Duda, I Love You

Duda, I Love You
Tak Akan Membantah



Setelah kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu, kali ini kondisi Aquarabella sudah membaik. Memutuskan untuk menginap di hotel selama beberapa hari membuatnya jauh lebih baik.


Sebelum memutuskan untuk pulang ke rumahnya, Aquarabella berperang melawan batinnya sendiri di dalam kamar hotelnya.


"Bagaimana kalau aku sampai hamil?" ucapnya.


Pertanyaan itu yang terus berputar dibenaknya. Aquarabella sudah berusaha menepis pikiran negatif itu. Kini, dia sudah melupakan Honey. Dia sudah kembali ke wajah aslinya dan kehidupan yang sebenarnya. Ada satu hal yang sangat membuatnya ragu. Tidak akan mungkin ada pria lain yang bisa menerimanya.


"Menikah bukan tujuanku sekarang. Lagi pula, mana ada pria yang mau menerimaku yang sudah ternoda seperti ini. Menyesal? Tentu saja aku menyesal. Aku hampir saja mencintai Zack, tetapi ingat tujuanku, aku berusaha memupuskan segalanya. Sekarang semua sudah terlambat. Apa yang kudapat ini tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi."


Aquarabella lekas check out dari hotel. Dia menunggu taksi tepat di depan hotel. Tak lama, Aquarabella sudah mendapatkan taksi. Bergegas dia menuju ke rumahnya yang beberapa hari ditinggalkan.


Mommy pasti menginterogasiku dari mana beberapa hari ini. Mungkin daddy juga akan marah padaku. Rumitnya hidup yang kubuat sendiri.


Sepanjang jalan, Aquarabella memikirkan nasibnya di masa mendatang. Sepertinya tak akan ada lagi kebahagiaan yang akan didapatkan setelah kejadian ini. Sungguh, menyesal tak pernah mengindahkan ucapan orang tuanya.


Perlahan, taksi yang dinaiki sudah hampir sampai di depan pintu gerbang rumah besarnya. Ini merupakan rumah kedua yang sempat diingat Aquarabella. Rumahnya yang dulu telah dijual dan pindah ke tempat baru. Entah apa alasan mommy dan daddynya untuk membeli rumah yang lebih besar dari sebelumnya.


"Non, sudah sampai," ucap sopir taksi tersebut.


Aquarabella turun dan membayar sesuai argo yang tertera, tetapi uangnya masih mendapatkan kembalian yang lumayan.


"Ambil saja kembaliannya."


Aquarabella lekas turun dan meminta penjaga membukakan pintu untuknya.


"Non, baru pulang? Tuan mencari Nona terus-terusan. Bahkan, Nyonya sampai dimarahi," keluh penjaga rumah itu.


"Iya, Pak. Kalau begitu, aku langsung masuk dulu, ya," pamit Aquarabella.


Aquarabella dengan langkah ragu mulai memasuki rumahnya. Seperti biasa, daddynya pasti masih di kantor.


Ceklek!


Aquarabella membuka pintu ruang tamu. Untuk sampai ke kamarnya yang berada di lantai atas, Aquarabella harus melewati ruang tengah dan tangga yang letaknya tak jauh dari sana.


"Sayang, kamu baru pulang?" tanya Callista, mommynya.


"Ehm, Mommy mengejutkanku," ucapnya.


"Kamu ke mana saja? Daddy sampai marah sama Mommy gara-gara kamu pergi dan nggak pulang. Sudahlah, Aqua, jangan pergi ke mana-mana lagi. Daddy marah bukan tanpa alasan karena sebentar lagi grandma kembar pasti datang," jelasnya.


Grandma kembar? Tumben datang. Pasti ada urusan penting yang aku tidak tahu sama sekali.


"Kenapa grandma kembar akan datang, Ma?"


Callista lupa belum memberikan kabar pernikahan Glenda, adik sepupu Aquarabella.


"Maafkan Mommy, Sayang. Ada kabar yang belum disampaikan padamu. Habisnya kamu sering tiba-tiba menghilang, sih."


Aquarabella tak menunggu lagi ucapan Mommynya. Namun, Callista mengikuti putrinya masuk ke dalam kamar.


"Kamu kenapa, Sayang? Mommy belum selesai berbicara, loh," protesnya.


"Aqua lelah, Mom. Ingin langsung istirahat."


"Oh ya, kamu tidak akan pergi ke mana-mana lagi, kan?"


Callista khawatir kalau suaminya akan marah lagi. Mengingat pernikahan Glenda sebentar lagi dilangsungkan. Kalau sampai Aquarabella pergi lagi, Callista tidak tahu harus bagaimana menghadapi Sean, suaminya.


Aquarabella duduk di ranjang dan bersandar pada headboard. Bayangan malam kelam itu membuatnya merasa jadi perempuan yang tidak berguna. Setelah ini dia akan menutup diri karena tidak akan mungkin orang lain mau menerimanya.


"Sayang, beberapa hari lagi Glenda akan menikah."


Deg!


Sebuah kata yang tidak pernah terlintas di benaknya. Namun, kata itu mampu membuat Aquarabella berkecil hati. Iri? Tidak, Aquarabella tidak iri pada sepupunya itu. Bahkan, Aquarabella sangat bersyukur karena orang tuanya memberikan kebebasan untuknya. Kali ini, mendengar Glenda akan menikah, rasanya seperti seseorang yang berada di atas puncak dan terjun ke dasar jurang. Dia tidak bisa membayangkan dirinya sendiri. Masih adakah pria yang mau menerimanya. Apalagi kalau dia mengatakan kenyataan yang sebenarnya.


"Kapan, Mom?"


"Tinggal menghitung hari saja. Tiga harian lagi," ucapnya.


Kaget? Aquarabella sangat terkejut sekali. Pernikahan adik sepupunya itu terkesan sangat mendadak. Namun, Aquarabella turut bahagia atas pernikahan itu.


...🍓🍓🍓 ...


Mengurung diri di dalam kamar sudah dilakukan sepanjang hari. Callista menyiapkan semua makanan untuk Aquarabella, tetapi gadis itu tak banyak makan. Tak ada makanan yang dihabiskan seperti biasa. Tentu saja hal itu membuat Callista khawatir.


"Mom, kamu kenapa?" selidik Sean yang baru saja pulang dari kantor.


"Ehm, Aquarabella sudah pulang."


"Baguslah. Aku langsung ke kamarnya. Aku kesal pada tingkah putrimu itu," ucap Sean berapi-api.


"Dad, tidak mandi dulu?" tawar Callista. Dia berusaha meredam amarah suaminya.


Sean tidak mendengarnya lagi. Dia langsung menuju ke kamar putrinya. Tanpa mengetuk pintu lagi, pria paruh baya itu langsung masuk.


Ceklek!


Tentu saja Aquarabella terkejut melihat kedatangan daddynya. Aqua sadar, sebentar lagi pasti akan dimarahi oleh Daddynya.


"Kamu dari mana saja? Apa tidak cukup hanya untuk sekadar mendengarkan ucapan mommymu? Bukankah Daddy sudah melarangmu untuk pergi?"


"Maafkan aku, Dad. Setelah ini aku berjanji tidak akan pernah pergi lagi," ucapnya menunduk.


"Daddy lelah dengan semua janjimu, Aquarabella!"


Kali ini gadis itu tidak akan membantahnya lagi. Tak ada alasan untuk keluar rumah selain mengurung diri untuk selama-lamanya. Biar daddynya tidak marah lagi.


"Tidak, Dad. Kali ini aku akan menurut. Aku tidak akan pergi ke manapun," ucapnya.


Sean menatap tidak percaya pada putrinya. Tumben sekali dia bersikap aneh seperti ini. Biasanya dia akan langsung pergi. Terkadang tidak ada pemberitahuan tiba-tiba menghilang.


"Kamu yakin? Tidak sedang membohongi Daddy, kan?" selidik Sean. Dia melihat putrinya tidak secerah biasanya.


Ada apa dengan Aquarabella? Dia tidak terlihat semangat seperti biasanya. Apa karena dia tahu kalau adik sepupunya akan menikah?


"Kamu berubah, Aqua. Apa karena Glenda akan menikah sehingga menyebabkan kamu murung seperti ini?"


Daddynya sekali lagi mengingatkan tentang pernikahan itu. Rasanya seperti menabur garam di atas lukanya. Dia tidak mungkin mengatakan kenyataan pahit ini. Jelas daddynya akan marah besar kepadanya.


"Tidak, Dad. Aku ikut senang kalau Glenda akan menikah. Semoga dia bahagia," ucapnya tertunduk. Rasanya dia tidak mampu melihat sekelilingnya lagi.


"Kamu tidak akan pergi lagi, kan? Ingat kamu juga harus datang dipernikahan itu." Sean mengingatkan.


Aquarabella tidak tahu harus menolak ataukah menerimanya. Kalaupun dia menolak, itu pasti akan menyakiti perasaan daddynya. Terguncang hebat, tentu saja. Dia baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga.