Duda, I Love You

Duda, I Love You
Hari Kedua (2)



Menelan pil pahit karena penolakan pagi ini, Zack pergi dulu ke tempat Fergie sebelum berangkat ke kantor. Masih pagi, namun kalau dia sampai kantor sudah sangat terlambat. Hari ini, Zack tidak terlalu fokus untuk bekerja. Pikirannya bercabang antara pekerjaan dan kegagalan yang akan didapatkannya. Ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran.


Fergie sangat terkejut mendapati keberadaan Zack sepagi ini di depan rumahnya. Pria itu lantas keluar dan menyambut Zack dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa kamu malah ke sini dan bukan ke tempat Aquarabella? Ini hari keduamu. Kalau kamu gagal, tamatlah riwayatmu!"


"Aku ditolak," ucapnya gusar. Padahal yang dimaksudkan Zack karena pagi ini daddy gadis itu sudah pergi ke kantor.


"Bersiap-siaplah mendekam di penjara seumur hidupmu! Kelakuanmu memang fatal."


"Tidak, aku belum gagal. Maksudku, pagi ini belum bisa bertemu dengan daddynya. Siang hari aku di minta ke kantornya untuk berbincang di sana. Aku sendiri ada rapat penting. Aku bingung," ungkapnya.


Fergie malah merasa gemas menghadapi tingkah Zack yang kelimpungan malah seperti kekanak-kanakan seperti ini. Mana Zack yang arogan, kejam, dan garang? Sungguh ini membuatnya pusing.


"Aku rasa tingkat kebodohan Zack Leoline semakin meningkat. Kupikir 50% sudah cukup, rupanya pagi ini bertambah menjadi 75%. Sedikit lagi kebodohanmu menjadi penyakit akut. Kalau kamu ada rapat penting, kenapa malah menyatroni rumahku sepagi ini, hah? Harusnya kamu itu pergi ke kantor. Jadwalkan ulang rapatnya untuk minta dipercepat. Kalau kamu ingin mengabariku, bisa kan lewat telepon?"


"Oh ya ampun, aku benar-benar blank hari ini. Rasanya aku harus segera pergi ke kantor dan menyelesaikan semuanya." Zack kembali ke mobilnya dan mengemudikan dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari biasanya. Dia juga menghubungi stafnya untuk memajukan rapat hari ini karena dia ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan siang ini.


...🌿🌿🌿...


Ruang rapat kantor Zack Leoline sudah penuh dengan beberapa stafnya. Zack terlambat datang sekitar 15 menit dan meminta maaf kepada mereka. Rapat mulai berlangsung dengan waktu yang lumayan lama, namun pikiran Zack memang sudah terpecah.


Kalau hari ini aku gagal, mungkin ini terakhir aku menikmati hidup. Setelah ini aku akan mendekam di jeruji besi dengan status duda yang melekat padaku. Mungkin hanya mama yang setia mendampingiku.


"Tuan, kenapa Anda melamun? Apakah Anda menyetujui usulan dari beberapa staf?" tanya salah seorang pegawainya.


"Ehm, kumpulkan saja semua bahan meeting dan beberapa saran hari ini. Aku akan membacanya nanti."


Zack kemudian kembali ke ruangannya untuk mengecek beberapa berkas. Dia benar-benar tidak bisa fokus sebelum bertemu dengan Sean Armstrong. Jika hari pertama bisa dilewati dengan mudah, maka hari kedua adalah ujian terberatnya.


"Aku tidak boleh menyerah. Ini kesempatan terakhirku. Kalau aku sampai gagal, Tuan Sean pasti akan memenjarakanku."


Bayangan hal buruk yang akan terjadi kepadanya membuat Zack semakin gusar. Dilihatnya jam tangan berulang kali untuk mengharapkan keajaiban penundaan waktu, misalnya.


Zack sudah tidak sabar. Dia harus secepatnya pergi ke kantor SA Corporation dan menunggu Sean di sana. Mungkin lebih baik menunggunya daripada harus kehilangan jejak.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


SA Corporation terlihat sangat lengang. Hanya ada resepsionis yang bertugas di bagian front office kantor tersebut. Zack sudah sampai di sana. Padahal makan siang masih beberapa jam lagi.


"Ehm, bisa bertemu dengan Tuan Sean?" tanya Zack.


Janji temu? Oh God, sulit sekali menemui pria itu.


"Belum."


"Kalau belum, sebaiknya Anda membuat janji temu dulu, Tuan. Kalau Anda membuat janji temu hari ini, kemungkinan baru bisa bertemu minimal besok. Karena hari ini Tuan Sean sedang mengadakan beberapa rapat penting. Kemungkinan baru selesai di sore hari. Bagaimana?" jelas resepsionis.


Tidak hanya jantungnya, kepalanya pun ikut berdenyut karena Zack mulai pusing. Sepertinya ini akan sulit. Sangat sulit menurutnya. Kalau membuat janji temu hari ini, besok baru bertemu. Ini merupakan kegagalannya.


"Tidak, terima kasih."


Zack mundur. Dia mencari restoran atau Kafe terdekat hanya untuk meredam kekalutannya. Mungkin saja ketika berada di sana, tiba-tiba Sean Armstrong muncul tanpa membuatnya harus menunggu lama lagi. Waktu terus berjalan. Semakin siang, Zack semakin kalut dan tidak karuan. Sayangnya, cobaan tidak berhenti di situ saja. Ketika sedang memesan makanan di restoran, seseorang menghampirinya.


"Zack, kita bertemu lagi. Apa kabarmu?" tanya wanita itu.


"Kamu?" Zack bukannya semakin baik, malah kesal melihat kedatangan Scarlett. Wanita itu dengan santainya duduk di hadapan Zack.


"Lama tidak bertemu. Kebetulan sekali. Apakah yang kulihat di media itu sungguhan atau hanya omong kosong, Zack? Kenapa kamu memilih pelayan itu? Kenapa kita tidak mencoba rujuk saja?" ucap Scarlett.


"Bicara apa kamu itu? Kenapa tidak menikah saja dengan Elvis. Bukankah dia mantan kekasihmu?"


"Tidak, lebih baik aku menjadi janda daripada menikah dengannya. Maaf, aku menyesal ketika kita bercerai. Aku harap, kamu mempertimbangkan lagi rencanamu untuk menikahi Honey. Bukankah aku jauh lebih baik daripada dirinya?" Ini saatnya Scarlett memperbaiki keadaan. Kalau orang lain tidak bisa memiliki Zack, maka tidak dengan pelayan itu. Dia harus selangkah lebih maju daripada Honey.


Zack malas meladeninya. Makanan yang dipesan belum datang, namun Zack lekas pergi ke kasir untuk membayarnya. Dia tidak ingin pertemuan tak sengajanya menggagalkan semuanya.


Zack kembali ke kantor SA Corporation. Dia ingin mencoba menanyakan kembali. Namun, kali ini keberuntungan berada di tangan. Dia bertemu Sean yang baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menuju ke mobil.


"Tuan Sean," panggil Zack.


Sean menoleh. Dia sepertinya mengenal pria itu. "Ya, ada apa?"


"Maaf, Tuan. Aku ingin menemui Anda mengenai Nona Aqua," ucapnya.


Kali ini, Zack berharap tidak ada lagi penolakan dari pria paruh baya itu. Namun, karena pesan putrinya, Sean harus membuat pria itu hampir menyerah.


"Maaf, itu tidak bisa dibicarakan di sini. Kalau memang kamu berniat baik, datanglah ke rumah ketika makan malam. Aku menunggumu!" Sean kemudian masuk ke mobilnya.


Zack mendapatkan angin segar, namun ini benar-benar perjuangan dari pagi sampai siang belum ada hasil apapun. Dia tidak boleh menyerah. Malam ini dia akan bersiap lebih awal untuk meminta restu kepada keluarga gadis itu. Rasanya seperti mengikuti sayembara yang belum tahu dia kalah atau menang.


Zack kembali ke kantor dengan sedikit lega, tetapi rasa was-was tetap menghantuinya. Bagaimana kalau malam ini, daddy gadis itu menolaknya dengan terang-terangan? Keesokan paginya dia akan tetap di gelandang ke rutan untuk menikmati hukumannya yang sudah menanti. Perasaannya semakin tidak menentu menunggu malam tiba.