
Menjalani proses kuretase tidak membutuhkan waktu yang lama. Keesokan harinya, Aquarabella sudah masuk ke ruang rawat inap. Callista memintanya untuk ditempatkan di ruangan VVIP rumah sakit.
Sarapan pagi sudah di siapkan. Aquarabella sudah bisa duduk dengan baik. Dia berada di hadapa kedua orang tuanya. Sean ingin menanyakan, namun harus menunggu putrinya selesai sarapan. Callista tak perlu menyuapinya karena gadis itu bisa makan sendiri. Selesai sarapan, Callista mengambil nampan yang berada di tangan putrinya.
"Aqua, kamu tahu kalau kamu sedang sakit?" tanya Sean dengan nada lembutnya.
Aquarabella tidak menyadari jika dirinya sedang hamil. Berada di IGD dan sudah sadar, dia mengetahui jika keguguran. Mungkin saja orang tuanya juga sudah tahu dari dokter.
"Aku tidak tahu, Dad. Namun, aku memang melakukan kesalahan. Maafkan aku." Aquarabella tertunduk. Dia tidak bisa lagi mengelak.
"Siapa pria itu? Daddy akan memenjarakannya!"
Aquarabella tidak tahu harus berbicara seperti apa. Dia bingung. Di satu sisi, dia pasti akan membuka masa lalunya di hadapan orang banyak. Namun jika tidak, daddynya pasti akan sangat marah sekali.
"Dad, aku akan mengatakannya, tetapi jangan penjarakan dia. Kumohon," ucapnya dengan suara parau karena air matanya sudah mengalir. Ini pasti terjadi. Kemarahan daddynya sudah tidak bisa dibendung lagi kecuali Aquarabella mau mengutarakan alasannya.
"Kamu ini bagaimana? Pria bejat itu sudah menyakitinya dan membuatmu menjadi seperti ini. Apa kamu tidak berpikir bahwa ini akan merusak mas depanmu? Pria mana yang akan menerimamu dengan kondisi seperti ini?"
Callista cuma bisa diam mengamati pertengkaran antara anak dan daddynya.
"Mom, kamu tahu tentang ini?" tanya Sean pada istrinya. Kali ini, Sean tidak hanya menabuh genderang perang dengan anaknya saja, tetapi dengan istrinya.
Callista terdiam. Sungguh dia merasa gagal menjadi orang tua. Suaminya benar-benar marah padanya.
"Aku tidak menyangka, Sayang. Kamu bisa diam menghadapi kenyataan ini. Kalau tahu sejak awal, aku akan membuat pria bejat itu menyadari kesalahannya!" ucapnya dengan penuh amarah.
"Dad, kumohon. Dia tidak salah, aku yang salah," sahut Aquarabella.
"Daddy tidak akan bisa menerimanya untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi, namun Daddy akan membuatnya menanggung akibat buruk yang sudah diberikan untukmu. Katakan atau Daddymu akan memanggil Polisi!"
"Dad, aku tidak akan mengatakannya!"
Sean benar-benar kecewa pada putrinya. Gadis yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya malah menjadi seperti sekarang ini. Sean keluar ruangan. Dia berniat menghubungi Polisi.
Sementara di dalam ruangan, Callista berusaha meyakinkan putrinya untuk mau mengaku. Jika tidak, maka suaminya akan marah berkepanjangan. Callista tidak boleh membiarkan ini terjadi. Dia harus segera mengambil sikap walaupun sudah sangat terlambat.
"Sayang, sebaiknya kamu mengaku di depan daddymu. Kalau sampai Polisi menjemput pria itu, Mommy tidak tahu kejadiannya akan seperti apa."
"Mom, aku khawatir sekali dengan kondisi keluarga kita. Bagaimana kalau wartawan mengetahui kondisiku? Mereka akan mempermalukan aku. Tolong panggil daddy. Aku akan mengakuinya," pinta Aquarabella.
Callista secepatnya keluar untuk memanggil suaminya. Jangan sampai pria itu mengatakannya pada Polisi terlebih dahulu.
"Dad, kamu belum panggil polisi, kan?" tanya Callista.
"Aku sudah melaporkannya, namun masih dalam penyelidikan. Kenapa? Apa kamu mau melakukan hal yang sama untuk menahanku agar tidak melaporkannya?"
"Tidak, Dad. Aquarabella akan mengakuinya."
...🍓🍓🍓...
Sore hari di rumah keluarga Leoline. Semua orang sedang bersantai di ruang tengah. Beatrix dan Zack kebetulan sedang tidak ada aktivitas lagi. Namun, Zack terlihat tidak semangat. Dia mengkhawatirkan kondisi seseorang yang sedang berada di rumah sakit.
"Zack, kamu kenapa?"
Belum melanjutkan obrolan lagi, bel pintu rumahnya berbunyi. Zack merasa tidak membuat janji dengan siapa pun.
"Mungkin itu Fergie, Ma. Biar aku yang membukanya."
Zack bergegas ke ruang tamu dan lekas membuka pintu. Dia tidak melihat dari balik kaca jendela mengenai siapa yang datang. Begitu pintu di buka, seorang pria paruh baya yang tidak pernah terduga kedatangannya membuat Zack tidak bisa mengungkapkan sepatah kata pun.
"Siapa, Zack?" tanya Beatrix.
Zack terdiam. Dia juga tidak meminta tamunya untuk masuk, namun rasa lidahnya kelu. Beatrix segera mengatasi situasi yang tidak dipahaminya itu.
"Silakan masuk Tuan dan Nyonya," ucap Beatrix. Dia mengenal betul tamunya itu. Ini pertama kalinya Beatrix bertatap muka langsung dengannya.
"Terima kasih," jawab wanita itu.
"Silakan duduk!" ucap Beatrix lagi.
"Kami tidak ingin berbasa-basi di sini. Kami hanya ingin meminta pertanggungjawaban putra Anda atas putriku. Dia sedang berada di rumah sakit karena mengalami keguguran," ucap pria paruh baya itu. Dia adalah Sean. Semenjak berangkat dari rumah sakit, Callista berusaha untuk membuat suaminya menahan amarah sebisa mungkin. Semuanya sudah terjadi dan harus segera diselesaikan.
"Zack, apa maksud semua ini?" tanya Beatrix pada putranya.
"Aku tidak mengerti juga, Ma. Aku juga baru mengenal putrinya," jawab Zack. Dia bingung harus bagaimana. Memang kenyataannya seperti itu.
"Jangan bohong kamu! Jelas-jelas putriku sudah menyebut namamu. Kamu telah menodainya ketika kamu mabuk. Aku heran, kenapa putriku bisa bekerja di rumahmu!" bentak Sean.
Deg!
Inilah masalah yang sebenarnya. Zack belum menemukan bukti apapun dan masih menganggap kalau Honey itu pelayan pribadinya sebesar 50%. Dia saja masih ragu, namun bagaimana mungkin Sean tahu kalau putrinya bekerja di sini dan meminta pertanggungjawabannya?
"Maaf, Tuan. Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab, namun di sini aku bingung. Pelayan yang bekerja di rumahku itu bukan putri Anda, namun orang lain," jelas Zack. Tentu saja dia belum yakin kalau Honey adalah Aquarabella.
"Kamu jangan berkilah! Dia sudah menceritakan semuanya tentangmu. Apa kamu lupa dengan apa yang pernah kamu lakukan beberapa waktu lalu sebelum pelayan itu masuk ke rumahmu? Kamu menghina seorang perempuan lusuh yang masuk ke Mal. Apa kamu lupa? Kalau lupa, aku akan mengingatkannya lagi."
Jeduar.
Rupanya semua berawal dari sana, namun bagaimana mungkin seorang Aquarabella bisa berpenampilan berubah dengan situasi yang berbeda seperti itu?
"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, besok pagi Polisi akan menjemputmu!" Sean berdiri dan beranjak untuk pulang. Namun, tangan istrinya mencegahnya.
"Tunggu, Dad. Minimal biarkan Zack berbicara dulu dengan Aqua. Zack juga butuh penjelasan mengenai hal ini."
"Tidak seperti itu, Mom. Harusnya pria itu peka. Apalagi dia sudah menduga. Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya?"
"Tuan, mohon maaf. Aku tidak mengerti semua ini," sahut Beatrix.
"Tanyakan saja pada putramu yang kurang ajar itu!"
Sean menarik tangan istrinya untuk memberi kode bahwa dia harus keluar dari rumah ini sekarang juga. Jika tidak, Sean bisa saja kalap sewaktu-waktu.
"Kami undur diri, Nyonya Beatrix. Sekali lagi, kami minta maaf telah datang mendadak seperti ini," pamit Callista.
Tak sulit untuk menemukan Zack dalam waktu dekat. Dia juga tahu nama orang tuanya dari Aquarabella. Gadis itu menceritakan semuanya.