
Zack terbangun. Dia memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. Hendak turun dari ranjang, Zack baru menyadari kalau dirinya sedang tidak memakai apapun. Tidurnya hanya memakai selimut saja.
"Apa yang terjadi semalam? Aku rasanya seperti bermimpi telah bercinta dengan Ara," ucapnya. Namun, melihat tubuhnya yang polos seperti ini, dia yakin kalau semalam telah terjadi sesuatu.
Zack menyibak selimut dan memunguti bajunya yang jatuh tak beraturan. Dia belum bisa mencerna keadaan. Zack meletakkan bajunya di tempat cucian kotor. Dia bergegas ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor.
Masih terlalu pagi memang. Jadi, Zack tak perlu terburu-buru. Selesai membersihkan diri, Zack memakai bathrobe-nya.
"Tumben pagi ini aku tidak melihat Honey menyiapkan pakaianku? Apa dia masih tertidur, ya? Dasar pemalas!" gerutunya.
Zack keluar kamar menggunakan bathrobe itu dan berharap lekas menemukan Honey. Dia mencari ke kamarnya, tetapi kamar itu sepertinya kosong. Zack tidak mengetuk pintu dan langsung membukanya. Tentu saja itu membuat Beatrix sangat terkejut.
"Zack? Apa yang kamu lakukan? Memakai bathrobe dan masuk ke kamar Honey? Kamu ini kenapa, sih?" berondong Beatrix.
"Ma, Honey ke mana? Kenapa pagi ini tidak menyiapkan bajuku?"
Beatrix memang belum melihat Honey sedari pagi. Biasanya pelayan itu yang paling rajin.
"Apa dia sakit, ya?" tanya Beatrix.
"Mana mungkin, Ma. Kamarnya kosong. Sepertinya dia pergi," ucap Zack asal.
Zack tidak menyadari kalau kepergian pelayan itu karena ulahnya sendiri. Andaikan dia tahu, apa tanggapan Zack pada pelayannya yang semalam sudah menjadi korbannya.
"Sepagi ini mau pergi ke mana, Zack?"
Tentu saja ini sangat aneh. Honey bahkan tidak meninggalkan jejaknya sama sekali. Beatrix mencoba masuk ke kamar pelayan itu. Tak menemukan beberapa barang pun di sana. Mungkinkah pelayan itu kabur?
"Zack, sepertinya Honey benar-benar pergi. Kamarnya sudah rapi dan tidak ada barang miliknya di sana," jelas Beatrix.
Pergi? Pergi ke mana dia? Kenapa mendadak sekali? Pemecatan itu hanya candaan.
Lelah tidak menemukan pelayan itu, Zack kembali ke kamarnya. Dia berusaha merapikan bekas semalam yang dia tidak tahu dengan siapa melakukannya.
Melipat selimutnya kembali dan meletakkannya di atas bantal dilakukan terlebih dahulu. Sprei yang bentuknya mulai acak itu dirapikan dan pandangannya jatuh pada sebuah noda di sprei itu.
Darah? Jadi, semalam aku benar-benar melakukannya? Oh ya ampun, siapa gadis itu? Melihat jejak yang ditinggalkan, aku telah menodainya.
Zack panik? Tentu saja sangat panik. Samar-samar dia mengingat kejadian semalam. Bayangan Ara-lah yang muncul di benaknya. Ini terlihat sangat janggal. Setelah semalam, Honey menghilang. Namun, Zack merasa kalau semalam dia sedang melakukannya bersama Ara. Rasanya seperti sebuah mimpi dan yang diingatnya, Zack melakukan pelepasan tanpa pengaman apapun.
"Bagaimana kalau gadis itu hamil? Dia pasti datang dan menuntut pertanggungjawaban padaku. Ah, siapa dia? Jangan sampai aku melakukannya dengan Honey."
Zack bingung. Ada rasa menyesal setelah menemukan noda merah itu. Dia khawatir kalau seseorang yang menjadi korbannya semalam akan melakukan hal yang nekat.
"Apa aku perlu menceritakan ini pada mama?"
Bergegas Zack memakai bajunya. Walaupun terbiasa dilayani Honey, kali ini dia harus mandiri. Setelah memakai dasi dan jasnya, dia mampir dulu ke kamar mamanya. Dia membiarkan bekas percintaan semalam masih di atas ranjangnya.
Ceklek!
"Ma, bisa bicara sebentar?"
"Masuklah, Zack!"
Zack menutup pintunya kembali dan bergegas duduk di sofa kamar itu.
"Ma, sebelumnya aku minta maaf padamu."
"Maaf untuk apa? Apa kamu melakukan kesalahan?" selidik Beatrix.
"Iya, Ma. Aku melakukan kesalahan besar. Semalam aku mabuk dan telah menodai seseorang." Zack tertunduk. Sebentar lagi mamanya pasti akan marah.
"Zack, kamu tidak bercanda, kan? Ini sudah keterlaluan. Mama semalam sudah tidur. Mama pikir kalau kamu sedang ada urusan di luar. Rupanya kamu mabuk lagi? Siapa gadis yang telah kamu lecehkan itu? Atau, jangan-jangan semalam kamu melecehkan Honey?"
Deg!
Kenapa mamanya bisa menyebut nama itu? Atau kepergiannya bertepatan dengan kejadian semalam yang menyebabkan Honey pergi.
Zack mengusap kasar rambutnya. Dia benar-benar frustrasi kali ini. Kalau benar yang semalam adalah Honey? Dia tidak mungkin mau bertanggung jawab pada pelayan itu.
"Tidak mungkin, Ma. Mungkin kali ini dia kabur membawa beberapa barang di rumah ini," tuduh Zack.
"Kamu keterlaluan, Zack. Mama hafal betul siapa Honey. Dia tidak mungkin mencuri apapun. Lihatlah semua barang penting di kamarmu! Semua masih utuh, bukan?"
Mamanya benar. Selama ini, Honey sudah bekerja cukup baik. Ah, kenapa tiba-tiba Zack merindukan pelayan itu? Bukankah kejadian semalam dan menghilangnya Honey menjadi tanda tanya besar untuknya? Mungkin saja Honey pulang ke rumah keluarganya di kampung untuk beberapa waktu. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dia tidak pamit terlebih dahulu?
"Lalu, kenapa dia pergi, Ma?"
"Ingat, Zack, kalau kamu sampai menodai Honey, kamu harus bertanggung jawab padanya."
Zack tidak bisa membantah mamanya, tetapi bertanggung jawab untuk menikahi pelayan jelek itu, apa dia sanggup?
"Tidak, Ma. Aku menolak untuk bertanggung jawab jika semalam itu adalah dia. Aku yakin kalau memang bukan dia, Ma. Tapi siapa? Aku seperti melihat orang lain."
Bertengkar dengan Honey sudah dilakukan sepanjang hari. Bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan pelayan jelek sepertinya? Dunia pasti akan menertawakannya. Seorang Zack Leoline telah turun pamor karena menikahi pelayan jelek. Namun, Zack berharap kalau semalam bukanlah Honey. Bisa-bisa kehidupannya menjadi berantakan.
"Apa kamu yakin mengatakan itu? Bagaimana kalau dia datang dan meminta pertanggungjawabanmu? Mungkin saja dia hamil anakmu. Bisa saja kan? Mama tidak mau kamu menolak memberikan tanggung jawab. Kamu sudah salah dan harus memperbaiki kesalahan itu. Jika tidak, jangan pernah untuk menyebutku Mama. Mama malu pada tindakanmu Zack. Harusnya kamu bisa menahan diri untuk melakukan tindakan di luar kesadaranmu, Zack."
"Ma, mana aku ingat. Aku sedang mabuk dan tiba-tiba saja aku terbangun di pagi hari dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Aku tertidur hanya memakai selimut saja. Kalau pun Honey, kenapa dia tidak memberontak? Aku semakin pusing karena masalah ini."
Dunianya merasa sempit sekali. Kalau sampai gadis itu memaksanya untuk bertanggung jawab, sementara Zack sendiri belum siap untuk menikah lagi. Apa yang mungkin terjadi pada kehidupannya di masa mendatang?
Hanya karena sebuah noda merah yang tertinggal, Zack akan menjadi pria yang paling bersalah atau malah biasa saja. Bisa saja tidak menyesal sama sekali ketika menyadari kalau Honey yang menjadi korbannya semalam, tetapi jika yang muncul seorang Aquarabella dan memintanya untuk bertanggung jawab, apakah Zack ragu untuk menerima kenyataan itu?