
Beberapa bulan berlalu, Aquarabella tidak merasakan tanda-tanda dirinya hamil. Dia sangat lega dan berusaha memforsir dirinya untuk bekerja. Dia berusaha mengalihkan pemikirannya tentang Zack yang baginya sudah tidak akan mencari keberadaan Honey lagi.
Aquarabella pergi pagi, pulang malam hanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terkadang tidak terlalu penting baginya. Hari libur pun digunakan untuknya pergi ke kantor walaupun hanya sekadar membolak-balikkan berkas. Mommynya sering mengingatkan, namun Aquarabella kekeh pada pendiriannya.
"Sayang, kurangilah waktu bekerjamu. Semenjak kamu menggantikan daddy, waktu untuk Mommy dan daddy semakin berkurang. Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan?" tegwur Callista.
"Aku hanya ingin perusahaan daddy semakin berkembang di tanganku, Mom. Walaupun aku tahu kalau perusahaan daddy sudah sangat maju. Aku hanya tinggal mempertahankan kemajuannya dan menambah klien baru."
Memang benar. Semenjak Aquarabella menjadi CEO muda, banyak klien baru bertambah. Rapat demi rapat pun dijalaninya sepanjang hari. Beberapa klien langsung menandatangani kontrak kerja sama. Tentu saja membuat Aquarabella lebih banyak waktu di kantor daripada di rumah.
Puncaknya pada hari ini, Aquarabella merasakan perutnya mulas yang sangat hebat. Bahkan dia terlambat datang bulan pun tidak dirasakan. Pikirannya hanya ingin melupakan Zack dan fokus untuk bekerja.
Aquarabella berteriak histeris karena kejadian itu terjadi pada malam hari membuat beberapa penjaga yang kebetulan berkeliling langsung masuk ke ruangan Bosnya tanpa permisi.
"Bos, Anda kenapa?" spontan penjaga itu bertanya.
"A-aku tidak tahu. Tolong panggilkan ambulans," ucap Aqua lirih. Setelah itu, gadis itu pingsan. Dia hanya merasakan perutnya sakit dan dipikir hanya sakit perut biasa. Sementara dia pingsan, darah mulai mengalir di sela pahanya.
Secepatnya penjaga kantor SA Corporation berbagi tugas. Ada yang menelepon ambulans dan beberapa mencoba menghubungi Bos Sean-nya.
"Halo, ada apa?" tanya Sean.
"Anu, Bos. Itu anu, maksudnya Nona Aqua, Bos ...."
Saking paniknya, penjaga itu sampai tidak karuan apa yang disampaikan.
"Tenang dulu, Pak. Ada apa ini?" tanya Sean.
"Non Aqua pingsan. Kami berusaha menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan ambulans ke kantor."
"Kenapa dia?"
"Kami kurang tahu, Bos. Sebaiknya Bos langsung ke rumah sakit X saja."
Ambulans datang dengan cepat sekali. Kebetulan Zack sedang lewat di depan kantor SA Corporation. Dia menepikan mobilnya untuk melihat keadaan. Tumben sekali SA Corporation mendatangkan ambulans seperti ini. Zack seperti memiliki ikatan batin yang buruk tentang ambulans itu. Lebih tepatnya dia segera turun dan bertanya tentang kejadian hari malam ini.
"Pak, maaf ini kenapa ada ambulans, ya?" tanya Zack.
"Ehm, Nona CEO pingsan."
Aquarabella pingsan? Kenapa bisa begitu?
"Apakah aku boleh masuk, Pak. Kebetulan aku temannya," ucapnya beralasan agar dia diizinkan masuk.
"Maaf, Tuan. Lebih baik Anda ikuti saja mobil ambulansnya ke rumah sakit. Itu privasi Nona kami. Sekali lagi kami minta maaf."
Tentu saja penjaga SA Corporation tidak mudah untuk mempercayai orang. Apalagi orang itu jarang ditemuinya di gedung itu. Seperti ucapan penjaga, Zack mengikutinya. Tak lupa dia menghubungi Fergie.
"Halo, ada apa, Zack?"
"Bisakah kamu ikuti aku ke rumah sakit X?"
"Memang siapa yang sakit?" selidik Fergie.
"Temui aku di sana. Kita akan mendapatkan jawabannya malam ini."
Fergie tidak curiga. Dia menyetujuinya begitu saja. Sementara ambulans sudah pergi meninggalkan SA Corporation bersamaan dengan perginya Zack. Posisi Zack berada di belakang ambulans berjarak beberapa mobil saja.
...🌿🌿🌿...
IGD Rumah sakit X terdengar brankar yang baru saja turun dari ambulans. Secepatnya beberapa perawat mendorongnya masuk. Pintu IGD tertutup rapat. Tidak dibiarkan siapa pun yang masuk kecuali atas izin petugas.
Zack secepatnya memarkir kendaraannya kemudian duduk di kursi tunggu di depan IGD. Perasaannya menjadi semakin aneh. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Aquarabella. Gadis itu terlihat baik-baik saja saat ditemuinya beberapa hari yang lalu.
"Tuan Zack," sapa Sean yang baru saja datang dengan istrinya. "Siapa yang sakit?"
Zack bingung harus mengatakan apa? Tidak ada orang lain yang bisa dijadikan alasan untuknya mengelak.
"Zack, kamu sedang menunggu sahabatmu, ya?" sahut Fergie. Dia melihat dari jauh kalau Zack tidak punya alasan apapun untuk berada di sana. Untung saja Fergie lekas bisa membaca situasi.
"Iya, Fergie."
"Oh, maaf. Aku kira siapa," ucap Sean.
"Dad, duduklah di sini. Kita tunggu dokter keluar," ucap Callista.
Cukup lumayan lama barulah ruang IGD terbuka. Munculah dokter yang mencari keberadaan keluarga Aquarabella.
"Maaf, dengan keluarga Nona Aquarabella?"
Sean dan Callista maju. Dia berharap dokter memberikan kabar baik untuk mereka.
"Kami orang tuanya, dok," jawab Sean.
"Bisa kita bicara sebentar, Tuan?"
"Tentu."
Sean dan istrinya mengikuti langkah dokter menuju ke ruangannya yang tak jauh dari IGD. Keduanya langsung duduk di hadapan dokter setelah dipersilakan.
"Sebenarnya putri kami sakit apa, dok?" tanya Callista.
"Putri Anda mengalami pendarahan. Kami meminta persetujuan untuk melakukan proses kuretase."
Callista dan Sean sangat terkejut. Proses itu biasanya dilakukan untuk wanita hamil yang sedang mengalami keguguran.
"Maaf, dok. Putriku hamil?" tanya Sean. Pria paruh baya itu sampai tidak bisa berpikir secara nalar. Sebentar lagi amarahnya akan meledak.
"Iya, Tuan."
Deg!
Bagaimana bisa di depan seorang dokter, Sean dan istrinya dipermalukan seperti ini. Sean berusaha menahan amarah sampai putrinya benar-benar membaik. Setelah itu, dia akan menginterogasi tentang kehamilannya. Pria mana yang kurang ajar sudah menyentuhnya sampai hamil? Sean tidak akan memaafkan pria itu. Dia akan membalas perbuatannya dengan setimpal.
Callista berusaha nampak tenang. Dia sebenarnya mengkhawatirkan kejadian seperti ini. Lambat laun suaminya pasti mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Lakukan yang terbaik untuk putri kami, dokter," jawab Callista. Setelah ini dia akan menceritakan semua pengakuan putrinya kepada suaminya. Bisa saja Sean akan marah kepadanya karena menyimpan rahasia sebesar ini.
"Baik, Nyonya."
Lembar persetujuan dibawakan perawat ke hadapan dokter. Setelah penandatanganan selesai, Sean dan istrinya undur diri dan menunggu lagi di depan IGD.
"Mom, sebaiknya kamu pulang. Minta antar sopir," ucap Sean.
"Tidak, Dad. Aku ingin menunggu Aquarabella."
Di depan IGD sudah sepi. Zack dan temannya sudah tidak terlihat. Hanya Callista dan suaminya saja yang menunggu putrinya sampai nanti pindah ke kamar rawat.
"Mom, apa yang kamu sembunyikan dariku?"
"Dad, kita bicarakan ini di rumah," jawab Callista.
Sebenarnya Sean sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya. Namun, ini masih di rumah sakit. Dia berusaha untuk menahan amarahnya sampai putrinya benar-benar keluar dari sana. Sean terkejut dengan kabar yang tidak mengenakkan ini. Syok, tentu saja. Dia harus menemukan pria yang sudah membuat putrinya menjadi seperti ini.