Duda, I Love You

Duda, I Love You
Mengusir Ernest



"Tidak, Zack! Aku tidak mau hubungan kita berakhir. Kamu tahu kan kalau selama ini aku sangat mencintaimu." Belinda memohon dengan suaranya yang parau. Dia menangis dan menyesali perbuatannya kali ini.


"Tidak, Belinda. Semuanya sudah berakhir. Jangan lagi tampakkan wajahmu di hadapanku! Oh ya, mana pasangan mesummu itu? Kenapa dia lama sekali berada di dalam kamar mandi? Apa dia kesusahan menyelesaikan pelepasannya seorang diri? Maka bantulah! Aku akan keluar."


Zack sudah cukup puas telah mengetahui kenyataannya kalau Belinda ada hubungan khusus dengan Ernest. Itulah sebabnya ketika Belinda mengajak Zack menikah, pria itu enggan menanggapinya secara serius.


Ceklek!


Keluar dari kamar sepupu laknatnya itu, Zack tidak merasa menyesal sama sekali. Keinginannya untuk lepas dari Belinda sudah terwujud, tetapi setelah ini tidak akan ada lagi wanita lain yang akan mengejarnya.


"Tuan Zack, dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi. Aku takut kalau Tuan akan marah padaku," ucap Honey. Pelayan itu sudah mengambilkan berkas untuk Tuannya, tetapi tiba-tiba pria itu menghilang entah ke mana. Sudah berusaha bertanya pada pelayan yang lainnya, jawabannya sama. Tidak tahu.


"Mana berkasnya?"


"Baru saja kuletakkan di meja ruang tamu. Haruskah diambilnya lagi dan diserahkan padamu, Tuan?" tanya Honey.


"Ambilkan! Bawa ke ruang tengah!" Zack sengaja menunggu sampai Ernest keluar kamarnya bersama wanita murahan itu.


Benar, 3 menit, Belinda dan Ernest keluar bersamaan. Namun, semua pelayan tidak ada yang melihatnya. Termasuk Honey, karena pelayan itu sedang mengambil berkas di ruang tamu yang jaraknya cukup lumayan.


"Kalian mau ke mana?" panggil Zack.


Belinda dan Ernest menoleh secara bersamaan. Mereka mengira kalau Zack sudah kembali ke kantornya, nyatanya pria itu malah masih menunggunya di ruang tengah.


"Pulang, Zack," jawab Belinda.


"Silakan! Pintu rumahku terbuka lebar jika kamu mau pulang. Sudah tahu kan di mana pintu keluarnya? Kalau belum tahu, aku akan menunjukkannya," sindir Zack.


Belum sempat Belinda ataupun Ernest menjawab, Honey sudah kembali dengan berkas di tangannya.


"Tuan, ini berkasnya."


"Terima kasih, Honey. Oh ya, kembalilah ke kamarku. Di sana ada foto wanita itu." Tunjuk Zack pada Belinda. "Keluarkan dari kamarku dan bakar di tempat sampah! Aku tidak ingin melihatnya lagi."


Sebagai seorang kekasih, Belinda ingin menjadi orang yang selalu diingat oleh Zack. Itulah kenapa dia meminta Zack untuk memasang foto wanita itu dikamarnya. Namun, jangan salah, selama Honey bekerja di rumah keluarga Leoline, dia bahkan tidak pernah melihat foto Belinda bertebaran di kamar Zack. Sangat aneh, bukan?


"Hah? Foto? Maaf, Tuan, setauku tidak ada foto Nona Belinda di sana."


Tepat sekali. Zack tidak pernah memasang foto Belinda di kamarnya, tetapi pria itu meletakkannya di suatu tempat. Menurutnya tidak penting sekali memasang foto wanita itu sebelum resmi menjadi istrinya.


"Zack? Apa-apaan ini? Jadi, selama ini foto yang kuberikan untukmu tidak pernah kamu pasang di dinding kamarmu?" protes Belinda. Niatnya untuk keluar rumah itu masih diurungkan.


"Untuk apa memasang foto penipu sepertimu? Aku belum siap memasang foto siapa pun di kamarku kecuali aku resmi menikahinya."


Belinda jelas sakit hati mendengar ucapan pria itu. Puluhan kali meminta pernikahan dan hubungan yang jelas, Zack selalu menolaknya.


"Awas kamu, Zack! Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang. Kamu sudah menyakiti hatiku," gertak Belinda.


"Kamu terlalu membenarkan dirimu sendiri, Belinda. Honey, cepat pergi ke kamarku. Ambil semua foto yang ada di laci meja kerjaku. Kalau pemiliknya tidak mau foto itu dibakar atau dibuang ke tempat sampah, bawalah ke sini!" perintah Zack.


Sejak tadi, Honey menunggu perintah selanjutnya. Dia langsung menuju ke kamar Tuannya. Sementara Zack masih melanjutkan urusannya yang belum selesai.


"Ernest, setelah mengantar wanita itu keluar dari rumah ini, berkemaslah!"


"Kak, kamu mengusirku? Aku tidak terima diperlakukan seperti ini," protesnya.


Andai saja posisinya Zack sedang tidak ada urusan penting, dia akan menghajar sepupunya itu. Sayang, setelah ini dia harus kembali lagi ke kantor.


"Harusnya kamu sadar diri, Ernest. Ini rumahku dan aku berhak melakukan apapun."


Honey datang dan membawa beberapa foto yang dimaksud. Tidak hanya satu atau dua saja, tetapi ada sekitar lima buah foto berpigora besar.


"Honey, berikan foto itu padanya. Pergilah ke kamar Ernest dan kemasi barangnya. Sekarang!" perintah Zack.


Honey menolaknya karena dia tidak tahu harus mengemasi barangnya yang mana saja. Lagi pula, itu juga bukan urusan Honey. Dia lebih menjaga jarak dari Ernest. Tak ada salahnya untuk menolaknya.


"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu mana saja yang harus dimasukkan. Mohon maaf, Tuan. Kali ini aku menolaknya," jawab Honey.


Penolakan Honey merupakan kemenangan terbesar untuk Ernest. Ini kesempatan bagus untuk tetap bertahan di rumah ini. Dia sudah seperti raja di sini. Mana mungkin bisa meninggalkan tempat ternyaman seperti di sini.


"Kamu menolak perintah majikanmu? Kamu mau dipecat sekarang?" ancam Zack.


Ini kesempatan bagus untuk Honey lepas dari Zack. Lagi pula dia sudah berjanji pada orang tuanya untuk lekas pulang dan kembali ke keluarganya. Dia akan melupakan Zack untuk selamanya. Walaupun rasa sakit hatinya sudah mulai pupus secara perlahan dan digantikan rasa yang entah Honey sendiri tidak bisa mengartikannya.


"Silakan pecat, Tuan! Aku sudah siap untuk pergi dari rumahmu ini. Lagi pula, aku juga sudah lelah dengan sikapmu yang semena-mena itu. Aku bertahan karena masih teringat keluargaku di kampung, sekarang tidak lagi," jelas Honey.


Tentu saja hal itu membuat Zack semakin murka. Ancaman sesaat untuk Honey malah ditanggapi serius oleh gadis itu. Ini benar-benar Tidak, urusannya dengan Honey bisa nanti saja. Zack secepatnya masuk ke kamar Ernest tanpa disadari sepupunya itu. Tak lama, Zack melempar koper dan beberapa tas milik Ernest ke halaman depan.


Ernest yang baru tahu karena selama pertengkaran Honey dan Zack, dia lebih dulu mengantarkan Belinda ke depan untuk mencari taksi.


"Kak, apa-apaan ini? Kamu pasti bercanda!"


"Tidak! Pergilah sekarang!" Zack menutup pintu rumahnya. Dia tidak peduli ada atau tidak barang-barang Ernest yang ketinggalan di kamarnya.


Membuang koper Ernest dan mengusirnya sudah selesai. Kini gilirannya untuk mengurus pelayan yang sok-sokan minta surat pemecatan. Padahal, Zack tidak terbersit untuk memecatnya sama sekali. Itu hanya gertak sambal saja. Tidak bermaksud untuk serius. Rupanya ditanggapi lain oleh Honey. Gadis itu malah mengemasi beberapa bajunya dan siap pergi dari rumah ini.


"Hei, siapa suruh kamu pergi! Aku belum memecatmu! Berani keluar dari rumah ini, aku tidak segan melaporkanmu pada polisi karena telah melanggar surat kontrak kerja yang sudah kamu tanda tangani dengan mama," ucapnya.


Deg!


Honey kalah telak kali ini. Dia pikir, Zack melupakan surat kontrak itu. Rupanya dia memanfaatkan situasi ini untuk menguncinya terus di dalam rumah ini.


Aku yakin, kamu pasti akan berpikir seribu kali untuk keluar dari rumahku.