
Beberapa hari berada di rumah dengan segala kemewahan dan pelayanan maksimal, agaknya membuat Aquarabella lebih bersemangat lagi untuk menyelesaikan tugasnya.
Aquarabella harus meminta izin kepada mommynya supaya lolos lagi dari rumahnya. Dia menyiapkan beberapa pakaian penting di dalam tasnya.
"Mom, aku mau pergi lagi untuk beberapa hari ke depan. Setelah itu, aku berjanji akan berada di rumah dan tidak akan kemana-mana lagi," pamitnya.
"Jangan pergi, sayang! Daddy bisa marah pada Mommy. Kamu tahu sendiri kan ancaman daddy bagaimana? Dia akan mengirimmu ke tempat Aunty Zelene. Apa kamu tidak kasian sama Mommy harus berpisah jauh darimu," keluhnya.
"Mom, hanya beberapa hari saja. Setelah itu, aku tidak akan ke mana-mana lagi."
"Tidak bisa, sayang. Daddy sudah mengancam Mommy untuk tidak membiarkanmu keluar begitu saja. Kamu anak gadis Mommy."
"Ck, Mommy sama saja dengan Aunty Ze. Lihatlah Glenda, Mom. Dia gadis penurut dan sangat rumahan sekali. Bahkan dia mau bekerja keras hanya sebagai seorang pelayan," jelasnya.
"Karena Uncle dan Aunty sangat menyayangi putrinya. Sama seperti Mommy dan daddy juga, kan. Makanya jangan pergi ke mana-mana. Mommy tidak akan mengizinkanmu,"
Aquarabella mendekati Mommy Callista. Dia memeluk wanita itu untuk mendapatkan kekuatan lebih.
Mom, aku janji secepatnya akan kembali.
Aquarabella melepas pelukannya. Dia tidak punya banyak waktu. Keburu daddy menyadari kepergiannya.
"Mom, jaga diri baik-baik." Aquarabella secepatnya pergi meninggalkan rumah. Dia berjanji hanya untuk beberapa waktu saja.
"Sayang, tunggu!" panggil Callista.
Gadis itu sudah tidak mendengar lagi ucapan Mommynya. Dia harus pergi dan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu, dia akan melupakan Zack Leoline untuk selamanya.
Jangan tanya bagaimana Aquarabella lolos dari beberapa pengawas. Dia harus masuk ke satu tempat dan ke tempat lain untuk mengecoh orang yang mengikutinya demi memuluskan penyamaran.
Butuh sekitar dua jam untuk sampai di rumah keluarga Leoline. Aquarabella menekan bel rumah itu dan langsung dibukakan oleh pelayan.
"Honey, kamu sudah kembali?" tanya pelayan itu.
"Iya, kenapa?" Sepertinya ada berita penting yang belum didengar.
"Tuan Zack dan Tuan Ernest sempat ribut besar beberapa hari yang lalu."
"Oh, sekarang Tuan Zack di mana?"
"Masih di kantor, Honey. Duh, kalau kamu lihat keributannya pasti semakin kesal. Padahal mereka sudah sama-sama dewasa. Ada saja ulahnya."
"Yasudah, aku masuk dulu, ya?" pamit Honey.
Honey bergegas masuk ke kamarnya. Dia ingin beristirahat sejenak sebelum bertemu dengan Zack dan sepupunya.
"Misiku sebentar lagi selesai. Aku harus secepatnya pulang," ucapnya.
Hanya tinggal beberapa hari saja, setelah itu semua akan kembali seperti semula. Walaupun Honey tidak yakin akan hasil akhirnya.
...***...
Sore hari, Zack baru pulang dari kantor. Dia mencari pelayan pengganti yang biasanya dipakai ketika Honey tidak berada di tempat.
"Tolong bantu aku merapikan meja kerja di kamarku," perintahnya kepada pelayan itu.
Meja kerja yang dimaksud adalah seperti meja belajar yang diisi beberapa buku penting. Pagi tadi sebelum berangkat kerja, Zack sempat mengacak meja itu untuk mencari sesuatu.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa," tolak pelayan itu karena dia tahu kalau pelayan pribadi Tuannya sudah datang.
"Kamu berani menolak majikanmu, hah? Mau dipecat sekarang?" bentaknya.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Bukan maksud saya untuk menolaknya, tetapi--"
"Apa? Cepat katakan! Jangan buang waktuku," balas Zack.
"Pelayan Honey sudah kembali, Tuan."
Sesaat Zack menghentikan kemarahannya. Ada sedikit rasa bahagia, tetapi kemudian kembali ke asalnya.
"Panggil pelayan itu sekarang!" perintahnya.
"Baik, Tuan." Pelayan itu bergegas pergi menuju ke kamar Honey. Sejak kedatangannya, Honey belum menampakkan lagi batang hidungnya di depan pelayan lainnya.
Tok tok tok.
Ceklek!
"Ya? Apa dia sudah datang?" Tentu saja ini pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh Honey. Jelas saja ini sudah sore dan dia memang tertidur sangat pulas.
"Iya, Honey. Cepatlah ke sana. Nanti keburu orangnya marah-marah." Pelayan itu sedikit ketakutan.
"Baiklah." Honey masuk ke kamarnya sebentar. Dia mencuci muka di kamar mandi kecil di dalam kamar itu.
Honey bergegas menemui majikannya yang sudah berkacak pinggang di sana. Menunggu kedatangannya seperti mengajak untuk bertengkar saja. Itu sudah bukan lagi kejutan untuk Honey, tetapi sudah terbiasa melihat kelakuan aneh majikannya.
"Rupanya kamu sudah kembali. Ingat, tidak ada pelayanan lagi untuk Ernest. Dia akan kuusir secepatnya," ucapnya.
"Iya, Tuan."
"Bagus. Ayo ke kamarku," ajaknya.
"Eh, mau ngapain, Tuan?" Inilah pertanyaan bodoh yang paling sering diucapkan Honey akhir-akhir ini.
Zack menatap tajam pelayannya itu dengan tatapan membunuh. "Kamu pikir untuk tidur bersama, hah? Tentu saja untuk bekerja. Kamu harus membereskan kekacauan yang kamu tinggalkan beberapa hari ini."
Oh, ya ampun. Masih saja belum berubah. Secepatnya aku harus pergi dari sini. Tinggal beberapa hari lagi.
Zack menuju ke kamarnya. Dia langsung membuka pintu dan meminta pelayan untuk segera membereskan meja kerjanya.
"Bersihkan meja itu! Aku mau mandi dulu. Ingat, selesai mandi harus sudah rapi," ucapnya.
"Iya, Tuan," balasnya.
Honey bergegas membereskan meja itu sesekali menggerutu. Dia sudah menyerah untuk berlama-lama di sini.
"Ck, sebentar lagi aku terlepas dari bayang-bayang kehidupanmu, Tuan. Rasanya cukup untuk beberapa hari ke depan aku berada di sini." Honey menggerutu seorang diri. Bersamaan dengan itu, rupanya Beatrix masuk.
"Honey? Kamu sudah kembali?"
"Iya, Nyonya."
"Zack ke mana?"
"Ke kamar mandi, Nyonya."
"Baguslah. Oh ya, aku mencarimu. Kata pelayan, kamu sedang di kamar Zack. Makanya aku langsung ke mari."
"Ada apa, Nyonya?"
Honey terlihat tidak nyaman ketika Beatrix mencarinya. Walaupun Honey sudah meyakininya kalau dia akan berada di tempat ini selama beberapa hari ke depan.
Beatrix memberikan sebuah amplop padanya. "Terimalah. Ini bonus untukmu. Kamu sudah bekerja keras untuk melayani putraku. Mengenai Ernest, aku minta maaf. Kupastikan dia secepatnya akan pergi dari rumah ini. Sekali lagi maafkan aku."
"Bonus?" Honey masih tidak percaya. Amplop tebal di tangannya adalah bukti kerja kerasnya selama ini. Bukan berarti dia tidak mendapatkan gaji, tetapi bonus ini sepertinya lebih besar daripada gaji yang diterimanya.
"Iya. Aku harap kamu bisa lebih sabar untuk menghadapi putraku," ucapnya.
"Iya, Nyonya. Terima kasih," ucapnya.
Honey tidak tahu harus menyikapinya seperti apa. Bukannya dia plin-plan dalam mengambil keputusan. Setelah menerima bonus ini, dia memikirkan ulang rencananya. Padahal pemikiran gadis itu adalah seminggu lagi berada di rumah ini. Namun, kedatangan bonus yang tidak terduga ini membuatnya berada dalam situasi yang tidak diinginkannya. Beatrix seperti bisa membaca pikirannya.
Rasanya tidak mungkin untuk pergi secepat ini setelah mendapatkan bonus. Honey akan mempertimbangkan ulang keputusannya. Dia berharap untuk secepatnya keluar dari kegilaannya yang tak berujung itu.
...💮💮💮...
Halo, di mana pun kalian berada. Semoga selalu diberikan kesehatan, keberkahan, dan rezeki berlimpah. Aamiin.
Emak hadir lagi untuk merekomendasikan karya keren bestie Emak. Yuk kepoin ... jangan lupa masukkan favorit, kasih bintang, terus dibaca, tinggalkan jejak like dan komentarnya agar Author lebih bersemangat lagi.
Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahanku by Author SyaSyi
Cus kepoin. Bisa marathon tuh karena sudah Tamat.
Terima kasih. Miss you All 😍😍😍🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻