
Pagi hari yang indah, Honey baru saja bangun. Dia berniat untuk keluar kamar majikannya. Ada rasa senang dan sedih secara bersamaan.
"Tuan Zack, aku langsung ke kamar, ya," pamit Honey.
"Hemm, pergilah! Ingat jangan lupa untuk tidak melayani sepupuku itu."
"Ehm, Tuan Zack ... bagaimana kalau Nyonya Beatrix marah padaku dan menuduh kita berbuat yang aneh-aneh?" Honey harus mengantisipasi hal ini. Apalagi menurutnya Ernest tipikal belut licin. Dia pasti akan menjegal Honey dengan berbagai cara. Termasuk tuduhan tidur sekamar dengan Tuannya.
Zack bangun kemudian menyandarkan punggungnya pada headboard. Dia mengamati Honey mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Aku saja tidak pernah berpikiran aneh-aneh. Pikiranmu saja yang terlalu kotor. Jangan lupa mampir ke pelayan yang mengurusi cucian. Titipkan pikiranmu di sana biar kembali normal," cibir Zack.
Oh, ya ampun! Rasanya pengen nabok saja. Aku kan cuman tanya seperti itu. Kenapa jawabannya melenceng jauh.
"Iya, Tuan. Aku langsung keluar, ya?" pamitnya.
"Hemm."
Ceklek!
Honey membuka pintu yang masih terkunci sejak semalam. Sekarang dia benar-benar keluar dari kamar majikannya. Rasanya sangat berbeda.
Plok plok plok.
Sebuah tepukan seperti menyambutnya dengan nada tidak mengenakkan. Rasanya seperti habis mencuri terus tertangkap. Padahal harusnya Honey bisa bersikap biasa saja.
Deg!
Perasaan Honey semakin tidak enak. Pria itu rupanya sudah menunggu kemunculannya.
"Wah, wah, wah, pelayan Honey ... rupanya kamu berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan, ya?" tuduh Ernest.
"Apa maksud ucapanmu, Tuan Ernest?" tanya Honey.
"Alah, jangan pura-pura polos! Kalau kamu saja bisa tidur dengan Zack, kenapa kamu malah menolakku waktu itu?" tuduh Ernest.
Ya ampun, rupanya dia tipikal pria gampangan sekali. Sangat menjijikkan.
Honey malas meladeninya. Dia buru-buru masuk ke kamarnya, tetapi Ernest bisa saja selalu membuatnya dalam kesulitan.
"Aku ke sini tujuannya untuk meminta bekerja sama denganmu. Kalau kamu menolak, tahu sendirilah aku bisa berbuat apapun," ancamnya.
"Maaf, Tuan Ernest. Aku tidak bisa. Silakan cari pelayan lain yang siap untuk melayani Anda."
"Kamu menolakku?" tanya Ernest.
"Aku ada urusan sebentar. Tolong jangan ganggu!" Honey tidak memperdulikan lagi. Dia terus saja masuk ke kamarnya karena sedari kamar Zack, belum membersihkan diri.
Honey bergegas ke kamar mandi. Dia tidak boleh terlambat untuk mengurus keperluan Zack. Bisa-bisa pria itu akan mengamuk pada waktunya. Setelah selesai, tak lupa untuk memakai perlengkapan yang biasa dipakainya.
Honey bergegas keluar. Dia hendak kembali ke kamar Tuannya, tetapi Ernest lebih dulu menghentikannya.
Oh ya ampun, bencana apalagi ini?
"Tunggu! Siapkan semua keperluanku," perintah Ernest.
Honey yang sudah berjalan meninggalkan Ernest, menoleh kembali ke arah pria itu.
"Maaf, Tuan. Majikanku Tuan Zack, bukan Anda!" Honey kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
Ernest mengepal kesal tangannya. Rupanya pelayan sepupunya itu bisa bersikap tegas kepadanya.
Awas saja! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kita lihat saja, siapa yang kuat di sini.
Ernest tidak terima diperlakukan seperti itu oleh pelayan sepupunya. Dia sedang mencari cara untuk membalas perbuatan pelayan itu.
Ernest tidak pernah kekurangan akal. Jika Zack licik, maka Ernest jauh lebih licik. Dia mengetuk pintu kamar tantenya.
Tok tok tok.
Ceklek!
Beatrix membuka pintunya. Ini masih pagi dan seseorang telah mengganggunya.
"Ada apa, Ernest?" tanya Beatrix.
"Ehm, Tan ... boleh aku mengadukan perbuatan buruk pelayannya Zack?"
"Katakan! Tante tidak punya banyak waktu," ucapnya.
Ernest menceritakan bagaimana pelayan itu tidur di dalam kamar Zack sejak kemarin malam dan baru keluar pagi ini. Setelah mengatakan hal itu, Ernest rasanya puas bisa membalas perbuatan pelayan itu. Dia juga melihat perubahan mimik muka tantenya.
"Di mana mereka?" tanya Beatrix.
"Sepertinya ada di kamar Zack lagi, Tan. Tante tahu sendiri kan, kalau sudah seperti itu pasti nagih. Ingin lagi dan lagi." Ernest berusaha mencuci otak tantenya walaupun sebenarnya dia juga tidak tahu apa yang dilakukan kedua manusia itu sepanjang malam.
Beatrix bergegas menuju kamar putranya diikuti Ernest di belakangnya. Dia sepertinya sangat senang karena berhasil membuat tantenya mempercayai ucapannya.
Tok tok tok.
Ceklek!
Kebetulan Honey yang membukakan pintunya.
"Siapa?" tanya Zack yang baru saja keluar dari kamar mandi. Penampilannya sangat membuat orang lain salah paham. Zack sudah berganti baju dengan rambutnya yang masih basah.
"Zack, jelaskan ini!" tegas Beatrix.
Beatrix langsung masuk ke kamar itu. Ernest juga melakukan hal yang sama.
Wah, ini pertunjukan yang keren.
"Jelaskan apalagi, Ma? Honey seperti biasa ada di kamarku untuk bekerja. Dia menyiapkan semua keperluanku. Apa yang salah dengan ini, Ma?" jawab Zack santai.
"Semalam, Honey tidur di mana?" selidik Beatrix.
Oh, rupanya si brengsek sedang membuat drama untuk memenangkan dirinya. Dasar sepupu laknat!
"Semalam dia tidur di kamarku, Ma. Memangnya kenapa?" tanya Zack.
Honey yang mendengar penuturan Zack menjadi ketakutan kalau saja Nyonya Beatrix akan memecatnya.
"Itu tidak benar, Zack. Dia hanya pelayan rumah ini. Bagaimana kalau pelayan yang lainnya tahu akan perbuatan kalian ini?"
"Benar, Tante. Aku sudah mengingatkannya, tetapi mereka tidak mendengarnya," sahut Ernest.
"Tutup mulutmu!" bentak Zack. "Aku hanya melindungi pelayanku dari kelakuan burukmu itu, Ernest. Kamu pikir aku tidak tahu rencana kotormu itu, hah?"
Bukan malah menjawab pertanyaan mamanya, dia malah bertengkar dengan Ernest.
"Zack, jelaskan pada Mama!"
"Ehm, Nyonya ... maafkan aku. Ini hanya salah paham saja," sahut Honey.
"Diamlah, Honey! Aku ingin mendapatkan jawaban langsung dari putraku," balas Beatrix.
"Mana mungkin dia mau mengatakan yang sebenarnya, Tan. Sudah jelas kalau di rumah ini ada hubungan spesial antara majikan dan pelayan," tuduh Ernest. Dia harus berhasil membuat Zack tertekan oleh mamanya.
"Aku memang tidur sekamar dengan Honey, tetapi kami tidak pernah melakukan apapun yang dituduhkan keponakanmu itu, Ma," jelas Zack.
"Mama masih tidak percaya, Zack. Ingat, jangan diulangi lagi. Kamu tahu kan risikonya seperti apa jika kalian selalu berduaan di kamar." Beatrix mengingatkan putranya.
"Iya, Ma. Aku hanya melindungi Honey dari kelakuan buruk Ernest. Dia terus saja menyusahkan pelayanku, Ma. Apa aku salah kalau menyembunyikannya di kamarku?"
Beatrix tidak menyangka kalau putranya sudah mempunyai kepedulian pada orang lain. Apakah ini artinya dia mulai berubah?
"Tan, apa tante percaya padanya begitu saja?"
Ernest masih belum menyerah walaupun dia tahu kalau sudah kalah.
"Sudahlah, Ernest. Jangan buang-buang tenagamu untuk menjelekkan aku ataupun pelayanku. Tak akan ada gunanya," sindir Zack.
Rupanya Ernest masih tidak mau mengalah. Dia berusaha sekuat mungkin untuk membuat kekacauan untuk Zack agar dia mau berbagi pelayan dengannya.
...🍒🍒🍒...
Hai Kakak readers di manapun berada. Emak mau rekomendasikan karya teman Emak. Cus kepoin, jangan lupa kasih bintang, favoritkan, baca dulu, baru kasih like dan tinggalkan komentar.
Kita, Tanpa Aku by Author Hana Hikari
Terima kasih. Luv yu All 💟💟💟