Duda, I Love You

Duda, I Love You
Malam Penentuan



Sesuai ucapan daddy Aquarabella, Zack malam ini akan datang ke rumah keluarga Armstrong. Dia akan melanjutkan syarat yang diberikan Aquarabella padanya.


Sepanjang jalan menuju rumahnya, perasaan Zack was-was. Dia merasa kalau ini akhir dari hidupnya. Sementara di rumah keluarga Armstrong, Aquarabella merasa tertekan. Semakin cepat pria itu datang, maka penentuan pernikahan sudah di depan mata.


"Sayang, kamu kenapa seperti itu? Daddy sudah mengatakan pada Zack kalau malam ini dia akan datang," ucap Callista, mommynya.


"Aku tidak yakin bisa menjalani pernikahan dengannya, Mom. Dia memang duda berumur, tetapi aku takut kalau dia tidak mencintaiku," ucapnya lirih.


"Kamu menyukainya?" selidik Callista.


Aquarabella ragu akan perasaannya sendiri. Terkadang dia merasa nyaman walaupun berada di dekat pria itu, terkadang dia juga sangat membencinya.


"Entahlah, Mom."


"Sayang, kalian bisa merajut cinta seiring perjalanan waktu. Mommy yakin kalau kamu bisa membuatnya jatuh cinta padamu."


Aquarabella mulai ragu. Kalau tidak menikah dengannya, kemungkinan tidak akan ada lagi pria yang mau menikahinya. Dia khawatir kalau Zack hanya berusaha mendapatkannya saja. Setelah itu, dia akan bersikap seperti semula. Pemarah dan egois.


"Entahlah, Mom."


"Bersiaplah, sebentar lagi dia akan datang. Daddymu tentu sudah memiliki keputusan khusus untuk kalian."


Callista kembali ke meja makan. Dia menyiapkan beberapa menu berbeda untuk tamunya. Sesuai pembicaraannya dengan sang suami, setelah Sean dan Zack memutuskan, maka mereka akan melanjutkan dengan makan malam bersama.


"Bagaimana persiapanmu, Sayang?" tanya Sean.


"Sebentar lagi selesai. Oh ya, Dad, Aquarabella sepertinya ragu pada keputusannya."


"Biarkan saja. Itu risiko yang sudah dibuat atas ulahnya sendiri. Beruntung pria itu masih mau bertanggung jawab, jika tidak, seumur hidupnya akan dibebani rasa bersalah yang tinggi."


Suaminya benar. Aquarabella akan menjadi gadis yang menutup diri untuk semua pria yang mengenalnya. Dia merasa tidak akan pantas untuk mereka.


Aquarabella yang berada di kamar meyakinkan dirinya bahwa menikah dengan Zack adalah pilihan terbaik.


"A-aku harus meyakinkan diriku. Ini sudah dipastikan kalau aku akan menikah dengannya. Kalau pun dia belum mencintaiku, tak mengapa. Namun, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku."


Di luar kamar, kedua orang tuanya menerima kedatangan Zack, pria yang sudah dipastikan akan menjadi calon suaminya dalam waktu dekat.


"Selamat datang, Zack," ucap Sean.


Pria itu membawa buket bunga mawar untuk Aquarabella. Hanya ini mungkin yang bisa diberikannya kali ini.


"Terima kasih, Tuan."


Callista dan Sean mengajak ke ruang tengah. Di sana semuanya terlihat sangat santai. Beberapa makanan ringan dan minuman sudah disiapkan.


"Silakan duduk, Zack," ucap Callista.


"Terima kasih."


Sesaat, mereka terdiam. Zack meletakkan buket itu di meja besar. Dia tidak melihat keberadaan Aquarabella. Namun, bukan itu tujuannya. Dia harus menyelesaikan syarat yang diajukan gadis itu agar setelah ini dia bisa bebas untuk menjalani hidupnya tanpa terbebani masalah.


"Apakah sudah kamu pikirkan?" tanya Sean.


"Iya, Tuan. Aku akan bertanggung jawab," ucapnya.


"Sebelumnya, ini mungkin terkesan terburu-buru. Besok pernikahanmu akan dilangsungkan. Tidak akan ada pesta, hanya prosesi pernikahan saja," ucap Sean.


Deg!


Besok? Dan malam ini, Zack masih berada di rumah keluarga calon istrinya? Ini sangat lucu sekali. Kenapa sangat mendadak sekali?


"Apakah ini tidak terlalu cepat?" tanya Zack.


Ada alasan khusus yang dibuat Sean untuk mempercepat pernikahan putrinya. Dia hanya khawatir kalau Zack akan kabur. Kalau tidak, nasib putrinya akan dipertaruhkan. Gadis itu jelas akan semakin terpuruk karena hidup seorang diri. Walaupun Zack menduda, Sean berharap bahwa pria itu akan bertanggung jawab penuh atas putrinya.


"Apakah putri Anda sudah setuju?" tanya Zack.


"Dia akan setuju kalau aku sudah setuju," ucap Sean.


"Aku akan memanggilnya," ucap Callista dan segera wanita paruh baya itu menuju ke kamar putrinya. Di sana, dia langsung mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Aquarabella yang sudah siap sejak tadi enggan untuk keluar. Dia membuka pintu dan melihat mommynya sudah berada di sana.


"Apa kamu tidak akan menemui Zack?"


"Tidak, Mom. Biarkan saja dia berbicara dengan daddy."


"Sayang, pernikahanmu sudah ditentukan. Bersiaplah untuk besok."


"Besok, Mom? Ini apa maksudnya? Bahkan aku tidak tahu kalau besok aku akan menikah." Aquarabella mulai frustrasi. Dia pikir akan memerlukan beberapa hari lagi, namun kenyataannya besok adalah hari pernikahannya.


"Daddymu yang memutuskan. Mommy harap, kamu tidak kabur dan tidak mengecewakan daddymu. Pria itu sudah mau bertanggung jawab atas dirimu, jadi terimalah kenyataan ini."


Callista kembali ke ruang tengah. Memaksa Aquarabella bukan perkara mudah. Ini akan sia-sia. Sean yang melihat istrinya kembali seorang diri membuatnya bertanya-tanya.


"Mana putrimu?"


"Dia menolak untuk datang, namun aku sudah memberitahu bahwa besok adalah pernikahannya."


"Baiklah. Apakah kamu memiliki syarat untuknya? Jika tidak, maka aku akan memberikan syarat padamu."


Sean tidak akan membiarkan putrinya menderita. Bagaimana pun kenyataannya, Zack sudah merenggut kesucian putrinya. Sementara Zack sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah masuk ke dalam permainan Aquarabella. Dia yang akan bermain atau kalah, tergantung keseharian yang akan dijalaninya.


Aku tidak mudah menerimamu, Aqua. Mungkin lelaki lain akan jatuh cinta padamu dengan mudah, tetapi aku mulai ragu. Ini cinta atau terpaksa? Aku belum bisa meyakinkan perasaanku.


"Katakan, Tuan!"


"Jangan sakiti putriku. Bagaimana pun, dia pernah terluka karena sikapmu. Jangan mengulang hal yang sama. Jika tidak, kamu akan menyesal. Ingat itu!"


"Baik, Tuan. Apakah aku perlu menyiapkan sesuatu yang penting untuk pernikahanku besok?"


"Siapkan sepasang cincin pernikahan kalian. Hanya itu dan datanglah ke gedung catatan sipil. Kalian akan menikah di sana. Jam sembilan pagi, jangan sampai terlambat!"


"Baik, Tuan."


"Bagaimana, Dad? Apakah semuanya selesai? Kalau sudah, Zack ayo ke meja makan dulu. Kita makan malam bersama," ajak Callista.


Mereka menuju ke meja makan. Di sana, Aquarabella sudah duduk manis di tempatnya. Sebenarnya dia enggan sekali untuk keluar, namun demi daddynya, dia harus berada di sana.


"Sayang, pergilah ke ruang tengah! Ambil buket bunga yang dibawakan Zack untukmu," ucap Callista.


Gadis itu menurut apa ucapan mommynya. Dia sempat berpapasan dengan Zack dan dia tidak menyapanya. Aqua bingung apa yang akan dilakukan setelah pernikahan. Rasanya pasti sangat berbeda.


Zack dan orang tua Aquarabella mulai makan malam bersama. Rasanya waktu berjalan semakin cepat menuju hari esok. Setelah ditentukan, tenyata Zack malah memikirkan hal lain lagi.


"Tuan, sebelumnya aku minta maaf. Setelah pernikahan, maka kami akan tinggal di mana?" tanya Zack.


"Pulanglah ke mari. Ini juga rumah putriku. Selama beberapa waktu, kalian akan di sini. Setelah itu, silakan putuskan bersama."


Terkadang Zack memikirkan ini terlalu mudah dengan syarat yang diberikan Aquarabella. Namun, kenapa orang tuanya juga mempercepat pernikahan ini? Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan untuk dirinya? Zack sendiri belum sepenuhnya mengenal betul siapa Aquarabella. Mungkin setelah pernikahan, semua kehidupan barunya akan dimulai.