Duda, I Love You

Duda, I Love You
Kehilangan Putrinya



Suasana rumah yang mendadak sepi membuat Sean Armstrong, Daddynya Aquarabella merasa kesepian. Pasalnya putri semata wayangnya yang pamit ke rumah temannya tidak memberikan kabar sama sekali.


Pernah sesekali gadis itu pulang ke rumah. Sean tidak mengkhawatirkannya lagi, tetapi tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak. Dia merasa aneh dengan sikap putrinya akhir-akhir ini.


"Kemana anak itu? Beberapa kali terlihat mencurigakan. Awas saja kalau sampai bertindak yang macam-macam. Aku bisa saja mengirimkannya ke tempat Zelene dan mempekerjakannya di sana," gerutu Sean yang baru saja bersiap.


Sean pagi ini hendak berangkat ke kantor. Namun, dia harus menyempatkan diri untuk sarapan. Dia tidak melihat istrinya berada di kamar. Itu artinya dia sedang beraktivitas di luar.


"Mom ... Mom ...," teriak Sean. Dia sedang mencari keberadaan istrinya.


Callista yang baru saja dari belakang langsung menemui suaminya.


"Ada apa, Dad? Pagi-pagi kok sudah berteriak seperti itu," protes Callista.


"Aqua mana, Ma?"


"Entahlah, Dad. Beberapa hari yang lalu sempat pulang. Setiap. kutanya selalu tidak mau mengaku. Aku jadi pusing. Belum lagi kalau menghilang selalu meninggalkan ponsel di kamarnya. Mana bisa melacak keberadaannya juga kan?" keluh Callista.


"Putrimu itu sangat licik, kalau menghilang persis seperti kelakuanmu," tuduh Sean.


"Dad, ini masih pagi, loh. Jangan ngajak ribut!" balas Callista.


"Memangnya dia pergi ke mana, Mom?" tanya Sean lagi.


Kali ini Callista dibuat kesal dengan tingkah suaminya. Jika dia tahu di mana keberadaan putrinya, sudah pasti akan dijemput sedari awal. Tak perlu menunggu omelan tak penting darinya.


"Kalau aku tahu, aku juga tidak akan pusing, Dad. Makanya, dulu kenapa kita tidak buat adik untuknya saja? Sekarang kalau hilang satu, masih ada satunya lagi. Bukan begitu, Dad?" cerocos Callista.


Giliran Sean yang melotot kepadanya. Dia cukup sadar diri untuk sindiran istrinya itu. Setelah kehamilan Callista dan melahirkan kala itu, Sean langsung melakukan tindakan vasektomi agar istrinya tidak hamil lagi. Bukan karena tidak mau memiliki anak lagi, tetapi usia Sean yang mendekati hampir setengah abad kala itu membuatnya mengambil sikap seperti itu. Sebenarnya sangat di sayangkan oleh Callista, tetapi bagaimana lagi. Sean sudah terlanjur memutuskan seperti itu.


Tidak hanya Sean saja, Zelene, adiknya juga mempunyai satu anak saja. Perbedaannya karena Zelene bermasalah dengan kandungannya yang selalu lemah itu membuat mereka memutuskan untuk memiliki satu orang anak saja. Keturunan Armstrong tidak ada lelakinya sama sekali. Semuanya perempuan.


"Hemm, kamu mengingatkanku pada masa lalu. Apa kamu bisa bayangkan jika Aquarabella punya adik? Yang ada, mereka malah akan menertawakanku dikiranya aku merawat cucu dan bukan anak sendiri. Apa kamu senang kalau suamimu ini terpojok dengan ucapan mereka?"


"Aku tidak bermaksud mengingatkan. Sudah lewat juga. Apa sekarang kamu menyesal, Dad?" tanya istrinya.


"Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Aku mau sarapan dulu," ucap Sean.


Callista menggandeng mesra suami tuanya itu. Jarak usianya sekitar dua puluh tahun menyebabkan Sean tidak percaya diri untuk memiliki anak lagi.


"Duduklah. Aku siapkan makananmu." Callista dengan cekatan menyiapkan sepiring makanan lengkap.


"Terima kasih," ucap Sean setelah menerima piring tersebut. Dia langsung memakannya sampai habis kemudian minum segelas air putih. Masih sama seperti dulu, suaminya paling anti makanan berbau cabai. Callista selalu memisahkan masakan untuknya.


"Aku akan mencarinya," ucap Sean akhirnya.


"Mencari Aqua? Tunggulah beberapa hari lagi. Dia pasti pulang," ucap istrinya. Bukan tanpa alasan. Jika Sean fokus mencari putrinya, pikirannya pasti akan terpecah.


Bukan tanpa alasan jika Sean mengkhawatirkan putrinya. Callista pun sama, tetapi wanita itu berusaha tetap tenang. Dia yakin kalau putrinya sedang berada di suatu tempat dan sedang melakukan sesuatu, tetapi bukan hal yang buruk.


Callista yang baru saja selesai dengan sarapan paginya mendekati Sean dan mengelus dada pria itu.


"Sabar, sayang. Aku membiarkan putriku melakukan hal itu dengan alasan kuat. Dia bisa merasakan apa yang kurasa saat itu. Bukankah kamu tahu sendiri kalau aku dari kalangan orang biasa?" ucap istrinya beralasan. Dia tidak mau keributan ini berlanjut.


"Aku hanya khawatir kalau mama menanyakan keberadaannya," balas Sean.


Grandma Jenica sekarang tinggal berdua dengan Jelita. Wanita tua itu berusaha untuk memperbaiki keadaan. Tidak akan ada lagi permusuhan di antara mereka. Kedua wanita tua kembar itu juga saling menyayangi cucu mereka.


"Itu tidak akan terjadi," balas Callista. Wanita itu kembali ke tempat duduknya.


"Ingat, kamu jangan terlalu memanjakan Aquarabella. Aku takut kalau sampai dia melakukan hal yang belum boleh dilakukannya. Itu sangat mengganggu sekali."


Ucapan suaminya barusan membuat Callista berpikir ulang. Dia secepatnya harus menemukan putrinya. Dia teringat pada masa lalunya ketika Eros, mantan kekasihnya yang terlibat hubungan yang belum boleh dilakukan dengannya. Nyatanya lelaki itu melakukannya dengan orang lain.


Rasanya aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Aku memberikan kebebasan padanya, tetapi sekarang aku malah khawatir. Di mana kamu, Aqua? Mommy berharap kamu segera pulang. Daddymu sangat khawatir, Nak.


"Kenapa kamu diam? Baru sadar sekarang?" tuduh suaminya.


"Maafkan aku, sayang. Aku berjanji akan mencarinya."


Sean sangat kesal pada istrinya. Bisa-bisanya membiarkan putrinya bebas di luaran sana. Bagaimana kalau terjadi hal buruk kepadanya? Apakah mereka bisa mengembalikan keadaan?


"Diamlah di rumah. Aku akan meminta anak buahku mencari keberadaannya. Ini benar-benar membuatku pusing. Berapa lama dia tidak berada di rumah?" Sean tentu saja menanyakan hal itu karena jarang sekali bertemu dengan putrinya.


"Hampir satu bulan ini, Dad. Sesekali dia pulang ke rumah dan kondisinya baik-baik saja. Makanya aku tidak terlalu cemas. Maafkan aku," ucapnya.


"Ingat, kalau dia pulang, tahan untuk tidak pergi lagi. Aku mau menginterogasinya ke mana selama ini," pesan suaminya.


"Iya, Dad."


"Jangan iya-iya saja. Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana? Kalau ada yang melecehkannya bagaimana? Aquarabella Armstrong itu putri kita, sayang. Tolong jaga dia dengan baik. Jangan sampai dia terjebak pengaruh buruk teman-temannya yang tidak pernah kita tahu. Bisa saja kan kalau putri kita akan terjerumus dalam dunia mafia," jelas Sean.


Callista bergidik ngeri mendengar kata mafia. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Aqua menjadi sandera mafia kejam dan dijadikan budaknya.


Ish, sangat mengerikan sekali. Kenapa aku tidak berpikir ke sana mengenai kepergian Aquarabella yang mendadak misterius seperti ini. Rasanya aku tidak bisa tidur memikirkannya.


Callista sudah terpengaruh dengan ucapan suaminya. Dia yang menahan gadis itu ketika sudah kembali ke rumah. Mencarinya juga tidak mungkin. Ponselnya tersimpan rapi di nakas kamar putrinya.


...🐣🐣🐣...


Hai kakak readers di manapun berada. Jangan bosan ya, Emak selalu hadir untuk merekomendasikan karya teman Emak. Yuk kepoin, jangan lupa berikan bintang, masukkan favorit, kemudian baca, dan jangan lupa tinggalkan komentar.


Find The Perfect Love by Author eveliniq


Terima kasih. Luv Yu All 💝💝💝