"Tidak ada hubungannya dengan pelayan kampungan itu, Ma."


"Kalau sampai kamu yang melakukannya pada pelayan itu, kamu harus bertanggung jawab. Penampilan seseorang bisa diubah, Zack. Honey cukup dengan make over sedikit, selesai masalah."


Omongan Mama sudah tidak jelas arahnya mau ke mana. Sebaiknya aku pergi sekarang.


"Maaf, Ma. Aku ada urusan dengan Fergie. Mungkin sore baru pulang," pamitnya.


"Ya, ingat lekaslah menikah lagi. Agar urusanmu tak jauh-jauh dari kamar dan rumah," canda Beatrix.


Zack tidak mempedulikan ucapan mamanya. Dia bergegas masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya. Memang benar ucapan mamanya. Setelah Honey pergi, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Bukan masalah cinta ataupun hati, tetapi kebiasaan pelayan itu menyiapkan segala keperluan Zack. Dia juga menjadi partner bertengkar Zack hampir setiap hari. Tapi pelayan itu tidak menyerah. Seperti menjadi lawan yang seimbang untuknya.


"Kenapa aku jadi seperti ini, sih? Melepaskan Belinda begitu mudah, tapi pelayan itu? Aku tidak cinta memang. Ish, mana mungkin aku mencintai pelayan jelek sepertinya."


Zack hampir lupa tujuannya untuk ke kamar adalah hendak mengambil ponsel dan menelepon Fergie untuk membuat janji temu makan siang bersama.


"Oh ya ampun. Gara-gara memikirkan pelayan itu aku hampir lupa untuk mengambil ponselku."


Zack mengambil ponsel, mendial nomor Fergie untuk membuat janji makan siang.


"Ya, Zack. Ada apa?" sapa Fergie.


"Kamu sibuk hari ini?"


"Tidak, aku sedikit longgar. Ada apa?" tanya Fergie.


"Aku mengajakmu makan siang. Ada yang ingin dibicarakan. Hanya masalah kecil," ucap Zack.


"Oke. Restoran XY jam 12 siang."


Tuuttt...


Fergie menutup teleponnya secara sepihak karena harus mengurus kliennya.


"Ck, dasar! Aku belum selesai bicara sudah main tutup teleponnya saja," gerutu Zack.


...🍒🍒🍒...


Restoran XY jam 12 tepat, Zack sudah berada di sana. Hampir saja dia kesal karena Fergie tak kunjung datang.


"Hai, Brother! Kupikir kamu akan datang terlambat. Rupanya lebih dulu dariku," sapa Fergie. Dia mengambil tempat duduk tepat di depan Zack. "Ada apa?"


"Kamu pasti mengetahui sesuatu, kan?"


"Aku tidak tahu apapun. Yang kutahu, kamu mabuk, aku harus membayar semua tagihan minumanmu, dan mengantarmu pulang."


"Nah, itu poin pentingnya. Kamu pesan makanan dulu. Kau juga belum makan," ucap Zack.


Fergie memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan. Setelah itu, dia melanjutkan obrolannya yang sempat diputus.


"Apakah terjadi sesuatu malam itu?" selidik Fergie.


Terkadang ketika mabuk, jangankan Zack, Fergie pun terkadang tidak terkendali. Ada saja ulahnya yang membuat orang lain kesal.


"Iya. Siapa yang kamu minta untuk mengantarkanku masuk ke kamar? Aku pikir kamu tidak akan bisa mengantarkanku sampai ke kamar seorang diri."


"Pelayan pribadimu."


Deg!


Sudah diduga. Dia tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Pastilah pelayan itu yang semalam bersamanya. Sebenarnya Zack tidak bisa menerimanya, tetapi bagaimana lagi. Semuanya sudah terlambat. Dia juga sudah menghilang. Perasaan Zack semakin kacau memikirkannya. Hari-harinya diliputi rasa bersalah.


"Dia menghilang, Fergie. Setelah kejadian malam itu," jelas Zack.


"What? Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku tidak sengaja telah ti--"


"Silakan, Tuan!" ucap pelayan yang baru saja mengantarkan makanan.


"Terima kasih," jawab Zack.


Keduanya menikmati makan siangnya dalam diam. Fergie berusaha mencerna ucapan Zack. Dia bukan pria bodoh yang tidak tahu apa kejadian selanjutnya. Zack juga pria normal. Sangat wajar kalau kondisi seperti itu tidak terkendali.


"Jangan bilang kalau kamu tidur dengannya?" selidik Fergie.


Uhuk!


Tentu saja Zack terkejut. Fergie seolah bisa memahami jalan pikirannya.


"Oh ayolah, teman! Aku tahu dirimu. Kamu menyesal kan telah melakukan itu pada pelayanmu?"


Fergie yang lebih dulu menyelesaikan makan siangnya berusaha menginterogasi lebih dalam.


"Ya, aku menyesal, Fergie. Puas kamu, hah?"


Fergie menelisik wajah Zack yang penuh dengan penyesalan, tetapi terlihat tidak suka dengan pelayan itu.


"Aku yakin kalau kamu hanya sekadar menyesal dan tidak ingin untuk bertanggung jawab padanya, bukan? Aku tahu, kamu membencinya. Lihatlah, dia sebenarnya cantik. Aku tidak tahu hanya perasaanku saja atau mungkin kamu menyadarinya."


Zack sejenak menertawakan Fergie. Dilihat dari kacamata mana pun, Honey akan tetap terlihat jelek. Bisa-bisanya dia memiliki imajinasi berlebihan mengenai wajah Honey yang katanya cantik itu. Tentu saja hal itu membuat Zack menyesal telah menerimanya sebagai tamu dirumahnya tempo hari.


"Fergie, aku memang sedang memikirkan pelayan itu. Aku tidak pernah terbersit sama sekali untuk bertanggung jawab padanya."


"Omong kosong macam apa ini, Zack? Jangan terlalu membencinya. Kamu akan menyesal telah membuangnya begitu saja. Dia memang pelayan, tetapi punya hati nurani. Bagaimana kalau dia sampai hamil? Dia pergi dan akan membesarkan anaknya seorang diri. Pikirkan dengan baik ucapanku," jelas Fergie.


Hamil, kata itu yang sempat terngiang di telinganya. Tentu saja membuat hari-hari Zack terasa sangat aneh. Ucapan Fergie ada benarnya, tetapi bagaimana mungkin seorang Zack Leoline akan menikahi pelayan untuk bertanggung jawab?


"Itu tidak mungkin, Fergie! Kami hanya melakukannya sekali," elak Zack.


Fergie cukup tersenyum saja melihat tingkah konyol temannya. Bagaimana mungkin semakin dewasa seseorang bisa terlihat bodoh seperti itu? Mungkin sekarang dia belum menyesal, suatu hari, pelayan itu pasti datang untuk menuntut pertanggungjawaban darinya.