
Tiga bulan kemudian.
Semenjak memutuskan tinggal di rumah keluarga Leoline, perlahan Aquarabella mulai bisa mengerti kenapa suaminya menjadi pemarah seperti itu. Namun, sampai saat ini dia belum mengetahui cerita yang sesungguhnya. Kesepakatan untuk pergi berbulan madu sudah disetujui keluarga Aquarabella.
Hubungannya dengan Scarlett tak lagi ada masalah. Wanita itu menghindar dengan sendirinya. Sebenarnya urusan Zack yang belum selesai adalah dengan Elvis. Dia masih ingin membuat pria itu merasakan apa yang dirasakan beberapa tahun lalu.
Sementara hubungan Belinda dan Ernest dikabarkan sudah menikah karena Belinda menuntut pria itu untuk bertanggung jawab. Jika tidak, maka Ernest akan mendekam di penjara untuk beberapa lama. Pria pengangguran itu tidak mau. Akhirnya Belinda menerima risiko menikah dengannya. Namun, bukan Belinda namanya jika membiarkan pria itu enak-enakan di apartemennya. Dia telah meminta Ernest untuk mencari pekerjaan.
"Zack, boleh aku bertanya padamu?"
"Hemm, katakan saja!"
"Kabar Ernest bagaimana?"
Sesaat, Zack menghentikan persiapannya untuk pergi berbulan madu. Dia sedang memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Namun, karena pertanyaan istrinya barusan membuatnya sedikit cemburu.
"Kenapa kamu masih menanyakan pria brengsek itu?" selidik Zack.
"Aku hanya ingin tahu kabar terakhirnya saja. Apakah dia jadi menikah dengan Belinda, kekasihmu itu?"
"Ck, dia mantan kekasihku. Kamu merindukan Ernest?" ucap Zack yang menunjukkan wajah cemburunya itu.
"Tidak, Zack. Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Mereka memutuskan berbulan madu ke negara-negara di kawasan E untuk beberapa waktu lamanya. Mereka sengaja ke sana untuk menikmati kebersamaan selama ini yang belum pernah dirasakan.
Jangan tanyakan lagi, perusahaan Zack sudah menjadi anak cabang dari SA Corporation. Semua atas permintaan Sean Armstrong dan Zack diminta untuk mengurus perusahaan induk sebagai CEO-nya karena menggantikan sang istri. Bukan tanpa alasan dan tanpa kesepakatan. Beberapa kali berselisih paham, akhirnya ayah dan menantunya itu menyetujui.
Alasan Sean kala itu memang benar. Ini cara yang tepat untuk mengikat menantunya agar tidak berbuat diluar nalarnya. Maksudnya, agar pria itu tetap terikat penuh dengan sang putri.
"Ara, aku heran. Perusahaan daddymu sudah cukup besar dan sekarang malah mengambil perusahaanku?" celetuk Zack kala itu.
"Itu artinya, kamu tidak bisa berbuat sesuai kehendakmu sendiri. Jika kamu nekat, daddyku akan membuatmu miskin!" Itu terjadi setelah ungkapkan cinta diantara keduanya.
Flashback on.
Aquarabella sedang berada di atas ranjang di rumah suaminya. Gadis itu sudah beberapa kali ngambek karena Zack sering tidak peduli padanya. Aquarabella tidak kehabisan akal. Dia membicarakan masalahnya ini kepada daddynya dan mengusulkan untuk menjadikan perusahaan milik Zack menjadi anak cabang. Memang bukan perkara mudah. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya terjadi kesepakatan dan penandatanganan kepemilikan.
Walaupun sudah menjadi satu, namun Zack berhak atas saham miliknya beberapa persen. Meskipun masih jauh dari kekayaan yang dimiliki istrinya, namun Sean tidak ragu untuk mengangkat menantunya itu menjadi CEO. Sementara Aquarabella lebih memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Dia hanya akan berada di rumah dan sesekali pergi ke kantor jika bosan.
"Apa kamu tidak menyesal telah menikah denganku?" tanya Zack yang berada seranjang dengan istrinya.
"Tidak, justru aku akan sangat menyesal jika menikah dengan orang lain."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan padaku."
"Sungguh, aku tak sengaja. Aku kalut waktu itu."
"Itu semua karena Belinda, kan?" tuduh Aquarabella.
Semua ucapan istrinya benar. Ketika dia menjalin hubungan dengan Scarlett maupun Belinda, pihak ketiga selalu menjadi alasan untuk berakhirnya hubungan itu.
"Lupakan itu! Sekarang fokusku hanya kepadamu. Jika tidak, maka aku akan kehilangan jabatan, saham, dan-"
"Dirimu."
Deg!
Zack memang berbeda. Cara mengungkapkan perasaannya pun tidak melewati ungkapan cinta atau apapun. Dia lebih memilih mengungkapkan dengan tindakan. Itu lebih dari cukup yang membuat Aquarabella semakin tak bisa jauh darinya.
Flasback off.
"Aku akan miskin jika kehilangan dirimu, Ara. Apakah kita akan selalu bersama?"
"Tentu, Zack. Itupun kamu tidak boleh aneh-aneh."
Zack tidak lagi menjaga jarak dengan istrinya. Malah dia lebih sering melakukan kontak fisik terlebih dahulu. Entah sekadar memeluk, mengecup, bahkan mencium.
"Ara, kemarilah!" panggil Zack yang kebetulan melihat Ara masih memasukkan beberapa bajunya ke koper masing-masing.
"Ada apa?"
Tanpa banyak bicara, Zack memeluk istrinya yang belum disentuhnya lagi. Dia berharap ketika berbulan madu semuanya akan kembali seperti semula. Pernah sekali waktu Zack meminta haknya, namun Aquarabella menolak karena belum berani. Dia masih mengikuti saran dokter hingga dirinya mendapatkan jadwal menstruasi untuk beberapa kali dalam kurun waktu tiga bulan.
"Jangan tinggalkan aku, Ara!" Zack lebih memperdalam pelukannya. Semakin erat dan benar-benar di luar dugaan.
"Aku tidak akan kemana-mana, Zack. Kita akan pergi berbulan madu."
Sebelum benar-benar melepaskan pelukannya, Zack sempat mengecup kening istrinya.
"Ayolah kita lanjutkan berkemas. Sebentar lagi kita akan pergi ke bandara. Belum berpamitan juga sama mama."
Zack sengaja melakukan itu. Namun, Aquarabella masih menganggapnya berutang cerita masa lalunya. Aquarabella hanya ingin tahu agar dia bisa membuat suaminya itu benar-benar melupakan masa lalunya.
"Zack, ingat. Kamu masih berutang cerita padaku. Kuharap, bulan madu kita ini menjadi awal memulai kebahagiaan baru dan melupakan masa lalumu."
"Hemm, aku berjanji akan menceritakan segalanya tentang masa laluku."
Selesai berkemas dan bersiap, sepasang suami istri ini menemui mamanya untuk berpamitan. Mengenai keluarga Aquarabella, dia sudah berpamitan sejak awal. Sehingga tak sulit harus memutar lagi ke rumah orang tuanya.
"Ma, kami akan pergi berbulan madu. Doakan semuanya berjalan lancar," pamit Zack.
"Lekaslah berikan mama cucu, Zack!"
Deg!
Baik Zack maupun Aquarabella belum memutuskan untuk memikirkan hal itu. Sebelum keduanya benar-benar yakin dan sudah saling mencintai, mereka tidak akan memikirkan untuk memiliki anak.
"Sedang diusahakan, Ma," jawab Aquarabella.
"Hemm, lekaslah, Nak. Mama jenuh merasa kesepian. Apalagi Zack sudah sangat pantas untuk memiliki anak. Jangan merasa trauma karena pernah kehilangan. Seharusnya itu menjadi acuan untuk lebih menjaga lagi kehamilanmu."
Aquarabella mengangguk. Dia masih merasa bersalah mengingat kejadian itu. Bagaimana dia tidak sadar jika sedang hamil? Namun, satu hal yang bersyukur dalam hidupnya. Anak itu pergi atas kemauan garis takdir, bukan keinginannya sendiri untuk membuangnya. Bagaimana pun juga, ada rasa sedih yang menderanya.
"Iya, Ma. Maafkan aku." Aquarabella merasa bersalah.
Setelah berpamitan, keduanya pergi ke bandara. Ini keputusan berdua untuk menikmati awal baru pernikahannya yang sudah melewati masa-masa sulit bersama.